
"lama amat sih mas, pantatku sudah panas sejak tadi menunggu"
Akmal mengeluh karena orang yang mereka intai sejak tadi belum juga memunculkan diri di lobi hotel yang luas itu. keduanya duduk di sofa panjang, begitu banyak orang yang berlalu lalang dan mereka hanya menjadi penonton.
"sabar sedikit, kalau capek kamu bisa salto atau jungkir balik juga boleh" tanpa menoleh ke arah Akmal, Alex menjawab santai. matanya sibuk melihat setiap orang yang keluar masuk hotel
jawaban Alex membuat Akmal mendengus kesal.
"mas kira aku orang gila apa"
"memangnya siapa yang mengatakan kamu gila"
"his... menyebalkan sekali lah mas ini" karena kesal Akmal mencubit paha Alex, tentu saja Alex kesakitan dan melotot
"genit juga kamu ini ya"
dengan wajah cemberut Akmal membelakangi Alex. sebenarnya Alex pun sama bosannya dengan Akmal namun tugas mereka adalah mengintai Gandha Sukandar. maka dari itu kata lelah, bosan dan jenuh harus mereka kesampingkan untuk sekarang ini.
Akmal membuang bosannya dengan mencoba mengirim pesan kepada Nagita. sejak kemarin dirinya belum memberikan kabar kepada dokter cantik yang kini telah menjadi kekasih hatinya. padahal pesan wanita itu sejak kemarin terus masuk di ponsel Akmal, namun karena lelah dan ingin mengistirahatkan diri, Akmal belum sempat membalas setiap pesan kekasihnya hatinya itu.
[assalamualaikum dokter cantikku, apa kabar kamu hari ini. aku harap mbak baik-baik saja ya, dengan begitu hari-hari ku akan selalu menjadi baik juga]
pesan di kirim, namun karena masih centang satu maka itu berarti Nagita belum membacanya. ingin Akmal menelpon untuk melepas rindu, tapi saat itu Alex menyikut lengannya hingga ia memutar badan menghadap ke arahnya.
Alex menunjuk seseorang dengan dagunya. Akmal mengikuti kemana arah mata Alex, di sana terlihat Gandha Sukandar tengah berjalan ke arah pintu keluar. masih bersama laki-laki yang ia temui tadi yang bernama Baron. keduanya bergerak beranjak dari sofa, melangkah dengan cepat untuk mengikuti kembali kemana perginya Gandha Sukandar. tiba-tiba laki-laki itu menghentikan langkah, rupanya dirinya dan Baron akan berpisah untuk ke tempat tujuan masing-masing.
Gandha Sukandar masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Gantara hotel. sementara Baron, ia menuju ke jalan raya menunggu seseorang. hingga mobil hitam datang menghampirinya dan ia pun masuk ke dalam.
Alex dan Akmal buru-buru masuk ke dalam mobil namun bukan mengikuti mobil Gandha Sukandar melainkan Alex membelokkan mobil itu mengikuti mobil hitam yang menjemput Baron tadi.
"loh mas, kenapa kita malah belok. mobil Gandha kan ke arah sana mas" Akmal mempertanyakan maksud Alex. dilihatnya di kaca spion, mobil yang membawa Gandha Sukandar telah semakin menjauh
"kita memang akan bertemu lagi dengannya" Alex menjawab sambil menyelinap mobil yang menghalanginya
"bertemu gimana, mobil kita malah semakin jauh dengannya. mas gimana sih, putar arah lah mas"
"nggak perlu, besok juga kita akan bertemu dengannya. percaya saja padaku"
Akmal diam dan menatap lurus ke depan, mobil hitam itu terus melaju dengan kecepatan sedang tanpa mereka tau ada mobil lain yang mengikuti mereka.
tepat di depan sebuah bar, mobil hitam itu berhenti. sementara mobil Alex, ia tepikan di sebrang jalan yang berada di depan sebuah hotel. berada di sebrang jalan sana, Baron keluar dari mobil dan masuk ke dalam bar itu. tidak ingin tinggal diam begitu saja, keduanya keluar dari mobil dan menyebrang jalan untuk masuk ke dalam bar. sebelum pergi, Alex menyuruh Akmal untuk memakai masker. tujuannya agar tidak ada yang dapat mengenal wajah pemuda itu sementara Alex memang berniat akan memperlihatkan wajahnya. dengan langkah kaki panjang keduanya, mereka berjalan ke arah pintu masuk namun bukannya diizinkan masuk, keduanya malah di usir oleh dua penjaga karena pakaian mereka yang tidak sesuai untuk masuk ke tempat itu.
