Fatahillah

Fatahillah
Bab 90



tepat selesai sholat subuh, kiayi dan Naila sudah bersiap akan meninggalkan pesantren Abdullah. Hanum sudah berada di rumah kiayi Anshor, karena Naila memberitahu dirinya semalam bahwa ia akan ke tempat yang jauh, gunung Sangiran.


keduanya dijemput oleh seseorang, seorang laki-laki yang masih muda tersenyum ke arah kiayi Zulkarnain saat dirinya keluar dari mobil. semua orang kini tengah berada di halaman rumah kiayi Anshor.


"assalamualaikum Yayi" laki-laki itu dengan takzim mencium tangan kiayi Anshor


wajahnya teduh dan tatapannya pun begitu. ia mengenakan baju kemeja hitam dengan celana jeans abu-abu. topi hitam melekat di kepalanya.


"wa alaikumsalam...aku baru saja mau menelpon mu Zam" kiayi Zulkarnain menepuk pelan bahu Azam, ya nama laki-laki itu adalah Azam


"saya tentunya tidak akan membiarkan Yayi menunggu terlalu lama" jawabnya dengan sopan kemudian matanya memandang ke semua orang dan memberikan senyum ramah


"kalau begitu kita berangkat sekarang saja" ucap kiayi Zulkarnain


Naila berpamitan kepada semua orang. ia pertama memeluk kiayi Anshor, dengan lembut ayahnya itu mencium kening putrinya.


"semoga keberkahan selalu menyertaimu nak"


"terimakasih Abah, Nai akan merindukan Abah" Naila mencium pipi kiayi Anshor


setelahnya Naila memeluk umi Zainab, dengan doa yang baik umi Zainab mendoakan putrinya itu. Naila mendekat Maryam yang sudah nampak berkaca-kaca sejak tadi. Naila merentangkan kedua tangannya dan dengan cepat Maryam menghambur memeluknya.


"jangan nangis Mar, aku kan nggak pergi untuk berperang"


"aku sedih kakak ninggalin aku"


"kita bisa saling berkomunikasi lewat ponsel Mar, udah ah jangan cengeng" Naila melerai pelukan dan tersenyum meskipun senyuman itu tidak dapat dilihat. ia pun melihat ke arah Ali dimana dirinya berdiri di samping keduanya


"jaga Maryam baik-baik ustad, jika ustad menyakitinya maka orang pertama yang akan memberikanmu pelajaran adalah aku"


"dia istriku, tentu saja aku akan menjaga dia dengan baik. kamu tidak perlu khawatir" Ali merangkul bahu Maryam dengan mesra, ia menunjukkan kepada semua orang kalau pernikahan mereka akan baik-baik saja kedepannya. Maryam mendongak melihat wajah Ali, suaminya itu memberikan senyuman hangat untuknya sedang Maryam tersipu malu


meskipun sudah mengatakan ikhlas namun nyatanya perasaan itu masih ada di dalam lubuk hati Naila, hanya saja ia memilih untuk mengubur perasaan itu demi kebaikan semuanya dan terutama untuk dirinya dan juga Maryam. cinta yang sudah dimiliki orang lain tidak pantas baginya untuk mengharapkannya apalagi cinta itu telah dimiliki oleh adiknya sendiri.


"bikinkan aku keponakan yang banyak ya" Naila mencoba mencairkan suasana


"kakak... apaan sih" Maryam merasa begitu malu


Naila berlaih berpamitan kepada Hanum. keduanya berpelukan dengan hangat.


"hati-hati, jangan lupa untuk terus memberikan kabar. aku akan merindukanmu"


meskipun belum lama keduanya saling mengenal namun kedekatan mereka sudah seperti berteman cukup lama.


"aku juga akan merindukanmu, jaga kesehatan dan jangan sakit lagi"


Hanum mengangguk dan keduanya kembali berpelukan. merasa sudah tiba waktunya, Naila masuk ke dalam mobil begitu juga kiayi Zulkarnain. Azam memasukkan barang-barang keduanya ke dalam bagasi mobil kemudian ia berpamitan kepada semua orang dan masuk duduk di kursi kemudi.


"kami pergi dulu, assalamualaikum" kiayi Zulkarnain berpamitan sekali lagi, ia duduk di samping kemudi sementara Naila di kabin tengah


"wa alaikumsalam" semua orang menjawab


mobil hitam itu perlahan bergerak maju dan semakin jauh dari rumah kiayi Anshor, hingga keluar dari pagar dan tidak terlihat lagi.


