
Yusuf masih setia menemani Anisa sampai wanita itu berhenti menangis dan melerai pelukan. karena Yusuf yang tadinya naik ke atas ranjang untuk menenangkan Anisa, maka posisi keduanya saat ini sangatlah dekat. bahkan Anisa dapat merasakan hembusan nafas Yusuf menerpa wajahnya. keduanya saling beradu tatap, refleks tangan dokter muda itu mengangkat tangannya membenahi anak rambut yang menutupi sebagian wajah Anisa.
sadar apa yang telah ia lakukan, Yusuf melepaskan pelukannya dan turun dari ranjang.
"maaf Nis, aku tidak bermaksud...."
"dokter Yusuf, ada yang mencari anda"
seorang perawat datang dan membuka pintu begitu saja namun tidak langsung masuk melainkan hanya berdiri di ambang pintu. untung saja Yusuf telah turun dari posisinya tadi, sehingga perawat cantik dan masih muda itu tidak melihat adegan yang akan membuat dirinya berpikir bermain sangka.
"terimakasih sus"
perawat itu mengangguk sebelum akhirnya menutup kembali pintu kamar rawat Anisa. Yusuf menjadi canggung atas apa yang telah ia lakukan tadi. tidak ingin berlama-lama, Yusuf berpamitan kepada Anisa untuk keluar.
"aku keluar dulu ya Nis. kamu istirahatlah" Yusuf berbalik mengambil langkah namun Anisa menghentikannya saat wanita itu memanggil namanya
"ada apa...?" Yusuf membalikkan badan untuk melihat ke arah Anisa
"aku hanya ingin mengucapkan terimakasih"
"tidak perlu sungkan padaku Nis, kita kan teman" Yusuf tersenyum sebelum akhirnya benar-benar keluar dari ruangan itu
di lobi rumah sakit Fauzan dan Zulaikha sedang menunggu Yusuf. laki-laki yang mereka tunggu telah terlihat berjalan ke arah mereka.
"Ica" panggil Yusuf mempercepat langkahnya
"mas Yusuf" Zulaikha bangkit dan tersenyum
"kamu tidak apa-apa kan. apakah ada yang luka...?" Yusuf memutar tubuh gadis itu untuk memeriksa keadaannya
"aku baik-baik saja mas, untungnya ada mas Fauzan" Zulaikha melirik Fauzan yang hanya diam saja
"Zan makasih banget, kamu memang selalu bisa diandalkan" ucap Yusuf
"hmmm, ya sudah kalau gitu aku mau langsung cabut saja. ngantuk banget" Fauzan menarik langkah menjauhi keduanya
"thanks ya" teriak Yusuf
Fauzan mengangkat jempol kanannya tanpa berhenti ataupun berbalik. ia terus melangkah keluar dari lobi menuju mobilnya dan meninggalkan rumah sakit. sementara Zulaikha masih terus menatap ke depan meski Fauzan sudah tidak terlihat oleh kedua matanya
Yusuf membawa Zulaikha ke ruangannya. ia mendudukkan gadis itu dikursi.
"inilah yang aku takutkan kalau kamu keluar rumah. kamu kan tau bahayanya jika kamu keluar sendirian" Yusuf menceramahi Zulaikha sambil mengompres wajah gadis itu dengan handuk kecil dan air hangat
"maaf" Zulaikha menunduk tidak berani menatap wajah Yusuf
"kamu dan keluargamu adalah tanggung jawab ku sekarang Ca. sebelum Fatahillah pulang, kalian semua berada dalam perlindungan ku. setelah ini aku tidak akan pernah mengizinkan kamu untuk kemanapun jika tanpa aku atau Fauzan. kamu mengerti...?" ucapan Yusuf tegas dan penuh penekanan
"tapi kan mas Yusuf sibuk kerja, nanti kalau begitu juga dengan mas Fauzan. aku ada urusan lain bagaimana...?" Zulaikha memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya menatap manik mata Yusuf yang begitu dekat dengannya
"jika aku sibuk dan Fauzan juga sibuk, kamu bisa meminta penjaga di rumah untuk menemani kamu. intinya kamu tidak boleh keluar sendirian. kalau sampai ibumu tau hal ini, pasti dia akan...."
