Fatahillah

Fatahillah
Bab 54



Yusuf menggendong Anisa dan membawanya ke ruang rawat sementara Fatahillah dan Hasan masih tetap berada di depan ruang ICU. Fatahillah mengacak rambutnya, begitu frustasi dengan situasi yang ia alami sekarang. andai dirinya belum memiliki Zelina, mungkin ia bisa menerima permintaan pak Agung namun dan belajar menerima Anisa. sayangnya, hati Fatahillah Malik saat ini hanya untuk Zelina Muhatmainnah, wanita yang ia dapatkan dari seorang ayah yang memberikan sesuatu yang berharga namun membuat nyawanya terancam setiap saat.


"apa terjadi sesuatu di dalam sampai kamu begitu frustasi seperti ini...?" tanya Hasan


Fatahillah menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan kasar.


"pak Agung meminta aku untuk menikahi Anisa" Fatahillah menjawab setelah sekian detik membisu


"menikah...? lalu bagaimana dengan Zelina...?" Hasan tentu saja kaget


"aku menolaknya"


"bagus, itu keputusan yang tepat. jika tadi kamu terima maka kamu adalah laki-laki yang brengsek Fatah. istri sedang terancam nyawanya tapi kamu malah mau menikah, simpan dimana otakmu" Hasan berucap kesal


"aku menolaknya, kenapa malah memarahiku"


"bukan marah, hanya kesal saja. kenapa setiap ada yang meninggal pesan terakhir mereka adalah memaksa laki-laki untuk menikahi anak gadisnya. nggak pak Imam nggak pak Agung. tapi kalau pak Imam aku nggak kesal karena kan Yusuf belum mempunyai bini, dan kalau menurut aku, Yusuf cocoklah sama Zulaikha. lah kalau kamu.l, perasaan pak Agung pasti sudah tau kalau kamu sudah menikah tapi masih memaksa juga, heran banget aku"


"hilangkan rasa kesal mu itu, beliau sudah tidak ada jangan sampai karena rasa kesal mu padanya membuat pak Agung kesusahan di alam kubur"


"oke lah" Hasan manggut-manggut " lalu apa yang akan kita lakukan sekarang...?" lanjutnya


belum menjawab namun Yusuf telah menghampiri mereka berdua.


"Anisa baik-baik saja...?" tanya Fatahillah setelah Yusuf ikut duduk bersama mereka


"kalau mau di bilang dia baik-baik saja jelas itu tidak mungkin. dia baru saja kehilangan seorang ayah, tidak ada yang baik-baik saja saat merasakan yang namanya kehilangan" Yusuf menjawab


Yusuf mengusap wajahnya dengan kasar sebelum akhirnya ia bangkit dari duduknya.


"mau kemana Yus...?" tanya Hasan


"Anisa tidak lagi mempunyai siapa-siapa selain ayahnya. aku akan mengurus jenazah pak Agung dan akan langsung di makamkan. melihat keadaan Anisa, sudah pasti dia tidak bisa mengurus semuanya. sebagai sahabat, jelas aku tidak akan hanya menjadi penonton bukan" jawab Yusuf


"kalau begitu pulangkan saja jenazah pak Agung, biarlah kita yang mengurus semuanya. aku akan menghubungi tukang gali kubur untuk menyiapkan galian" timpal Fatahillah


"tapi bagaimana nanti jika Anisa bangun dan tidak bisa menyaksikan pemakaman ayahnya, bisa-bisa dia marah sama kita" ucap Hasan


"kalau begitu kalian berdua saja yang membawa pulang jenazah pak Agung, biar aku yang di sini menemani Anisa sampai dia sadar dan membawanya pulang" Fatahillah memberikan saran


"baiklah, aku percayakan Anisa padamu" ucap Yusuf dan Fatahillah mengangguk.


Fatahillah hanya merasa bersalah kepada wanita itu sehingga dirinya ingin menebus kesalahannya dengan memberikan perhatian namun tetap dalam batasan. ia akan mengatakan kalau sampai kapanpun meskipun mereka tidak menikah, Fatahillah tetap akan menjadi sahabatnya hanya saja dengan pengecualian Anisa tidak berani seperti kemarin-kemarin.


jenazah pak Agung di masukkan ke dalam ambulan. sementara Yusuf dan Hasan merasa memakai mobil Yusuf karena mobil yang di bawa Hasan tadi akan dipakai oleh Fatahillah.


