
Rumah dengan corak warna biru menjadi tempat pemberhentian Aji Wiguna juga Najihan. Rumah lantai dua itu tidak begitu luas namun tentu terlihat elegan dan mewah. Halaman depan, nampak taman bermain untuk anak-anak. Kemudian di samping rumah, kolam renang yang airnya berwarna biru, begitu menyegarkan untuk bersantai di tempat itu.
"ini rumah aku, tempat tinggal aku dan juga Kaindra" Najihan membuka suara karena sesaat mereka terdiam. Aji Wiguna memperhatikan rumah nyaman itu di dalam mobil.
"ayo turun mas. Kaindra pasti begitu senang akan bertemu denganmu"
Najihan membuka pintu mobil dan turun begitu juga Aji Wiguna. Langkah Aji Wiguna mengikuti langkah Najihan yang mendekat ke arah teras rumah. Saat tangan dokter itu memegang gagang pintu, benda itu terkunci membuat keningnya mengerut. Ia pun mengambil kunci rumah di dalam tasnya dan membuka pintu.
"masuk mas"
"kalian tinggal berdua di sini...?"
"iya, kami hanya berdua saja"
"lalu siapa yang menjaga Kaindra saat kamu bekerja...?"
"bi Sumi yang menjaga Kaindra. bi Sumi akan pulang ke rumahnya setelah aku pulang dari rumah sakit. Namun tak jarang bi Sumi menginap menemani Kaindra saat aku berjaga di rumah sakit dan juga melakukan tugas yang dadakan. Mas tidak ingin masuk...?"
"tidak aku disini saja. Sepertinya tidak ada orang, terbukti saat kamu membuka pintu dengan kunci rumah yang kamu pegang. kita berdua adalah laki-laki dan wanita, tidak baik berada dalam satu ruangan yang sama. Akan jadi fitnah nantinya" Aji Wiguna menolak, dirinya tidak ingin dicap laki-laki tidak baik nantinya.
"bukankah kita masih berstatus suami istri, kamu tidak pernah menjatuhkan talak padaku mas" Najihan menatap sendu Aji Wiguna.
"kamu pergi dariku sudah sangat lama Najihan, dan bahkan aku sudah tidak pernah memikirkan kalau aku mempunyai seorang istri yang berada di tempat yang jauh. setelah kamu memutuskan pergi meninggalkanku dalam keadaan koma di rumah sakit, sejak saat itu aku sudah menganggap kita bukan lagi suami istri. jadi berhenti berpikiran seperti itu"
Ucapan Aji Wiguna begitu menohok di hati Najihan. dirinya memang yang memilih untuk pergi dari kehidupan laki-laki yang begitu mencintainya. bahkan menjadi tersangka dari kritisnya Aji Wiguna di rumah sakit. Karena ego dan dendam, Najihan begitu buta mata tanpa mendengar penjelasan dari laki-laki yang rela memberikan nyawa hanya untuk membuktikan kalau dirinya tidak bersalah.
Saat mengetahui jikalau Aji Wiguna tidaklah bersalah, maka sejak saat itu Najihan begitu menyesal dan begitu merasa bersalah. dirinya pernah kembali untuk menemui Aji Wiguna namun laki-laki itu meninggalkan negaranya pergi ke luar negeri. sejak saat itu Najihan tidak pernah lagi bertemu Aji Wiguna hingga takdir mempertemukan mereka kembali di gunung Gantara.
"mama" suara anak kecil membuat keduanya beralih menatap ke arah pagar.
Anak laki-laki berusia lima tahun dengan pakaian celana jeans dan juga baju kaos hitam serta tas kecil yang ada di punggungnya, berlari mendekati mereka dan berhenti mendarat di pelukan Najihan.
"mama sudah pulang...? nggak pergi lagi kan...?" mata tajam namun begitu indah menatap manik mata ibunya.
