Fatahillah

Fatahillah
Bab 76



Zelina mondar-mandir di teras menunggu suaminya dan Akmal. dalam benaknya kini sekarang ia mengkhawatirkan Arjuna dan Zulaikha. hanya kedua remaja itu yang masih di sekolah dan pulang pada jam 2 siang nanti sementara sekarang masih dalam waktu pukul 12.30 siang.


ibu Khadijah yang sedang mencarinya kini datang mendekati Zelina dan memegang pundaknya. hal itu membuat Zelina terlonjak kaget.


"astaghfirullah... maaf bu, aku pikir siapa" Zelina merasa bersalah sebab ia menepis tangan ibu Khadijah dengan kasar


Zelina memeluk ibu mertua dan lagi-lagi meminta maaf.


"kenapa nak...? ibu melihat kamu gelisah sekali. apa terjadi sesuatu...?" dengan lembut ibu Khadijah bertanya


"tidak bu, aku hanya menunggu kepulangan anak-anak dari sekolah" Zelina berusaha bersikap tenang, ia tidak ingin bercerita sebab sudah pasti ibu Khadijah akan khawatir


"apa sudah dijemput...?"


"mas Fatah dan Akmal yang jemput mereka bu"


"ya sudah, kalau sudah dijemput maka tidak perlu gelisah seperti ini. ayo masuk ke dalam, ibu baru saja membuat es pisang ijo, panas-panas seperti ini enak minum yang dingin-dingin"


"masya Allah, kenapa tidak memberitahu aku bu untuk membantu ibu"


"kamu kan tadi sedang bersama Fatah dan Akmal, lagipula Fatimah juga membantu ibu. ayo masuk, sebentar lagi mereka pasti datang"


Zelina mengangguk dan keduanya masuk ke dalam rumah. hanya berselang beberapa menit mereka masuk ke dalam rumah, mobil yang menjemput anak-anak telah tiba di halaman rumah. satu persatu anak-anak itu keluar, mengucapkan salam dan bergerombol masuk ke dalam.


Fatahillah dan Akmal pun keluar dari mobil dan menyusul mereka.


suara riuh yang terdengar dari ruang tamu membuat Zelina begitu lega, anak-anaknya pulang dengan selamat. ia pun mengarahkan mereka untuk mengganti pakaian, sholat dzuhur dan setelah itu makan siang.


"wah makan apaan tuh, kayaknya enak" Akmal mendaratkan bokongnya di sofa dan tergiur dengan apa yang disantap oleh Hasan dan Fauzan


"es pisang ijo, tunggu sebentar bibi ambilkan" ibu Fatimah yang baru saja dari depan membawakan es pisang ijo untuk satpam di rumah itu, melengos pergi ke dapur


di dapur Zelina dibantu oleh art menyiapkan makanan untuk anak-anak, sementara ibu Khadijah melihat anak-anak di dalam kamar mereka.


"untuk siapa bi...?" tanya Zelina saat melihat ibu Fatimah sedang menyiapkan pisang ijo


"untuk suamimu dan Akmal" jawab ibu Fatimah


"bi Lili, tolong dilanjutkan ya" ucap Zelina kepada art


"baik non"


Zelina melangkah menuju ke ruang keluarga menyongsong para lelaki. ia ingin memberitahu Zulaikha dan Arjuna harus dijemput juga.


"mas" panggil Zelina


Fatahillah menoleh, Zelina semakin dekat dan duduk di sampingnya.


"Zulaikha dan Arjuna bagaimana, mereka belum pulang" ucap Zelina


"kan Arjuna bawa motor Zel, mereka pasti pulang bersama" timpal Hasan


"masalahnya bukan itu mas, aku takut pengintai tadi menyusul mereka ke sekolah"


"pengintai...?" Hasan dan Fauzan sama-sama mengerutkan kening


Fatahillah dan Akmal memang belum cerita makanya itu keduanya belum mengetahui ada kejadian yang saat ini harus memaksa mereka untuk berhati-hati.