"Yus, boleh aku bertanya...?" tanya Hasan


"sejak kapan kamu bertanya harus meminta izin terlebih dahulu" Yusuf melirik sekilas ke arah Hasan kemudian kembali melihat ke depan


"apa benar kamu akan menikah dengan Zulaikha...?"


"kamu sudah mengetahui hal itu...?"


"jawab saja, benar atau tidak"


"aku belum mengambil keputusan. menikah tidak segampang membalikkan telapak tangan. terlebih lagi Zulaikha masih sekolah, dia baru saja akan tamat sekolah dan pastinya dia ingin kuliah. aku tidak ingin memutuskan cita-citanya hanya karena menikah denganku"


"dari jawaban yang kamu lontarkan, aku dapat menyimpulkan kamu berat untuk menikahinya bukan"


"entahlah" Yusuf membuang nafas


mobil ambulan yang membawa jenazah pak Agung berhenti di halaman rumah yang besar. mobil Yusuf pun ikut masuk ke halaman rumah itu. pak satpam serta ART di rumah itu sudah menunggu kedatangan jenazah tuan mereka sejak tadi. Yusuf dan Hasan turun dari mobil dan membantu dua orang laki-laki yang bertugas menjaga jenazah pak Agung sampai di rumah laki-laki baya itu.


jenazah pak Agung di baringkan di ruang tengah. art di rumah itu telah menyediakan karpet dan bantal sejak tadi untuk tempat pembaringan majikannya. setelah selesai, dua orang tadi language pamit untuk pulang.


para tetangga mulai berbondong-bondong datang melayat di rumah itu. sementara Yusuf menghubungi pak Imam agar nanti membimbing untuk memandikan jenazah dan mensholatkannya.


di rumah sakit Fatahillah duduk di dekat Anisa. wanita itu mulai membuka mata dan menelisik sekitar.


"Fatah" panggilnya setelah melihat Fatahillah sedang bersamanya


"kamu baik-baik saja...?"


Anisa bangun dan melepaskan jarum infusnya kemudian turun dari ranjang. Fatahillah menahan wanita itu agar tidak kemana-mana.


"lepaskan, aku mau ketemu ayah" Anisa memberontak


"aku akan mengantarmu tapi istirahatlah sebentar lagi sampai tenagamu pulih. bagaimana kamu akan mengiring pak Agung ke tempat terakhirnya jika kamu lemah seperti ini"


"aku tidak perlu bantuan mu Fatah. gara-gara kamu ayah meninggal. aku benci kamu, aku benci" Anisa mendorong Fatahillah untuk menjauh namun kekuatan laki-laki tidak seberapa dengan kekuatan wanita


Anisa terus memukul dada Fatahillah dengan tangis. Fatahillah tidak menahan, ia membiarkan Anisa meluapkan emosinya dengan begitu dirinya tidak akan merasa bersalah.


"kamu tega Fatah, apa salahnya menerima permintaan ayah"


"apa hebatnya wanita sialan itu, dia jauh lebih cantik dariku dan aku lebih kaya darinya. apa yang kamu lihat darinya, atau jangan-jangan kamu terkena pelet dari wanita kecentilan itu"


"dia istriku Anisa" Fatahillah mundur selangkah dan tidak lagi memegangi tubuh Anisa


"lihat saja Fatah, kalau aku tidak bisa mendapatkan mu maka siapapun tidak akan bisa mendapatkan mu"


"astaghfirullah, Anisa... kenapa kamu jadi seperti ini. mana Anisa yang aku kenal dulu"


"Anisa yang dulu sudah mati"


Anisa turun dari ranjang dan melenggang keluar sementara Fatahillah mengusap wajahnya dengan kasar dan mengeja wanita itu.


