Fatahillah

Fatahillah
Bab 132



mereka telah sepakat akan ke pulau bambu jika Gandha Sukandar yang palsu menghubungi Alex juga Akmal, sebab kedua pemuda itu adalah anak buah andalannya sekarang. Saat ini mereka kembali ke ruangan Henry, laki-laki itu sedang diperiksa oleh seorang dokter dan yang lebih mengejutkan lagi ternyata Najihan yang memeriksa keadaan Henry. Tentu saja Aji Wiguna terkejut, namun hanya sebentar karena setelahnya, ekspresi pemuda itu kembali menunjukkan wajah datar.


Alex juga yang menyadari keberadaan Najihan, iku kaget dan menatap tidak percaya, wanita itu ada di depan mereka. Ia pun melihat ke arah Aji Wiguna yang pura-pura memainkan ponselnya.


"Najihan" gumam Alex.


"Alex....apa kabar" Najihan tersenyum dan bahkan melihat ke arah Aji Wiguna namun pemuda itu sama sekali tidak meliriknya. Jangankan melirik, mengangkat wajahnya saja, Aji Wiguna begitu enggan.


"selama ini kamu menghilang dan ternyata berada di gunung Gantara. Aku pikir kamu sudah mati"


Jleb....


Ucapan yang dikeluarkan oleh Alex begitu menusuk hati Najihan. Dokter cantik itu bahkan ditatap oleh Alex dengan ekspresi datar dan tatapan tajam. Sementara selain Aji Wiguna juga Alex dan Najihan, mereka saling pandang dan merasa canggung.


"apakah saya sudah bisa pulang dokter Jihan...?" tanya Henry, saat itu sengaja dirinya mengutarakan pertanyaan agar mereka keluar dari situasi yang begitu canggung untuk sekarang.


"apa yang pak Henry rasakan sekarang...?" Najihan bertanya.


"aku tidak merasakan apapun lagi, namun hanya lemas dan tidak punya tenaga. Kalau sakit, aku tidak merasakan sakit lagi. jadi apakah saya sudah bisa pulang...?"


"untuk sekarang belum bisa pak, kita lihat perkembangan tubuh bapak besok pagi ya. Kalau pak Henry sudah tidak lemas lagi, akan saya izinkan untuk pulang"


"terimakasih dokter Jihan. Saya pikir kamu masih berada di wilayah D sebab dokter Diandra dan juga dokter Abizzar ada di sana sekarang"


"saya pulang karena ingin mengejar seseorang pak" Najihan melirik Aji Wiguna, pemuda itu fokus menatap layar ponselnya.


"mengejar penjahat maksudnya...?" Henry bertanya.


"saya ke mushola rumah sakit, nanti kalian menyusul" Aji Wiguna langsung balik badan dan keluar kamar rawat itu.


"apa dia cinta pertamamu...?" Akmal berbisik, begitu kepo ingin tau masalah apa yang terjadi antara Alex juga Najihan.


"pak Henry, karena keadaannya belum pulih jadi besok saja bapak pulangnya ya. Nanti saya datang lagi untuk memeriksa keadaan bapak esok hari" tanpa pamit, Najihan buru-buru keluar dari ruangan itu. ia ingin mengejar Aji Wiguna dan menjelaskan kesalahannya di masa lalu.


"itu dokter kayak kebelet aja, pamit aja nggak loh" Akmal geleng kepala.


"dia pasti ingin mengejar Aji Wiguna" ucap Hasan.


"lah kok jadi mas Aji, bukannya tadi itu mantannya mas Alex ya" Akmal menatap pintu dimana Najihan sudah tidak terlihat.


"ck, mantan terus yang kamu urus" Alex mengusap wajah Akmal kemudian berlalu ke arah sofa.


"ya habisnya sejak pertemuan pertama kata-kata mu itu sadis banget loh mas, pantasan jomblo terus, kejam sih" Akmal beralih ke ranjang Henry karena Fatahillah juga Hasan sedang berada di sana. Fatahillah duduk di ujung ranjang sementara Hasan berdiri sambil menyandarkan punggungnya di dinding, kedua tangan ia lipat di depan dada.


"pak Henry saya ingin menanyakan tentang Samuel" ucap Fatahillah.


"memangnya kenapa dengan Samuel...?" Henry menatap Fatahillah.


"apakah dia selama ini tidak pernah menghianatiku...?"


"kenapa bisa sampai kamu berpikiran seperti itu...?"


"setelah penghianatan yang kamu lakukan dengan Hafsah, aku harus waspada dan berhati-hati setiap orang di sekelilingku termasuk juga Samuel. Katakan padaku, apakah dia termasuk dalam kelompok kalian..?"


