
"terimakasih mas" ucap Sofia ketika Alex mengantarnya sampai di depan pintu pondok.
"humm...masuklah dan jangan lupa bertemu di tempat yang tadi"
Alex balik badan meninggalkan Sofia yang masih berdiri di depan pintu, menatap punggung lebar pemuda itu hingga Alex semakin menjauh.
"andai mas Ryan sebaik dia... mungkin aku tidak akan berakhir di tempat seperti ini" helaan nafas Sofia terdengar begitu berat.
Siapa yang tidak menginginkan menikah dengan laki-laki yang baik dan menjadikannya ratu dalam kehidupan sang lelaki. Semua wanita pastinya menginginkan itu, namun sayangnya Sofia tidak seberuntung kebanyakan wanita lainnya.
"yang menjadi kekasihnya, pasti akan sangat beruntung mendapatkan laki-laki seperti mas Alex" gumamnya sebelum akhirnya ia masuk ke dalam pondok.
Akmal menunggu kedatangan Alex di halaman rumah, rupanya pemuda itu sedang menyiapkan api unggun untuk tempat mereka bersantai. kursi dan juga minuman kaleng serta dua bungkus kacang sudah tersedia di atas meja kecil yang bundar.
"siapa yang memberikanmu makanan ini...?" Alex duduk di kursi itu dan membuka bungkusan kacang.
"aku kan anak soleh, jadi rejekinya datang tiba-tiba" Akmal ikut duduk berhadapan dengan Alex setelah dirinya menyalakan api unggun.
"kamu itu bukan anak soleh, tapi..."
"tapi apa...?"
"anak solehot"
"oh aku tau itu"
"memangnya apa...?" Alex membuka kulit kacang dan isinya ia masukkan ke dalam mulutnya.
"selain soleh aku juga hot" Akmal mengedipkan mata.
"panas dong"
"semua wanita memang kepanasan melihat ketampanan aku ini"
"ck... nggak hilang-hilang rasa PD mu itu"
"rasa PD itu harus mas, ya kali wajah tampan mempesona begini harus insecure"
"terserah kaulah"
berdebat dengan Akmal memang tidak akan ada habisnya. Selain tidak mau mengalah...dia juga tidak mau kalah.
Emmm sepertinya sama saja ya...
"kalau ngopi kayaknya enak ya mas"
"boleh juga tuh. tapi ngomong-ngomong, si Fatah kemana sekarang...?"
"menjadi seperti sebelumnya...atau kita ajak saja dia bergabung di sini...?"
"kamu tau pondok tempatnya tidur...?"
"nggak" Akmal menggeleng.
"kalian nongkrong tidak main ajak-ajak"
Dari ambang pintu suara seseorang terdengar, Utami menghampiri mereka mengambil kursi yang masih kosong dan duduk bergabung. Akmal langsung badmood, wanita itu membuatnya mulai malas.
"aku pikir kalian kemana, soalnya sejak tadi aku cari tapi tidak menemukan kalian berdua" ucap Utami.
"kami dari berkeliling, tempat ini ternyata luas juga" Alex menjawab.
"kalian belum makan kan...? Makanlah dulu, tadi aku sudah memasak untuk kita semua"
"lalu bos dimana...?" tanya Akmal.
"sedang istirahat di kamarnya. Harusnya malam ini dia mengantar kalian ke suatu tempat namun karena dia lelah maka pekerjaan kalian di tunda sampai besok" jawab Utami.
"memangnya bos mau mengajak kami kemana...?" Alex penasaran.
"entah" Utami mengedikkan bahu. "ke tempat rahasia mungkin" Utami mengambil kacang yang dibuka oleh Akmal dan memakannya. Akmal diam saja dan membuka kulit kacang lainnya. "kalian tidak mau makan...?" Utami menatap keduanya.
"belum lapar, kami ingin menikmati secangkir kopi saja" ucap Alex.
"aku buatkan dulu" Akmal hendak beranjak namun Utami menahannya.