"nggak sayang, mama nggak akan pergi lagi. Anak mama darimana, kok mama datang kamu nggak ada di rumah"
"dari beli es krim sama kue di tempat asyila"
"maaf bu, tadi den Kai ingin makan es krim makanya bibi membawanya keluar" ibu Sumi datang dan meminta maaf.
"tidak apa-apa bi, daripada ditinggal kan lebih baik diajak sekalian" Najihan begitu ramah. "bi tolong buatkan minum untuk tamu saya ya" lanjut Najihan.
"baik bu"
ibu Sumi berlalu pergi masuk ke dalam sementara Aji Wiguna tidak berkedip menatap Kaindra yang juga kini sedang menatapnya namun bersembunyi di belakang ibunya.
"Kai tau nggak siapa yang datang ini...?" Najihan menarik Kaindra untuk kembali berdiri di depannya. Najihan sejak tadi berjongkok agar tingginya sama dengan tinggi putranya.
"nggak tau. Emangnya om ini siapa mah...?" Kaindra mengangkat kepala melihat Aji Wiguna yang sudah berkaca-kaca ingin sekali memeluk tubuh mungil putranya.
"Kai ingin bertemu papa kan nak...?"
Kaindra mengangguk begitu bersemangat jika Najihan sudah membahas tentang sosok seorang ayah.
"mau mau, kapan kita bertemu papa mah. Emangnya papa sudah mau ketemu Kai...?" mata bulat itu terlihat begitu senang.
"sekarang kita sudah bertemu papa sayang" Najihan menangkup wajah putranya dan mencium keningnya.
"dimana...?" sorot mata anak itu menampakkan pertanyaan.
"dia adalah papa kamu, papa yang selama ini kamu rindukan. Papa sekarang datang menemui Kaindra, katanya papa rindu sama Kai. ayo sayang, salim sama papa"
Najihan mendorong tubuh Kaindra untuk mendekati Aji Wiguna, sementara Aji Wiguna sudah berjongkok menanti kedatangan putranya. sayangnya Kaindra malah mundur kembali dan enggan untuk mendekat.
"kenapa sayang...?"
"om ini benaran papa...?" Kaindra menatap Aji Wiguna.
"iya sayang, ini papa. Kai nggak kangen sama papa...? Papa kangen loh sama Kai" Aji Wiguna menahan sesak dalam dada, ingin sekali memeluk putranya sekarang ini.
"mah" Kaindra meminta jawaban dari ibunya, ia memalingkan wajah untuk melihat wajah ibunya.
"iya sayang, dia papa. coba deh lihat foto papa di ponsel mama dan samakan wajahnya dengan om ini. Pasti wajahnya mirip"
Najihan mengambil ponselnya dan mencari foto Aji Wiguna yang masih di simpannya di galeri foto.
"lihat, miripkan" Najihan memperlihatkan foto Aji Wiguna di ponselnya.
Kaindra menatap lekat foto itu kemudian mengalihkan pandangan menatap Aji Wiguna yang kini sedang tersenyum hangat kepadanya.
"papa" Kaindra kini memanggil Aji Wiguna dengan panggilan papa.
"sini nak" Aji Wiguna merentangkan kedua tangannya.
Lekas Kaindra mendekat dan seketika Aji Wiguna menarik putranya itu dan memeluknya dengan erat. tumpah sudah air mata yang sejak tadi dirinya tahan. Najihan pun sampai tidak bisa menahan air mata.
"ya Allah, terimakasih... terimakasih telah menjaga putraku dengan begitu baik"
Aji Wiguna menciumi seluruh wajah Kaindra dan kembali memeluknya. Tidak ada yang lebih bahagia selain hari ini. bisa bertemu putranya yang dianggapnya telah berada di surga, adalah suatu kebahagiaan yang teramat sangat untuk dirinya.
