
Adriana dengan lihai memainkan dan mencari siapa pelaku teror yang di alami oleh Devano.
"hmm kak apa kamu sudah mencintai kak Devano?"tanya Dea membuat Jidan dan Tirta menatap Dea sedangkan Adriana menghentikan jari nya.
"ya laki-laki itu berhasil membuat ku jatuh cinta padanya."kata Adriana melanjutkan pekerjaannya.
sedangkan Devano dan Gilang sekarang sudah sampai di markas black wolf.
devano bergegas ke ruangan nya dan Gilang mengumpulkan anggota black wolf dan mengatur strategi.
setiba di ruangan nya Devano mengambil laptop nya dan mulai melacak dan mencari tahu siapa pelaku teror terhadap nya.
"akan ku ku buat kamu tersiksa di antara hidup dan mati setelah berani mengusik dan membayangkan tubuh wanita ku."kata Devano dingin.
Gilang masuk ke ruangan Devano setelah selesai memberi tahu strategi yang akan di gunakan saat penyerangan nanti kepada black wolf.
"apa semua sudah siap?"tanya Devano.
"semua sudah siap dua puluh anggota sudah menuju mansion mu untuk menjaga mama Sintya dan papa alvano "kata Gilang.
"bagus kamu sangat membantu ku."kata Devano.
ponsel Gilang berbunyi dan yang menelepon adalah salah satu anggota black wolf.
"tuan Gilang keadaan mansion tuan Devano sudah berantakan nyonya Shintya dan tuan besar tidak ada disini."kata anggota black wolf tersebut.
"sial dia berhasil mengulik mama Sintya dan papa alvano."kata Gilang memberi tahu Devano.
"bajingan."kata Devano semakin marah.
"seperti nya dia bukan orang yang bisa kita remehkan."kata Gilang.
ponsel Devano berbunyi dan itu dari Adriana.
"hallo Dev."sapa Adriana.
"aku sudah mengetahui orang nya akan ku kirimkan lewat pesan."kata Adriana mematikan sambungan telepon nya.
tak lama suara pesan masuk berbunyi dari ponsel milik Devano.
"kita berangkat sekarang aku sudah tahu siapa orang nya."kata Devano pada Gilang.
"Dev kamu harus menggunakan baju Anti peluru untuk berjaga-jaga." kata Gilang.
"kita tidak punya banyak waktu."kata Devano pergi di ikuti oleh Gilang.
di mansion Adriana saat ini Adriana sedang duduk dengan raut wajah yang cemas setelah memberi tahu alamat dan siapa orang yang meneror Devano.
"Anya tenang lah Devano pasti bisa mengatasinya."kata Jidan menenangkan Adriana.
"dia bukan orang yang bisa di remehkan kak,dia sangat licik dan dia harus bertemu dengan lawan yang seimbang."kata Adriana ingin pergi dari kamar Dea.
ya sekuat apapun Devano dia akan menjadi tidak terkendali dan akan mudah terkecoh saat sedang marah.
lain halnya dengan Adriana dia sangat tenang dan sangat licik saat mendapatkan ancaman.
sebelum benar-benar keluar peringatan tanda bahaya berbunyi dari mansion itu yang menandakan ada penyusup masuk.
"sial ini pasti ulah nya."kata Adriana.
"kita harus bersikap sekarang."kata Jidan.
"Dea kamu tidak boleh keluar apapun yang terjadi cepat masuk keruang rahasia."kata Adriana.
"tapi ak..."kata Dea terpotong.
"dengan keadaan mu yang sekarang tidak bisa."kata Adriana pada Dea dan akhirnya Dea menuruti perintah Adriana.
Adriana tersenyum mengerikan sebelum keluar bersama Tirta dan Jidan.
Adriana, Tirta dan Jidan melihat Agus dan jordi sedang bertarung melawan penyusup dan sialnya penyusup nya tidak sedikit.
Adriana berlari ketengah dan mulai menembak setiap musuh yang dia lihat dan setelah tiga puluh menit akhirnya semua bisa di atasi.
"kak aku harus pergi kalian tetap di sini."kata Adriana.
"aku akan ikut bersama mu."kata Agus.
