
kekuatan guru Halim dan Ki Demang sama-sama seimbang, bahkan Ki Demang tidak menyangka kalau ternyata guru Halim memiliki kemampuan yang begitu tinggi. itu karena memang guru Halim mempunyai ilmu tinggi sejak ia masih muda. hanya saja pemberontakan yang terjadi di gunung Gantara membuat dirinya terluka parah dan harus memulihkan diri di gunung Gangsir. meskipun sebenarnya guru Halim belum bisa meninggalkan tempat itu dengan waktu yang lama, tapi kali ini dia tetap bertahan sampai Fatahillah telah selesai dengan tugasnya.
guru Halim memegang dadanya sebab kini waktunya ia harus kembali ke gunung Gangsir namun saat melihat ke arah Fatahillah, pemuda itu belum juga selesai. maka guru Halim menekan rasa sakit yang ia rasa. tidak ada yang dapat melawan Ki Demang kalau bukan dirinya, dan Fatahillah. meskipun sebagian teman-teman Fatahillah berilmu tinggi namun tetap saja ilmu Ki Demang lebih tinggi dari mereka.
Hasan membantu guru Halim menghadapi Ki Demang. keduanya bertarung melawan laki-laki baya itu.
bugh
satu pukulan berhasil guru Halim layangkan di punggung Ki Demang. Ki Demang hampir juga mendapat tendangan dari Hasan jika saja dia tidak menghindar.
lagi-lagi guru Halim menekan dadanya yang terasa sakit, Ki Demang mengambil kesempatan itu untuk menyerang guru Halim. hampir saja guru Halim terkena serangan, untungnya ia segera memasang tabir pelindung sehingga serangan Ki Demang melesat dan bahkan berbalik arah padanya.
ddduuuaaaar
bunyi ledakan saat Ki Demang menghindari serangannya sendiri dan mengenai guci keramik yang ada di samping rumah.
"kalian semua kemarilah" teriak Ki Demang kepada muridnya
mereka berkumpul dan mengelilingi guru Halim dan Ki Demang. senyuman seringai di bibir Ki Demang, begitu terlihat kalau dia akan melakukan hal yang akan membuat guru Halim dan Hasan terluka.
"gawat... mereka bisa mati" Alex melesat untuk menghancurkan formasi yang di buat Ki Demang dan para muridnya. namun murid Ki Demang yang lain yang tidak bergabung dengan guru mereka, menghalau Alex agar tidak menghalangi formasi angin beracun yang akan mereka lakukan
"beri aku jalan brengsek"
buaaaak
buaaaak
dengan membabi buta, Alex menghajar orang-orang itu. tidak ada yang dapat menghalau sebab baik Guntur, Akmal dan pak Danang, begitu juga Rangga, mereka saat ini masih sama-sama mempunyai lawan.
"Hasan... keluar dari situ San... keluar" Alex berteriak, bahkan saat hendak berlari ke arah keduanya, lagi-lagi dirinya dihadang oleh musuhnya
guru Halim dan Hasan telah terkepung. Ki Demang menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada begitu juga para muridnya. mantra angin beracun mulai mereka baca. merasa keduanya dalam bahaya, guru Halim menarik Hasan dan duduk di sampingnya. keduanya duduk bersila"
tabir pelindung guru Halim ciptakan, untuk melindungi dirinya dan Hasan. kemudian guru Halim mulai menutup mata, membaca sesuatu yang tidak terdengar, hanya gerakan bibirnya yang terlihat.
Hasan kebingungan harus melakukan apa. matanya celingukan mencari sesuatu, dilihatnya sebuah kolam kecil yang ada di samping tempat murid pak Danang berlatih. ia kemudian menutup mata, membaca mantra pengendali air.
karena waktunya yang sudah habis namun guru Halim memaksa untuk tetap berada di tempat itu, tabir pelindung yang ia ciptakan bisa dihancurkan oleh Ki Demang.
uhuk...uhuk
guru Halim batuk darah, angin beracun mulai mengenai tubuhnya. Hasan pun mulai sesak nafas, sama halnya dengan guru Halim, ia pun juga muntah darah.
guru Halim semakin menjadi, namun dirinya berusaha mengumpulkan tenaganya. Hasan tidak kuat lagi padahal air yang ia kendalikan semakin dekat dengan mereka. Hasan terkapar di tanah, masih tetap sadar. dirinya bertahan tetap mengendalikan air sampai kini ia menghentakkan tangannya dan air kolam yang banyak itu membasahi mereka semua.
konsentrasi murid-murid Ki Demang terpecah, guru Halim mengeluarkan kekuatan besar dalam tubuhnya. seperti angin yang begitu kencang, melempar murid-murid Ki Demang ke sembarang arah, sementara Ki Demang sendiri terlempar menghantam dinding rumah.
uhuk...uhuk
guru Halim tidak hentinya terbatuk-batuk, Hasan sudah tidak sadarkan diri di tanah. Alex dan Guntur segera berlari ke arah mereka.