"aku antar kamu ke rumah"


"tidak perlu, aku bisa sendiri"


"jangan keras kepala Anisa" Fatahillah membentak wanita itu membuat Anisa kaget


"kamu membentakku...?" Anisa mulai berkaca-kaca kembali


"astaghfirullah"


Fatahillah menjambak rambutnya dan mengacak-acaknya. beban hidup dan pikirannya sudah membuat pundaknya turun dan sekarang ia harus di hadapkan dengan sahabatnya yang menambah beban baginya.


"baiklah, kamu ingin pulang sendiri kan. silahkan kamu pulang" Fatahillah melenggang pergi meninggalkan Anisa


bukan tidak peduli hanya saja daripada mengurus Anisa yang keras kepala lebih baik Fatahillah mengurus sesuatu yang berguna. ia ingin mencari mustika putih di rumah pak Umar. ibunya tidak ingin menjelaskan apapun tentang dua orang yang berada di foro yang ia bawa, membuat Fatahillah semakin merasa kesal dan jengkel namun tentu saja hal itu tidak ia lampiaskan kepada ibunya.


Fatahillah masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah sakit, ia kemudian menghubungi Fauzan.


(Zan kamu dimana...?)


(aku perlu bantuan mu)


(bantuan apa...?)


Fatahillah mulai memberitahukan keinginannya kepada Fauzan.


(baiklah, tunggu aku di rumah pak Umar, sebentar lagi aku ke sana)


(aku tunggu)


awalnya Fatahillah ingin pulang ke rumah, namun karena setelah menghubungi Fauzan dan laki-laki itu bersedia membantunya, ia pun membelokkan mobilnya ke arah jalan rumah pak Umar. dirinya sebenarnya ingin pergi ke rumah pak Agung, bagaimanapun juga pak Agung adalah orang yang paling berjasa dalam hidupnya. kini Fatahillah semakin di peram kelesah, merasa sangat bersalah jika dirinya tidak menghadiri acara pemakaman laki-laki itu.


setelah berpikir jernih, Fatahillah mengubah jalur mobilnya. ia kembali berputar arah dan menghubungi Fauzan untuk menunggunya di rumah pak Agung jikalau dirinya belum juga sampai.


berkendara beberapa menit, kini tibalah Fatahillah di rumah pak Agung. sudah banyak orang di dalam. ia pun keluar dari mobil dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. di lihatnya Yusuf sedang duduk bersama Hasan. ia menghampiri kedua laki-laki itu dan duduk di samping mereka.


"baru datang...?" tanya Yusuf


"iya" jawab Fatahillah


"Anisa mana...?" tanya Yusuf


"Anisa...?" kening Fatahillah mengkerut "bukannya dia sudah datang lebih dulu" lanjutnya


"apa maksudmu Fatah, bukannya dia bersama kamu di rumah sakit kenapa sekarang malah kamu tidak tau keberadaan dia"


"dia tidak ingin di antar olehku Yus, maka dari itu aku tidak bersama dirinya sekarang. tadi sebelum ke sini aku ke rumah pak Umar, aku pikir Anisa sudah akan sampai"


"astaga Fatah, kamu ini benar-benar ceroboh. kalau Anisa di culik seperti Zelina bagaimana" kini Hasan yang bersuara


wajah Fatahillah berubah menjadi tegang, tanpa berpamitan ia keluar dari rumah. Hasan mengikutinya sementara Yusuf tetap di tempat, ia harus menyelesaikan urusan jenazah pak Agung terlebih dahulu walaupun dalam hatinya ia ingin sekali mencari Anisa.


"Fatah, aku ikut" Hasan menahan mobil Fatahillah dengan berdiri di depannya


"cepat masuk"


Hasan bergegas masuk ke dalam mobil dan kemudian mereka meninggalkan rumah pak Agung.


"harusnya aku tidak meninggalkannya tadi" sesal Fatahillah


"kamu sengaja meninggalkannya...?" tanya Hasan


"dia tidak ingin aku antar dan dirinya terus menghina Zelina. suami mana yang tidak marah jika istrinya di hina oleh orang lain"


"tapi tidak dengan meninggalkan Anisa juga Fatah. dia baru saja kehilangan ayahnya, harusnya kamu memahami kondisinya sekarang"


"iya...aku menyesal telah membentaknya tadi. semoga saja dia tidak kenapa-kenapa" Fatahillah menghela nafas berat


bahkan mobil yang mereka tumpangi itu sudah menyusuri jalan sekitar rumah sakit dan jalan yang lain namun sampai sekarang mereka belum juga menemukan Anisa. Fatahillah berkali-kali menghubungi Anisa hanya saja tidak angkat dan dibiarkan mati begitu saja.


