
Ali menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. pikirannya melayang jauh menerawang kejadian 5 tahun yang lalu. jika ia mengingat kejadian itu, hatinya kembali ngilu dan merasakan perih yang teramat sakit. tanpa ia sadari, matanya nampak berkaca-kaca. kejadian itu membuat dirinya masih begitu merasakan luka yang seakan enggan untuk kering, tetap basah padahal tidak terkena air.
"ya Allah ampuni aku, ampuni aku yang masih menyalahkan takdir" Ali menutup wajahnya dengan kedua tangannya
Arjuna dan Akmal sudah masuk ke dalam rumah sehingga tidak ada yang dapat melihat ternyata betapa rapuhnya ia. di luar terlihat tegar dan kuat namun siapa sangka ustad yang mempunyai nama lengkap Rahman Ali itu, begitu rapuh di dalam.
"dek...maukah kamu menjadi bagian dari hidupku, menjadi pakaian ku dan ibu dari anak-anakku"
Ali bersimpuh di tanah dan menggunakan satu lututnya sebagai tumpuan untuk menopang tubuhnya. di tangannya sudah ada sebuah kotak yang berisi cincin permata yang begitu cantik, secantik wanita yang akan ia lamar.
"mas...kamu..."
"aku mencintaimu dek, hari ini di saksikan seluruh langit dan bumi, juga para malaikat, aku melamarmu ingin menjadikan kamu istriku. maukah kamu menikah denganku Suci Wulandari...?
"aku mau mas...aku mau. aku mau menikah denganmu" Wulan mengangguk cepat
masih terbayang dan teringat bagaimana dirinya melamar wanita pujaannya. cinta pertama yang selama ini ia pendam dalam hati dan ia hanya terus melangitkan doa agar Tuhan dapat menyatukan mereka. hari itu adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidupnya namun siapa sangka ternyata hari itu juga adalah hari yang paling buruk dan menyakitkan dalam hidupnya.
setelah lamarannya diterima Ali memutuskan untuk memberitahu kakaknya agar segera melamar secara resmi wanita pujaannya namun Allah menakdirkan yang lain untuk keduanya. siang hari diliputi rasa penuh bahagia namun malam harinya Ali harus menerima kabar jika calon istrinya ditemukan tewas di sungai dengan pakaian yang koyak dan beberapa lebam, bekas pukulan seseorang. wanita itu diperkirakan diperkosa dan dibunuh oleh pelaku yang tidak lain adalah ayah tiri wanita itu sendiri.
kejadian itu menyisakan luka yang begitu menganga dalam hatinya, bahkan tidak pernah kering sampai sekarang. meskipun pelaku sudah ditangkap namun kekasih hatinya tidak akan bisa bangun dari kuburnya. sejak saat itu Ali menutup hati untuk dimasuki wanita lain, bahkan mungkin telah menguncinya dan hanya wanita yang dapat ditakdirkan untuknya kembali yang dapat membuka pintu itu.
sangat sulit melupakan cinta pertama bukan apalagi jika terpisah karena maut yang sudah menjadi takdir dari setiap manusia. seberapapun usaha untuk melupakan, maka sekuat itu juga memori itu akan melekat kuat dalam ingatan.
karena tidak ingin terus terbayang dengan masa lalunya maka Ali memutuskan untuk mengajar di pesantren Abdullah, dengan kegiatan keagamaan yang terus ia ikuti akan dapat menenangkan hati dan pikirannya meskipun sebenarnya masa lalu itu terus mengikuti kemanapun ia pergi.
"mas Ali"
lamunan Ali terbuyarkan karena panggilan Zelina. Ali segera menghapus air matanya yang sempat jatuh dan memutar kepala untuk melihat Zelina.
"kenapa tidak masuk di dalam mas...?"
"sedang menikmati angin alami saja, rasanya lebih sejuk" Ali tersenyum
"masuklah di dalam, mas Lingga sedang ke kantor dan hanya ada bi Marni. kita menunggu Naila saja di sini"
"baiklah"
Ali mengangguk dan keduanya masuk ke dalam. mereka langsung menuju ke meja makan. bi Marni telah selesai menyediakan makanan di atas meja.