"duduklah saja, biar aku yang membuatkan kopi. Aku juga ingin minum kopi"
Akmal duduk kembali sementara Utami beranjak dan meninggalkan mereka masuk ke dalam rumah. Tidak lama, Utami datang dengan nampan berisi tiga gelas kopi yang ia bawa.
"silahkan diminum" ia menyimpan masing-masing gelas di depan mereka.
"terimakasih" Alex mengangkat gelasnya dan langsung menyeruput kopi susu itu.
Lalu Akmal...?
Pemuda itu hanya diam tanpa berniat menyentuh gelas kopi itu. Dirinya sibuk memakan kacang dan sesekali melempar kayu-kayu kecil ke dalam api.
"diminum Mal kopinya" Utami memperhatikan pemuda itu.
"nanti saja" singkat padat dan jelas, itulah jawaban dari seorang Akmal.
"kalau gitu aku masuk dulu, ingin menikmati kopi di kamar saja"
"oh silahkan.... harusnya dari tadi seperti itu"
Utami mengeram kesal di dalam hati. sampai saat ini Akmal masih begitu dingin dengannya sejak kejadian yang sengaja ia buat.
Utami pun mengangkat gelasnya dan membawanya masuk ke dalam rumah. Kepergian wanita itu langsung membuat Akmal membuang kopi yang dibuat oleh Utami.
"loh kok dibuang Mal...?" Alex tentu saja kaget.
"nenek sihir seperti dia harus kita waspadai mas. Mas nggak ingat apa dengan kejadian dimana dia mau memfitnah saya. Saya tidak mau tanpa sadar masuk ke dalam perangkapnya" Akmal menaruh kembali gelas yang telah kosong itu.
"tapi aku sudah meminumnya, gimana dong...?" Alex mengangkat alis.
"yaa semoga nggak terjadi apapun" Akmal optimis. Bisa bahaya jika Utami menaruh sesuatu kedalam minuman itu.
Hampir mendekati angka 10, keduanya mulai mengantuk. Masih tersisa dua jam lagi mereka akan mulai bergerak. Maka selama dua jam itu, keduanya menggunakan kesempatan itu untuk tidur walaupun hanya dua jam lamanya.
"ayo masuk, sebelum bergerak kita perlu tidur terlebih dahulu" Alex menghabiskan kopinya.
"hoaaam...mataku berat banget" Akmal mengucek matanya dan berdiri. keduanya masuk ke dalam rumah, api yang mereka nyalakan tadi masih sudah mulai padam.
pukul 12 malam, Alex membangunkan Akmal. Dengan mata yang masih terpejam, Akmal mengambil posisi duduk dan menguap beberapa kali.
"sudah waktunya ya mas...?"
"iya, ayo berdiri dan ke tempat pertemuan kita tadi"
Alex membuka pintu kamar dan mengeluarkan kepalanya untuk melihat situasi di luar. Merasa aman, ia pun mengajak Akmal untuk keluar.
mengendap-endap dan memperhatikan sekitar, agar tidak ketahuan. Saat hendak melewati kamar Utami, keduanya menghentikan langkah karena mendengar suara aneh di dalam sana. Saling pandang dan mempertanyakan, apa yang sedang dilakukan wanita itu di dalam kamarnya.
"kok kayak suara ******* ya mas" pelan Akmal mengeluarkan suara.
"salah dengar kamu"
"aaah...oooh"
suara itu terdengar lagi dan kali ini lebih jelas, memang berasal dari dalam kamar Utami.
"nah kan... jangan-jangan" Akmal mulai suudzon.
karena rasa penasaran yang begitu besar, siapa yang bersama Utami di dalam kamarnya. Keduanya nekat untuk melihat. ketika Akmal memegang gagang pintu dan membukanya, rupanya kamar itu tidak dikunci. Entah sengaja atau memang terlupakan.
Keduanya mengintip dari celah pintu yang dibuka oleh Akmal. Dan diluar dugaan mereka, Utami.... wanita itu sedang bercinta dengan bosnya sendiri. bahkan keduanya tidak memakai pakaian sehelai benangpun, hanya ditutupi oleh selimut.
