
"kita mau kemana mas...?"
"rahasia"
Fatahillah menarik tangan Zelina untuk masuk ke dalam mobil. keduanya sudah meminta izin kepada ibu Khadijah dan ibu Fatimah untuk keluar jalan-jalan. entah kemana Fatahillah akan membawa Zelina, istrinya itu hanya pasrah mengikuti keinginannya. malam itu padahal sudah pukul 23.30, namun Fatahillah mengajak istirnya untuk keluar. tentunya Zelina heran namun tidak menolak karena ia melihat suaminya yang begitu berkeinginan untuk keluar.
sepanjang jalan, jemari keduanya saling bertaut. sesekali Fatahillah mencium punggung tangan wanitanya. setelahnya Fatahillah menepi di pinggir jalan membuat Zelina mengerutkan kening.
"kok berhenti...?"
"tutup mata"
"hah...?"
Zelina terdiam sekian detik kemudian tersadar lagi saat sesuatu yang kenyal mendarat di bibirnya yang terhalang kain cadarnya. Fatahillah mencium istrinya yang bingung seperti orang linglung.
"tutup mata sayang"
"kenapa harus tutup mata, memangnya ada apa sih...?"
"aku ingin membawa kamu ke suatu tempat" Fatahillah membelai wajah Zelina dan tersenyum lembut
"kamu mau memberikan aku kekuatan...?"
"iya... kejutan yang akan kamu suka"
Zelina tersenyum dan mengangguk. Fatahillah mengambil kain hitam dan menutup mata istrinya. ia mencium kening Zelina sebelum akhirnya kembali menjalankan mobilnya.
"masih jauh ya mas...?"
"sebentar lagi"
Fatahillah membelai kepala Zelina yang dibalut oleh hijab panjangnya. hingga kemudian Zelina dapat merasakan kalau mobil mereka berhenti, ia berpikir kalau mungkin sekarang mereka telah sampai di tempat tujuan.
Fatahillah keluar dan memutari mobilnya, membuka pintu dan membantu Zelina untuk keluar.
"ayo sayang, hati-hati ya" Fatahillah menarik tangan Zelina untuk mengikutinya
kaki Zelina terus melangkah di tuntun oleh Fatahillah. hingga tibalah di tempat yang mereka tuju dan Fatahillah memegang kedua bahu istrinya itu.
"kita sampai"
"boleh aku buka kainnya mas...?"
"tunggu sebentar lagi, lima menit lagi" tahan Fatahillah
"memangnya ada apa sih mas, aku jadi penasaran"
"sabarlah sebentar, nanti juga kamu akan tau"
"baiklah"
lima menit kemudian, Fatahillah membuka kain penutup mata Zelina. saat membuka mata, Zelina ternganga dan takjub pemandangan yang ia lihat. sebuah taman yang sudah dihias dengan begitu indah. lampu kerlap kerlip membuat taman itu begitu menawan. bunga-bunga mawar merah dan putih pun ikut menghiasi keindahan taman. balon-balon warna-warni pun ada di setiap sudut taman. di tengah-tengah taman, terlihat sebuah bentuk hati yang terbuat dari bunga mawar dan dikelilingi lilin lilin kecil yang mengikuti bentuk hati dari bunga-bunga itu. di tengah-tengah bentuk hati itu, sudah ada meja kecil dimana di atasnya kue tart yang begitu cantik sudah tersedia dengan lilin di atasnya.
"mas...?" Zelina berbalik ke arah Fatahillah
"selamat ulang tahun sayang" Fatahillah tersenyum
"masya Allah" Zelina tidak sanggup membendung air mata, cairan bening itu akhirnya tumpah juga membasahi pipinya "kamu tau ulang tahunku...? padahal aku sendiri lupa kalau hari ini adalah ulang tahunku" lanjut Zelina
Fatahillah menangkup wajah Zelina dan mencium keningnya dengan lembut. ia pun juga menghapus air mata Zelina dan menatapnya dengan tatapan penuh cinta.
"semoga hidupmu selalu diberkahi oleh yang Maha Kuasa sayang, kebahagiaan selalu menyertaimu dan orang-orang baik selalu mengelilingi mu. aku berharap kamu akan selalu bahagia"
"aku bahagia mas, aku bahagia jika itu bersama kamu"
Zelina langsung memeluk Fatahillah. ia terisak di dada suaminya, betapa ia begitu berterimakasih kepada ayahnya yang sudah memilih Fatahillah untuk menjadi suaminya kini.