"tadi pagi ada yang mengintai rumah ini, sempat aku kejar tapi dia langsung lari" Akmal memberitahu keduanya


"situasi kita sekarang semakin dalam bahaya. bukan hanya di sini, tadi juga Haninayah mengirim pesan kalau dirinya diikuti dan. bahkan mereka akan pindah rumah. sempat berbicara dengan ibu Kamila namun panggilannya langsung terputus. kalau seperti ini, lebih baik kamu segera ke kota X Fatah jangan menunggu sampai pernikahan tiba. di sini ada Yusuf dan Fauzan yang akan melindungi semua orang, apalagi sekarang Yusuf mempunyai orang-orang yang pak Agung yang kini menjadikan dia sebagai bos mereka. kita minta bantuan mereka saja untuk menjaga rumah ini dan juga anak-anak" ucap Hasan


"berarti ada yang tau kalau Haninayah yang memiliki mustika putih itu" timpal Zelina


"berarti mereka dalam bahaya sekarang, mas Fatah memang sebaiknya harus bertindak dari sekarang" ucap Akmal


"bisa kita bahas itu nanti saja sekarang kita jemput Arjuna dan Zulaikha mas, aku takut mereka diculik lagi" Zelina tidak dapat menampik rasa khawatirnya


Fatahillah mengiyakan, keduanya akan ke sekolah dua Arjuna dan Zulaikha. namun ternyata dua orang itu sudah mengucapkan salam di depan pintu dan masuk ke dalam rumah.


"ya Allah, terimakasih... akhirnya kalian pulang" Zelina begitu bersyukur dan lega


Arjuna dan Zulaikha mencium tangan semua orang kemudian ikut duduk bersama mereka.


"kenapa mbak...?" tanya Arjuna


"kalian di sekolah tidak diikuti orang kan...?" Zelina menatap bergantian dua remaja itu


"nggak ada mbak, memangnya kenapa...?" timpal Zulaikha


"tidak kenapa-kenapa, kalau begitu kalian ganti baju, sholat terus makan"


"kami sudah sholat di sekolah mbak" jawab Arjuna


"ganti baju dan ke dapur untuk makan ya" Fatahillah menyuruh


"baik mas"


keduanya patuh dan meninggalkan mereka naik ke lantai atas menuju kamar masing-masing.


"coba hubungi Haninayah lagi, siapa tau sudah tersambung" ucap Fatahillah


Fauzan merogoh ponselnya dan mencari nomor Haninayah. seperti tadi siang, nomor adik pak Umar itu tidak bisa di hubungi. bahkan nomor ibu Kamila pun di luar jangkauan.


"nggak aktif" Fauzan menghela nafas


karena keputusan harus diambil secara musyawarah, maka Fatahillah memanggil ibu Khadijah dan ibu Fatimah untuk mendiskusikan perihal yang akan mereka katakan. saat ini mereka telah berkumpul semua, bahkan Arjuna dan Zulaikha pun ikut bergabung bersama setelah makan siang.


"kalau memang sudah tidak memungkinkan untuk menunggu sampai minggu depan maka kalau begitu kamu berangkatlah saja ke kota X Fatah, tidak usah khawatir dengan kami di sini. ada Yusuf dan juga Fauzan yang akan menjaga kami" ibu Fatimah akhirnya mengeluarkan pendapatnya setelah Fatahillah memberitahukan sesuatu yang sebenarnya terjadi


"iya, Haninayah lebih membutuhkan bantuan kalian sekarang. lebih cepat lebih baik. untuk pernikahan, tetap akan dilangsungkan minggu depan sesuai dengan kesepakatan saat lamaran kemarin. jangan menunda lagi, ayahmu sudah terlalu lama menunggu" ucap ibu Khadijah


"ibu tidak ingin ikut, aku singgah ke kota B terlebih dahulu untuk bertemu ibu Laila. ibu tidak ingin bertemu dengannya...?" Fatahillah melihat ibunya


"ibu di sini saja, siapa yang akan mengurus Anisa kalau ibu juga ikut. bagaimanapun sekarang Anisa adalah anak perempuan ibu, ibu ingin melihat ia menikah, setidaknya hanya itu yang bisa kita lakukan untuk membalas kebaikan mereka" ibu Khadijah menjawab


"tapi ibu Laila ingin bertemu dengan ibu" timpal Zelina


ibu Khadijah tersenyum teduh kepada menantunya "kami akan bertemu jika sudah tiba waktunya. sampaikan saja salamku padanya" ucap ibu Khadijah


"tapi kalau boleh tau, apakah pak Umar tidak akan pulang ke sini lagi...?" ibu Khadijah melihat Hasan


"Hanum belum sepenuhnya sembuh bu, tapi insya Allah mereka pasti pulang. setelah bekas luka di seluruh tubuh Hanum sembuh, mungkin saat itu mereka akan pulang" Hasan yang dimintai jawaban langsung menjawab


"maka kalau begitu berangkatlah besok ke kota B, jangan di tunda lagi" ucap ibu Fatimah


"apakah mbak Zelina akan ikut...?" Zulaikha mengeluarkan pertanyaan


"sebaiknya tidak" Fatahillah menjawab cepat


"nggak, aku tetap akan ikut" Zelina membantah dengan tegas


Fatahillah menarik nafas, sementara yang lain saling pandang.