"gaya kami nggak ada yang salah loh pak, kenapa kami di usir...?" Akmal kesal karena dua penjaga itu mendorong dirinya dengan kasar. wajahnya yang telah tertutupi masker, membuat dua penjaga itu tidak mengenalnya
"tempat ini hanya untuk orang-orang pengusaha, bukan gembel seperti kalian berdua"
"sebentar saja pak, saya hanya ingin bertemu seseorang" ucap Alex
"tidak bisa, kamu tuli ya apa yang aku katakan tadi. pergi sana, cari tempat yang murah"
"saya hanya ingin bertemu pak Baron, mohon izinkan kami masuk"
"pak Baron...?" kedua penjaga itu saling tatap dan menelisik keduanya dengan intens
"iya, saya ingin bertemu pak Baron. atau begini saja, kalau kami tidak bisa di izinkan masuk maka beritahu saja pak Baron kalau ada yang mencarinya"
kembali kedua penjaga itu bertatapan. salah satunya mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. sementara Akmal, dirinya bergeser mendekat Alex dan membisikkan sesuatu.
"kenapa malah jujur sih mas. mas mau Kita digebukin di sini"
"hei, apa yang kamu bisikkan. bicara yang keras agar kami mendengar" gertak salah satunya
"kepo banget sih pak, ini itu namanya bisik-bisik tetangga besti. tetangga lain nggak boleh tau"
"memangnya ada tetangga besti...?" kening penjaga itu mengkerut
"ya ada lah. hmmm....mas ini pasti ketinggalan zaman. hidup di zaman purab mana sih pak. besti aja nggak tau" Akmal mencibir
"purba dodol" Alex membenarkan
"ya ya ya, itu maksud aku"
penjaga yang menelpon seseorang tadi, menatap keduanya dan menyuruh mereka untuk menunggu Baron di luar itu.
"pelit amat sih pak. kami tamu loh ini, setidaknya beri minum kek" dengan gaya tengilnya, Akmal mulai beraksi
"kalau mau minum beli teh gelas sana di warung"
"idih...kikir betul"
di suruh menunggu di luar maka mereka melakukan itu. saat itu Alex menarik tangan Akmal untuk menjauh dari kedua penjaga tadi .
"Mal, kamu tunggu aku di mobil"
"kenapa mas...?" kening Akmal mengkerut tatkala mendengar Alex menyuruhnya untuk menunggunya di dalam mobil. sorot matanya meminta penjelasan dari pertanyaan yang ia lontarkan
"kamu awasi aku dari jauh. biar aku sendiri yang berhadapan dengan Baron. apakah kamu ingat kalau Gandha Sukandar membutuhkan seseorang untuk menggantikan salah satu anak buahnya. aku akan mengajukan diri untuk menggantikan laki-laki yang bernama Victor itu"
"ya sudah kalau begitu, aku juga ingin mengajukan diri. aku nggak mau meninggalkan mas Alex sendirian menghadapi musuh"
"Mal, aku nggak sendiri. kan ada kamu yang terus mengawasi aku. sekarang kembalilah ke mobil"
"tapi mas"
"aku akan baik-baik saja. pergilah sebelum Baron datang"
Alex mendorong tubuh Akmal agar pemuda itu meninggalkan dirinya. meskipun setengah hati menerima rencana Alex, namun Akmal tetap berjalan ke arah mobil.
Alex menunggu di depan bar dengan bersandar di dinding kaca sebagai dinding gedung itu. kaca hitam yang tidak akan terlihat dari luar apa yang ada di dalam sana. setengah jam menunggu, seorang laki-laki keluar dan menghampiri dua penjaga tadi. setelahnya keduanya menunjuk Alex yang tidak jauh berada di dekat mereka.
"hei...kemari kamu" salah satu penjaga memanggil Alex
Alex yang sedang memainkan ponselnya, segera menaruh benda pipih itu ke dalam saku celananya dan berjalan ke arah mereka.