"terimakasih mas... terimakasih"
"sama-sama sayang, udah dong jangan nangis. masa hari ulang tahun malah nangis sih" Fatahillah melerai pelukan
"aku bahagia makanya nangis" Zelina berusaha untuk tersenyum
Fatahillah menggenggam tangan Zelina dan membawanya masuk ke sebuah bentuk hati tadi. keduanya saling berhadapan di dekat kue ulang tahun Zelina.
"selamat ulang tahun.... selamat ulang tahun.... selamat ulang tahun sayang....semoga panjang umur" Fatahillah menyanyikan lagu ulang tahun untuk Zelina
"tiup lilinnya sayang"
Zelina mengangguk dan menutup mata. dalam hati ia berdoa agar rumah tangganya baik-baik saja sampai rambut keduanya memutih. setelahnya Zelina membuka mata dan meniup lilinnya.
"lihat itu sayang" Fatahillah menunjuk ke atas, Zelina mendongak dan saat itu juga kembang api melesat ke atas dan meledak mengeluarkan warna-warni yang indah
Zelina takjub, sungguh ia begitu bahagia dengan kejutan yang diberikan suaminya.
"tunggu di sini ya"
"mas mau kemana...?" Zelina menoleh
tanpa menjawab Fatahillah meninggalkan Zelina seorang diri. Zelina kembali melihat ke atas dimana kembang api terus dibunyikan. kemudian tubuhnya berbalik karena mendengar suara yang begitu banyak mendekat ke arahnya.
"selamat ulang tahun... selamat ulang tahun"
rupanya semua orang telah berkumpul di tempat itu, Zulaikha memegang kue yang telah ditancapkan lilin. Zelina begitu terharu dan membekap mulutnya, tidak di sangka semua orang merayakan ulang tahunnya.
"selamat ulang tahun mbak, aku tidak akan mendoakan agar mbak panjang umur karena setiap tahun umur kita berkurang. hanya Tuhan yang tau kapan umur kita akan berakhir. aku hanya ingin mendoakan agar mbak bahagia selalu dan segera memberikan keponakan yang cantik dan ganteng untuk kami. mbak selalu sehat dan selalu dilindungi oleh Tuhan dimana pun mbak berada" ucap Zulaikha
"aamiin" semua orang mengaminkan doa Zulaikha
"terimakasih Cha" Zelina tersenyum bahagia
"tiup lilinnya Zel" ucap Anisa
Zelina mengangguk dan meniup lilin, semua orang bertepuk tangan dan segera Anisa, Zulaikha dan Najwa memeluk Zelina secara bergantian. sedang para lelaki hanya mengucapkan selamat lewat kata.
"ibu sama bibi nggak ada...?" tanya Zelina
"mereka jaga anak-anak sama Afkar" jawab Fatahillah
satu persatu pun memberikan kado kepada Zelina. ditaman itu mereka duduk berlesehan sambil menikmati kue ulang tahun.
"ngenes banget ya kamu mas, semua orang sudah punya pasangan hanya kamu saja yang belum" Arjuna mengeluarkan suara
"bukan hanya aku, Najwa sama mas Hasan juga nggak ada pasangan tuh" jawab Akmal menunjuk keduanya dengan dagunya
"mas Hasan kan sudah ada mbak Hanum" ucap Arjuna
"kalau gitu mas Akmal sama mbak Najwa saja, kalian cocok tuh berdua" timpal Zulaikha
"kalau jodoh ya tetap akan cocok, iyakan Najwa" Akmal melempar kata kepada Najwa, namun ia tidak melihat ke arah gadis itu karena dirinya sibuk dengan kue yang ia makan
"aku maunya punya pasangan yang nggak sok akrab sama orang lain, lihat cewek cantik dikit langsung gatal kayak ulat bulu" Najwa menjawab
"memangnya Akmal begitu ya...?" tanya Yusuf
"nggak tuh" Akmal menjawab santai sementara Najwa memutar bola mata
"aku memang bisa dekat sama siapa saja karena mudah bergaul" ucap Akmal lagi
"dengan cara tebar pesona dan merayu" timpal Najwa sinis
"idih... PD banget" Najwa mencebik
"biasanya dari benci jadi cinta loh Na, hati-hati goda Hasan"
"nggak akan" Najwa menjawab cepat
"jangan terlalu jual mahal Na, nanti bisa-bisa esok atau lusa kamu suka sama aku loh" ucap Akmal
"nggak bakal" Najwa tetap menjawab tidak namun sesekali ia melirik ke arah Akmal
"sudah... sudah, ngapain berdebat sih. lagian Akmal itu sudah mempunyai tambatan hati, perjuangannya harus ekstra untuk mendapatkan hati sang pujaannya" Zelina menengahi
"oh ya, memangnya siapa...?" Fatahillah penasaran begitu juga yang lainnya. apalagi Najwa yang merasa keki setelah mendengar ucapan Zelina
"rahasia mas, doakan saja supaya jalur langit yang aku tempuh tembus sampai di arsy-Nya Allah" Akmal menjawab
sebenarnya Zelina tidak tau apakah Akmal mempunyai wanita yang ia sukai atau tidak, dirinya hanya ingin memastikan bagaimana ekspresi gadis yang ada di samping Anisa saat mengetahui hal itu, dan dari ekspresi gadis itu Zelina dapat menebak apa yang sesungguhnya. apalagi tadi ia melihat sang gadis sering curi pandang ke arah Akmal. pertemuan pertama keduanya memang Akmal dan Najwa langsung akrab, itu karena Akmal yang memang pandai membawa diri kepada siapa saja.