"sayang, kali ini kamu di sini saja ya atau di pesantren. bahaya kalau kamu ikut, musuhku semakin banyak. aku tidak mau kamu terluka karena mengikuti aku" dengan lembut Fatahillah mengeluarkan pendapatnya


"bukannya ada kamu yang akan menjagaku. aku pokoknya ikut mas, kita sudah sepakat dari awal" Zelina tetap tidak setuju


"seorang istri memang bisa mengikuti kemanapun suaminya pergi karena itu adalah haknya. tapi jika dalam keadaan bahaya seperti ini, apabila kamu ikut, maka Fatahillah semakin terbatas untuk bergerak. jika Fatahillah hanya pergi sendiri atau mungkin bersama dengan Akmal atau Hasan, mereka pasti melawan dan Fatahillah tidak cemas sebab mereka tau beladiri. tapi jika kamu ikut dan kalian dalam keadaan genting, Fatahillah akan berpikir seribu cara agar bagaimana kamu tidak bisa terluka bahkan mungkin tidak akan melawan jika kamu disandera. bukannya bibi melarang kamu, tapi cobalah pikirkan baik-baik" ibu Fatimah mencoba membuka pikiran Zelina


yang lain diam tidak bersuara, apalagi Zulaikha yang bertanya tadi, ia meremas jemarinya takut kalau kakak sepupunya dan istrinya bertengkar karena pertanyaan yang ia lontarkan. matanya berputar ditempa gelisah hingga kemudian ia saling bertemu pandang dengan Fauzan. tau jika calon istrinya sedang gelisah, Fauzan mengatakan sesuatu.


"tenang" ucap Fauzan yang hanya ada gerakan bibir tanpa suara agar yang lainnya tidak mendengar. ia tersenyum dan mengangguk sebagai isyarat kepada Zulaikha bahwa semuanya tidak akan seperti yang ia pikirkan


Zulaikha mengangguk pelan dan mengatur nafas, ia memperbaiki posisi duduknya.


"aku tetap ingin ikut, kita sudah berjanji sejak awal menikah mas....kenapa sekarang kamu malah berubah" Zelina menatap lekat Fatahillah, bahkan intonasi suaranya ia naikkan karena meras kesal Fatahillah akan meninggalkannya


ibu Khadijah yang berada di dekat Zelina, ia memegang tangan menantunya itu dan memberikan senyuman hangat.


"bicarakan baik-baik" ucap ibu khadijah


dua kata yang kini membuat Zelina sadar kalau harusnya ia tidak boleh berdebat ditempat orang banyak seperti itu, meskipun mereka adalah keluarga. Zelina menunduk dan menggigit bibir, ia merasa bersalah telah berbicara dengan suara tinggi kepada suaminya. meskipun nada suaranya tidak begitu tinggi namun jika didengar oleh orang lain, tetap mereka akan berprasangka bahwa dia kini sedang membentak.


"Zan, kirimkan nomor Haninayah kepadaku. tiba di kota X aku akan menghubunginya" Fatahillah mengalihkan ke pembicaraan yang lain


"sudah, nomor ibu Kamila juga sudah aku kirimkan" ucap Fauzan


"apakah ibu Kamila itu ibunya Haninayah...?" tanya Fatahillah dan Fauzan mengangguk


"Haninayah sama seperti Zelina, dia memakai cadar" ungkap Hasan yang sejak tadi tidak bersuara


"kamu akan ikut bersamaku San...?" tanya Fatahillah


"tentu saja, jika tidak ada lagi yang menemanimu apa tentu saja aku akan ikut" jawab Hasan


"aku juga ikut mas" Akmal bersuara


"bahaya loh mas Akmal" timpal Zulaikha langsung melihat pemuda itu


"kamu berkata seperti itu seakan meragukan kemampuan ku Cha. tenang saja, aku kan mempunyai senjata yang bisa melawan musuh" jawab Akmal "atau jangan-jangan kamu mengkhawatirkanku ya" Akmal menaik turunkan alisnya


plaaaak


"aduh"


Akmal mendapat geplakan kepala dari Fauzan, Zulaikha dan juga yang lainnya tertawa melihat Akmal komat-kamit menggerutu tidak jelas karena kesal