"harusnya kamu tau Gara, bagaimana kalian bersahabat sejak dari SMP dan sampai sekarang, bagaimana tulusnya dia menemani kamu dimasa yang begitu sulit. Saat kamu sakit pun dan tidak bisa bangun dari tempat tidur, Samuel yang panik dan mencari orang hebat yang dapat menyembuhkan sakitmu hingga akhirnya dia mendapatkan informasi bahwa di gunung Sangiran, seorang kiayi yang bernama Zulkarnain bisa menyembuhkan penyakit apa saja. Namun karena pernikahan temanmu, kamu malah pergi ke kota X. Apakah pengabdiannya selama ini masih membuatmu ragu...?"


"jadi Samuel tidak terlibat...?"


"tidak sama sekali, dia pemuda yang begitu setia dengan pimpinannya bahkan kekasihnya pun sendiri ia relakan untuk bersama kamu"


"maksudnya...?" Fatahillah mengernyitkan dahi, bukan hanya dia namun semua orang.


"sebenarnya.... Bulan mendiang istrimu adalah kekasih dari Samuel. Waktu itu mereka merencanakan pernikahan namun karena kamu tiba-tiba datang melamar wanita itu, akhirnya Samuel mengalah. Aku menceritakan ini bukan karena ingin membuat kalian berdua salah paham, hanya saja dari cerita itu kamu pastinya sudah bisa mengambil kesimpulan"


"tapi bagaimana kalau seandainya Samuel menusuk Fatah emmm maksud saya... bagaimana kalau seandainya dia menusuk Gara dari belakang karena dendam masa lalu, seperti kisah percintaan itu yang dihancurkan oleh Gara sahabatnya sendiri" Alex ikut memberikan pendapat.


"iya...itu bisa saja kan terjadi" Hasan pun ikut setuju dengan ungkapan Alex.


Henry tersenyum, ia pun mencari posisi ternyaman untuk dirinya dengan bersandar di bantal.


"kalau memang seperti itu, lalu untuk apa dirinya berkorban nyawa menyelamatkan mu saat kalian di serang oleh anak buah Gatot. Bahkan dirinya koma di rumah sakit dan kamu hanya cedera ringan. Apa itu belum membuatmu percaya...?"


"apa saat itu, Gara sudah menikah dengan Bulan...?" tanya Akmal.


"tentu saja sudah, bahkan dia sedang hamil waktu itu. Sayang sekali wanita sebaik Bulan tidak bisa umur panjang di dunia ini" ada rasa kehilangan yang diperlihatkan oleh Henry.


"saya katakan sekali lagi, Samuel sama sekali tidak terlibat dengan masalah ini. Malah saat masalah ini berawal muncul, dialah yang sibuk mengerahkan semua pasukanmu untuk tetap waspada dan menjaga wilayah gunung Gantara"


Fatahillah menghela nafas, ia bersyukur kalau pemuda yang selalu bersama Gara tetap setia dan tidak menusuk dari belakang.


"Allahuakbar Allahuakbar"


Suara adzan magrib mulai terdengar, mereka berpamitan kepada Henry untuk ke mushola rumah sakit. Aji Wiguna telah berada di sana sejak tadi, karena menghindari Najihan. dirinya sama sekali tidak ingin lagi melihat wajah wanita itu. Meskipun dalam hatinya, ia masih begitu merindukan Najihan namun luka yang ia goreskan tidak semudah untuk hilang. Terlebih setelah bertahun-tahun lamanya luka itu kering, kini harus basah lagi dan semakin sakit lagi.


sholat magrib telah selesai kini mereka akan kembali ke ruang rawat Henry. Tadinya Aji Wiguna mengira kalau Najihan tidak akan lagi menggangunya namun ternyata dugaannya itu salah. Najihan ternyata sekarang telah menunggu mereka di koridor rumah sakit. Melihat wanita itu, Aji Wiguna pura-pura tidak melihat dan melangkah sejajar dengan Alex.


"mas Aji" Najihan menghalangi jalan keduanya.


"minggir" Aji Wiguna menatap nyalang Najihan.


"aku mohon sekali ini saja mas, aku ingin menjelaskan semuanya dan memberitahu sesuatu padamu" Najihan memohon dengan wajah sendu.


"aku tidak perlu penjelasan apapun darimu, berhenti mengangguku. Bukankah apa yang kamu inginkan sudah kamu dapatkan lima tahun lalu, dan sekarang untuk apa kamu muncul lagi dihadapanku. Apa kamu kecewa kalau ternyata Tuhan masih menyelamatkan aku dari maut dan kamu ingin merencanakan pembunuhan lagi kepadaku" Aji Wiguna tersenyum sinis, begitu menahan marah dalam dirinya.


"mas aku..."