"berarti bukan mbak Najwa ya...?" ujar Arjuna yang langsung mengalihkan mata ke arah nama yang ia sebut
Najwa tidak bergeming, ia memilih fokus memakan kuenya. mereka pikir Najwa akan membalas ucapan Arjuna namun ternyata gadis itu hanya diam seribu bahasa.
"dingin ya...?" tanya Fauzan kepada Zulaikha
"iya" Zulaikha menjawab
Fauzan segera melepas jaketnya dan memakaikan ke tubuh Zulaikha. Zulaikha tentu saja terharu dan berterimakasih sebab Fauzan langsung respek peduli padanya.
"kita pulang saja, besok Zulaikha kan harus sekolah. Arjuna juga sudah mulai masuk sekolah besok" ucap Zelina
"yang benar mbak...?" mata Arjuna nampak berbinar
"iya, adik-adik mu juga akan mulai sekolah besok. Afkar telah mengatur semuanya" jawab Zelina
"makasih mbak, mas Fatah....aku akan belajar giat dan menjadi orang sukses untuk membanggakan kalian" begitu bersyukur Arjuna bertemu dengan kedua pasangan suami istri itu
"aamiin" semuanya mengaminkan
"ayo sayang" ajak Yusuf kepada Anisa
Anisa memegang tangan Yusuf dan berdiri, semua orang sudah mulai bangkit dan meninggalkan taman. malam itu mereka semua akan menginap di rumah Zelina.
kini mereka telah sampai di rumah, suasana sudah nampak sepi karena memang semua penghuni rumah sudah terlelap sejak pukul 21.00 tadi. mereka masuk ke kamar untuk beristirahat. Arjuna mengajak Hasan, Yusuf dan Fauzan untuk tidur di kamarnya karena memang kamarnya begitu luas. setiap kamar memiliki ruang yang luas, itulah mengapa satu kamar dapat menampung 10 anak.
Zelina yang baru saja memakai krim malamnya, beranjak menyusul Fatahillah di atas ranjang.
"mas"
"hmmm" Fatahillah sedang memainkan ponselnya
"siapa yang membantu kamu menyiapkan itu semua. bukannya tadi kita sibuk dengan pembukaan panti"
Fatahillah menyimpan ponselnya dan menatap manik mata indah istrinya.
"aku menyuruh orang untuk melakukan semuanya. bagaimana, apakah kamu senang...?"
Zelina mengangguk "senang banget" ucapnya dengan senyum
Fatahillah membalas senyuman Zelina. ia pun turun dari ranjang dan menuju ke arah lemari. ia mengambil sebuah bingkisan kemudian kembali lagi ke ranjang.
"apa itu mas...?"
"hadiah untukmu" Fatahillah memberikan bingkisan itu kepada Zelina
Zelina mengambilnya dan mulai membukanya. isi bingkisan itu adalah beberapa baju gamis yang begitu cantik dan juga kain cadar yang beraneka ragam warnanya. ada juga sepatu yang begitu cantik.
"semua ini untukku...?" Zelina menatap Fatahillah
"iya, maaf ya aku memberikan sesuatu yang seperti itu. karena aku merasa kamu lebih membutuhkan itu daripada hal yang lainnya"
"aku suka mas... sangat suka"
Zelina mencoba sepatu tersebut, sangat cocok di kakinya.
"cantik sekali. makasih mas" Zelina memeluk Fatahillah
"sama-sama" Fatahillah membalas pelukan Zelina
entah siapa yang memulai namun keduanya kini sudah saling menempelkan bibir, semakin lama semakin menuntut hingga akhirnya keduanya berakhir dipermainan panas yang mereka lakukan. bahkan mereka mengulang permainan itu sampai akhirnya Zelina tertidur pulas dipelukan Fatahillah.
