
"hallo tuan." sapa Riza saat panggil telpon tersambung.
"bagaimana apa kebun anggur nya sudah ada?"tanya Devano menatap Adriana yang sudah terlelap tidur di dada bidang nya.
"sudah tuan, tapi harganya....."
"Riza apa aku pernah mempermasalahkan harga jika itu berkaitan dengan keinginan istri ku? sudah lah." Devano menutup panggilan tersebut secara sepihak.
"apapun itu keinginan mu aku akan berusaha mewujudkannya honey, maaf karena terlambat memberi mu izin untuk mengandung aku hanya tidak ingin anak kita menyakiti hati mu nanti." Devano mengelus lembut pipi Adriana.
"hai baby, Dady bukan tidak menginginkan kehadiran mu tapi Daddy sangat mencintai mommy mu, jadi jangan membuat nya kesusahan ok jika nanti kamu sudah besar bantu Daddy menjaga mommy mu dia benar-benar sangat berarti untuk Daddy jangan pernah membuat nya marah atau terluka karena Daddy akan menjadi musuh terbesar mu." Devano beralih mengelus perut Adriana yang masih rata, entah hanya obrolan biasa atau lebih tepatnya ancaman untuk anaknya agar dia tidak menyakiti Adriana.
sebenarnya Adriana tidak benar-benar tidur dia mendengar semua perkataan Devano tadi, rasa syukurnya sangat besar karena di pertemukan dengan laki-laki seperti Devano walau terkadang sikap dan sifat Devano berlebihan jika itu menyangkut dirinya namun dia benar-benar bersyukur.
Adriana semakin mengeratkan pelukannya pada Devano.
"honey jangan terlalu erat ingat di perut mu ada baby kita." Devan mengelus rambut Adriana.
"apa kebun anggur ku sudah ada?" tanya Adriana.
"hmm sudah."
"Dev aku ingin ke sana sekarang." Adriana membuka matanya lalu mengeluarkan puppy eyes nya.
"honey sekarang kamu harus istirahat, besok kita akan ke sana."
"Dev aku mau sekarang yaa aku mohon."
"baiklah kita ke sana sekarang aku akan berpakaian terlebih dahulu."
"bisakah kamu tetap seperti itu." kini wajah Adriana manyun.
"honey?"
"aku ingin kamu tetap seperti ini." Adriana berjalan menghampiri Devano lalu memeluk nya.
"aneh Adriana benar-benar aneh, hormon hamilnya membuat nya berubah seratus delapan puluh derajat." gumam Devano dalam hati.
"aku akan masuk angin jika pergi seperti ini honey."
"hmm kalau begitu kita tidak jadi pergi." kata Adriana tiba-tiba membuat Devano bingung.
tiba-tiba handphone Devano berbunyi dia mendapat panggilan dari Riza.
"ada apa?" tanya Devano setelah mengangkat telepon nya.
"maaf mengganggu anda tuan tapi ada klien penting yang ingin bertemu dengan Anda."
"apa kamu tidak memberitahu nya jika aku sedang sibuk Riza?"tanya Devano dingin.
"maaf tuan saya sudah memberitahu nya tapi dia tetap memaksa untuk bertemu dengan Anda, dia sangat penting tuan untuk proyek baru anda di negara B."jelas Riza.
"baiklah aku akan ke sana sekarang." kata Devano memutuskan untuk pergi ke kantor meski dia sangat berat untuk meninggalkan Adriana.
"ada apa?"tanya Adriana mendongak menatap Devano.
"ada klien penting ingin bertemu dengan ku,aku harus pergi ke kantor sekarang." jelas Devano.
"apa sangat penting?"tanya Adriana.
"iya."
"baiklah ayo pergi." Adriana menggandeng tangan Devano.
"honey?"
"kenapa? apa aku tidak boleh ikut?"tanya Adriana.
"tentu saja boleh."
"baiklah aku akan membantu mu berpakaian."
akhirnya setelah selesai berpakaian dan berpamitan kepada yang lain mereka berdua akhirnya pergi menuju K group.
sesampainya di sana mereka langsung pergi ke ruang pertemuan dan di ruangan tersebut sudah ada klien yang di maksud Riza.
klien tersebut bernama Randi farm dia datang ke K group bersama Adik perempuan nya Rindi farm.
sebenarnya Randi datang tidak untuk membahas pekerjaan namun ingin mengenalkan Adiknya pada Devano.