"makanya Mal...jangan coba-coba menggoda calon bini orang, kenapa geplak kan" Hasan mengejek dan terkekeh


"baru juga digoda dikit mas belum dicolek...udah main geplak saja, sakit tau" gerutu Akmal dengan wajah cemberut


"mau aku sleding mukamu...?" Fauzan melotot


Akmal menggeleng kepala dengan cepat dan berpindah tempat ke samping Hasan yang menurutnya jauh lebih aman. ibu Khadijah dan ibu Fatimah hanya geleng kepala, sementara Zelina yang masih diliputi rasa bersalah kepada suaminya, ia melirik Fatahillah yang ikut tertawa dan mengejek Akmal.


"sungguh terlalu" cebik Akmal


menjelang waktu sholat ashar, semuanya bergegas untuk berwudhu. namun saat itu Fatahillah mengajak Zelina ke kamar mereka yang ada di lantai dua. pembicaraan tadi harus ia selesaikan saat itu juga.


baru saja menutup pintu, Zelina langsung menghambur memeluk Fatahillah dan meminta maaf atas sikapnya tadi.


"maafkan aku mas, aku bersalah"


Fatahillah membuang nafas, sebenarnya ia juga tidak suka dengan sikap istrinya tadi namun sebagai suami maka sudah tugasnya untuk meluruskan semuanya dengan kepala yang tetap dingin tanpa ada ras emosi.


"kenapa diam saja mas, mas marah padaku...?" Zelina melerai pelukan dan mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Fatahillah


"duduk sayang" Fatahillah menarik tangan istrinya untuk duduk di ranjang


"bukannya kali ini aku tidak mau membawa kamu, namun keselamatanmu terancam jika kamu ikut bersamaku. kalau di sini, banyak orang yang akan melindungi kalian. saat kamu diculik aku bahkan tidak bisa berpikir jernih sayang, bagaimana nanti kalau hal yang lebih buruk lagi terjadi padamu"


"aku pergi untuk kembali, bukannya meninggalkan kamu selamanya. percayalah padaku semuanya akan baik-baik saja. tolong dengarkan aku kali ini ya" Fatahillah menggenggam erat tangan Zelina


Zelina menunduk tanpa disangka air matanya jatuh begitu saja. entah mengapa ia begitu tidak ingin ditinggal oleh Fatahillah.


"sayang...jangan membuat langkahku berat karena tidak ada ridho dalam hatimu" Fatahillah mengangkat dagu Zelina


"aku takut mas...aku takut mas akan pergi seperti mas Panji dan ayah" suara Zelina nampak mulai terdengar serak


sungguh Fatahillah tidak ingin membuat istirnya bersedih. ia pun menarik Zelina dan memeluknya.


"kematian tidak ada yang tau sayang, kita semua akan mengalami hal itu. aku akan jaga diri baik-baik dan pulang dengan selamat. bukan berjanji namun aku akan berusaha"


"nggak, aku maunya mas janji untuk kembali" Zelina semakin menangis


semakin merasa bersalah Fatahillah tapi keputusannya tetap dirinya tidak ingin membawa Zelina ke kota X.


"aku janji" ucap Fatahillah dan mengecup kening Zelina "sudah jangan nangis lagi, doakan semuanya akan cepat berakhir dan kita bisa hidup normal seperti orang lain. jika semuanya sudah selesai, aku akan mengajak kamu untuk bulan madu" Fatahillah menghapus air mata Zelina


Zelina mengangguk dan kembali memeluk Fatahillah. meskipun bibirnya berkata iya namun tetap saja hatinya masih berat untuk menerima keputusan suaminya. sayangnya ia harus menerima itu meskipun terpaksa.


sore harinya pukul 17.00, Yusuf datang bersama dengan Anisa, Afkar bersama Najwa. kedatangan Yusuf membuat Hasan memberitahu keinginannya tadi siang. tentu saja Yusuf setuju, demi keselamatan semua orang Yusuf sama sekali tidak keberatan. bahkan saat itu juga Yusuf langsung menghubungi Yudha untuk mengarahkan banyak orang agar berjaga di rumah Zelina.


anak-anak sedang bermain di taman bermain halaman depan rumah, Arjuna ikut bermain dengan anak-anak laki-laki yang sedang bermain bola. pemandangan itu membuat hati ibu Fatimah merasa tenang.