"jangan beritahu ibu sama ayah mas, aku mohon" Zulaikha memegang kedua tangan Yusuf memelas untuk tidak memberitahu orang tuanya
Yusuf mengehela nafas kemudian menyimpan handuk yang ia pegang ke dalam mangkuk. setelah itu ia duduk di atas meja berhadapan dengan Zulaikha, dirinya sambil bersidekap.
"apa kamu disakiti...?" tanya Yusuf
"hanya di tampar, rasanya sakit" Zulaikha menunduk lagi karena ia mulai menciut melihat tatapan tajam Yusuf
"andai kalau tidak ada Fauzan, aku tidak tau apa yang akan terjadi padamu Ca. aku sudah menganggap kamu seperti adikku sendiri. kamu pikir aku tidak tau, kalau kamu sering berbohong untuk mengerjakan tugas kelompok di rumah Meqianti padahal sebenarnya kalian keluyuran"
Zulaikha semakin menunduk dan meremas jemarinya dengan gugup. bola matanya terus melihat ke arah lantai rumah sakit yang berwarna putih.
"kalau Fatahillah tau kamu bersikap seperti ini, dia pasti akan sangat kecewa padamu. apalagi ayah dan ibumu. mereka mengira kamu adalah gadis polos namun ternyata..."
Yusuf menjeda ucapannya karena ia melihat Zulaikha yang semakin tidak tenang. ia tau gadis itu sedang gelisah, Yusuf hanya memberinya wejangan agar gadis itu tidak melakukan kesalahan yang sama.
"kita pulang" Yusuf mengambil jaket miliknya dan memakaikan di tubuh Zulaikha
Zulaikha terkesiap dan mendongak, untuk melihat wajah Yusuf yang kini tatapannya kembali teduh.
"ayo" ajak Yusuf mengulurkan tangannya
"mas tidak marah lagi...?"
"aku harap setelah ini kamu tidak akan membuat aku semakin kecewa padamu"
"tidak...itu tidak akan terjadi lagi"
Zulaikha menggeleng cepat dan menyambut uluran tangan Yusuf dengan tersenyum. Yusuf ikut tersenyum dan mengacak rambut gadis itu hingga keduanya keluar dari ruangan Yusuf menuju ke lobi rumah sakit.
"suster Naya" Yusuf menghampiri seorang perawat yang baru saja hendak mengecek keadaan pasien
"iya dok" perawat yang bernama Kanaya itu menoleh dan berhenti
"saya akan pulang, tolong cek keadaan dokter Anisa ya. besok pagi saya akan datang lagi"
"baik dok" Kanaya mengangguk paham
Yusuf dan Zulaikha melangkah keluar dari rumah sakit masih saling bergandengan tangan. setelah itu keduanya masuk ke dalam mobil dan menuju pulang.
***
pagi-pagi buta dua orang laki-laki sedang dalam perjalanan menuju ke desa keramat. Aji Wiguna dan Alex yang menjadi kaki tangannya, mereka dalam perjalanan ke desa keramat untuk menemui seseorang.
perjalanan yang membutuhkan waktu berjam-jam, kini mobil mereka masuk ke tengah hutan. desa keramat yang terletak jauh dari perkotaan, letaknya berada di bawah kaki gunung.
tepat setelah mobil itu memasuki kawasan jalan setapak yang akan menuju ke tempat tujuan. mereka terpaksa harus turun dari mobil karena jalan yang ukurannya tidak begitu besar hanya bisa dijadikan sebagai tempat orang-orang untuk berjalan kaki, bukan orang-orang yang memiliki kendaraan roda empat.