"kalau begitu aku juga mau pamit pulang umi, Yayi" ucap Hanum


"Num, kalau kamu kesepian di rumah maka datanglah di sini" Maryam mendekat Hanum


"aku takut mengganggu kamu dengan suamimu" Hanum malah berbisik dan itu membuat Maryam terkekeh pelan


"ya nggak lah. oh ya sebentar sore akan ada pengajian di masjid Al-Ikhlas di kecamatan Madiun. suami aku yang menjadi penceramahnya, kamu mau ikut nggak...?"


"nggak deh..aku di rumah saja" tolak Hanum. ia tidak ingin mengganggu pasangan pengantin baru itu


"mas Ali pasti nggak keberatan kamu ikut kok, iya kan mas...?" Maryam menoleh ke arah Ali


"iya...kalau Hanum mau ikut, tidak apa-apa, untuk teman kamu di sana nanti" jawab Ali


"nggak usah ustad, terimakasih. kalau begitu aku pulang dulu. assalamualaikum"


"wa alaikumsalam"


Hanum meninggalkan mereka sementara itu mereka kembali masuk ke dalam rumah. Ali masuk ke dalam kamar, sementara Maryam menuju dapur untuk membuatkan teh hangat suaminya dan juga ayahnya. umi Zainab sedang mulai memasak untuk sarapan pagi.


"umi senang melihat kamu dan suamimu sepertinya sudah saling menerima" ucap umi Zainab


"kan memang itu yang umi dan Abah harapkan, apalagi kak Naila yang memberitahu aku kalau dirinya sudah ikhlas melepas mas Ali. jadi aku tidak punya beban lagi untuk mengarungi rumah tangga aku umi. aku ingin menikah sekali seumur hidup, meskipun pernikahan yang tidak aku harapkan namun aku mulai bertekad untuk menerima semuanya dan mas Ali juga begitu. kami berdua akan sama-sama menjalaninya"


"iya... syukurlah kalau begitu. semoga kalian bahagia sampai maut memisahkan"


"aamiin" Maryam mengaminkan doa ibunya


teh hangat dan kue basah telah tersedia, Maryam membawanya ke ruang tengah. di meja kaca panjang, Maryam meletakkan minuman dan kue itu. ruang tengah yang luas di sediakan tempat untuk menonton televisi di samping tempat duduk empuk yang ada di ruangan itu. biasanya mereka akan menonton televisi berlesehan di kasur lembut yang memang disediakan, dan ada juga bantal kecilnya.


kiayi Anshor baru saja dari halaman belakang rumah, umi Zainab memberitahu kalau minuman mereka telah Maryam bawa di ruang tengah sehingga kiayi Anshor lekas ke ruang tengah.


"mana suamimu Mar...?" tanya kiayi Anshor setelah ia duduk di sofa


"di kamar bah, sebentar aku panggilkan dulu"


Maryam bergegas ke dapur menyimpan kembali nampan yang ia bawa tadi kemudian menuju kamarnya. saat masuk, ia melihat suaminya sedang berkutat dengan laptop yang ada di atas pahanya dan tubuhnya bersandar di kepala ranjang.


"sedang apa mas...?" Maryam mendekati suaminya


Ali menoleh saat mendengarkan suara istrinya. "mengerjakan sesuatu" jawabnya dengan senyuman


"ke ruang tengah yuk, Abah sudah menunggu di sana. minuman mas sudah aku sediakan"


Ali mengangguk dan menutup laptopnya. ia pun turun dari ranjang dan keduanya keluar kamar.


pagi harinya di rumah yang ditinggali keluarga pak Umar, kini mereka sedang membicarakan kepulangan mereka di kota S. Hanum telah sembuh dan itu berarti mereka bisa untuk kembali pulang, apalagi pak Umar sudah terlalu lama meninggalkan perusahaan miliknya.


"tapi Naila baru saja pergi, apa tidak sebaiknya kita menunggu satu atau dua hari lagi" ucap ibu Rosida


"iya bu, kita juga kan harus memberikan bingkisan kepada semua anak santri di sini. jadi sebaiknya bagaimana kalau hari ini kita belanja dulu" usul Hanum


"baiklah kalau begitu, berarti kita pergi pagi ini saja untuk belanja. tapi pakai mobil siapa...?" ibu Rosida bertanya


"rental saja, pasti ada di sekitar sini" timpal pak Odir


mereka mengangguk setuju untuk merental mobil yang akan mereka gunakan nanti.


