
"sayang apa kamu sudah mulai mengidam? kamu mau makan apa? atau membeli sesuatu? mama akan Carikan sekarang juga." saat datang ke mansion anaknya Sintia langsung pergi ke kamar Adriana.
Adriana yang sedang istirahat cukup lemas akibat bolak-balik kamar mandi karena rasa mual nya langsung bangun.
"aku tidak menginginkan apa-apa ma."
"wajah mu pucat sekali apa kamu sudah makan?" tanya Sintia.
"sudah aku makan cukup banyak tapi aku juga merasa sangat mual."
"aduuh sayang." Sintia memeluk menantu kesayangan nya.
"ini semua karena salah mama."Devano tiba-tiba datang membawa susu untuk istri nya.
"kenapa salah mama? yang membuat nya kan kamu." Sintia tidak terima di salahkan Devano.
"tapi yang ingin memiliki cucu mama, mama meracuni pikiran Adriana untuk memiliki anak."
"heeh kurang ajar kamu ya Dev." Sintia berkaca pinggang kesal dengan anak satu-satunya itu.
"ini minum susunya dulu." Devano tidak menghiraukan wajah kesal sang mama, dia beralih kepada Adriana membantu nya meminum susu.
"apa rasa mual mu sudah hilang? apa kita perlu ke rumah sakit lagi?"tanya Devano.
"haah Dev aku tidak punya tenaga untuk meladeni mu berdebat."
"berarti kita harus ke rumah sakit sekarang,aku akan benar-benar menutup rumah sakit dan kampus tempat dokter itu lulus."Devano ingin pergi menemui Diaz.
"dasar anak bodoh, kamu tidak boleh seperti itu Dev jangan jadikan kekuasaan mu untuk memutus pekerjaan orang lain." kesal Sintia.
"aku tidak bodoh, dokternya yang bodoh kenapa dia tidak belajar dengan benar dan mengatakan apa yang di alami Adriana sudah biasa terjadi pada ibu hamil trimester pertama."
"yaaak Devano Triya Kusuma kamu benar-benar akh kamu dan papa mu benar-benar pinang di belah dua." Sintia menggelengkan kepalanya.
"Dev apa kamu tidak pergi bekerja." Adriana mengalihkan percakapan agar Devano tidak melakukan hal konyol.
"tidak aku tidak akan bekerja selama kamu hamil,aku tidak mau kamu kenapa-kenapa."
"ayolah Dev apa kamu tidak akan bekerja selama sembilan bulan?"tanya Adriana.
"meskipun aku tidak bekerja setahun pun kita tidak akan kehabisan uang."
"aishhh aku benar-benar pusing ma."adu Zenna pada Sintia.
"apa kamu merasa pusing? sudah ku bilang kita harus ke rumah sakit sekarang." Devano ingin menggendong Adriana.
"maaaa."Adriana merengek meminta bantuan untuk mengatasi suaminya.
"Dev sebaiknya kamu keluar sekarang."Sintia mengusir anaknya.
"kenapa aku harus keluar? ini kamar ku juga."
"tidak-tidak kamu harus keluar sekarang bukan hanya Adriana yang pusing melihat sikap mu tapi mama juga."
Sintia mendorong Devano keluar dari kamar tersebut lalu mengunci pintu dari dalam.
"mama harap kamu harus sabar menghadapi sikap anak mama yang sudah gila karena kamu." Sintia duduk di dekat Adriana.
"haaah aku harap aku bisa." Adriana menghembuskan nafasnya kasar.
"Devano sangat persis seperti papa mu, mama waktu hamil Devano juga harus ekstra sabar menghadapinya, bahkan untuk menurunkan kaki ke lantai saja papa mu tidak mengizinkan mama, dia terus saja menggendong mama setiap hari hingga Devano keluar." Sintia menceritakan pengalamannya pada Adriana.
"apa papa juga tidak bekerja?"
"tentu saja tidak, tapi untungnya kita memiliki uang yang banyak jika tidak mama tidak tahu akan seperti apa."