"apa masih jauh bos...?" Alex memperhatikan sekitar, hanya ada pohon-pohon rindang menaungi jalan mereka sehingga cahaya matahari hanya bisa masuk di sela-sela dedaunan
"mungkin kita harus berjalan kaki sekitar satu kilometer lagi" Aji Wiguna menjawab
(jauh sekali rupanya) batin Alex
"ayo Al, tahan saja lelahmu nanti. kita harus sampai di desa keramat secepatnya. jalannya bukan hanya lurus-lurus saja namun harus mendaki kalau tidak salah tiga tanjakan"
Aji Wiguna menepuk pundak Alex dengan pelan. ia sudah mengambil langkah terlebih dahulu sedangkan Alex mengikuti bosnya dari belakang. Alex mengira tanjakan yang akan mereka lalui tidak begitu tinggi namun ternyata seperti mendaki gunung. baru satu tanjakan sajai nafas Alex sudah ngos-ngosan, bahkan kini ia telah mandi keringat.
"astaga, bisa-bisa aku mati sebelum sampai di tujuan" gumam Alex melap keringatnya yang mulai bercucuran
hingga setelah tanjakan ketiga, keduanya beristirahat di tempat yang tinggi itu. haus menghampiri tenggorokan keduanya, bagaimana tidak perjalanan yang cukup melelahkan dan sangat menguras tenaga.
haaaah huuuuf
haaaah huuuuf
berkali-kali keduanya mengambil nafas dan mengeluarkan dengan pelan. kaki seakan sudah tidak bertulang untuk melanjutkan perjalanan.
"bos, bagaimana warga di desa itu dapat bertahan hidup kalau jauh dari tempat ramai bahkan berada di pelosok sekali. dengan cara apa mereka menjual hasil perkebunan mereka kalau jalannya seperti jalan sakaratul maut seperti ini" kali ini Alex berbaring untuk menghilangkan rasa lelahnya
"ya tentu saja dengan memilkulnya dan membawanya ke tempat parkirnya mobil kita tadi. di situ mobil dari kota menunggu mereka untuk membeli hasil perkebunan para warga. setiap panen maka orang-orang desa keramat akan sibuk"
"gila, hebat juga mereka"
"kita lanjut lagi. lihatlah, di sana itulah desa keramat" Aji Wiguna menunjuk ke bawah
karena mereka berada di tanjakan yang lumayan tinggi maka di bawah sana terlihatlah desa keramat. Alex mulai lega karena penderitaan yang akan ia alami akan segera berakhir.
saat memasuki desa keramat, keduanya disuguhi dengan anak-anak yang berlarian bermain bersama teman-temannya. begitu gembiranya mereka tanpa harus memikirkan kehidupan seperti orang dewasa yang penuh liku dan tantangan.
setiap yang berpapasan dengan mereka, akan tersenyum dan kadang menyapa. ternyata warga di desa itu sangatlah ramah kepada orang asing yang baru pertama kali menginjakkan kaki di desa itu.
keduanya berhenti di sebuah rumah yang berdindingkan papan, dengan dua patung Buto ijo yang berbadan besar di halaman rumah. pohon mangga menaungi halaman rumah itu.
"cari siapa...?" seorang laki-laki yang berpakaian hitam dan ikat kepala hitam bertanya kepada kedua pendatang baru itu. ralat, hanya Alex pendatang baru sedangkan Aji Wiguna bukan
"aku mencari guru Ki Demang, dimana dia...?"
"aku Aji Wiguna, murid Ki Demang yang dari kota. katakan padanya kalau aku datang"
"guru sedang melatih para muridnya di halaman belakang rumah. mari aku antar ke sana"
laki-laki itu berjalan terlebih dahulu setelah itu Aji Wiguna dan Alex mengikutinya. di belakang rumah ternyata sudah disulap untuk tempat berlatih semua murid Ki Demang. di bawah pohon yang rindang, dekat dengan aliran sungai yang jernih, semua orang yang berpakaian hitam dengan ikat kepala hitam, sedang berlatih ilmu kanuragan.
laki-laki yang membawa Aji Wiguna dan Alex menghampiri Ki Demang yang sedang duduk di atas batu besar, di samping sungai. setelah memberitahu ada tamu yang datang. Ki Demang bangkit dan melompat ke tanah. ia berjalan bersama laki-laki itu menghampiri dua tamunya.