Kini mereka telah berada di ruang tamu. Kaindra begitu lengket dengan Aji Wiguna dan bahkan saat ayahnya itu meminta izin untuk menunaikan sholat isya, Kaindra ikut kemanapun Aji Wiguna pergi. Mereka bahkan sholat berdua di dalam kamar. Dan saat ini pun, anak itu duduk di pangkuan ayahnya.
"pah, nanti tidur sama Kai dan mama kan...?"
Uhuk... uhuk
Najihan terbatuk-batuk mendengar permintaan anaknya. Dirinya yang sedang meminum teh hangatnya bahkan tersedak.
"nggak bisa sayang, soalnya papa ada urusan nanti di luar" Aji Wiguna melirik Najihan yang menghela nafas panjang. Wanita itu terlihat kecewa, Aji Wiguna dapat melihat itu.
"papa datang sebentar terus pergi lagi. Memang papa nggak sayang ya sama Kai. Padahal Kai nggak nakal kok, Kai rajin belajar dan juga mengaji" Kaindra cemberut karena permintaannya ditolak. "pokoknya papa harus tidur di sini sama Kai juga mama. Kita tidur bertiga, biar Kai di tengah"
"sayang, papa kan sudah bilang kalau papa sibuk. Jangan di paksa ya papanya" Najihan mencoba memberitahu Kaindra.
"nggak mau, pokoknya papa harus tidur di sini. Papa juga harus tinggal sama aku sama mama. Aku nggak mau ditinggal lagi pah, Kaindra nggak mau. hiks...hiks....aku nggak mau papa pergi lagi. Papa harus di sini, harus tetap di sini" Kaindra memeluk erat tubuh Aji Wiguna. Anak itu terisak di dada ayahnya.
"Kai"
Najihan mengangguk dan mundur lagi ke tempat duduknya.
"jangan nangis dong, masa jagoan nangis sih. iya, papa janji akan tidur di sini sama mama dan juga Kai"
"ucapan Aji Wiguna membuat Kaindra seketika mendongakkan kepalanya. "benarkan...?" tanyanya butuh jawaban iya
"iya sayang" Aji Wiguna mengangguk.
"yes yes, kalau gitu kita tidur di kamar mama yang ranjangnya luas ya, biar muat. ayo pah, kita ke kamar mama, ayo" Kaindra turun dari pangkuan Aji Wiguna dan menarik paksa Aji Wiguna untuk menuju ke lantai dua di kamar Najihan.
tanpa bisa menolak, Aji Wiguna mengikuti Kaindra yang kini menaiki anak tangga. Setelah tiba di lantai dua, mereka menuju ke salah satu kamar. Kaindra membuka pintu kamar itu, aroma wangi mulai tercium di hidung Aji Wiguna.
"ayo pah, papa bacain aku dongeng ya. Karena sudah ada papa, jadi aku maunya papa menggantikan mama malam ini bacain aku dongeng" Kaindra mengajak Aji Wiguna ke atas ranjang. Anak itu mengambil sebuah buku dongeng di meja kerja ibunya dan kemudian naik ke atas ranjang.
"sini pah, naik di sini. kenapa cuman berdiri saja" Kaindra menepuk kasur di sampingnya.
Sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, Aji Wiguna terpaksa naik. Ke tempat tidur. Sepatunya ia lepas dan dirinya hanya mengenakan kaos kaki saja. Aji Wiguna bersandar di kepala ranjang sementara Kaindra, kepala anak itu berada di dada ayahnya.
"mau dibacakan dongeng apa...?" Aji Wiguna memegang beberapa buku dongeng yang dibawa putranya di atas ranjang.
"yang mana saja asal papa yang bacakan" Kaindra hanya menurut.
malam itu Aji Wiguna untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia membacakan dongeng untuk sang anak. Sementara Najihan kini membuka pintu kamar begitu pelan, dilihatnya Aji Wiguna juga putranya sedang berbaring di tempat tidurnya.
Senyum Najihan terbentuk, dirinya bersyukur akhirnya saat ini, Kaindra dapat merasakan kasih sayang dari ayah kandungnya sendiri.