"ibu Afifah, apakah ibu akan pulang juga ke kota S atau masih ingin di sini...?" tanya ibu Rosida


"kalau saya pulang, ya saya hanya sendirian tapi kalau nggak pulang di sini juga saya sendirian. jadi saya ikut pulang sajalah, sudah lama juga saya tinggalkan toko ku" jawab ibu Afifah


"ibu Laila bagaimana...? tidak ingin ke kota S untuk bertemu menantu ibu dan ibunya Fatahillah...? eh maksud saya ibunya Firdaus" ibu Rosida meralat ucapannya


ibu Laila hanya tersenyum "panggil juga dia Fatahillah tidak apa-apa bu, memang sekarang namanya adalah Fatahillah. mungkin saya akan ikut, saya ingin sekali bertemu dengan Khadijah"


"tapi kalau kita pulang, bagaimana dengan nenek dan tante Hani yah. bukankah Akmal akan membawa mereka pulang sementara mas Fatah dan mas Hasan akan ke gunung Gantara" imbuh Hanum


"iya juga pak... bagaimana menurut bapak...?" ibu Rosida beralih menatap pak Umar


"maka Akmal tinggal membawa mereka pulang ke kota S, lagipula jika Fatahillah sudah melakukan penyatuan maka Haninayah akan terlepas dari kejaran orang-orang yang ingin memiliki mustika putih. tapi tetap saja bukan berarti dia aman, sebab bisa saja orang-orang itu bisa mencelakai dia untuk mengekang Fatahillah. kita tunggu saja mereka di kota S. sudah terlalu lama kita di sini, takutnya semakin merepotkan" jawab pak Umar


"biarlah nanti saya akan ke rumah kiayi Anshor untuk memberitahu rencana kita ini. yang penting hari ini kita harus belanja untuk memberikan bingkisan kepada semua santri, termasuk ustad dan juga ustazah yang mengajar di sini" ucap pak Umar


pagi itu pak Umar meminta tolong kepada Ali untuk mencarikan mobil yang bisa mereka sewa. tentunya Ali bertanya untuk keperluan apa dan pak Umar memberitahu tujuan mereka. Ali yang mempunyai kenalan langsung menghubungi temannya itu, ia pun pergi mengambil mobil di tempat temannya sementara pak Umar dipersilahkan masuk ke dalam rumah.


"kenapa buru-buru pulang pak Umar...?" tanya kiayi Anshor


"maaf Yayi, tapi Alhamdulillah putri saya sudah sembuh jadi kami berniat untuk pulang apalagi sudah terlalu lama saya meninggalkan pekerjaan saya. insya Allah kalau ada waktu kami akan datang berkunjung lagi"


"pak, apakah boleh saya ikut berbelanja. saya ingin menghabiskan waktu bersama Hanum sebelum dia pulang" Maryam meminta izin


"tentu saja asal suamimu mengizinkan" pak Umar mengiyakan


"insya Allah mas Ali pasti mengizinkan" jawab Maryam


Ali datang dengan mobil yang telah ia sewa. ibu Rosida Hanum dan Maryam yang akan pergi untuk belanja sementara yang lainnya tetap di rumah. Ali menjadi sopir bagi mereka.


"sepertinya kita membutuhkan mobil besar, kalau hanya ini mana muat untuk belanjaan kita" ucap Hanum


"itu bisa di atur, sekarang kita akan belanja dimana...?" tanya Ali, kini mobil itu telah meninggalkan pesantren


"supermarket tentunya mas, dan juga bisa di pasar tradisional"


"memangnya apa yang akan kita beli Num...?" tanya ibu Rosida


"keperluan mandi, alat tulis dan segala macam yang dibutuhkan oleh para santri" jawab Hanum


"kita ke toko Adi jaya saja mas, di sana semuanya lengkap dan serba ada" Maryam mengusulkan


"baiklah" Ali mengiyakan permintaan istrinya


di kota S tepatnya di panti asuhan kasih ibu, Zelina tengah bersiap-siap untuk menemani Anisa dan Zulaikha yang akan mencari baju pengantin. dirinya kini berada di depan cermin. saat itu ponselnya berdering dan melihat siapa yang menghubunginya, senyuman di bibirnya mengembang.


(assalamualaikum mas)


(wa alaikumsalam sayang, kamu sedang apa...?)


(sedang siap-siap untuk keluar)


(keluar kemana...? kamu mau kemana...?)


(mengantar Anisa dan Zulaikha ke butik untuk mencari baju pengantin. mas sendiri sedang apa sekarang...?)


(aku sedang merindukan istriku)


Zelina tersenyum mendengar ungkapan perasaan suaminya.


(aku juga merindukan mu mas. bagaimana apakah sudah bertemu dengan Haninayah...?)


(sudah dan aku sudah melakukan penyatuan, tapi...)


(tapi kenapa mas...?)


(Hasan terluka, dia terkena angin beracun seperti yang aku alami waktu di pesantren Abdullah)


(subhanallah...lalu bagaimana keadaannya sekarang...?)


(syukurnya racunnya sudah keluar karena segera diobati. oh iya sayang, kalian tidak diincar lagi kan...?)