"guru" Aji Wiguna mencium tangan Ki Demang sebagai tanda hormatnya
"kita ke rumah saja" ucap Ki Demang"
mereka semua bertolak kembali ke rumah yang tidak jauh dari tempat pelatihan. rumah yang berdinding papan, khas pedesaan. di desa itu semua rumah berdindingkan papan, belum ada yang membuat rumah batu seperti di kota.
tiga kopi hitam dengan asap yang mengepul keluar tersedia di depan mereka, di atas meja kayu.
"bagaimana kabarmu Aji...?" Ki Demang memulai pembicaraan
"aku baik guru. maaf baru sempat menjenguk guru sekarang ini"
"hmmm...pasti ada sesuatu sehingga kamu jauh-jauh lagi datang ke mari"
"guru memang selalu bisa menebak pikiran seseorang"
"siapa dia...?" Ki Demang melihat ke arah Alex
"dia orang kepercayaan ku guru"
Ki Demang manggut-manggut dan menyeruput kopi hitam yang masih mengepul asapnya.
"katakan apa yang kamu inginkan...?" tanya Ki Demang
"aku ingin memperdalam ilmu Kanuragan ku untuk mengalahkan pemuda yang memiliki mustika merah. dia begitu sakti sehingga para anak buahku saja tidak sanggup melawannya"
"kenapa tidak kamu saja yang turun tangan langsung...?"
"guru tau sendiri aku belum begitu pulih. aku datang untuk berobat dan berlatih lagi seperti dulu. kalau aku mendapatkan mustika merah itu dan juga mustika putih, kekuatanku akan berlipat lipat ganda dari sebelumnya, tidak akan ada yang bisa mengalahkan ku"
"apa segitu saktinya pemuda itu...?"
"bahkan serangan yang aku lakukan pun, dengan menyerangnya menggunakan sihir beracun, masih bisa ia tangkal dan membunuh semua anak buahku" kali ini Alex menjawab
"baiklah, akan kita bereskan pemuda itu nanti" ucap Ki Demang
***
setelah sholat subuh, Fatahillah masih tetap berada di dalam sedang berdzikir di hamparan sajadahnya. bahkan setelah pagi menjelang, ia belum juga keluar dari kamar. Zelina sudah berada di dapur bersama ibu Afifah dan ibu Rosida.
"bagaimana keadaan suamimu nak...?" tanya ibu Rosida
"mas Fatah sudah membaik bu. Alhamdulillah sekarang dia sudah bisa bangun dan sholat" jawab Zelina yang sedang membuatkan kopi untuk para lelaki yang ada di ruang tengah
"syukurlah, ibu sangat cemas sekali dia tidak bangun selama dua hari" ibu Rosida begitu lega mendengar kabar dari Zelina
"akupun begitu cemas bu, Alhamdulillah Allah masih memberikan kesehatan kepada suamiku"
"ya sudah, bawa minuman itu ke depan dengan kue basah ini" ibu Afifah memberikan dua piring kue basah kepada Zelina
"baik bu"
Zelina bangkit dan membawa minuman itu ke depan. rupanya di sana suaminya sudah bergabung bersama yang lainnya. dibalik cadarnya Zelina tersenyum, suaminya bisa kembali pulih seperti sebelumnya.