Najihan masuk ke dalam kamar dan mendekat lemari kemudian menyimpan tasnya. Aji Wiguna hanya melirik sekilas dan kembali lagi fokus kepada putranya.
Najihan mengambil handuk kemudian masuk ke dalam kamar mandi. hampir setengah jam di kamar mandi, Najihan keluar dengan jubah mandi yang dia pakai membungkus tubuhnya dan juga handuk kecil yang membungkus kepalanya.
Melihat penampilan istrinya saat ini yang meskipun ia tidak lagi menganggap sebagai seorang istri, Aji Wiguna yang dimana dirinya adalah laki-laki normal, begitu berusaha menahan sesuatu yang bergejolak dalam dirinya. Wangi sabun yang begitu harum masuk di indera penciuman saat Najihan berlalu melewati dirinya juga Kaindra.
Najihan keluar kamar dan turun ke lantai bawah. ia masuk ke dalam kamar tamu sebab tidak mungkin memakai pakaian di depan Aji Wiguna.
Malam itu sudah menunjukkan pukul sembilan, Najihan kembali ke kamarnya. Kaindra belum juga tidur, anak itu malah meminta Najihan untuk naik ke atas ranjang agar mereka tidur bersama.
"ayo mah, kita tidur sama papa" ajaknya begitu semangat.
"emmm...mama di kamar kamu saja ya sayang. Kai tidurnya sama papa, berdua saja. kan udah lama Kai nggak bertemu papa, jadi mama nggak mau ganggu" Najihan mencari alasan.
"nggak mau, pokoknya kita tidur bertiga. Ayo mah, sini."
Najihan menatap Aji Wiguna yang juga kini sedang menatapnya. Namun setelah itu Aji Wiguna mengalihkan mata ke tempat lain. Dengan menghela nafas dan penuh keraguan, Najihan akhirnya mengikuti permintaan putranya. Namun hal itu malah membuat dirinya terkejut juga Aji Wiguna, pasalnya Kaindra menyuruh mamanya untuk berada di tengah-tengah dirinya dan juga Aji Wiguna, sementara Kaindra mengambil posisi di samping kiri Najihan.
"Kai, kamu ditengah aja ya sayang ya" Najihan begitu tidak enak hati kepada Aji Wiguna yang saat ini memalingkan wajah.
"begini aja biar mama sama papa bisa romantis. kan bukan hanya Kai yang kangen sama papa, mama juga tiap malam menatap foto papa sampai ketiduran. Mama juga kangen kan sama papa, jadi Kai mau kok berbagi kasih sayang papa"
hal itu tentu membuat Aji Wiguna refleks melihat ke arah Najihan. Wanita itu meringis menahan malu dan tersenyum kikuk. Ia pun memposisikan dirinya untuk berbaring dan membelakangi Aji Wiguna. Di peluknya Kaindra kemudian menepuk pelan bokong anak itu, agar putranya tertidur dengan lelap.
Dan Aji Wiguna....?
Laki-laki itu menatap Najihan juga putranya yang kini sepertinya sudah menutup mata. Nyanyian kecil yang keluar dari mulut Najihan membuat Kaindra kini mulai tertidur pulas.
"mas...kalau mas Aji tidak nyaman seperti ini, mas bisa ke kamar tamu. aku sudah merapikan tempat tidurnya" Najihan berkata dengan pelan.
tanpa bicara apapun, Aji Wiguna turun dari ranjang dan memakai sepatunya. ia hendak keluar dari kamar itu, namun rupanya Najihan menahan lengannya.
