
semua orang menjadi panik ketika Fatahillah jatuh pingsan. mereka membaringkan tubuhnya di sofa dan anak kiyai Anshor yang bertemu dengan mereka tadi di halaman rumah, membawa minyak telon untuk mengolesi hidung Fatahillah agar ia bisa cepat sadar.
meskipun sudah dibaluri dengan minyak telon, belum ada respon dari Fatahillah untuk dirinya sadar. bahkan sudah menunjukkan menit ke menit berikutnya namun mata pemuda itu masih tertutup rapat.
"harusnya kita jangan dulu datang tadi. kondisinya pasti belum pulih total, dia kan baru saja sadar semalam" ucap pak Odir
"ini salahku yang langsung mengajaknya untuk datang sama-sama ke rumah kiyai" Ali merasa bersalah
"bukan salah mas Ali. mungkin karena memang kondisi mas Fatah belum sepenuhnya pulih. tapi dia sakit kepala setelah melihat foto yang terpajang di dinding itu" Akmal melihat ke arah foto yang ia maksud
"foto mana yang kamu maksud Mal...?" tanya kiayi Anshor
"itu Kiayi, foto muda kiayi bersama kiayi Zulkarnain dan dua orang pemuda lainnya" jawab Akmal
kiayi Zulkarnain dan kiayi Anshor sama-sama melihat ke arah objek yang mereka bicarakan. keduanya kemudian saling pandang dan menghela nafas.
"dia demam" pak Umar memegang kening Fatahillah
"racun itu memang sudah dikeluarkan tapi kondisi tubuhnya masih lemah. harusnya dia beristirahat di rumah" ucap kiayi Zulkarnain
"apa tidak sebaiknya kita bawa saja ke rumah sakit" ucap Hasan
"biarkan dia tetap di sini, bawa masuk saja ke kamar tamu" perintah kiayi Anshor
"kalau begitu aku akan memberitahu mbak Zelina tentang keadaan mas Fatah. mbak Zelina harus tau" timpal Arjuna
"iya, pergilah beritahu istrinya" kiyai Zulkarnain setuju
Fatahillah dibawa masuk ke dalam kamar tamu. sementara anak perempuan kiayi Anshor datang membawakan minum untuk mereka.
"mana kakakmu...?" tanya kiayi Anshor kepada putrinya
"kak Naila masih di pasar bah, mungkin sebentar lagi pulang" jawab putrinya
setelah menjawab pertanyaan ayahnya, anak kedua dari kiayi Anshor itu meninggalkan ruang tamu menuju ke dapur. sementara Akmal, masih terus memperhatikan sampai wanita itu tidak terlihat lagi.
"jaga pandangan" bisik Hasan di telinga Akmal
"memangnya aku memandangi siapa...?" tanya Akmal ikut berbisik
"lah tadi itu bahkan hampir melotot tuh mata terus memandangi anak kiayi Anshor"
"aku bukan memandang, hanya memperhatikan"
pluuukk
"sama saja bego"
"sakit tau"
Akmal cemberut kesal karena Hasan menggeplak kepalanya. sementara yang lainnya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah keduanya.
"tadi itu anak kedua saya, namanya Maryam. anak pertama saya namanya Naila, dia ke pasar untuk membeli perlengkapan makanan" ucap kiyai Anshor
Akmal manggut-manggut tanda mengerti, sementara Hasan mengerutkan kening.
"kenapa angguk-angguk seperti itu Mal...?" tanya Hasan pelan
"aku sudah mengetahui apa yang ingin aku ketahui, tinggal meminta jalur dari langit" bisik Akmal membuat Hasan mencebik
Arjuna datang bersama dengan Zelina. setelah mengucapkan salam, Zelina langsung ke kamar untuk melihat suaminya sementara Arjuna bergabung bersama di ruang tamu.
saat masuk ke dalam kamar, Zelina melihat seorang wanita yang berdiri di samping suaminya. wanita itu menoleh dan terkejut ada seseorang yang masuk namun kemudian ia mundur perlahan menghampiri Zelina yang masih berdiri di ambang pintu.
"mbak siapa...?" tanya wanita itu yang tidak lain adalah Maryam
"saya istrinya" jawab Zelina sopan
"oh silahkan masuk. maaf, tadi saya hanya ingin menaruh air dan handuk untuk dia dikompres karena demamnya sepertinya semakin tinggi. saya hendak memanggil abah untuk mengompres keningnya"
Zelina mengangguk kemudian Maryam meninggalkannya. langkah Zelina mengarah ke arah tempat tidur suaminya berada.