"terimakasih sayang" ucap Fatahillah saat Zelina menyimpan cangkir teh di depannya
"sama-sama mas" jawab Zelina kemudian undur diri kembali ke dapur
"San bagaimana dengan mobilmu...?" tanya Fatahillah
"sudah aku perbaiki. remnya memang sengaja dibuat rusak untuk mencelakai kalian. untung saja kamu dapat mengendalikan mobil itu" Hasan menjawab
"kalau ada yang rusak, kamu tinggal mengatakannya padaku"
"hey, aku malah lebih khawatir dengan nyawamu daripada mobil itu. mobil bisa kita beli tapi kalau nyawamu melayang, entah bagaimana aku akan mengatakan kepada ibumu nanti"
"tidak usah pikirkan tentang mobil Fatah, itu bisa dibeli kembali. sekarang ini cukup fokus kepada kesehatan mu saja" ucap pak Umar
"aku sudah membaik pak, Alhamdulillah Allah masih sayang padaku. sekarang aku ingin bertemu dengan kiyai Zulkarnain dan kiayi Anshor untuk mengucapkan terimakasih" timpal Fatahillah
"aku temani mas, kebetulan aku juga ingin ke sana" ucap Ali
"aku ikut, bosan tau di rumah terus" cerocos Akmal
"kalau begitu kita pergi bersama-sama saja. sekalian kita yang bersilaturahmi ke rumah mereka" ucap pak Odir
"aku boleh ikut nggak mas...?" Arjuna bertanya kepada Fatahillah
"tentu saja" Fatahillah menepuk pelan bahu remaja itu
mereka berpamitan kepada tiga wanita yang berada di dapur. Hanum masih berada di dalam kamar, kondisinya sudah semakin membaik dari sebelumnya.
rumah kiayi Anshor berada di sebelah timur pondok pesantren, mungkin jaraknya sedikit jauh dari rumah yang mereka tinggali. sambil bercakap-cakap mereka berjalan ke arah timur. tepat di depan mereka sebuah rumah sederhana nampak di depan mata. ada seorang wanita yang berpenampilan seperti Zelina, sedang menyiram tanaman bunga.
"assalamu'alaikum" Ali mengucapkan salam
"wa alaikumsalam" wanita itu menjawab
"mas Ali, cari Abah ya...?" tanya wanita itu yang sepertinya adalah anak dari kiayi Anshor
"iya. kiayi ada...?" ucap Ali
"ada mas, silahkan masuk. aku panggilkan Abah dulu"
wanita itu menunduk menjaga pandangannya, bahkan saat bicara dengan Ali pun ia tidak menatap wajah Ali melainkan menunduk. mereka semua masuk ke dalam duduk di ruang tamu,
Fatahillah mengedarkan pandangan dan tanpa sengaja matanya menangkap sebuah foto yang berada di dinding. empat orang pemuda sedang tersenyum dan saling merangkul. karena penasaran, Fatahillah bangkit dari duduknya untuk melihat foto itu. entah mengapa kakinya begitu ingin melangkah mendekati foto tersebut.
tiga diantaranya Fatahillah mengenal mereka, namun ada satu orang dimana Fatahillah harus berpikir keras untuk mengingat siapa laki-laki itu.
(aku seperti pernah melihatnya, tapi dimana ya) batinnya
semakin ia berpikir keras maka semakin Fatahillah merasa pusing dan bahkan kepalanya terasa sakit.
aaaggghh
Fatahillah merintih memegang kepalanya. hampir saja ia terhuyung untungnya, Akmal dan Arjuna segera bangkit menahan tubuhnya.
"mas Fatah kenapa...?" tanya Arjuna
"kepalaku sakit" rintih Fatahillah
"duduklah" Akmal dan Arjuna membantu Fatahillah untuk duduk kembali
"kenapa Fatah...?" tanya pak Umar
"entahlah pak, kepalaku tiba-tiba saja sakit" Fatahillah mencoba mengatur nafas agar rasa sakit dikepalanya tidak semakin menyiksanya
"apakah kita pulang saja, sepertinya kamu belum sembuh total" Hasan khawatir dengan keadaan Fatahillah sekarang
kiayi Anshor datang bersama dengan kiayi Zulkarnain. melihat keduanya telah datang, Fatahillah mulai memperbaiki posisi duduknya dan menatap lurus ke depan.
namun sekelebat bayangan mimpinya semalam membuat sakit kepala yang tadi ia rasakan semakin menjadi.
aaaggghh
Fatahillah ambruk seketika setelah mengeluarkan suara teriakan keras membuat semua orang panik karenanya.