"oooh...kamu begitu nikmat Utami"
"aaah pelan-pelan bos"
Pemandangan itu membuat Alex dengan cepat menarik kepala Akmal dan menutup pintu. Jakun keduanya naik turun, menelan saliva dengan cepat.
"gila.... benar-benar gila. Memang wanita nggak benarlah si Utami itu" Akmal merutuk.
"jangan membayangkan kejadian tadi. Fokus dengan tugas kita. mumpung mereka sedang bercinta, sebaiknya kita pergi sekarang juga" Alex langsung menarik tangan Akmal untuk segera pergi dari rumah itu.
di tempat mereka bertemu tadi, Fatahillah sudah berada di sana. kedatangan keduanya membuat Fatahillah lega.
"Sofia mana...?" tanya Fatahillah.
"apa perlu dijemput...?"
"jangan, kita tunggu saja dia di sini. Bisa bahaya kalau ada yang melihat kalian berdua" Fatahillah menolak usulan Alex.
Sofia saat itu, masih menunggu keadaan aman. Ketika semua teman-temannya telah tertidur, ia pun pelan turun dari tempat tidur dan mengambil selendang untuk menutupi kepalanya. ia keluar dari rumah, menelisik sekitar. Setelah aman, dengan cepat ia berjalan menuju tempat pertemuan.
"dia datang" ucap Akmal ketika melihat Sofia dari jauh.
Wanita itu langsung meminta maaf telah membuat mereka menunggu. Tanpa mengulur waktu, mereka bergegas menuju ke tempat tujuan.
"apa mereka aman ditinggal di sini...? Bagaimana kalau tiba-tiba Gandha Sukandar palsu itu datang ke sini" Aji Wiguna ragu meninggalkan istrinya di villa itu.
"kalau seperti itu, mereka bisa ke pohon raksasa saja. Pohon itu bukanlah sembarangan pohon, di dalamnya bisa di tempati oleh manusia" Victor memberikan usul.
"bagaimana bisa, tadi saja kami tidak melihat pintu dari pohon itu" Samuel kurang percaya.
"karena memang pintunya tidak terlihat seperti pintu. Pak Nanto tau jelas tau yang mana pintu pohon itu. Di sana Gandha palsu itu tidak akan menemukan kalian karena dia tidak tau mengenai pohon raksasa yang bisa ditinggali di dalamnya"
"memang iya...? Aku baru tau kalau kamu tidak memberitahu" Gara menimpali.
"yang aku dengar, tempat itu dibuat oleh seseorang yang berasal dari keluarga Sukandar. Mungkin saja kakekmu atau yang lainnya kan"
Gara mengangguk membenarkan. Kesepakatan mulai di buat. Pak Nanto bersama ibu Nani, Najihan, juga Naomi akan ke pohon raksasa malam itu juga. Sementara yang lainnya akan menyusul Fatahillah, Alex dan Akmal.
"hati-hati mas, bagaimanapun nanti..mas harus pulang dengan selamat. Kaindra masih ingin tetap bersama kamu" Najihan begitu berat melepas Aji Wiguna.
"aku janji akan kembali, untuk kamu dan anak kita" Aji Wiguna membelai lembut wajah Najihan.
mereka berpisah saat itu. Berbekal senter yang dipegang oleh pak Nanto, mereka akan menuju ke pohon raksasa. Saat itu Aji Wiguna bersama Samuel tetap berada di teras memperhatikan mereka yang mulai menjauh.
Naomi sekali-kali berbalik untuk melihat Samuel. Hingga tanpa pikir panjang, dirinya memutar badan berlari kembali ke arah villa.
"loh Naomi, mau kemana" Najihan memanggil.
Aji Wiguna sudah masuk terlebih dahulu ke dalam villa. Sementara Samuel yang baru saja akan menutup pintu, kembali membukanya karena ia mendengar suara Najihan yang memanggil nama Naomi. baru saja menginjakkan kakinya di teras villa, tubuhnya ditubruk oleh seseorang. Dia adalah Naomi, wanita itu tiba-tiba datang memeluknya.