"ya Allah mas, kenapa kamu jadi seperti ini"
Zelina memegang kening suaminya dan benar saja tubuhnya terasa panas. ia kemudian mengompres Fatahillah dengan handuk yang dibawakan okeh Maryam tadi.
(sehatkan suamiku ya Allah, kembalikan kesehatannya seperti sebelumnya) batin Zelina
Zelina merasa kasihan melihat keadaan Fatahillah sekarang. niat hati untuk mengantar Hanum berobat namun kini malah dirinya yang sakit. apalagi sampai terbaring tidak berdaya di tempat tidur.
di ruang tamu, para laki-laki masih berbincang-bincang hingga terdengar ucapan salam dari luar.
"assalamu'alaikum"
"wa alaikumsalam"
dua orang wanita masuk ke dalam. salah satunya berpakaian seperti Zelina, menggunakan cadar sementara wanita baya yang bersamanya hanya menggunakan jilbab panjang.
"ada tamu" ucap wanita baya itu
"kenapa lama Umi...?" tanya kiayi Anshor, wanita itu adalah istrinya
"tadi ada urusan sebentar bah. kalau gitu umi masuk dulu untuk memasak makan siang sebentar" wanita itu tersenyum teduh kepada semua tamunya setelahnya melenggang masuk ke dalam bersama anaknya
"kalian jangan pulang dulu, makan siang di sini saja" ucap Kiayi Anshor
"aduh, kami malah nggak enak kiyai, malah merepotkan" pak Umar sama sekali sangat sungkan
"biar kami pulang ke rumah saja kiayi, kami...."
"saya tidak terima penolakan" ucap Kiayi Anshor tegas memotong ucapan pak Odir dan mau tidak mau akhirnya mereka mengalah
setelah beranjak siang dan semua orang laki-laki telah berangkat ke masjid, Fatahillah akhirnya sadar. matanya mengedar ke segala arah, tidak ia temukan satu orang pun di sekitarnya. dengan pelan ia berusaha bangkit untuk duduk. saat itu Zelina baru saja masuk, melihat suaminya telah sadar wanita itu begitu bahagia dan mendekati suaminya.
"syukurlah mas sudah sadar. sekarang makan dulu lalu minum obat ya" Zelina duduk di samping suaminya dengan satu piring nasi dan juga lauknya
"aku dimana sayang...?"
"di rumah kiyai Anshor, tadi mas pingsan dan Arjuna yang memberitahu aku. sekarang mas makan dulu ya setelah itu minum obat. kalau mas sudah enakan, kita kembali ke rumah"
Zelina menatap lembut wajah teduh suaminya. Fatahillah mengangguk sambil tersenyum. Zelina dengan telaten menyuapi Fatahillah sampai nasi yang adai di piring habis tidak tersisa. lalu setelahnya Fatahillah meminum obat yang juga dibawa oleh istrinya itu.
"maafkan aku ya sayang, aku sudah sangat merepotkan mu" Fatahillah menggenggam tangan istrinya
"siapa lagi yang akan kamu repotkan kalau bukan aku mas. lagi pula aku ikhlas lahir batin mengurus kamu sampai sembuh. meskipun begitu aku ingin agar mas Fatah cepat sehat" Zelina membelai lembut wajah suaminya
"uhibbu kafilah" ucap Fatahillah mengecup lembut kening istrinya
"aku juga, cepatlah sembuh" Zelina memeluk suaminya
sampai sore hari mereka masih berada di rumah kiayi Anshor. Fatahillah yang sudah merasa baikan ikut bergabung bersama yang lainnya di ruang tengah. ada juga kedua anak kiyai Anshor dan istrinya namun mereka berkumpul di tempat lain bersama Zelina, masih berada di ruang tengah yang jaraknya tidak jauh dari mereka. karena di ruang tengah yang luas di rumah itu, hanya di sediakan karpet saja sebagai alas tempat duduk mereka. televisi pun ada di ruang tengah itu.