"DIAM"


bentakkan Aji Wiguna membuat Najihan terlonjak kaget, bahkan yang lainnya ikut terkejut dengan suara bentakan itu. Air mata Najihan jatuh begitu saja, betapa sakitnya ia mendapatkan bentakan keras dari laki-laki yang selama ini berlaku lembut kepadanya. Bahkan tidak pernah sekalipun Aji Wiguna membuat dirinya kesulitan atau bersedih. Namun sekarang, laki-laki itu terlihat begitu marah padanya dan itu semua memang salahnya.


"minggir kau" Aji Wiguna mendorong tubuh Najihan dan hampir Najihan jatuh ke lantai jika saja Alex tidak menahannya.


"dia seperti itu karena ulahmu sendiri Najihan. Sekarang ini Aji telah tenang tanpa kamu, aku harap kamu tidak muncul lagi di depannya" Alex melepaskan tangannya dari bahu Najihan.


seakan tuli dan tidak ingin mendengar, Najihan berlari mengejar Aji Wiguna. Apapun yang akan diterimanya, dirinya harus tetap menemui laki-laki itu.


"sebenarnya apa yang terjadi sih...?" Akmal menjadi semakin kepo.


"tanyakan saja pada Aji Wiguna apa yang terjadi kalau ingin dia membuang kamu di selokan" ucap Hasan.


Akmal cemberut dan menatap Hasan dengan kesal. Mereka kembali melangkah namun akan ke kantin rumah sakit karena Akmal merengek kelaparan.


"mas Aji, dengarkan aku sebentar saja mas"


"lepaskan Najihan, apa kamu tuli...jangan dekati aku lagi" Aji Wiguna menepis kasar tangan Najihan.


"mas, aku tau aku salah dan aku minta maaf. Aku menyesali semuanya mas, aku benar-benar menyesal"


"cih, lima tahun baru kamu mempunyai perasaan menyesal...? Lalu selama ini kamu kemana...? Selama lima tahun ini, aku lalui dengan penderitaan Najihan, aku hampir mati dan bahkan lumpuh namun untungnya Tuhan masih sayang padaku. Lalu setelah berlalu lima tahun itu, kamu datang seakan tidak mempunyai masalah apapun. Aku mungkin bisa memaafkanmu namun aku tidak bisa melupakan apa yang telah kamu lakukan padaku, tidak akan pernah"


Aji Wiguna masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin mobil dan meninggalkan rumah sakit. Sayangnya Najihan tidak menyerah begitu saja. Ia dengan berani berlari ke arah mobil Aji Wiguna dan berhenti di depan mobil dengan kedua tangan yang ia rentangkan.


"dia benar-benar gila" Aji Wiguna sungguh dibuat emosi oleh kelakuan Najihan.


"mas...dengarkan aku sekali ini saja, aku mohon. Jika kamu tidak ingin melihatku lagi tidak masalah, setidaknya lihatlah anakmu mas, anak kita...darah dagingmu"


Deg


Deg


Deg


demi apapun, Aji Wiguna kaget dan tubuhnya bergetar. jantungnya berpacu begitu cepat, dirinya diam menatap Najihan yang tengah menangis di depan mobilnya. Wanita itu tetap tidak ingin pergi dari tempatnya berdiri.


"anak...?" gumamnya.


"aku tidak membunuhnya mas, aku tidak menggugurkannya. Dia tetap sehat di dalam rahimku sampai dia lahir. Dia...dia begitu mirip denganmu, apa kamu tidak ingin melihatnya walaupun hanya sekali saja...?" suara Najihan bergetar, air mata terus tumpah di wajah cantiknya.


Saat itu juga Aji Wiguna keluar dari mobil dan menghampiri Najihan. Dengan kasar, Najihan menghapus air matanya. ia tersenyum saat Aji Wiguna datang padanya.


"apa maksudmu, jangan membual di depanku Najihan"


Buru-buru Najihan mengambil ponselnya dan mencari gambar anaknya. ia pun memperlihatkan seorang anak laki-laki yang sedang tersenyum manis dan wajah serta senyumannya begitu mirip dengan Aji Wiguna.


"dia...." Aji Wiguna meminta penjelasan


"dia anak kita, Kaindra putra Wiguna" Najihan tersenyum "aku tidak menggugurkannya seperti yang aku katakan dulu, dia tetap ada di dalam perutku sampai dia lahir. Apakah kamu tau, Kaindra sering sekali menanyakan tentangmu, tentang ayahnya. Aku sengaja memberitahukan kalau kamu adalah ayahnya dan bahkan fotomu ia pasang di dalam kamarnya. Jika dia bertanya tentangmu maka aku akan menjawab kalau kamu sedang berkerja di tempat lain"


Aji Wiguna menatap dalam foto anak usia lima tahun itu. begitu tampan dan sungguh begitu mirip dengannya. Ada banyak foto yang menampilkan wajah Kaindra dan juga banyak video yang memperlihatkan kegiatan anak kecil itu.