Ki Demang bangun dengan marahnya, ia akan menyerang mereka kembali dengan kekuatan besar. sayangnya seseorang menangkis serangan itu hanya satu pukulan tangannya saja.
Fatahillah selesai tepat waktu, kini dirinya telah berada di depan semua orang. menatap tajam Ki Demang yang berniat membunuh guru dan sahabatnya.
"angkat bawa masuk ke dalam, pakai ini untuk mengobati mereka. celupkan tasbih ini kedalam air dan baca sholawat nabi, minumkan kepada mereka" Fatahillah melempar tasbihnya kepada Akmal
Alex dan Guntur di bantu oleh Rangga, mereka mengangkat tubuh Hasan sementara pak Danang dan Akmal memapah guru Halim. semua murid Ki Demang telah di kalahkan, kini tinggal dirinya seorang yang akan menghadapi Fatahillah.
di dalam kamar, Hasan di baringkan sementara guru Halim meminta dirinya untuk memakai kamar tersendiri. tidak boleh ada yang masuk ke dalam sebab dirinya harus mengobati dirinya sendiri, tanpa perlu membutuhkan tasbih Fatahillah. tentu saja yang ia punya jauh lebih sakti dibandingkan tasbih Fatahillah sebab tasbih itu guru Halim sendiri yang memberikannya kepada muridnya itu.
Hasan meringis sakit, lagi-lagi ia terus menerus muntah darah. sebagian tubuhnya sudah mulai menghitam.
Akmal datang membawa air dan di dalamnya sudah dicelupkan tasbih milik Fatahillah. ia duduk di atas ranjang, di samping Hasan. para perempuan begitu khawatir menunggu di luar, sedang di dalam kamar hanya ada para lelaki.
Akmal membaca sholawat sebanyak tiga kali, setelahnya ia meminumkan air itu kepada Hasan. semua air itu diteguk sampai habis. hanya berselang beberapa detik, Hasan teriak kesakitan hingga tidak lama dirinya memuntahkan racun yang tadinya masuk ke dalam tubuhnya. darah yang keluar, hitam pekat seperti oli bekas yang tidak dipakai lagi.
kembali Akmal melakukan hal yang sama seperti tadi, meminumkan air kepada Hasan yang berisi tasbih itu. Hasan kembali kesakitan dan lagi-lagi muntah darah. hingga kini racun itu telah keluar sepenuhnya sebab Hasan telah memuntahkan darah yang seperti biasanya setelah lima kali muntah.
"luar biasa tasbih itu" Rangga takjub
Alex bersyukur untungnya Hasan segera diobati, jika tidak maka fatal sudah akibatnya.
kembali suasana yang mencekam di luar rumah. Fatahillah menatap tajam Ki Demang yang dulu pernah datang dalam mimpinya untuk menghabisinya.
"kita bertemu lagi Ki, sepertinya kamu begitu terobsesi padaku sampai datang jauh-jauh hanya untuk menemuiku" ucap Fatahillah
"serahkan mustika merah itu" tanpa basa-basi Ki Demang mengatakan sendiri maksud tujuannya
"wah... maaf sekali, karena mustika merah tidak ada lagi sebab aku sudah menyerap semua energinya. aki mau mencoba kekuatan mustika merah...?"
"jangan main-main denganku anak muda, aku bisa membunuhmu malam ini juga"
"sungguh luar biasa sekali anda. apakah aki berubah pekerjaan menggantikan malaikat maut untuk mencabut nyawa seseorang...?"
"kurang ajar"
Ki Demang naik pitam sebab Fatahillah hanya mempermainkan dirinya saja. ia melesat menyerang Fatahillah. sayangnya, hanya satu tangan Fatahillah saja langsung memukul mundur Ki Demang. laki-laki baya itu mendapat pukulan di dadanya, terasa panas dan sakit. Ki Demang melihat dadanya, luka bakar yang begitu besar membuat dirinya kesakitan dan tidak percaya. hanya satu kali pukulan, dirinya sudah mendapatkan luka yang begitu serius.