Fatahillah tersenyum melihat wajah lelah istrinya karena ulahnya sendiri. ia mencium kening dan bibir istrinya kemudian ikut menutup mata dan terlelap.
pagi-pagi sekali rumah besar itu sudah ramai kembali. Zelina sudah seperti layaknya seorang ibu yang menyiapkan peralatan sekolah anak-anaknya. semua anak-anak panti tengah bersiap-siap memakai pakaian seragam sekolah. ibu Khadijah dan ibu Fatimah membantu art memasak di dapur.
"ayah, bagaimana cara memasangnya...?" anak laki-laki berusia sembilan tahun mendekati Fatahillah dengan dasi berwarna merah di tangannya
"sini biar ayah yang pasangkan" Fatahillah memegang tangan kecilnya dan membawanya di sofa
semua anak-anak perempuan wajib memakai hijab, Zelina akan mengajari mereka sejak dini untuk memakai hijab. anak-anak itu diarahkan menuju ke meja makan. dengan wajah bersemangat karena hari ini adalah hari pertama mereka untuk sekolah, mereka makan begitu lahap dan tenang.
karena baru pertama kali masuk sekolah maka Zelina akan mengantar anak-anak panti yang masuk di sekolah SD sedang Fatahillah menemani anak-anak yang masuk di sekolah SMP. Arjuna, akan berangkat sendirian ke sekolah karena namanya sudah didaftarkan oleh Afkar di sekolah ternama di kota itu dan juga tentu saja dirinya tidak perlu ditemani.
namun jika sudah hari kedua maka tidak ada sopir yang akan mengantar mereka, karena sekolah SD dan juga SMP tidak jauh dari rumah. tidak juga bisa di bilang dekat namun bisa di tempuh dengan jalan kaki. kecuali Arjuna yang harus naik motor karena letak sekolahnya yang jauh.
selesai dengan sarapan mereka, semua orang kini kembali ke kesibukan masing-masing. Yusuf dan Anisa ke rumah sakit, Hasan dan Fauzan ke kantor begitu juga dengan Najwa dimana hari ini ia akan mulai bekerja di perusahaan Zelina, gadis itu berangkat bersama Afkar.
mobil yang dikemudikan Fatahillah dan Zelina keluar dari pekarangan luas rumah itu. Akmal yang tidak kemana-mana hendak akan masuk ke dalam rumah namun kemudian ia melihat seseorang yang sedang mengintai rumah itu di jalan raya depan rumah Zelina. sosok itu memakai helm hitam, jaket hitam dan celana jeans. ia menggunakan motor dan Akmal melihat kalau memang orang itu terus melihat ke arah rumah.
"nggak beres tuh orang" gumam Akmal
Akmal berjalan cepat menuju pagar bahkan ia pun mulai berlari. satpam yang berada di tempat jaganya heran melihat Akmal tiba-tiba saja berlari ke arah jalan raya. sedang sosok itu saat melihat Akmal akan menghampirinya, ia langsung menyalakan motornya dan meninggalkan tempat itu.
"jangan kabur woi" teriak Akmal
satpam ikut keluar dan menghampiri Akmal yang sedang mengumpat.
"kenapa mas...?" tanya satpam
"ada orang yang mengintai rumah ini pak"
"mengintai...? waduh bahaya kalau begitu. ayo masuk mas, biar saya tutup pagarnya"
"tunggu sebentar pak"
Akmal berjalan ke arah depan, beberapa orang yang berpapasan dengannya nampak tersenyum dan menyapa. mereka tau karena menghadiri pembukaan panti asuhan kemarin dan melihat Akmal yang begitu dekat dengan Zelina dan juga Fatahillah, maka dari itu mereka menganggap bahwa Akmal adalah keluarga Zelina. mereka juga kini tau kalau kini Zelina telah menikah dengan Fatahillah.
Akmal membalas dengan anggukan dan senyuman. tidak ada lagi yang mencurigakan, ia pun kembali berbalik badan dan pulang.
"bagaimana mas...?" tanya satpam, rupanya ia juga baru saja datang memeriksa arah yang berlawanan dengan Akmal
"sudah pergi pak"
"kalau begitu kita masuk, saya tetap akan memantau sekitar"
Akmal mengangguk kemudian masuk kembali ke halaman rumah. sementara satpam itu menutup pagar dan menguncinya, ia akan membukanya kembali jika tuan rumah atau kerabat pemilik rumah yang datang.
kejadian tadi membuat Akmal semakin waspada. di lantai dua ia memperhatikan sekitar, jangan sampai ada lagi orang yang mengintai mereka. kejadian tadi akan ia beritahu kepada Fatahillah dan Zelina jika keduanya telah pulang.