"tuan Lingga berpesan agar jangan sungkan dan anggap seperti rumah sendiri" bi Marni menuang air minum ke dalam gelas
"pasti mas Lingga orang baik ya, dia mau aja rumahnya di kuasai sama orang asing" ucap Akmal
"baik banget mas, aku malah dikasi ponsel sama mas Lingga" Arjuna memperlihatkan ponsel miliknya
"waah... lebih canggih punya kamu lah Arjun daripada ponsel aku" Akmal terperangah karena memang ponsel Arjuna adalah merek termahal
"sampaikan ucapan terimakasih kami pada mas Lingga ya bi, andai saja beliau lebih cepat pulangnya kami akan merasa senang bertemu dengannya" ucap Ali
"tuan Lingga hari ini ada rapat mendadak dan juga pekerjaan menumpuk semenjak dari luar kota. kenapa tidak sekalian ditunggu saja, selesai sholat isya tuan Lingga pasti pulang" bi Marni menuang air minum di gelas Akmal
"kami harus cepat pulang bi. sampaikan saja ucapan permohonan maaf kami ya bi, kalau mas Lingga punya waktu datanglah jalan-jalan ke pondok pesantren Abdullah" ucap Zelina
"iya mbak, bibi saya sampaikan. silahkan dimakan, bibi mau mencuci dulu"
"bibi nggak ikut makan sekalian bersama kami...?" tanya Arjuna
"bibi mah dari subuh sudah makan den, maklum penyakit lambung jadi tidak bisa menahan lapar. bibi pergi dulu ya, silahkan lanjutkan makannya" bi Marni meninggalkan mereka dan ke tempat pencuri pakaian
setelah sarapan, Zelina mencuci piring sementara yang lain kini berada di ruang tengah. bi Marni melarang Zelina untuk mencuci piring kotor itu namun dengan lembut Zelina mengatakan tidak apa-apa. akhirnya bi Marni mengalah dan menyiapkan cemilan untuk mereka semua.
kini Zelina telah bergabung bersama yang lain setelah pekerjaannya selesai. bi Marni datang dengan teh hangat dan kue basah kemudian ia kembali ke dapur.
"bagaimana bisa sampai kalian di culik, apa Fatahillah tidak bersama kalian waktu itu...?" pembicaraan diawali dari pertanyaan Ali
"mas Fatah dan mas Hasan keluar untuk memeriksa seseorang yang hampir di tabrak oleh mas Fatah dan saat itu juga, rasanya mataku begitu mengantuk hingga tanpa sadar aku langsung tertidur kembali padahal baru saja bangun. saat sadar kami sudah berada di tempat yang belum kami kenal" jawab Zelina
"iya, aku juga malam itu sangat mengantuk padahal saat mas Hasan keluar dari mobil aku mulai membuka mata tapi karena begitu merasakan kantuk yang luar biasa akhirnya aku tertidur lagi" ujar Arjuna
"Alhamdulillah kalian dapat melarikan diri. keadaan memang sangat sulit sekarang terlebih lagi keberadaan mustika merah telah diketahui oleh banyak orang kalau mustika itu berada di tangan Fatahillah"
"bagaimana mereka bisa tau mas...?" Zelina nampak kaget karena tidak ada yang tau soal itu kalau bukan yang mengincarnya dari awal
"orang-orang yang ingin memiliki mustika itu tidak akan tinggal diam saja Zelina. ayahmu telah meninggal begitu juga dengan kakakmu maka siapa lagi yang akan mewarisi mustika itu kalau bukan suamimu"
"tapi tidak ada satupun yang tau kalau suamiku adalah mas Fatah, kami tidak menyebarkan berita pernikahan"
"apa tidak ada anggota keluargamu yang tau akan pernikahan kalian berdua...?"
Zelina terdiam, ia nampak berpikir dan ingatannya tertuju saat dirinya memperkenalkan Fatahillah kepada istri dari pamannya dan juga sepupunya.
"hanya bibi Arum dan Andini yang tau dan juga.... Afkar orang kepercayaan aku. tapi aku percaya pada Afkar, sejak dulu dia begitu setia kepada ayah"
"maka berarti yang menjadi penyebar berita itu adalah dua kemungkinan kalau bukan bibi mbak Zelina berarti yang bernama Andini itu" ujar Akmal
"apa mungkin bibi Arum yang menyebarkan berita itu, tapi.... darimana dia tau kalau mustika merah itu ada" ucap Zelina
"tidak penting siapa yang menyebarkan berita tersebut yang lebih penting adalah Fatahillah harus semakin berhati-hati dan kita pun harus tetap waspada" ucap Ali
pukul 12 siang, Naila menghubungi Ali karena wanita itu sudah berada di depan rumah Lingga. Ali segera keluar dan membuka pintu, Naila sedang berdiri membelakanginya.