Randi memang sudah mengetahui jika Devano sudah menikah dan mempunyai istri namun rumor yang beredar akibat Devano tidak pernah mempublikasikan istri nya membuat nya memberanikan diri ingin mengenalkan Adiknya.
rumor yang beredar adalah Devano memiliki istri yang cacat dan buruk rupa.
setelah Devano dan Adriana masuk Randi dan Rindi berdiri lalu saling berjabat tangan namun saat menjabat tangan Adriana Randi sangat terpesona melihat kecantikan Adriana.
"mau ku cungkil mata mu?" kali ini bukan Devano melainkan Adriana, jika biasanya Devano yang posesif sekarang Adriana, entah kenapa setelah dia hamil moodnya jadi tidak stabil bahkan untuk hal-hal kecil akan dia permasahkan.
"nona cantik anda harus bersikap lebih sopan."Randi tersenyum genit pada Adriana yang membuat Devano menahan mati-matian marah nya.
"langsung ke intinya saja ada apa tuan Randi? apa terjadi masalah dengan proyek di negara B?" tanya Devano.
"ah mengenai proyek itu sama sekali tidak ada masalah, aku hanya ingin lebih dekat dengan mu mengetahui proyek ini memakan waktu cukup lama mungkin kita bisa berteman dan tetap melakukan kerjasama kedepannya." ujar Randi mencuri-curi pandang menatap Adriana.
sedangkan yang di tatap tangan nya tengah sibuk meraba perut sixpack milik Devano.
"tapi maaf tuan Randi saya sedang sibuk dan tidak punya waktu untuk ini."Devano masih menahan amarahnya agar tidak meledak.
"ah maaf untuk itu tuan Devano,ah iya ini adik ku namanya Rindi aku lupa mengenalkan nya pada mu."
"perkenalkan nama ku rindi senang bisa bertemu dan berkenalan dengan mu."rindi ingin bersalaman dengan Devano namun Devano hanya diam tidak berniat menjabat tangan Rindi.
"maaf saya punya penyakit OCD."tolak Devano.
"ah maaf aku tidak tahu." rindi berusaha menutupi rasa malunya.
"tuan Devano kamu tidak perlu berbicara formal dengan kami." kata Randi.
"hmm."
"ngomong-ngomong sekertaris mu sangat cantik,kamu belum memperkenalkan nya." Randi menatap Adriana.
"dia bukan sekertaris ku..."
"lalu kenapa dia berada di sini? apa dia perempuan penggoda? cih percuma saja cantik." kata rindi memotong perkataan Devano.
"Dev apa aku terlihat seperti perempuan penggoda?" tanya Adriana mengeluarkan puppy eyes nya.
"apa salahnya menggoda suami mu sendiri honey?" Devano balik bertanya dan sifat nya berubah seratus delapan puluh derajat jika berbicara dengan Adriana membuat Randi dan Rindi terkejut.
"apa suami?"kaget Rindi.
"iya dia istri saya, jadi tuan Randi jangan pernah menatap istri saya dengan tatapan seperti itu jika anda masih ingat melihat keindahan dunia, ini masih peringatan jika anda berani melihatnya lagi mata anda benar-benar hilang, oh bukan hanya mata tapi nyawa anda juga." Devano menatap Randi tajam.
"kamu mengancam ku?" tanya Randi.
"bukan mengancam tapi peringatan, baiklah saya rasa ini pertemuan terakhir kita untuk pembahasan tidak penting jika anda bersikap lancang sekali lagi bukan hanya proyek ini yang akan terancam tapi perusahaan anda juga." Devano membantu Adriana berdiri.
"oh ya dan untuk anda nona segera sekolah kan mulut anda sebelum saya merobeknya lalu menjahit nya rapat-rapat." Devano berjalan keluar meninggalkan kakak-beradik itu yang masih mencerna semua kata-kata nya.
di luar Devano menatap Riza tajam.
"jika kamu tidak becus lagi aku akan mengirim mu ke kutub Utara." ancam Devano menyeramkan meninggalkan Riza.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hai readers 👋
Ada yang kangen Adriana gak?
ini season 2 dari Adriana ☺️
btw makasih banget yang udah nunggu dan selalu dukung author 🥺
sayang kalian banyak-banyak 😘
TOLONG MAMPIR KE CERITA RAI YA !!!!
anak² ku di sana butuh kalian🥺
untuk tetap support author jangan lupa like,komen,share,vote,dan jadikan novel ini menjadi novel favorit kalian 😚
jangan lupa bintang lima nya ya🤭
MAAF JIKA ADA TYPO BERTEBARAN KARENA AUTHOR MASIH DALAM PROSES BELAJAR😁