"terimakasih telah ingin menemui anak kita. Aku tau kamu masih begitu benci padaku dan aku terima itu. Sekali aku ingin mengatakan maaf padamu mas. Meskipun sebenarnya kamu tidak ingin memaafkan aku namun aku harus mengatakan itu, walaupun sebenarnya kamu tidak dapat menerima maaf dariku. Aku benar-benar menyesal telah termakan ucapan om Felix sehingga membuat kamu menderita"
"tidak mengapa kamu tidak lagi menganggap aku sebagai istrimu, aku pun tidak keberatan jika sekarang atau nanti kamu menjatuhkan talak padaku. Aku hanya berharap jangan pernah pergi dari kehidupan Kaindra, dia begitu ingin hidup bersama ayahnya"
Aji Wiguna diam tanpa ingin mengucapkan sepatah katapun. Dirinya tidak ingin menata Najihan namun saat matanya ia alihkan ke tempat lain. Dirinya malah melihat sesuatu yang terpajang di atas meja. Foto dirinya sendiri ada di atas meja itu. bahkan bukan hanya satu melainkan lebih dari satu.
"bukan hanya Kai yang kangen sama papa, mama juga tiap malam mandangin foto papa. Mama juga kangen kan sama papa"
Ucapan Kaindra kini terngiang-ngiang di telinga Aji Wiguna. Benarkan wanita yang kini bersamanya, masih begitu mengharapkan dirinya. Benarkan Najihan masih begitu mencintainya sehingga ia memajang foto dirinya di dalam kamar itu.
"mas...mas Aji" Najihan membuyarkan lamunan Aji Wiguna.
"apa kamu....masih mencintaiku Najihan...?" kini suara Aji Wiguna kembali terdengar di telinga Najihan dengan pertanyaan yang membuat wanita itu terdiam.
"jawab pertanyaan ku" Aji Wiguna mengalihkan mata menatap Najihan.
"kalaupun aku bilang iya, tidak akan merubah semuanya kalau mas Aji begitu membenciku kan. cinta itu masih begitu besar sama seperti dulu, aku...aku....hanya takut mengungkapkan karena.... kesalahan yang telah aku perbuat" Najihan menunduk, ia melepaskan lengan Aji Wiguna yang dipegangnya.
Aji Wiguna pergi begitu saja, tanpa berniat untuk menghapus air mata Najihan ataupun menenangkan wanita itu. dirinya turun ke lantai bawah dan langsung membaringkan tubuhnya di sofa ruang tengah.
Pikirannya berkecamuk saat ini, ia pun masih begitu mencintai Najihan. Namun saat mengingat apa yang telah diperbuat wanita itu padanya di masa lalu, kemarahan Aji Wiguna tidak dapat ia redam. Bahkan emosi pun bergejolak dalam dirinya. Tidak ingin terus larut memikirkan hal itu, Aji Wiguna menutup mata. Dirinya harus tidur sebab esok hari belum tentu akan bersantai seperti sekarang.
_____
"apa yang terjadi, kenapa kamu malah terpental seperti ini" wanita itu membantu laki-laki itu untuk bangun.
Darah segar keluar dari mulut si lelaki. Dadanya begitu sakit, saat diperiksa luka bakar yang mengangga bahkan keluar nana yang berbau busuk.
Hueeeeek...
Wanita itu sampai muntah melihat luka lelaki itu.
"astaga....siapa yang melakukan ini padamu" wanita itu geram dan membantu laki-laki itu untuk beralih ke ranjang.
"panggilan mbah Mamad, aku tidak sanggup menahan sakitnya" laki-laki itu meringis kesakitan.
"apa Gara yang melakukan ini...?"
"siapa lagi kalau bukan dia. Yang melindungi Henry sialan itu kan dia. Semakin kuat saja Gara itu, padahal dirinya kan sedang sakit"
"kurang ajar, kenapa sampai bisa dia sekuat ini dan bahkan bisa mengembalikan kiriman teluh kita"
"aaaggghh...panggilkan mbah Mamad sekarang Di, aku nggak kuat"
Wanita itu dengan cepat keluar kamar mencari keberadaan Mbah Mamad. Fatahillah mengembalikan teluh itu dengan energi mustika merah, alhasil terbakar sudah dada laki-laki itu.