"masuklah kita sholat dzuhur terlebih dahulu lalu setelah itu kita pulang" ucap Ali
Naila masuk ke dalam dan menghampiri yang lain. mereka mulai berwudhu dan melaksanakan sholat dzuhur. setelahnya mereka semua berpamitan kepada bi Marni untuk pulang. Zelina dan Arjuna memeluk bi Marni sudah seperti ibu sendiri, wanita baya itu bahkan masih ingin Zelina dan Arjuna berada di tempat itu namun tidak mungkin ia menahan mereka.
Zidan juga menghubungi Lingga untuk berpamitan, laki-laki itu tentu saja mengizinkan dan mengatakan jika punya waktu maka ia akan ke tempat mereka, pondok pesantren Abdullah.
"di daerah ini ada sebuah taman yang baru saja diresmikan loh paman, bagaimana kalau kita ke sana dan menikmati pemandangan danau buatan" Akmal memberikan usul
"kita pulang saja, paman harus mengajar jam 2 nanti" jawab Ali
mobil terus melaju dengan kecepatan sedang, Zelina sedang bercerita bersama Naila di kabin tengah sementara Arjuna duduk di kabin belakang. saat itu Zelina melihat ke arah luar jendela dan ia melihat ada seorang wanita yang dikerumuni oleh banyak orang. para massa meneriaki wanita itu dan bahkan ada yang melemparnya dengan kotoran.
"berhenti mas berhenti" ucap Zelina bahkan memukul bagian belakang kursi yang di duduki Akmal
Ali menginjak rem dan menepi di pinggir jalan. tanpa kata Zelina keluar dari mobil tentunya hal itu membuat semua orang ikut keluar.
"kalian di sini saja biar aku yang menyusulnya" ucap Ali segera berlari
"aku ikut mas" Naila ikut berlari di belakang Ali sementara Akmal dan Arjuna tetap berada di mobil
"lalu kita bagaimana mas...?" Arjuna menatap Akmal
"di sini sajalah, ayo masuk...panas diluar" Akmal membuka pintu mobil, keduanya masuk kembali ke dalam mobil
"pencuri...pencuri"
massa meneriaki wanita itu dan bahkan tidak segan menyerangnya. seorang ibu akan melayangkan tamparan kepada wanita itu namun tangannya di tahan oleh Zelina dan ia menghempaskan tangan ibu itu dengan kasar.
Zelina masuk ke dalam kerumunan dan memeluk wanita itu. wanita baya yang sedang ketakutan akibat ulah orang-orang itu memeluk erat Zelina.
"hei wanita bercadar, berani sekali kamu ya menahan tanganku" si ibu tadi meneriaki Zelina bahkan hendak menyerang Zelina namun hanya dengan tatapan mata tajam Zelina, si ibu mundur perlahan.
"berani menyentuhku, saya pastikan ibu akan masuk ke rumah sakit dengan tangan yang patah" Zelina berucap dengan dingin
semua orang mundur perlahan sementara Zelina membantu wanita baya itu untuk berdiri. Ali langsung masuk ke tengah-tengah menghampiri keduanya.
"ya Allah...bu Laila" Ali kaget melihat siapa yang sedang Zelina selamatkan
"jadi kalian kenal dengan wanita gila ini. baguslah kalau begitu, sekarang bayar makanan yang dia ambil dari jualanku. dia telah mencuri roti milikku" si ibu tadi bersuara lantang
"dia juga mencuri makanan dan jualanku"
"bahkan dia juga mencuri pakaian yang saya jual. dasar wanita gila, mau cari mati dia di sini"
banyak orang-orang yang meneriaki mereka, ibu Laila begitu ketakutan dan semakin erat memeluk Zelina.