(Alhamdulillah nggak mas, apalagi anak buah mas Yusuf selalu berjaga setiap di rumah bahkan kami keluar saja terus dikawal. kami seperti sultan saja) Zelina tertawa pelan


(demi keselamatan kalian semua sayang. mendengar kamu tertawa, aku semakin merindukanmu sayang. andai bisa aku lipat jarak antara kota X dan kota S, sudah pasti sekarang aku akan berada di dekat mu)


(aku menunggumu pulang mas. tetaplah sehat dan kembali dengan selamat)


(insya Allah. ah aku butuh energi sekarang, bisakah kamu memberikan aku kecupan selamat pagi agar aku semangat menjalani hari-hari tanpa kamu di sini)


Zelina tertawa geli mendengar permintaan suaminya namun ia tetap mengiyakan permintaan suaminya


(tentu saja mas. ummaach, i love you suamiku Fatahillah Malik)


(ummaach... ummaach... ummaach, love you too istriku Zelina Muhatmainnah)


Zelina tidak dapat menahan tawa saat suaminya membalas ciuman jarak jauh dengan bertubi-tubi. dirinya begitu bahagia bisa berbicara dengan suaminya meskipun hanya lewat telepon seluler saja.


"idih...udah gila ya mas nyium-nyium ponsel"


Zelina dapat mendengar suara cebikan Akmal yang mengejek suaminya.


"aku sedang mencium bini aku dodol, ganggu aja kamu"


"mbak Zelin...di sini mas Fatah suka genit loh mbak" Akmal teriak agar suaranya semakin jelas di dengar oleh Zelina


"sembarangan kalau ngomong, mau ku cebur ke dalam kolam"


"hiii atuuut"


Zelina hanya tertawa dan geleng kepala mendengar perdebatan suaminya dan Akmal.


(jangan dengarkan Akmal ya sayang, dia memang Jin pembawa sial)


"sontoloyo sekali kamu mas...teganya dirimu padaku"


(aku percaya padamu mas. kalau gitu aku tutup ya mas, Anisa dan Zulaikha pasti sudah menunggu aku di bawah)


(iya sayang, hati-hati ya. aku mencintaimu)


(aku juga mencintaimu mas)


Zelina menyimpan ponselnya di meja rias kemudian ia kembali menyapu wajahnya dengan make up tipis. setelah memakai cadarnya barulah ia keluar kamar untuk turun ke lantai bawah.


Afkar dan Najwa sudah berangkat ke kantor setelah sarapan pagi. semua anak-anak panti telah di antar ke sekolah, kecuali Zulaikha yang telah meminta izin untuk tidak masuk sekolah satu hari itu sebab jika menunggu pulang sekolah untuk mencari baju pengantin maka dirinya tidak akan bisa karena sudah dua hari itu ia selalu pulang mendekat sore hari. tidak lama lagi dirinya akan ujian dan di sekolah ada kelas tambahan bagi kelas dua belas sebagai bekal mereka untuk mengikuti ujian nanti.


tepat saat ketiganya akan masuk ke dalam mobil, suara ribut-ribut di depan pagar rumah menarik perhatian mereka. ketiganya melangkah mendekati anak buah Yusuf yang sedang menghalangi seseorang untuk masuk ke dalam dengan paksa.


"ada apa ini...?" tanya Zelina "bi Arum" lanjutnya


"dasar wanita iblis...ku bunuh kamu Zelina. karena kamu Andini sekarang menjadi gila. dia ditinggalkan oleh suaminya, semuanya gara-gara kamu" ibu Arum hendak menyerang Zelina namun wanita itu di tahan oleh penjaga dan mendorongnya ke jalan raya


"semua yang dialami Andini itu karena ulah perbuatannya sendiri. jangan lempar batu dan melempar kesalahan kepada orang lain" Zelina tidak terima dirinya di tuduh seperti tadi


"aku akan balas semuanya, aku akan membuat kamu menderita Zelina, lihat saja nanti" ibu Arum mengambil batu dan akan melempar Zelina. penjaga berlari dan mengambil paksa batu yang ada di tangan ibu Arum. wanita itu di usir karena telah membuat keributan.


"aku tidak habis pikir mereka akan seperti ini" Zelina sangat menyayangkan apa yang telah terjadi dengan ibu Arum dan Andini


"mereka sudah mendapatkan balasannya mbak, tidak perlu memikirkan itu" timpal Zulaikha


"jadi bagaimana, apakah kita tetap akan ke butik...?" tanya Anisa


"tentu saja, ayo" ajak Zelina


ketiganya kembali dan


masuk ke dalam mobil, satu mobil lagi mengikuti mereka dari belakang untuk menjaga mereka dari orang-orang yang ingin berbuat jahat kepada ketiganya.