"ya Allah...kenapa semakin rumit seperti ini sih"


"bagaimana kalau kita ke rumah sakit dan melihat rekaman cctv di sana. siapa tau kita akan mendapatkan petunjuk dari situ" ucap Hasan


belum juga Fatahillah mengangguk, sebuah panggilan masuk di ponselnya. Fauzan menghubunginya.


(halo Zan)


(jadi datang nggak...?)


(sepertinya dibatalkan saja dulu, maaf membuat kamu menunggu. tapi aku harus mencari Anisa terlebih dahulu)


(memangnya kenapa dengan dokter Anisa...?)


(dia hilang dan aku hubungi nomornya juga tidak aktif)


(ya sudah kalau begitu aku tunggu kamu saja di sini. ada yang ingin aku beritahu padamu dan ini sangat penting, mengenai mustika putih)


(kamu sudah tau dimana keberadaan benda itu...?)


(belum pasti tapi yang jelas aku mendapatkan petunjuk, kalau urusanmu sudah selesai maka langsung ke sini)


(baiklah)


"Fauzan dimana sekarang...?" tanya Hasan


"di rumah pak Umar, aku tadi menghubungi dia untuk membantuku memeriksa rumah pak Umar"


"sudah meminta izin kepada pemiliknya...?"


"belum, mungkin nanti saja"


mereka berhenti di rumah sakit. rekaman cctv dari rumah sakit itu sangat mereka perlukan untuk mengetahui keberadaan Anisa. dan kini mereka telah berada di tempat sang operator yang mengendalikan semua cctv di rumah sakit itu.


"itu...itu Anisa" Hasan menunjuk ke layar komputer


terlihat Anisa keluar dari halaman rumah sakit dan berdiri di pinggir jalan. sepertinya ia sedang menunggu taksi. tidak lama mobil hitam berhenti di depannya dan dua orang berpakaian ninja keluar dan menyeret paksa Anisa untuk masuk ke dalam mobil.


"astga, dia di culik" ucap Hasan


kepalan tangan Fatahillah begitu kuat, emosinya benar-benar memuncak. segera ia keluar dari ruangan itu dan menuju ke mobilnya. Hasan berlari mengejarnya.


"brengsek... aaaaagghhh" Fatahillah memukul setir mobil mengeluarkan semua amarahnya


Hasan diam, memberikan Fatahillah ruang untuk menenangkan pikiran dan hatinya.


"Hasan, apakah kamu tau dimana tempat terpencil di kota ini yang tidak di ketahui banyak orang" setelah sekian menit memenangkan dirinya, Fatahillah bertanya


"memangnya kenapa kamu menanyakan hal itu...?"


"aku ingin melakukan penyatuan energi dengan mustika merah"


"kamu gila, kamu bisa mati Fatah. energi mustika merah sangat kuat dan bisa-bisa kamu meninggal jika tidak mampu mengendalikannya. makanya itu kamu membutuhkan mustika putih, karena benda itu dapat mengendalikan energi mustika merah"


"aku tidak peduli. sekarang Anisa pun ikut di culik San, apa kau harus tinggal melihat saja tanpa bisa berbuat apa-apa. kalau kamu tidak ingin mengantar aku maka turun kamu, aku sendiri yang akan mencari tempat itu"


Hasan menarik nafas sebelum akhirnya memutuskan untuk menemani Fatahillah. setidaknya jika terjadi sesuatu dengan Fatahillah, ia dapat menolong laki-laki itu.


"aku akan mengantarmu"


"aku tau kamu tidak akan membiarkan aku bertindak sendiri" Fatahillah tersenyum "lalu kita kemana...?" lanjutnya


"ke arah timur" jawab Hasan


Fatahillah menyalakan mobilnya dan meninggalkan rumah sakit. mereka akan mengarah ke arah timur tempat yang di inginkan oleh Fatahillah.