"jadi kamu akan berangkat besok...?" tanya Yusuf kepada Fatahillah


"rencananya begitu, kalau semakin lama takutnya Haninayah nyawanya semakin terancam" jawab Fatahillah


seorang pengemis tiba-tiba masuk ke halaman rumah. satpam yang berjaga hendak melarang namun pengemis itu berlari cepat dan tiba di tangga teras rumah. para perempuan yang berada di teras rumah sedang memantau anak-anak, kaget melihat pengemis itu.


"tolong berikan saya makan, saya lapar" ucap pengemis dengan wajah pucat dan pakaian koyak dimana-mana


"ambilkan makanan untuknya nak" ibu khadijah menyuruh Zulaikha


"biar aku saja bi" Anisa bangkit dan masuk ke dalam


pengemis itu dipersilahkan untuk duduk bersama mereka namun ia menggeleng dan menolak"


"pakaian saya kotor, biar saya di sini saja" ucapnya, ia bersandar di pot bunga besar yang ada di samping teras


Zelina bangkit dan mendekatinya "tidak apa-apa bu, ayo naik ke atas duduk bersama kami" Zelina memegang lengannya dan menariknya dengan pelan. akhirnya pengemis itu mau juga naik ke atas


"maafkan saya sudah membuat rumah besar ini kotor" dengan bibir pucatnya ia berkata


"tidak sama sekali bu, jangan sungkan" Zelina tersenyum lembut


"nama ibu siapa...?" tanya ibu Fatimah


"Sumi bu" jawabnya


"rumah ibu dimana...?"


"saya tidak punya rumah bu, saya hidup di jalanan"


begitu kasihan mereka dengan pengemis itu, kemudian Anisa datang membawa sepiring nasi yang penuh, lengkap dengan semua jenis lauk yang ada juga satu gelas air minum.


"makanlah bu, habiskan" Anisa memberikan piring itu kepada ibu Sumi


jatuh air mata ibu Sumi, bahkan tangannya bergetar mengambil piring itu.


"terimakasih... terimakasih banyak" dengan suara serak ibu Sumi berkata


Zelina mengusap lembut punggung ibu Sumi. ia makan dengan lahap bahkan terlihat begitu terburu-buru saking begitu laparnya yang ia rasakan.


"pelan-pelan saja bu" ucap Najwa dan ibu Sumi mengangguk tersenyum


setelah makan, ibu Sumi berpamitan untuk pergi. ibu Khadijah menahannya sebentar dan ia masuk ke dalam rumah. sementara itu Zelina memberikan uang kepada ibu Sumi untuk membeli kebutuhannya. ibu khadijah datang dengan membawa beberapa cemilan dan juga buah-buahan untuk ibu Sumi.


"jangan bu, makanan tadi sudah membuat saya kenyang" ibu Sumi menolak


"jangan menolak rejeki bu, ambillah. datanglah lagi jika ibu membutuhkan bantuan" ibu khadijah memberikan kantung plastik yang berisi makanan kepada ibu Sumi


ibu Sumi bergitu terharu, dirinya diperlukan seperti manusia pada umumnya yang tidak memanfaatkan rendah dan melihatnya dengan jijik. ibu Sumi berpamitan dan meninggalkan rumah itu.


berjalan semakin jauh dari rumah itu, ibu Sumi menghampiri seseorang yang sedang bersandar di mobilnya.


"bagaimana, sudah lakukan tugasmu kan...?" tanyanya setelah ibu Sumi berada di dekatnya


"sesuai dengan apa yang kamu perintahkan. pemilik rumah akan mengalami hal yang mistis. tapi... sepertinya mereka orang baik"


"itu bukan urusanmu, sekarang pergilah"


rumah Zelina kini sudah dijaga ketat oleh orang-orang Yusuf, sehingga membuat pergerakan sosok yang mengintai mereka tadi tidak dapat bergerak dengan bebas untuk melakukan aksinya. dari jauh ia dapat melihat beberapa orang berada di luar menjaga keamanan rumah itu. ia pun menghubungi seseorang.


(mereka kini dijaga ketat)


(jangan bertindak gegabah, kita harus hati-hati jangan sampai mati konyol seperti Samantha Regina)


(lalu apa yang harus kita lakukan...?)


(pulang saja dulu, kita bicarakan di sini)


(baik bos)


orang itu naik ke atas motornya dan meninggalkan rumah Zelina. sementara juga di tempat ibu Sumi tadi, seorang wanita berdiri angkuh dan menatap tajam rumah besar itu.


"selamat menderita" ucapnya dengan seringai iblis