
flashback on
setelah kepergian Adriana, Sintia menghampiri putra nya.
"Dev apa yang kamu lakukan?" Adriana sangat kesal dengan putra semata wayangnya itu.
"aku tidak melakukan apapun."jawab Devano enteng.
"emm maaf nyonya perempuan tadi memang sangat tidak sopan." wanita seksi yang menjadi teman meeting Devano sekarang mulai mencari perhatian Sintia.
"tutup mulut mu, menantu ku tidak seperti itu." ujar Sintia menatap wanita itu tajam.
"sudahlah, sudah tidak ada yang perlu kita bahas anda bisa pergi sekarang."Devano kini berbicara pada wanita itu.
"tap..."
"Riza antar dia keluar dan pastikan perusahaan nya hancur hari ini dan dia tidak bisa bangkit lagi." perintah Devano langsung membuat wanita itu membelalakkan matanya.
"apa maksud tuan Devano? kita sudah penandatanganan kontrak kerja sama." ujar wanita tersebut tidak terima.
"Riza." panggil Devano membuat Riza langsung menyeret paksa wanita itu karena terus memberontak dan berteriak.
"haaah wanita jaman sekarang makin aneh saja." gerutu Sintia.
"kenapa mama ke sini?"tanya Devano duduk di kursi nya.
"apa sekarang kamu sudah menjadi anak kurang aja Dev, ini kantor anak mama jadi terserah mama." ujar Sintia tidak terima.
"terserah mama saja." Devano kembali mengerjakan pekerjaan nya.
"Dev."panggil Sintia duduk di depan Devano.
"hmmm."
"tadi mama membawa Adriana makan dengan teman-teman mama."
"trus?" Devano masih fokus mengerjakan pekerjaan nya.
"teman-teman mama memojokkan Adriana."
mendengar perkataan mamanya Devano menghentikan aktivitasnya lalu melihat sang mama.
"iya Dev, ini karena kesalahan kalian juga kalian terus menunda-nunda untuk memiliki seorang anak, semua orang termasuk teman-teman mama bicara hal buruk tentang Adriana, mereka pikir Adriana tidak bisa memberikan kamu keturunan." Sintia mulai menceritakan semuanya dan keinginan nya.
"seharusnya sekarang kamu sudah punya anak Dev,mama punya cucu tapi kenapa kalian terus menunda-nunda, atau jangan-jangan Adriana...."
"ma cukup." Devano sudah kesal karena Adriana membahas masalah anak tadi pagi dan kini mama nya membahas nya lagi.
"tap..."
"yang gak mau punya anak itu aku, jadi please jangan bawa-bawa Adriana dia sehat semua nya baik-baik saja tapi aku tidak menginginkan anak."ujar Devano.
"kenapa Dev,kamu juga harus punya anak kamu gak akan selalu muda kamu juga akan tua dan kamu pasti membutuhkan seorang penerus." kesal Sintia mendengar perkataan Devano.
"penerus? aku bisa mengadopsinya, tapi untuk melihat Adriana hamil kemudian merasa sakit aku gak bisa ma, akan gak bisa melihat dia sakit."
"Dev come on."
"ma Adriana bukan pabrik pembuat anak, mama tahu kan sesakit apa melahirkan? aku gak mau Adriana merasakan itu."
"itu sudah menjadi kodratnya seorang perempuan Dev kamu tidak bisa seperti ini terus pemikiran kamu harus di ubah, Adriana juga pasti mampu melewatinya kamu hanya harus menemani nya melewati semua proses nya."
"no jawaban ku masih tetap sama, jika mama sangat ingin memiliki cucu aku bisa memberikan nya tanpa Adriana harus mengandung dan melahirkan." kekeh Devano.
"haah kamu selalu keras kepala Dev, mama mau pulang." Sintia pun akhirnya pergi karena sangat kesal dengan kelakuan anaknya tersebut.
dan Devano akhirnya paham kenapa sikap Adriana seperti tadi.
akhirnya dia menelepon seseorang untuk menyuruh nya mengikuti Adriana dan melaporkan apa saja yang di lakukan Adriana tadi dia juga tidak lupa menyuruh Riza memberi pelajaran pada teman-teman mamanya yang membuat Adriana seperti tadi.
flashback off
di tempat lain tepatnya di mansion keluarga Sanjaya, Gilang sedang merebahkan dirinya di dalam kamar. namun tiba-tiba Diandra menelponnya untuk menemui nya di Mall.
"hallo sayang."sapa Diandra.
"hmm."
"gak bisa ma."
"Lang semenjak kamu punya kekasih sekarang kamu sudah tidak sayang lagi pada mama?"tanya Diandra.
"bukan begitu tap...."
"mama gak mau tau kamu kesini sekarang temani mama belanja kalau kamu tidak datang kamu benar-benar tidak menyayangi mama lagi." Diandra mematikan panggilan nya secara sepihak.
"haaah rencana apa lagi yang akan mama buat." keluh Gilang namun mau tak mau dia harus menemui mamanya sekarang.
sesampainya di sana ternyata firasat Gilang benar Brielle ada disana, Gilang menghampiri mamanya.
"sayang."panggil Diandra yang di jawab senyuman oleh Gilang.
"mama tau kamu pasti masih sayang mama." Diandra menatap anaknya yang sudah kembali memasang wajah datarnya.
akhirnya mereka bertiga berkeliling Mall untuk berbelanja, Brielle memanfaatkan kesempatan dengan sebaik mungkin.
dia terus mendekati Gilang meski respon Gilang sangat tidak baik padanya.
"Gilang kedua baju ini sangat bangus aku tidak bisa memilih nya bisa bantu aku memilih?"tanya Gilang.
"pakai baju yang mana saja kamu akan tetap terlihat jelek."sarkas Gilang membuat senyum brielle seketika hilang.
"Gilang kamu tidak boleh berkata seperti itu, bagaimana pun brielle akan menjadi istri kamu."tegur Diandra berusaha menenangkan brielle.
Gilang menghembuskan nafasnya kasar.
"sayang kamu coba dulu bajunya biar Gilang bisa memilih yang cocok untuk kamu." kata Diandra tersenyum.
Brielle pun akhirnya mencoba satu persatu baju tersebut lalu hingga baju yang kedua dia sengaja memanggil Gilang untuk membantu nya menaikkan Resleting yang ada di punggung nya.
"Gilang bisa tolong membantu ku." kata brielle.
"tidak bisa."
"Gilang kamu harus membantu brielle." kata Diandra yang mau tidak mau Gilang harus membantu brielle.
saat selesai membantu brielle dan keluar dari ruang ganti Dea yang sedang memilih baju di sana melihat Gilang dan brielle keluar dari ruang ganti tersebut.
.
.
.
.
.
.
.
Hai readers 👋
Ada yang kangen Adriana gak?
ini season 2 dari Adriana ☺️
btw makasih banget yang udah nunggu dan selalu dukung author 🥺
sayang kalian banyak-banyak 😘
TOLONG MAMPIR KE CERITA RAI YA !!!!
anak² ku di sana butuh kalian🥺
untuk tetap support author jangan lupa like,komen,share,vote,dan jadikan novel ini menjadi novel favorit kalian 😚
jangan lupa bintang lima nya ya🤭
MAAF JIKA ADA TYPO BERTEBARAN KARENA AUTHOR MASIH DALAM PROSES BELAJAR😁
sampai jumpa di up selanjutnya 😉