Fatahillah

Fatahillah
Bab 139



"mas Hasan, kok aku merasa ada yang mengikuti kita ya mas" sedikit-sedikit Yusrif terus melihat ke arah belakang mereka. Bagai merasa ada langkah kaki yang terdengar sedang mengikuti langkah ketiganya.


Tegar dan Hasan ikut memutar kepala untuk melihat ke belakang. Tidak ada siapapun selain dedaunan yang bergerak karena tertiup angin.


"nggak ada siapa-siapa Yus" ucap Hasan.


"ngehalu kayaknya kamu nih. Udah jalan lagi" Tegar mengikuti langkah Hasan yang meninggalkan Yusrif seorang diri.


"tapi perasaan memang ada suara langkah kaki kok, apa iya aku salah dengar" sambil mengorek telinga, Yusrif menyusul kedua temannya yang sudah sedikit jauh dengannya.


"Yusrif, ayo" Hasan memanggilnya.


"iya mas" mempercepat langkah agar bisa sampai.


Tiga anak manusia itu terus berjalan di bawah sinar rembulan yang menerangi pulau bambu. Yusrif masih berada di posisi belakang dan kembali lagi berhenti saat merasa mendengar seseorang memanggil namanya.


"siapa itu...?"


Suara Yusrif menghentikan langkah Hasan juga Tegar. Keduanya mengangkat alis saat Yusrif berjalan ke arah semak-semak yang ada di samping kanannya.


"Yusrif.... Yusrif" suara panggilan itu begitu terdengar di telinga Yusrif dan hal itulah yang membuat pemuda itu mendekati semak belukar yang ia rasa suara itu berasal dari semak-semak itu.


Semakin dekat dan semakin jelas suara itu, Yusrif akan membuka semak-semak itu namun satu tangan memegang bahunya.


"kamu ngapain di sini Yus...?" Hasan menepuk bahunya.


Seketika itu Yusrif kaget dan berbalik, ketika melihat dirinya berada di semak-semak juga Hasan dan Tegar, Yusrif bingung dan menggaruk kepala.


"lah...kita ngapain disini mas...?" tanyanya dengan raut wajah penuh tanda tanya.


"harusnya kami berdua yang bertanya seperti itu, kamu ngapain di semak belukar ini. cari apa kamu...?" Tegar bersuara.


"aku datang ke sini...?" emang iya...?" Yusrif mempertanyakan hal itu.


Hasan melihat sekeliling, ia merasa Yusrif saat ini sedang diincar oleh makhluk gaib. Hasan menarik tangan pemuda itu untuk menjauh dari semak-semak.


"kamu jalan bersama kami, jangan pernah tertinggal" Hasan menyimpan Yusrif ditengah-tengah dirinya dan Tegar.


"begini sepertinya aman" Tegar memasukkan tangannya di lengan Yusrif.


"kita seperti orang pacaran saja" cebik Yusrif.


"udah nggak usah protes, ayo jalan lagi"


Mereka kembali berjalan beriringan, dan masih seperti tadi, Yusrif sesekali melihat ke arah belakang.


saat itu jam tangan Hasan menunjukkan pukul 22.10, Hasan menghentikan langkah dan refleks dua orang di belakangnya ikut berhenti.


"kenapa berhenti mas...?" tanya Tegar.


"kita tidur di sini saja, besok saja kita lanjutkan perjalanan. kalian berdua pasti lelah kan, apalagi kalian kan baru keluar dari rumah sakit" Hasan menatap keduanya.


"hoaaam...iya, aku ngantuk banget. lenganku juga nyut-nyutan, agak sakit"


"kita tidur di pinggir pantai saja, di rerumputan. ayo" ajak Hasan.


Ketiganya tidak seperti Fatahillah dan Aji Wiguna yang mengikuti sepinggir jalan pantai, karena tujuan mereka berjauhan dengan pantai maka mereka harus berjalan di tengah-tengah hutan.


Sebuah tempat yang menurut mereka nyaman, ketiganya memutuskan untuk tidur di tempat itu. Hasan mencari dedaunan sebagai alas untuk mereka. Sementara Tegar mencari kayu bakar untuk membuat api unggun.


Lalu Yusrif....?


pemuda itu lebih memilih membasahi kakinya di air. Jika untuk pasangan halal, maka suasana seperti itu terlihat begitu romantis. rembulan yang terang, dipinggir pantai yang sejuk dan suasana yang damai.