Adriana hanya tersenyum mendengar cerita mama mertua nya yang sudah dia anggap sebagai mama nya sendiri.
sementara itu Devano di luar kamar sedang uring-uringan tidak jelas.
para maid pun menjadi sasaran kekesalannya hingga kesabaran nya sudah habis dia naik ke kamar dan mulai mengetuk pintu tidak sabaran.
"ma buka." teriak Devano.
"kenapa mama mengusir ku keluar dari kamar ku sendiri cepat buka atau aku akan mendobrak pintu ini." kesal Devano.
cukup lama dia berteriak tidak jelas hingga dua orang yang ada di dalam itu sepakat untuk membukakan Devano pintu.
"kamu berisik sekali astaga." kata Sintia.
"itu salah mama." Devano berlari masuk menghampiri Adriana yang masih duduk di atas ranjang.
"apa yang kamu rasakan sekarang?"tanya Devano.
"tidak ada hanya saja aku ingin melihat keadaan kak Agus dan yang lainnya."
"tidak kamu tidak bisa kemana-mana, bagaimana jika nanti kamu lemas atau merasa mual lagi?"
"haaah Dev aku hanya ingin melihat mereka."
"kamu bisa video call dengan mereka tanpa harus ke sana."
"tidak bisa."
"Dev ayolah ya lagi pula aku tidak melakukan hal berat aku hanya melihat keadaan mereka di sana pun aku akan duduk."
"tapi...."
"ayolah Dev aku mohon." Adriana membuat wajahnya seimut yang dia bisa hingga Devano tidak bisa menolak nya lagi.
"baiklah aku akan mengantar mu."
"benarkah aku mencintaimu Dev."Adriana memeluk Devano.
"Devano tertegun sebentar sebelum dia membalas pelukan Adriana, ini pertama kalinya Adriana bersikap seperti ini padanya.
"ma aku akan melihat keadaan kakak-kakak ku sebentar apa tidak apa-apa meninggalkan mama sendirian di sini?"tanya Adriana.
"tidak apa-apa sayang, mama juga sedang menunggu orang suruhan mama untuk membawa baju-baju mama ke sini."
"untuk apa?"tanya Devano.
"mama akan tinggal di sini tetu saja untuk menjaga menantu kesayangan mama."
"ya aku tau hal itu tapi untuk apa membawa baju mama, Devano akan membelinya untuk mama."
"apa kamu tidak ada kerjaan lain selain menghamburkan uang?"tanya Sintia.
"mama seperti orang susah saja, tadi mama bilang aku tidak boleh memutus mata pencaharian orang lain, sekarang aku membagi sedikit uang ku untuk mereka mama juga marah." kesal Devano.
"haah terserah mu saja." kata Sintia keluar dari kamar tersebut menuju bawah.
Devano akhirnya menghubungi Riza untuk membelikan pakaian untuk mamanya.
"hallo tuan."
"cari pakaian yang cocok untuk nyonya Sintia kenakan sehari-hari."Devano to the poin.
"berapa banyak tuan?"tanya Riza.
"semampu mu bawa ke mansion ku."
"baik tuan." Devano mematikan telpon nya sepihak dan saat itu juga Adriana sudah siap.
Devano mengambil tas Adriana.
"Dev?"
"aku akan membawanya untuk mu."
"ah come on Dev itu bahkan tidak berat sama sekali."
"sudah ayo kita pergi sekarang,apa mau aku gendong?"tanya Devano.
"tidak perlu." Adriana dengan cepat pergi keluar sebelum Devano benar-benar menggendongnya.
"hati-hati kamu bisa jatuh."
.
.
.
.
.
Hai readers 👋
Ada yang kangen Adriana gak?
ini season 2 dari Adriana ☺️
btw makasih banget yang udah nunggu dan selalu dukung author 🥺
sayang kalian banyak-banyak 😘
TOLONG MAMPIR KE CERITA RAI YA !!!!
anak² ku di sana butuh kalian🥺
untuk tetap support author jangan lupa like,komen,share,vote,dan jadikan novel ini menjadi novel favorit kalian 😚
jangan lupa bintang lima nya ya🤭
MAAF JIKA ADA TYPO BERTEBARAN KARENA AUTHOR MASIH DALAM PROSES BELAJAR😁
sampai jumpa di up selanjutnya 😉