"kamu yang ingin bertemu dengan Baron...?" laki-laki yang keluar dari bar tadi bertanya
"benar, saya ingin bertemu dengan Baron" Alex menjawab mantap
"ikut aku"
bukannya masuk kembali ke dalam bar, laki-laki itu malah melangkah menjauh dari tempat itu. Alex yang bingung hanya mengikuti saja. orang-orang yang baru saja akan bergabung dengan lingkungan seperti itu, harus menahan diri untuk tidak banyak bertanya. seperti yang dilakukan Alex saat ini, dirinya hanya terus mengikuti laki-laki itu sampai mereka melewati Akmal yang berada di dalam mobil dan masuk ke sebuah hotel.
saat itu Akmal segera keluar dari mobil dan berlari cepat masuk ke dalam hotel. ia melihat Alex bersama laki-laki tadi, berjalan ke arah lift dan masuk ke dalam kotak itu.
Akmal mengejar namun pintu lift telah tertutup. lantai 12 adalah tujuan mereka, segera Akmal mencari lift yang lain dan menuju ke lantai 12.
tiba di lantai 12, Alex di suguhkan dengan banyaknya orang yang sedang duduk di kursi dengan meja bundar di depan mereka. ada yang sedang mengocok kartu, membagikan dan menerima. orang-orang di dalam itu sedang melakukan perjudian.
Akmal yang juga baru tiba, tidak menghiraukan banyaknya orang di tempat itu. dirinya mencari keberadaan Alex. kedua matanya memindai setiap orang dan melihat Alex memasuki sebuah ruangan bersama Baron. akal Akmal mulai berpikir, bagaimana agar dirinya bisa masuk ke dalam sana tanpa di cegah lagi oleh satu orang penjaga yang bertubuh besar di depan pintu.
sementara Alex, setelah masuk ke dalam ruangan itu. dirinya melihat seseorang yang ia cari, Baron telah ada di dalam itu padahal saat mereka mengintai laki-laki itu, jelas-jelas Baron masuk ke dalam bar.
(tidak mungkin dia sudah berada di tempat ini kalau bukan melalui jalan rahasia) batin Alex
Baron bersama satu laki-laki baya dan dua wanita yang berpakaian seksi, menemani mereka berdua. bahkan salah satu wanita itu kini sedang duduk di pangkuan laki-laki baya itu. sementara wanita yang berada di samping Baron, ia bergelayut manja di lengan kekarnya.
"ini orangnya Bar" ucap laki-laki yang membawa Alex, ia pun ikut duduk di sofa hitam yang mengkilap. dirinya juga menyuruh Alex untuk duduk, dengan patuh Alex menurut
Baron hanya melihat sekilas ke arah Alex karena saat ini dirinya masih berbincang dengan laki-laki baya itu.
"jadi bagaimana pak Nursam...?" tanya Baron
"tidak masalah, asal aku bisa mendapatkan barangnya maka uang bukan masalah bagiku" laki-laki baya yang bernama Nursam itu menjawab, sesekali dirinya mencium bibir wanita cantik nan seksi yang ada di pangkuannya
"seperti biasanya ya...?"
"ya, bawa saja barangnya dan akan aku bayar segera"
Baron tersenyum smirk, ia kemudian mengkode laki-laki yang membawa Alex tadi. dengan sigap laki-laki itu berdiri dan keluar dari ruangan itu. tidak lama ia datang dengan memegang satu koper hitam yang kemudian ia simpan di atas meja.
Baron mengambil koper itu dan membukanya. isi di dalamnya adalah serbuk putih yang ada di setiap bungkus. Alex dapat melihat benda itu berjumlah banyak dan ia tau barang apa itu.
"hahaha...kamu memang yang terbaik Baron. andai pak Gandha ada di sini, aku akan memuji kamu di depannya" pak Nursam begitu semangat setelah melihat barang itu. ia pun mengambil koper di sampingnya dan memberikannya kepada Baron
Amran, laki-laki yang membawa Alex tadi membuka koper itu dan memperlihatkan isinya kepada Baron. uang merah yang tentu saja berjumlah ratusan juta berada di dalam koper itu.
"sesuai kesepakatan, jumlahnya seperti yang kamu inginkan" ucap pak Nursam
"selalu tidak pernah mengecewakan bekerjasama dengan anda pak Nursam. selamat bersenang-senang" Baron berjabat tangan dengan pak Nursam
"ayo sayang, temani aku hari ini" pak Nursam mencium bibir wanita itu sekilas kemudian membawanya keluar bersama koper barangnya
selesai menangani kliennya, Baron kini beralih kepada Alex. namun karena wanita yang bersamanya terus saja menciumi lehernya dan bibirnya, Baron pun dengan cepat menggendong wanita itu dan masuk ke salah satu kamar yang ada di ruangan itu.