"bagaimana Ki...? masih ingin melawanku...?" Fatahillah tersenyum tipis
Ki Demang semakin emosi. kembali melesatkan cahaya merah sementara Fatahillah menangkis dengan cincin miliknya.
ddduuuaaaar
dua kekuatan yang saling bertemu tentunya bertolak belakang dan menimbulkan ledakan yang cukup keras. Fatahillah mengeluarkan bola api dari telapak tangannya. sungguh luar biasa kekuatan yang dimilikinya sekarang. ia melesatkan bola-bola api ke arah Ki Demang. bola-bola api itu melesat begitu cepat.
Ki Demang menyerang satu bola api dan bola api itu meledak. masih tersisa empat bola api lagi. Ki Demang kembali melesatkan cahaya merah dan dua bola api meledak. tersisa dua bola api lagi. Ki Demang terus menghindari sementara Fatahillah, hanya diam di tempat melihat Ki Demang melayang terus menghindar.
ddduuuaaaar
ddduuuaaaar
Ki Demang berhasil melenyapkan dua bola api itu. kini ia mendarat di tanah dan mengepalkan tangan, menatap Fatahillah dengan tatapan ingin membunuh.
swing
swing
pertarungan kembali terjadi. Fatahillah dengan begitu mudah menghindari setiap serangan Ki Demang, malah Ki Demang yang selalu terkena serangan Fatahillah.
Ki Demang duduk bersila, ia mengatupkan kedua tangan di depan dada. seluruh kekuatannya ia kumpulkan kemudian serangan besar ia lesatkan ke arah Fatahillah. Fatahillah menghadang dengan menggunakan kekuatan mustika merah. cahaya merah seperti api melesat menghantam serangan dari Ki Demang. Fatahillah mendorong cahaya itu hingga kekuatan yang dilesatkan Ki Demang semakin mundur dan cahaya merah milik Fatahillah semakin maju.
ddduuuaaaar
aaaaagghhh
bugh
Ki Demang terpental jauh dan mati di tempat. tubuhnya terluka parah sebab terkena serangan api dari Fatahillah, api mustika merah. padahal Fatahillah hanya mengeluarkan sedikit dari kekuatan mustika merah yang ia miliki namun ternyata efeknya begitu besar.
"mas Fatah" Akmal datang menghampiri
"dia mati" Guntur melihat tubuh Ki Demang yang sudah tidak bernyawa dengan baju yang koyak dan luka bakar di seluruh tubuhnya
"mengerikan sekali" Rangga bergidik ngeri
malam itu Ki Demang tewas ditangan Fatahillah. mereka semua akan menguburkan Ki Demang dan semua anak murid Ki Demang di tempat jauh. tentunya dengan menggunakan mobil, mereka ke tempat jauh menguburkan orang-orang itu karena tidak mungkin mereka di kuburkan di rumah pak Danang.
di tempat yang jauh dari perkampungan, mereka menguburkan orang-orang itu. dengan saling membantu, mereka mencangkul tanah dan menguburkan orang-orang itu.
Fatahillah yang lelah, duduk di tanah dengan kedua kaki ia luruskan ke depan. kepalanya menengadah ke atas sana, dimana ribuan bintang menyala menghiasi langit. pikirannya tertuju kepada sang istri, entah sedang apa wanita yang ia cintai itu sekarang.
"aku merindukanmu Zelina Muhatmainnah" gumam Fatahillah, dengan bibir tersenyum mengingat istrinya
setelah semua selesai, Akmal menjatuhkan dirinya di samping Fatahillah. bahkan ia membaringkan tubuhnya di atas tanah, tidak peduli baju yang ia kenakan akan menjadi kotor.
Rangga bersandar di punggung Guntur, sementara pak Danang berbaring dan menjadikan paha anaknya sebagai bantal. untuk Alex, dia duduk dan menyimpan kedua tangannya di belakang sebagai tumpuan untuk tubuhnya.