Yusrif berjalan di pinggiran pantai itu, menikmati indahnya malam. Ia duduk di pasir, memandang begitu jauh ke depan sana. Tepat saat itu, ada satu kunang-kunang yang terbang persis di depan wajahnya dan kemudian berhenti hinggap di hidungnya. Yusrif tersenyum, bagaimana mungkin kunang-kunang itu datang dan hinggap di hidungnya. tanpa berniat mengganggu, ia biarkan hewan kecil itu sesaat dan tidak lama kunang-kunang itu kembali terbang menjauh.


tanpa Yusrif ketahui rupanya sekumpulan kunang-kunang yang bersinar terang, datang mengerumuni dirinya. Tentu saja Yusrif kaget saat itu, ia hendak berdiri karena refleks namun keseimbangannya goyah dan dirinya miring ke kana.


Harusnya tubuhnya jatuh ke pasir, namun ternyata dua tangan melingkar diperutnya menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Ketika Yusrif menoleh, betapa terkejutnya ia karena yang memeluknya sekarang adalah seorang wanita.


Wanita cantik yang sedang tersenyum manis kepadanya dan beberapa kunang-kunang terbang mengelilingi mereka.


"apa aku mengagetkan mu...?" suara lembut wanita itu terdengar di telinga Yusrif.


Segera Yusrif melepaskan diri dan mundur menjauh. Meskipun cantik namun ia tau, di tempat ini mana mungkin ada seorang wanita yang hidup di dalam hutan. Apalagi wanita itu memakai gaun berwarna merah, rambutnya yang panjang terurai sampai di pinggang, dan bunga melati yang dijadikan seperti mahkota, bertahta di kepalanya.


"kamu siapa...?" Yusrif waspada, bisa saja wanita itu adalah makhluk jadi-jadian.


"aku kemuning, kamu Yusrif kan...?" senyuman wanita itu tidak pernah pudar dari bibirnya.


"darimana kamu tau namaku...?"


"temanmu tadi memanggilmu dengan nama itu. Atau, itu bukanlah namamu...?"


"itu memang namaku, tapi kamu ini.... datang darimana. Sejak tadi, tidak ada orang di hutan ini selain kami bertiga. Kamu pasti kuntilanak jadi-jadian ya, ayo ngaku. Kamu mba Kunti centil yang mau datang merayu kan. Heh, ogah banget aku sama kamu" Yusrif memindai kemuning dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"memang ada ya kuntilanak secantik aku...?" kemuning terkekeh pelan, merasa lucu pemuda itu menuduh dirinya sebagai sosok kuntilanak.


"adalah, kan bisa menyamar. Sudah sana kamu pergi, aku tidak suka mbak-mbak berdaster, aku sukanya yang glowing alami. itu muka licin begitu pasti bukan original kan, memang dasar wanita..."


Kemuning akhirnya mengeluarkan tawa, hal itu membuat Yusrif menggaruk kepala sebab tawa wanita cantik bak bidadari itu, begitu beda dengan tawa wanita yang memakai daster berwarna putih.


"kamu.... benar bukan mbak Kunti...?"


"kan tadi aku sudah bilang, namaku Kemuning bukan mbak Kunti"


Karena penasaran Yusrif pelan mendekat, memiringkan kepalanya ke kana dan ke kiri. detik berikutnya kemuning teriak keras sebab Yusrif mencubit pinggangnya dengan tiba-tiba.


"sakit tau, kalau mau cubit bilang-bilang lah" kemuning kesal dan detik berikutnya ia membalas menggigit bahu pemuda itu. Alhasil teriakan Yusrif menggema hingga membuat Hasan dan Tegar kalang kabut kemudian berlari mencari dirinya.


"Yus...oi Yus" teriak Hasan


"apa jangan-jangan, dia dibawa pergi makhluk penghuni pulau lagi mas"


"aku di sini mas"


belum sempat Hasan menjawab, Yusrif datang menghampiri sambil melambaikan tangan. Hasan juga Tegar berlari ke arahnya namun kemudian mereka berhenti seketika karena Yusrif datang tidak seorang diri.


tentu saja Hasan dan Tegar mengerutkan kening, saling pandang dan terbengong. Darimana Yusrif bisa menemukan sosok wanita cantik yang kini sedang bersamanya.


"astaga, lukamu kenapa berdarah lagi" Tegar panik tatkala melihat lengan Yusrif dimana perbannya sudah berwarna merah.


Hasan segera menarik Yusrif dan membawanya k tempat mereka tadi. Kemuning mengikuti langkah mereka dari belakang. Kain kasa yang melilit di lengan Yusrif dibuka oleh Hasan kemudian menggantinya dengan yang baru. Setelah memutuskan untuk ke tempat itu, Fatahillah menyiapkan obat-obatan juga berbagai macam alat medis lainnya. khawatir jika tiba-tiba luka Tegar dan Yusrif kembali berdarah seperti sekarang.


membuat seperti pondok kecil yang atapnya dari dedaunan dan tiangnya dari kayu yang sedikit besar, mereka menjadikan tempat itu sebagai tempat untuk istirahat.