"jangan memaksakan diri untuk keluar kalau kamu masih merasa belum sehat Fatah" pak Umar menegur
"aku bosan di kamar pak, lagipula di sini aku sudah mempunyai obat mujarab untuk menyembuhkanku" Fatahillah melirik Zelina yang sedang duduk bercerita dengan kedua anak kiyai Anshor dan Umi Zainab, istri kiayi Anshor
"kiyai boleh aku bertanya...?" Fatahillah meminta izin terlebih dahulu
"mau bertanya apa...?" ucap kiyai Anshor
"laki-laki yang ada di foto itu, kalau aku boleh tau...dia siapa...?" Fatahillah melihat ke arah foto yang ia maksud
kiayi Zulkarnain bangkit dan berjalan melangkah mendekati foto tersebut kemudian mengambilnya dan kembali ke tempat duduknya.
helaan nafas kiyai Zulkarnain menandakan ada beban yang ia simpan. semua orang dapat melihat raut wajahnya yang berubah setelah melihat foto itu.
"memangnya kenapa kamu menanyakan orang ini...?" kiayi Zulkarnain menyimpan foto itu di depannya dan menunjuk salah satu laki-laki yang ada di foto itu
"entahlah, aku....aku seperti pernah melihatnya tapi entah dimana aku juga tidak tau" Fatahillah mengambil foto itu dan menatap lekat wajah laki-laki itu
kiyai Anshor bangkit dari duduknya meninggalkan mereka, selang beberapa menit ia kembali lagi dengan sesuatu yang ia pegang. sebuah bingkai foto yang ia perlihatkan kepada Fatahillah.
"kalau perempuan ini, apakah kamu pernah melihatnya...?" kiyai Anshor memperlihatkan sebuah foto laki-laki dan wanita yang saling merangkul mesra, di gendongan laki-laki itu ada seorang bayi yang mungkin masih berumur beberapa bulan
Fatahillah mengambil bingkai foto itu dan memperhatikan dengan seksama. keningnya mengkerut untuk berusaha mengingat karena siapa wanita yang ada di dalam foto itu.
"kenapa seperti tidak asing" gumam Fatahillah
Hasan dan Akmal merapat ke tubuh Fatahillah untuk melihat karena mereka berdua begitu penasaran.
"bukannya laki-laki ini adalah yang ada di foto ini ya...?" Hasan menunjuk foto laki-laki bersama perempuan itu dan laki-laki yang ada di foto empat pemuda
"berarti ini istrinya dan bayi ini adalah anaknya" ucap Akmal
"eh tapi tunggu" Akmal merebut foto itu dari tangan Fatahillah
"bukankah ini....ibu Laila...?" mata Akmal membulat sempurna melihat foto perempuan itu
"maksud kamu apa Mal...?"
"iya benar benar, perempuan ini adalah ibu Laila, wanita gila yang ada di pasar, kiayi. yang pernah mengejar aku saat aku ke pasar dulu, yang kdrt juga sama mas Fatah dan menganggap mas Fatah sebagai anaknya. coba lihat baik-baik mas, dia benar-benar wanita gila itu kan"
"kamu serius Mal...?" kali ini kiyai Zulkarnain melihat Akmal dengan tatapan serius
"aku serius Kiayi, dia adalah ibu Laila wanita gila yang ada di pasar. aku tidak salah orang"
"bang, dia telah kita cari selama ini dan ternyata ada di dekat kita. kita harus ke pasar mencarinya bang" kiyai Anshor melihat kiyai Zulkarnain dengan wajah tegang
"coba perhatikan lagi Mal, jangan sampai kamu salah orang" kiyai Zulkarnain ingin memastikan
Zelina mendengar percakapan mereka bangkit dari duduknya dan mendekati suaminya. istri dan kedua anak kiyai Anshor ikut bergabung bersama mereka.
"boleh aku lihat...?" ucap Zelina dan Akmal memberikan bingkai foto itu
Zelina memperhatikan dengan lekat wajah wanita yang ada di dalam foto tersebut.
"iya benar, dia adalah wanita gila itu mas. yang menganggap kamu sebagai anaknya, aku masih ingat betul wajahnya" ucap Zelina
Fatahillah kembali mengambil foto itu dan memperhatikan lebih jelas lagi. barulah ia menyadari kalau wanita itu adalah benar-benar wanita gila yang mereka temui di pasar.
"jadi benar, dia adalah wanita gila yang ada di pasar...?