"aku perlu nutrisi empat sehat lima sempurna" celetuk Rangga, ia mengipas wajahnya dengan kedua tangannya
"aku jadi lapar" Akmal mengelus perutnya
"baiklah, kita pulang sekarang. di rumah kita bisa istirahat dan makan sepuasnya. aku juga sudah lapar seharian bertarung" pak Danang bangun dan bangkit berdiri
mereka semua memutuskan untuk kembali pulang. perjalanan yang cukup jauh, saat tiba tinggal menghitung menit, waktu akan menunjukkan pukul 04.00 pagi.
mereka langsung membersihkan diri dan setelahnya, Rangga dan Akmal yang tadinya mengeluhkan perlu nutrisi, kini keduanya telah terlelap di kamar. Alex yang sekamar dengan Aji Wiguna, dirinya tidur di lantai beralaskan karpet sebab tidak ingin mengusik bosnya yang saat ini belum sadarkan diri saat dirinya dia melawan gurunya.
Fatahillah sekamar dengan Hasan. sahabatnya itu sedang tertidur lelap, setelah diobati tadi. terlihat wajah Hasan yang pucat. Fatahillah mengingat bagaimana dulu saat dirinya terkena racun mematikan itu dan untungnya diobati oleh kiayi Zulkarnain. beberapa hari Fatahillah begitu lemah dan tidak bisa melakukan apapun.
"maafkan aku San...semua karena aku kamu jadi seperti ini" Fatahillah menatap wajah Hasan dengan tatapan sendu "andai aku bisa menyembuhkan mu lebih cepat, tapi sayangnya aku tidak memiliki kemampuan seperti itu. hanya tasbih milikku dan kuasa Tuhan yang aku andalkan" lanjutnya lagi
kening Hasan berkeringat, Fatahillah melap keringat itu dengan tangannya sendiri. ia merasakan tubuh Hasan yang terasa panas, sepertinya Hasan mengalami demam sekarang. pantas saja kini sahabatnya itu di infus, semua itu yang melakukannya adalah Nagita sebagai dokter di rumah itu.
"Langon"
GRAAARR
harimau putih datang, ia langsung melompat ke atas ranjang dan mendekati Hasan yang terbaring lemah tidak sadarkan diri. Langon berbaring di samping Hasan dan memeluk tubuh Hasan. Fatahillah tersentuh melihat itu. jika sudah sayang maka seperti itulah Langon kepada orang-orang yang telah dekat dengannya.
"kamu jaga Hasan ya, aku mau melihat guru dulu"
GRAAARR
Langon mengangguk. Fatahillah menyuruh harimau putih untuk menjaga Hasan sebab jika Hasan merasakan sakit maka Langon dapat segera memberitahunya. Fatahillah keluar kamar dan mendekati kamar yang ditempati oleh guru Halim. namun setelah pintu terbuka, ia tidak melihat keberadaan gurunya di dalam itu.
"apakah guru sudah pergi" gumamnya "mungkin saja sudah, guru kan tidak bisa terlalu lama berada di luar kawasan gunung Gangsir"
karena tidak melihat guru Halim di dalam, Fatahillah menutup pintu. ia menghampiri pak Danang dan Guntur yang sedang berada di ruang tengah. ada juga ibu Halima dan ibu Nining serta Nagita dan Haninayah.
"tidak tidur Fatah...?" tanya ibu Nining
"bentar lagi subuh bu, takutnya kebablasan dan tidak bangun sholat subuh" jawab Fatahillah, ia mengambil tempat di samping Guntur
"Akmal dan Rangga sudah ngorok di kamar" ucap Nagita tertawa pelan
"biarkan saja, mereka berdua pasti kelelahan" timpal pak Danang
"Alex dimana...? lalu bagaimana keadaan Aji...?" tanya Fatahillah
"mas Alex di kamar menemani mas Aji, mungkin sekarang dia juga sedang tidur. mas Aji tidak terluka parah seperti mas Hasan" jawab Nagita
"saya mohon maaf yang sebesar-besarnya pak, bu...saya telah menyebabkan ketenangan kalian semua diusik" Fatahillah merasa bersalah
"tidak perlu meminta maaf nak Fatah, kami senang bisa membantu kalian" ibu Nining tersenyum tulus
azan subuh mulai terdengar, semua orang bangun untuk melaksanakan sholat subuh. tidak terkecuali Alex, setelah dirinya sholat di masjid waktu itu dimana dirinya bertemu dengan seorang kakek tua, kini dirinya mulai ingin membiasakan diri untuk menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim.
mereka sholat di kamar masing-masing, sebab jika di mushola rumah itu maka mereka tidak akan muat. setelah melakukan sholat subuh barulah Fatahillah membaringkan tubuhnya di samping Hasan. matanya sungguh sudah sangat merasakan kantuk hingga tidak berapa lama ia pun tertidur pulas.