"mama...kok papa nggak pulang-pulang, apa karena Kai nakal...?"


"siapa bilang anak mama nakal...?"


"tapi buktinya papa nggak pernah datang temui Kaindra"


Melihat rekaman video itu, air mata Aji Wiguna lolos membasahi pipinya. Sama sekali tidak menyangka kalau ternyata darah dagingnya masih hidup sampai sekarang ini.


"dia benar anakku...?"


Najihan mengangguk, saat itu juga refleks Aji Wiguna memeluk Najihan. Keduanya berpelukan di tempat itu, tanpa mempedulikan banyak mata yang melihat keduanya. Sungguh Aji Wiguna begitu bahagia, sangat bahagia bisa memiliki seorang putra yang selama ini ia anggap telah tiada.


"bawa aku bertemu dengannya" Aji Wiguna melepas pelukannya.


"tentu saja, tapi setelah aku memeriksa pasienku"


"tidak bisakah sekarang, aku ingin sekarang" Aji Wiguna seakan lupa kalau dirinya masih kecewa dengan wanita yang ada di hadapannya kini.


"kalau begitu tunggu sebentar di sini, aku akan mengurus pekerjaan ku sebentar saja"


Aji Wiguna mengangguk dan dengan cepat Najihan berjalan sedikit berlari masuk kembali ke lobby rumah sakit. ia begitu senang, Aji Wiguna ingin bertemu dengan anak mereka.


Seperti yang ia katakan, hanya sepuluh menit keberadaan Najihan di gedung besar itu, kini dirinya telah kembali lagi dengan tas yang ada di bahunya. Najihan berlari kecil agar bisa secepatnya sampai di mobil Aji Wiguna.


"ayo" senyuman Najihan begitu mengembang namun Aji Wiguna kembali ke ekspresi wajah sebelumnya datar dan dingin. Najihan tau Aji Wiguna tentunya belum memaafkan dirinya namun ia sudah begitu bersyukur setidaknya laki-laki itu telah mengetahui bahwa anak kandungnya masih hidup.


_____


Merasa telah kekenyangan, Fatahillah dan yang lainnya akan embali ke mushola karena waktu sholat isya telah tiba. Baru saja keluar dari pintu kantin, ponsel Hasan bergetar, Tegar menghubunginya dan langsung saja Hasan mengkatnya.


[ada ap...?]


[pak Henry kritis] Tegar memotong ucapan Hasan


[apa...? Bagaimana bisa...?] Hasan membuat Fatahillah dan Akmal kaget. Tanpa berbicara apapun, mereka berlari menuju ke ruangan Henry.


Braaaakkk


Pintu kamar itu di buka dengan kasar, Henry tergelatak di lantai dengan mata yang melotot dan tubuhnya kejang-kejang.


"astaga, kenapa bisa seperti ini" Fatahillah bergegas mendekati Henry dimana Tegar kini memangku kepala laki-laki itu.


Tasbih Fatahillah ia lepas dari lehernya dan dipakaikan di leher Henry. Seketika tubuh Henry terangkat ke atas dan jatuh kembali ke lantai. setelahnya telapak tangan Fatahillah ia letakkan di perut dan di kening Henry.


"aaaggghh"


Suara teriakan Henry menggema di dalam kamar.


"tutup mulutnya dengan kain" ucap Fatahillah.


Hasan mengambil sapu tangan ya ada di atas nakas dan membekap mulut Henry menggunakan benda itu. Agar ketika Henry berteriak, suaranya tidak sampai terdengar di luar ruangan.


tidak ada yang bisa membantunya kecuali Fatahillah, pemuda yang memiliki kekuatan tertinggi apalagi setelah dirinya memiliki dua mustika sakti di dalam tubuhnya.


Sementara mengobati Henry, laki-laki itu kembali terangkat ke atas, tubuhnya bergetar hebat dan


Bughhh


Henry kembali jatuh ke lantai dalam keadaan pingsan.


"huufffttt... untung kalian cepat datang" Tegar menghapus keringat di keningnya.


"angkat dia ke ranjang" perintah Fatahillah.


Hasan juga Akmal saling membantu mengangkat tubuh Henry, membaringkannya di atas ranjang. Sementara Fatahillah, membantu Tegar untuk berdiri.


"kiriman teluh lagi, aku pastikan serangan itu kembali kepada si pengirim" gumam Fatahillah, bernafas lega karena mereka masih bisa menyelamatkan Henry.


di tempat lain, ledakkan keras terjadi di sebuah rumah yang membuat pemiliknya berada di dalam kamar sedang duduk bersila, terpental dan menghantam dinding. Dirinya memuntahkan darah dari dalam mulutnya. Benar saja, kiriman teluh itu Fatahillah kembalikan kepada pemiliknya.


Senjata makan tuan....