"tenang bapak-bapak, ibu-ibu... tenang. saya akan mengganti kerugian bapak dan ibu semua" Ali mencoba meredakan emosi orang-orang itu
"Zelin, bawa ibu Laila ke mobil biar saya yang akan mengurus mereka" Ali memutar badan menghadap ke arah keduanya
"baik mas"
Zelina membawa ibu Laila keluar dari kerumunan itu sementara Ali kini sedang menyelesaikan masalah yang ada.
"takut....aku takut" ibu Laila berhenti dan tidak ingin melangkah
"jangan takut bu, ada aku di sini. kita ke mobil ya, di sini panas"
"tidak mau...kamu pasti orang jahat kan, iya kan...kamu orang jahat" ibu Laila memberontak membuat Zelina kesulitan mengendalikan wanita itu
"ibu mau ketemu Firdaus tidak...? terpaksa Zelina menyebut nama Firdaus agar wanita itu bisa diam dan benar saja, mendengar nama anaknya, ibu Laila langsung diam dan menatap Zelina dengan lekat
"Firdaus...?"
"iya...saya akan mempertemukan ibu dengan Firdaus. sekarang ibu ikut saya ke mobil ya"
"tapi benar mau bertemu Firdaus kan...?"
"iya bu, kita akan bertemu Firdaus. apa ibu mau bicara dengan mas Firdaus sekarang lewat video call...?"
"mau....mau, aku mau bicara dengan Firdaus... anakku Firdaus, aku ingin bertemu dengannya" ibu Laila mengangguk cepat
Zelina tersenyum dan membawa langkah menuju ke mobil, Akmal dan Arjuna keluar saat melihat Zelina membawa seseorang.
"ibu Laila...?" Akmal segera mendekat
"dia bukan Firdaus, kamu bohong ya" ibu Laila menatap tajam Zelina
"dia teman Firdaus bu dan saya istrinya Firdaus. kita akan menghubungi Firdaus, sekarang kita cari tempat yang nyaman dulu ya"
"kamu... istrinya anakku...?"
"iya"
"masya Allah...kamu pasti cantik sekali sampai memakai cadar. Firdaus pandai memilih istri" ibu Laila mengelus lembut wajah Zelina yang terhalang oleh cadarnya
"kita ke warung makan sana saja mbak" Arjuna menunjuk warung makan yang tidak jauh dari tempat mereka
mereka setuju dan melangkah ke warung makan itu. mereka memilih kursi di pojok kiri yang berdekatan dengan jendela. Akmal memesan makanan untuk ibu Laila karena ibu Laila mengatakan kalau dirinya lapar.
"mana Firdaus, katanya kita mau bertemu Firdaus" ucap ibu Laila
"Mal...pinjam ponselmu" ucap Zelina
Akmal merogoh ponselnya dan memberikan kepada Zelina. Zelina mencari nomor Fatahillah dan menghubunginya.
"assalamu'alaikum mas" sapa Zelina saat panggil video call yang ia lakukan di angkat oleh Fatahillah
"wa alaikumsalam, sayang kalian sudah pulang...?" Fatahillah begitu senang melihat wajah istrinya
"kami masih di jalan mas, sekarang aku bersama seseorang"
"seseorang siapa...?"
Zelina mengarahkan ponselnya ke arah ibu Laila yang sedang makan dengan lahap karena makannya telah datang. melihat ibu Laila, Fatahillah terdiam sejenak dan menatap lekat wanita yang menganggapnya anaknya.
"bu...ini Firdaus" suara Zelina membuat ibu Laila menoleh
senyuman ibu Laila mengembang dan bahkan menangis saat melihat wajah Fatahillah.
"anakku...kenapa lama sekali kamu datang menjemput ibu" ucapnya dengan parau
Fatahillah tidak sanggup berkata-kata, bibirnya keluh bahkan ia pun tanpa tau apa sebabnya langsung meneteskan air mata.
"siapa nak, kenapa kamu menangis...?" ibu Khadijah tentu saja kaget melihat anaknya menangis
ibu Khadijah yang baru saja datang dan melihat anaknya meneteskan air mata langsung melangkah dan berdiri di belakang Fatahillah. saat itu juga matanya bertemu tatap dengan ibu Laila.
"Laila" bibir ibu Khadijah bergetar menyebut nama wanita itu
"k-kamu..K-Khadijah...?" ibu Laila membulatkan mata melihat ibu Khadijah yang sepertinya ia kena