"tunggu di sini, aku mau mengambil minuman" Amran menepuk pelan bahu Alex kemudian ia keluar dari ruangan itu
diam sambil menunggu, telinga Alex mulai mendengar suara ******* dari dalam kamar yang dimasuki Baron dan wanita tadi. namun hal itu sama sekali tidak mengganggu Alex atau membuat pikirannya melalang buana. ia dengan santai duduk menyilangkan kakinya dan memainkan ponselnya. Alex sedang berkirim pesan dengan Akmal.
Akmal : mas baik-baik saja kan...?
Alex : aman, kamu dimana...?
Akmal : di lantai 12 tempat kalian berada. apa perlu aku masuk ke dalam ruangan itu...?
Alex : jangan, kamu menunggu saja di luar
Akmal : baiklah
satu jam kemudian, Baron keluar bersama wanita tadi dimana rambutnya mulai acak-acakan. wanita itu keluar dari ruangan itu dan tidak lama masuklah Amran dengan dua botol minumannya.
"aku tidak pernah melihatmu sebelumnya tapi kamu mencariku...? ada keperluan apa denganku...?" Baron bertanya sambil mengisap rokok yang baru saja ia bakar
"aku ingin bekerja denganmu" jawab Alex
"bekerja...?"
"iya. di hotel Gantara tadi aku tidak sengaja mendengar percakapan kamu dan bos kamu. bos kamu membutuhkan seseorang untuk menjalankan bisnisnya. aku ingin melamar pekerjaan menggantikan orang itu"
"hotel Gantara...? kamu menguping pembicaraan kami...?"
"bukan menguping tapi tidak sengaja mendengar. aku butuh pekerjaan maka dari itu aku datang menemuimu di sini"
"keahlian apa yang kamu punya...?"
"memangnya apa yang bos kamu inginkan...?"
"pintar memainkan pistol, jago bela diri dan yang terpenting handal dalam menangani pekerjaan ilegalnya"
"tiga-tiganya aku sanggup" Alex menjawab tanpa rasa gugup
Baron mengkode Amran, belum siap dengan serangan, Alex telah mendapatkan satu tendangan dari Amran membuat dirinya tersungkur. laki-laki itu hendak menyerang lagi namun Alex menangkis dengan tendangan keras dan menarik tangan Amran sehingga laki-laki itu jatuh di atas sofa di dekat Alex. Alex mengambil pistol yang ada di belakang pinggang Amran dan meletakkan pistol itu di kepala Amran.
"bergerak sedikit saja, maka kepalamu akan meledak" aura wajah dingin Alex membuat Baron terpukau
Baron bertepuk tangan dan meminta Alex untuk melepaskan Amran. keduanya saling berjabat tangan dan duduk kembali.
"siapa namamu...?"
"Alex Prayoga"
"kau tau, pekerjaan yang akan kamu lakukan harus begitu hati-hati dan juga tentunya beresiko. kamu akan mendampingi setiap kali bos melakukan perjalanan ke luar kota atau apapun yang berkaitan dengan pekerjaan bos, dia akan mengandalkan mu"
"aku siap melakukannya"
"satu lagi, setelah masuk ke pekerjaan kamu maka tidak ada jalan lagi untuk keluar. berani keluar artinya berani mati. bagaimana, kamu masih sanggup...?"
(apa jangan-jangan Victor dibunuh maka dari itu mereka mencari penggantinya) batin Alex
"ternyata kamu laki-laki cupu" Baron mengejek setelah Alex tidak menjawab pertanyaan yang terakhir
"aku beberapa kali menghadapi kematian. bukan masalah besar bagiku untuk itu"
Baron tersenyum tipis, kepulan asap keluar dari mulutnya. Amran menikmati minumannya tanpa mengeluarkan suara. dirinya hanya menyimak pembicaraan keduanya.
"baiklah, kamu saya terima. pekerjaan pertama yang harus kamu lakukan adalah, jam 12 malam nanti, kamu harus menjemput barang yang baru saja masuk di perairan laut Gantara di wilayah D. aku akan menghubungi orang-orang disana kalau kamu yang akan ke sana. setelahnya, kamu akan membawa barang-barang itu ke tempat bos berada"
"akan aku laksanakan"
"bagus, sementara ini nikmati waktu yang ada sebelum memulai pekerjaan mu"
Amran memberikan minuman kepada Alex, dengan beberapa tegukan minuman di gelas itu telah habis tidak tersisa. Baron sedang menghubungi seseorang dan tidak lama tiga wanita cantik nan seksi masuk ke dalam ruangan itu dan duduk di samping mereka masing-masing.