"Na"
"biarkan tetap seperti ini sebentar saja... sebentar saja"
Dua tangan Samuel yang terangkat ke atas, dengan pelan ia turunkan dan membalas pelukan Naomi. Keduanya diam, tidak ada yang memulai pembicaraan. Keduanya larut dalam suasana. Hingga beberapa menit berpelukan, Naomi melepas pelukannya dan mundur selangkah.
"maaf atas kelancanganku dan berhati-hatilah. Tetap kembali dalam keadaan selamat"
Setelah mengatakan itu, Naomi balik badan dan meninggalkan Samuel. Setidaknya ia sudah lega mengutarakan rasa khawatirnya dan berharap laki-laki itu baik-baik saja. Namun siapa sangka, tiba-tiba tangannya ditarik dan ia langsung masuk ke dalam pelukan laki-laki yang tadi ia peluk secara tiba-tiba.
Deg
Deg
Deg
detak jantung Naomi terdengar begitu jelas, dirinya membeku dipeluk erat Samuel.
"tunggu aku kembali" tiga kata itu yang diucapkan oleh Samuel, tanpa melepaskan pelukan mereka.
setelah bersama wanita itu beberapa jam yang lalu dan sampai sekarang ini, Samuel bisa merasakan ada yang lain dihatinya.
Move on...?
Siapa yang akan bisa melupakan seseorang yang dicintai hanya dalam satu hari. Namun bagi Samuel, hidupnya akan terus maju ke depan bukan menetap di tempat atau mundur ke masa lalu. Setelah mengetahui bagaimana asli dari mantan kekasihnya itu, tidak ada lagi ruang untuk Diandra dihatinya dan bahkan perasaannya untuk wanita itu seketika berubah menjadi benci.
"kamu mau kan menungguku...?" Samuel melepas pelukannya dan menatap manik mata Naomi.
"iya...tentu...tentu aku mau" Naomi mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca.
Keduanya kembali berpelukan. mereka yang melihat keduanya, tersenyum dan merasa haru. namun ada satu orang yang seketika langsung mengingat wanita yang hanya bisa ia pikirkan tanpa bisa ia miliki karena perbedaan antara mereka.
"ingat Kemuning ya...?" Tegar menepuk bahu Yusrif.
"dia masih terus berada di kepalaku" Yusrif menghela nafas.
"sabar...akan ada saatnya kamu bertemu yang bisa membuat hatimu kembali berdetak sama seperti saat kemu bersama Kemuning" lembut Tegar mengusap punggung Yusrif.
"semoga saja" Yusrif masih menatap dua orang diluar sana yang masih terus berpelukan.
Gara mengangkat alis ketika melihat asistennya berpelukan dengan wanita yang selama ini bisa dibilang membenci keduanya. Namun lihatlah apa yang terjadi, wanita itu malah kepincut salah satu dari mereka.
"ekhem"
Suara itu langsung menyadarkan Samuel juga Naomi. Naomi begitu canggung dan tanpa permisi ia pergi begitu saja kembali ke rombongannya.
"secepat itu move on...?" Gara mengangkat kedua alisnya.
"tentu tidak, namun bukan berarti aku harus menangisi wanita yang bahkan ingin menghabisiku. bagaimana bisa aku terpuruk karena wanita seperti itu. Lebih baik mencari lagi bukan...?" Samuel mengedip-ngedipkan mata.
"dan secepat itu...?"
"kalau hati sudah memilih, yaa apa boleh dibuat" Samuel menaik turunkan alisnya.
"ck...udah sana masuk" Gara mencebik dan mendorong tubuh Samuel.
Lewat Victor penunjuk jalan, mereka kini telah berada di ruang bawah tanah. Tempat rahasia jalan cepat untuk sampai di perkebunan Gandha Sukandar palsu.
"kita seperti sedang syuting film barat" Yusrif kagum dengan kendaraan yang mereka naiki.
sepanjang terowongan, kereta itu terus berjalan. Sedikit lumayan jauh, hingga kemudian kereta itu berhenti. Berhentinya kereta itu, juga terbukanya sebuah pintu yang dimana mereka langsung berada di sebuah ruangan.