"kamu ngapain sih Yus, kenapa malah berdarah seperti ini" Tegar mengomeli temannya itu.


"tanya saja sama dia" Yusrif menunjuk Kemuning dengan dagunya.


Wanita itu tersenyum kikuk dan menggaruk kepala, memang dirinya yang menyebabkan Yusrif seperti itu.


"maaf ya, habisnya kamu nyubit aku tiba-tiba ya aku balas dengan gigitan. Tau-taunya malah kena lukamu" Kemuning merasa bersalah.


"kalian main cubit-cubitan berdua...?" Tegar membulatkan mata.


"aku hanya memastikan saja apakah dia mbak Kunti apa bukan. habisnya nggak ada petir nggak ada guntur, dia main nongol aja. kan aku langsung suudzon gitu. aw pelan-pelan mas. Pake hati kenapa sih mas, jangan pakai otot. Nanti aku metong, belum nikah nih" Yusrif menggerutu karena Hasan menekan lukanya.


Plaaaak


"aaaa...MAMAAAA SAKIT BANGET ANJIR"


Gemas mendengar Yusrif yang terus mengomel melebihi emak-emak komplek, Hasan menabok lukanya itu. Alhasil sekarang pemuda itu guling-guling diri di atas daun yang dijadikan alas.


"HUWAAA...IBU....ANAKMU DIKISKA"


"di siksa bego" Tegar membenarkan Hasan hanya tertawa jahat.


Kemuning ikut tertawa namun saat Hasan melihat ke arahnya, wanita bergaun merah itu langsung menutup mulutnya dengan rapat.


"kamu" Hasan menunjuk Kemuning yang seakan enggan untuk menatap mata Hasan. "darimana asalmu, kenapa bisa berada di tempat ini" lanjut Hasan.


"aku memang tinggal di pulau ini. Aku saja yang heran, kalian sedang apa datang malam-malam di tempat seperti ini"


"kamu tinggal di pulau ini...? tanya Hasan.


"iya" Kemuning mengangguk.


"berarti kamu tau dimana tempat telaga gunung Gantara. Kami sebenarnya ingin ke sana"


Kemuning terdiam beberapa saat, diamnya itu membuat Hasan dan Tegar mengerutkan kening sementara Yusrif sudah ikut nimbrung bersama mereka setelah dirinya lelah guling-guling.


"telaga gunung Gantara...? Untuk apa kalian ke sana...?" pertanyaan itu keluar juga dari mulut Kemuning.


"kami ingin mengambil airnya dan kami benar-benar butuh. Apa bisa kamu membawa kami ke telaga itu berada" ucap Hasan lagi.


"bahaya, di sana ada...."


"kera iblis maksudmu...?" Tegar langsung memotong ucapan Kemuning.


"iya, dan dia bisa merobek-robek tubuh kalian jika tertangkap olehnya. Sebaiknya jangan ke sana, kalian kembali saja. Sangat sulit untuk mengambil air telaga itu"


"tapi kami butuh. Tidak perlu khawatir kami tidak akan melibatkan dirimu, cukup bawa kami ke tempat itu dan setelah itu kamu boleh pergi"


"hei...sebagai permintaan maaf karena telah membuat lukaku berdarah, kamu harus mau ya. Nggak ada tapi-tapi, apalagi nggak bisa" Yusrif memicingkan mata, jengkel sekali rasanya ketika mengingat Kemuning mengigit lengannya tadi.


"memangnya airnya untuk mengobati siapa...?" Kemuning penasaran.


"orang-orang yang terkena penyakit aneh dan kami harus segera mendapatkan air itu. Tolong bantu kami, sesama Jin dan manusia"


"darimana kamu tau kalau aku bukan manusia...?" Kemuning tentu saja kaget, Hasan dapat mengetahui siapa dirinya.


"selama saya hidup, belum pernah saya melihat manusia yang melayang" Hasan menunjuk kaki Kemuning yang memang tidak nampak di tanah. Dan juga saat bersama kamu, kami dikelilingi begitu banyak kunang-kunang, dan satu lagi...kamu harum bunga melati"


"eh iya ya...pantas saja tadi aku seperti mencium harum bunga melati, ternyata dari kamu ya" Tegar baru ngeh akan hal itu.


"jadi bagaimana...?" kembali Hasan bertanya.


Kemuning nampak berpikir, sebenarnya ia tidak ingin ke telaga itu. Namun jika tiga orang manusia itu pergi tanpanya, bisa-bisa kera iblis itu menghabisi mereka. Padahal dirinya saja yang belum tau, kalau tiga pemuda itu bukanlah pemuda biasa.


"baiklah, saya setuju" ucapnya yakin.


Senyuman lebar mengembang di bibir Hasan, itu artinya mereka tidak harus susah payah untuk mencari jalan, sebab wanita yang bersama mereka akan menunjukkan jalan yang benar.