"benar kiayi"
"ya Allah... Alhamdulillah Engkau mempermudah jalan kami"
Fatahillah kembali mengambil foto itu dan terus mencoba mengingat. detik berikutnya kepala Fatahillah mulai sakit kembali. bingkai foto yang ia pegang jatuh ke lantai. sakit kepala yang ia rasakan begitu berdenyut dan membuatnya mengerang sakit.
aaaggghh
"astaghfirullah, mas...mas Fatah" Zelina panik melihat suaminya
"apapun yang kamu ingat, jangan di paksakan nak" kiyai Zulkarnain berpindah ke sisi kanan Fatahillah sementara di sisi kirinya adalah tempat Zelina
"istighfar.... istighfar" kiayi Zulkarnain mengelus punggung Fatahillah
"astagfirullahaladzim... astagfirullahaladzim" dengan nafas tersengal Fatahillah mengucapkan istighfar
Naila berlari ke dapur mengambil air minum setelah itu ia kembali lagi dan memberikan air itu kepada Zelina.
"minumlah dulu mas"
Fatahillah meneguk air itu dan setelahnya ia mulai mengatur nafas. Ali mengambil kaki Fatahillah untuk ia pijit namun Fatahillah menarik kembali.
"jangan, jangan membuat aku berdosa padamu"
"sudah mengikut saja, aku ikhlas melakukannya. tenangkan pikiranmu, dan jangan memikirkan hal yang berat" Ali mengambil kembali kaki Fatahillah dan memijitnya
setelah merasa tenang, Fatahillah yang sebenarnya tidak merasa enak hati langsung menarik kakinya kembali dan berterimakasih kepada Ali.
"apakah jangan sampai racun itu telah merambat ke kepala Fatahillah sehingga dirinya selalu kesakitan seperti ini. kemarin-kemarin sebelum peristiwa itu terjadi, dia baik-baik saja...tidak pernah merasakan sakit kepala seperti ini" pak Odir berasumsi
"bagaimana kalau kita ke rumah sakit saja, dokter pasti lebih tau" Arjuna memberikan saran
"tidak perlu, aku baik-baik saja. mungkin karena belum sepenuhnya sembuh makanya aku seperti ini" Fatahillah menolak untuk dibawa ke rumah sakit
"nak Fatah, pasti ada banyak pertanyaan di kepalamu tentang mereka berdua" kiayi Zulkarnain melirik foto kedua sepasang suami istri bersama bayi mereka "saya tidak tau apakah kilasan ingatan mu ada bersama mereka namun...." kiayi Zulkarnain menghentikan ucapannya
"namun apa Kiayi...?" Fatahillah begitu penasaran
"lupakan saja, jika hanya akan membuat kamu sakit, kita tidak usah membahas itu" kiyai Zulkarnain mengambil kedua foto itu hendak bangkit membawanya ke tempat lain namun Fatahillah kembali bersuara
"aku memimpikan mereka berdua kiayi, mereka hadir dalam mimpiku. aku tidak tau siapa mereka tapi hadirnya mereka dalam mimpiku membuat aku merasa aku mempunyai hubungan dengan keduanya. bahkan wanita itu memanggil aku Firdaus, menganggap aku adalah anaknya"
kalimat yang terlontar dari mulut Fatahillah membuat kiyai Zulkarnain menghentikan langkah. setelahnya ia berbalik kembali dan duduk di tempatnya semula.
"Abah, ada apa...?" tanya umi Zainab kepada suaminya
kiyai Anshor tidak menjawab namun dirinya hanya menatap kiayi Zulkarnain.
"kami sudah pernah mengatakan sebelumnya bukan kalau hanya ibumu yang dapat menceritakan semuanya. setelah pulang nanti maka tanyakanlah padanya siapa mereka berdua. saya hanya bisa memberitahu bahwa laki-laki yang ada didalam foto itu sedang..... sedang menunggu kamu untuk menjemputnya"
"menjemput...?" semua orang mengatakan hal itu
"bang, kita harus ke pasar itu untuk mencari Laila"
"kiyai kenal dengan wanita itu...?" tanya Hasan
dering ponsel Fatahillah membuat mereka menghentikan percakapan. dari layar ponselnya, Fatahillah melihat nama sahabatnya yang menghubunginya.
"halo Yus, ada apa...?"
"Fatah, paman Imam...paman Imam"
"kenapa dengan paman Imam Yus, mereka baik-baik saja kan. keluargaku baik-baik saja kan" Fatahillah mulai was-was mendengar suara Yusuf yang tertahan di tenggorokan
"paman Imam meninggal dunia"