"ini adalah tempat Gandha palsu, sekarang mulai dari sini kita harus lebih berhati-hati. Mungkin saja dia ada di rumah ini" Victor mengingatkan semua orang.
"kamu tau kamarnya dimana...?" tanya Gara.
"aku tau, apa perlu kita periksa...?"
"setidaknya dengan mengetahui kalau dia ada di rumah ini, kita lebih leluasa untuk ke tempat rahasia itu" ucap Gara.
"biar aku yang periksa" jawab Victor.
Mereka belum keluar dari ruangan itu. Hanya Victor seorang sebab untuk memastikan apakah Gandha palsu ada di kamarnya. Dengan berjalan mengendap-endap, Victor berhenti di sebuah kamar berpintu coklat. pintu kamar itu tidak terkunci dan tidak ada pemiliknya di dalam. Alhasil Victor kembali lagi ke semua orang.
"bagaimana...?" tanya Hasan.
"dia tidak ada di kamarnya. Mungkin sedang ke tempat lain. Ayo keluar, sebelum kita ketahuan" ajak Victor.
satu persatu mereka keluar dari ruangan itu dan berjalan pelan ke arah pintu keluar. setelah berhasil, bergegas mereka mempercepat langkah namun sayangnya...di depan sana sudah berdiri seseorang yang sepertinya memang telah menunggu kedatangan mereka.
Prok
Prok
Prok
Gandha bertepuk tangan, bibirnya tersenyum tipis melihat beberapa pemuda di depannya.
"wah wah wah... rupanya aku kedatangan tamu tak diundang" ucapnya
"apa kabar bos...?" Victor mengangkat tangan, menyapa bagai orang yang terlihat akrab.
"Victor.... rupanya masih hidup juga kamu"
Mereka tertegun, bagaimana bisa Gandha Sukandar palsu tau kalau Mamad adalah Victor.
"kok dia tau ya" bisik Tegar di telinga Aji Wiguna.
"hal seperti itu jelas mudah baginya. Dia mempunyai mata dimana-mana" Aji Wiguna menjawab.
"iya juga sih" Tegar membenarkan
Victor menatap tajam ke arah Gandha palsu. Ingin sekali rasanya mencabik-cabik tubuh manusia licik itu.
"aku pikir kamu telah mati di makan ikan hiu"
"ya ya ya... seperti yang bos lihat. aku sehat wal Afiat sekarang dan bisa bertemu bos kembali. Apakah bos tau, aku benar-benar merindukanmu" Victor tersenyum.
"senyuman mu itu penuh dengan dendam ya. tapi ngomong-ngomong....apa kamu yakin bisa menyentuhku...?"
"kita coba saja dulu"
"apakah kamu akan membunuhku juga anakku sayang...?" Gandha palsu beralih menatap Gara yang kini sedang mengepalkan tangannya.
"kamu memang pantas mati Gandha palsu" Gara menjawab.
"hahaha...aku suka caramu melihatku anakku. Kita lihat saja siapa yang akan mati nantinya"
Seringai muncul di bibir Gandha palsu. Tiba-tiba malam semakin dingin, burung gagak bersuara di atas pohon. Dari dalam tanah, bermunculan makhluk mengerikan yang bermacam-macam wujud mereka. Berjumlah banyak dengan rupa yang menakutkan.
"silahkan bersantai dengan anak buahku. aku mempunyai urusan lain. Kalian semua....SERANG DAN BUNUH MEREKA"
Semua setan-setan itu melesat menyerang. Sementara Gandha Sukandar palsu, saat itu langsung menghilang.
"pergilah bersama Gara Victor, kami akan menghadapi mereka" teriak Samuel. Mereka kini sibuk melawan setan-setan peliharaan Gandha palsu.
"ayo Gara" Victor menarik tangan Gara dan keduanya melesat menjauh dari pertarungan.
"dimana mas Fatah, Alex dan Akmal. Apakah mereka sedang mencari tempat rahasia itu...?" Gara bertanya, keduanya kini sedang berlari menuju ke air terjun.
"mungkin saja dan kita pun harus segera sampai ke sana" Victor menjawab.