"bawa dia ke kamar, layani dengan baik" ucap Baron kepada wanita yang sedang bersama Alex
"baik bos. ayo sayang"
wanita itu menarik tangan Alex dan membawanya keluar. Akmal yang menyamar sebagai pelayan minuman, begitu melihat Alex keluar dengan wanita cantik, ia pun segera mengikuti mereka.
di lantai 12 itu, banyak kamar yang tersedia. Alex dibawa di salah satu kamar mewah. setelah masuk dan mengunci pintunya, wanita tadi langsung menyambar bibir Alex dan **********.
Alex hanya diam tanpa membalas ciuman wanita itu. ketukan pintu membuat aksi wanita itu terhenti. dengan kesal ia berjalan ke arah pintu dan membukanya. Akmal menerobos masuk setelah pintu terbuka lebar.
"hei apa yang kamu lakukan" wanita itu begitu marah Akmal masuk begitu saja
"harusnya aku yang bertanya padamu, apa yang kamu lakukan di sini bersama dia...?" Akmal memainkan peran, ia bahkan seolah marah kepada Alex
belum sempat menjawab, satu wanita cantik lagi datang di kamar itu. melihat ada dua pemuda tampan di dalam kamar, senyuman wanita itu terlihat jelas.
"aku dipanggil bos Baron untuk datang ke sini. jadi, siapa yang ingin aku layani...?" wanita itu melihat Alex dan Akmal bergantian
"oh, jadi kamu temannya ya" wanita yang bersama Alex tadi mengira kalau Akmal pun akan dilayani di kamar itu
"kamu bersama dia saja" dia menunjuk Akmal "karena aku sudah memilih dia" wanita itu dengan genit melangkah mendekati Alex namun Akmal langsung menghadangnya dan menarik Alex menjauh
"kami berdua tidak tertarik dengan kalian" ucap Akmal
"hah...?"
kedua wanita itu saling pandang dan terbengong dengan ucapan Akmal. namun detik berikutnya keduanya tersenyum dan melangkah mendekati dua pemuda itu.
"masa iya kamu nggak tertarik sama aku" dada Akmal dibelai, hal itu membuat Akmal merinding disko
kedua wanita itu mulai beraksi bahkan akan melepaskan pakaian mereka saat itu juga.
"hei...hei, berhenti" Akmal panik, Alex mulai jengah
"sayang...aku tuh maunya main berdua sama kamu, nggak sama mereka" dengan manja Akmal bergelayut di lengan Alex
sontak Alex melotot dan merinding dengan sikap Akmal kepadanya. jika tadi dirinya tidak merasakan apapun saat disentuh oleh wanita tadi, namun sekarang Alex bulu kuduknya berdiri saat disentuh oleh Akmal.
"sayang...?"
kedua wanita itu melongo seperti orang bodoh. tidak habis pikir ternyata yang mereka layani adalah pasangan pelangi.
"sayang...ayo dong, aku udah nggak tahan nih. usir mereka" Akmal meraba-raba dada Alex. tangan pemuda itu ditangkap oleh Alex dan diremasnya dengan kuat
"aaah..sayang kamu nakal deh. jangan main kasar dong" dengan gaya genit, Akmal memukul pelan dada Alex. suara sensual yang Akmal keluarkan membuat Alex semakin jengkel dan kesal. ingin sekali rasanya membuang Akmal di jendela
"kalian berdua homo...?"
"hiiiiiii... amit-amit deh, ganteng-ganteng pelangi"
kedua wanita itu meninggalkan kamar dengan perasaan geli dan kecewa. setelah keduanya keluar, Alex melempar Akmal ke atas ranjang seperti melempar karung beras.
"aduh, mas nggak ada manis-manisnya banget sih. sakit pantatku tau" cebik Akmal
"sekali lagi kamu seperti tadi, aku buang kamu di jendela ya"
"aaw... mau dong mas dibuang" bukannya sadar, Akmal malah semakin menggoda Alex. tubuhnya ia miringkan. satu tangannya memangku kepalanya dan ia mengedipkan mata kepada Alex
"ku sleding juga muka mu Mal" kesal Alex
"ih Abang jahat, aku tuh cinta berat. sini dong dekat dekat, ku belai pelan-pelan" semakin gresek otak si Akmal, ia bahkan memonyongkan bibirnya dan kembali mengedip-ngedipkan mata
"hiiiiiii... amit-amit jabang bayi" Alex semakin merinding melihat kelakuan Akmal