"baiklah tapi sisanya diam disini."kata Adriana masuk kedalam mobil bersama Agus dan melaju kan mobil tersebut dengan kecepatan tinggi.
sedangkan di tempat lain keadaan sedang genting Devano sudah berhasil menemukan tempat pelaku dan dia menemukan papa dan mamanya tengah di ikat di atas Crane dengan bom yang sudah terpasang di badan mereka.
"bedebah sialan."kata Devano benar-benar sangat marah.
"tunggu Dev kita tidak bisa gegabah."kata Gilang memperingati Devano.
"seharusnya aku membunuhnya dulu."kata Devano menyesal.
"bajingan aku benar-benar akan membuat nya menyesal dan memilih mati setelah ini."kata Devano.
"tunggu, bukankah papa alvano bisa merakit bom? dia pasti bisa dengan mudah menjinakkan bom itu bukan."kata Gilang.
"tapi sekarang papa pingsan."kata Devano.
"lihatlah itu. "kata Gilang menyuruh Devano melihat ke arah Sintya dan alvano.
"itu bangus. kita hanya perlu mencari bajingan itu sekarang setelah dia berhasil kita tangkap kita akan menurunkan papa alvano dan mama Sintya."kata Gilang.
"tapi gunakan ini dulu."kata Gilang memberikan Devano baju Anti peluru.
"kita tidak punya banyak waktu."kata Devano ingin keluar dari gedung kosong tidak jauh dari tempat pelaku teror tersebut.
"aku tahu kamu marah tapi kenakan ini jika tidak mau mati sia-sia."bentak Gilang.
devano memakai baju Anti peluru tersebut dan keluar di ikuti oleh Gilang.
"hati-hati di sini banyak ranjau yang dia pasang,ingat dia adalah mantan tentara."kata Gilang memperingati Devano.
Gilang,Devano dan beberapa anggota black wolf masuk secara pelan-pelan dan melihat pelaku teror tersebut sedang berbicara dengan anak buahnya.
"bagaimana dengan wanita itu?"tanya pelaku tersebut tersebut yang ternyata bernama Ravin.
Ravin adalah mantan tentara negara A yang punya dendam terhadap Devano karena Devano telah membunuh ayahnya beserta organisasi yang di bangun ayahnya.
"maaf bos tidak berhasil, ternyata dia adalah wanita yang tidak bisa di remehkan."kata anak buah Ravin.
"benarkah? aku semakin penasaran kepada wanita itu."kata Ravin menunjukkan ekspresi yang tidak bisa di artikan.
"iya bos dia adalah salah satu adik dari tuan Jidan dan tuan Tirta dan kami mendapatkan fakta bahwa dia adalah Adriana Zevanya pendiri AZ crop dan pemimpin dari redfox
."kata anak buah Ravin.
"hahahaha aku semakin mengingat kan nya setelah aku berhasil membunuh Devano aku akan menjadikannya budak **** ku."kata Ravin.
sementara Devano yang mendengar percakapan Ravin dan anak buah nya itu merasa panas dan marah nya benar-benar memuncak dia ingin pergi menghajar Ravin namun di tahan oleh Gilang karena Gilang melihat banyak sekali ranjau dan ada banyak anak buah Ravin.
"kenapa kamu menahan ku."kata Devano.
"lihatlah banyak sekali ranjau di sini dan kita di sini hanya berlima sedang kan anak buah Ravin banyak."kata Gilang.
"apa kamu takut?"tanya Devano.
"aku tidak takut tapi aku tidak mau mati konyol."kata Gilang.
"lakukan sekarang."kata Gilang menyuruh sniper untuk melakukan tugasnya dan beberapa anak buah Ravin mati tanpa sepengetahuan Ravin.
"sekarang kalian urus ranjau yang ada aku dan Devano akan menangani sisanya."perintah Gilang pada tiga anggota black wolf.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hai readers 👋
Ada yang kangen author gak?
author up lagi niih ☺️
untuk tetap support author jangan lupa like,komen,share,vote,dan jadikan novel ini menjadi novel favorit kalian 😚
MAAF JIKA ADA TYPO BERTEBARAN KARENA AUTHOR MASIH DALAM PROSES BELAJAR DAN INI MERUPAKAN NOVEL PERTAMA AUTHOR🙏
sampai jumpa di up selanjutnya 😉
jangan lupa follow Ig author ya 👇
@ndiya252
annyeong👋