"kalian bisa menungguku di sini esok pagi. Selamat malam" Kemuning melayang menjauh dan menghilang, lalu muncullah banyak kunang-kunang yang begitu indah dipandang ketika malam hari. Kunang-kunang itu semakin jauh dengan mereka.


"Yus, kenapa Kemuning tiba-tiba bisa bersama kamu...?" Tegar mulai mencari tahu.


"aku juga nggak tau, tiba-tiba saja dia nongol macam jelangkung. Aku pikir tadi dia mbak Kunti, ya ta cubit lah dia, eh tau-taunya dia malah balas menggigit"


"hahaha" Tegar menyemburkan tawa, merasa lucu dengan kelakuan teman absurd yang ia miliki.


"makanya jadi cowok itu jangan kecentilan, main cubit anak orang saja. Untung nggak dipaksa nikah" Hasan mulai membaringkan tubuhnya.


"kalau sama Kemuning sih, siapa yang mau nolak coba. Kalau perlu langsung ijab kabul malam ini juga"


"yeeee itu sih maunya kamu, Kemuning belum tentu juga suka sama kamu. Lagian kalian itu berbeda"


Ketiganya mulai membaringkan tubuh mereka di atas daun-daun. tanpa selimut tanpa bantal, itu sudah resiko yang harus mereka lakukan.


_____


"masuk den ayo masuk" istri pak Nanto mempersilahkan Alex dan Akmal untuk masuk ke dalam rumah mereka yang tidak terlalu besar namun terlihat mewah.


Tempat itu sebenarnya masih bersambungan dengan villa, dan tempat itu khusus untuk pak Nanto juga istrinya yang bekerja di tempat itu.


Duduk di sofa ruang tamu, istri pak Nanto menuju dapur untuk membuatkan minum. Sementara pak Nanto menemani kedua tamunya yang untuk pertama kalinya dia menerima tamu selama bekerja di tempat itu.


"bapak berdua dengan ibu Nani saja di sini...?" tanya Alex.


"iya den, kami di sini hanya berdua saja. Sebenarnya punya anak tapi dia di kota, lagi kuliah" dengan ciri khasnya, pak Nanto berbicara. "saya baru pertama kali melihat Aden berdua datang di sini. pekerja baru ya untuk tuan...?" lanjut pak Nanto.


"iya pak, kami berdua pengganti Victor"


Sengaja Alex langsung menyebut nama Victor agar dirinya langsung menanyakan laki-laki itu kepada pak Nanto.


Ekspresi pak Nanto menjadi terkejut saat mendengar nama Victor di sebut. Bahkan ia pun dengan buru-buru beranjak dan beralih ke dekat pintu. Melihat ke depan apakah ada orang atau tidak, setelah itu ia menutup pintu dan kembali duduk.


"kalian berdua pengganti Victor...?"


"iya, memangnya kenapa pak...?" tanya Akmal.


"pasti pekerjaan kalian berbahaya. Saya pernah melihat Victor harus bermain senjata untuk melindungi dirinya"


"bapak pernah bertemu Victor...?" Alex semakin antusias untuk bertanya.


"dia yang selalu datang menemani tuan Gandha ke sini. Namun sudah hampir satu bulan ini, dia tidak pernah datang lagi dan ternyata sudah diganti"


"apa bapak tau Victor tinggal dimana sekarang...?"


"saya tidak tau, jangan tanyakan keberadaan dia" pak Nanto menggeleng.


"pak, kami benar-benar harus bertemu Victor. Hanya dia yang bisa membantu kami. Saya tau, bapak pasti mengetahui apa yang terjadi kepada lelaki itu. Apa benar Victor sudah meninggal ataukah dia masih hidup" Alex mencoba untuk tetap mencari tahu.


"memangnya sepenting apa dia sampai kalian begitu ingin bertemu dengannya...?" pak Nanto menatap keduanya.


"ini masalah nyawa pak. jadi tolong pak, beritahu kami kebenaran yang sesungguhnya. Apa benar Victor sudah meninggal...?"


"sebenarnya dia.... belum..."


Tok tok tok


Ketukan pintu yang tiba-tiba membuat pak Nanto berhenti untuk bersuara. Ketiganya saling pandang dan saling melempar tanya dalam diam, siapa yang datang bertamu malam-malam selain dua pemuda yang ada di dalam rumah saat ini.


Tok tok tok


Ketukan itu kembali terdengar, Alex dan Akmal diperintah pak Nanto untuk masuk ke dalam salah satu kamar yang ada di depan itu dan itu adalah kamar tamu. Sementara pak Nanto, dia melangkah pelan menuju ke arah pintu untuk membuka pintu dan melihat siapa yang datang bertamu saat itu.