
Adriana mulai memilih apa yang bagus di matanya namun entah kenapa semua terlihat bagus hingga dia pusing sendiri.
"ah semua nya benar-benar sangat bagus aku bingung memilih yang mana."keluh Adriana.
Devano mengangkat tangan nya memanggil pelayan lalu pelayan tersebut datang.
"iya tuan ada yang bisa saya bantu?"tanya pelayan tersebut.
"aku mau semua yang ada di sini kirim ke alamat ini." Devano memberinya kartu."
"baik tuan."
"wah-wah lihat Anya berkat ngidam mu hari ini pelayan-pelayan itu akan mendapatkan tips." ejek Jimi.
"tidak semua harus di kirim ke rumah aku mau melihat kalian membawanya untuk ku." Adriana tidak menanggapi ejekan Jimi tapi memberikan pekerjaan pada keenam laki-laki itu.
keenam laki-laki tersebut tidak ada yang protes sama sekali.
mereka keluar dengan Adriana yang santai berjalan di depan dan keenam laki-laki yang sedang membawa belanjaan nya di belakang.
cukup lama Adriana berjalan hingga dia merasa lelah dan memilih masuk ke sebuah restoran di sana.
"aku lelah."keluh Adriana duduk di kursi kosong.
"sudah kubilang bukan? apa kaki mu sakit?"tanya Devano berjongkok dan memeriksa kaki Adriana.
semua pengunjung restoran tersebut sedikit heboh, ada yang memfoto hingga merekam apa yang di lakukan Devano.
wartawan yang mengikuti mereka dari tadi pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
"kaki ku sakit."keluh Adriana.
Devano mulai memijat kaki Adriana dengan hati-hati.
"kita harus pulang sekarang."kata Agus.
"tidak mau." tolak Adriana.
"Anya kamu sudah lelah, kasihan keponakan ku." kata Jimi.
"aku masih mau jalan-jalan jadi kalian hanya perlu menemani ku saja."
"dasar keras kepala."gerutu Jimi yang di denger Adriana.
"kak Agus dia mengatai ku keras kepala."adu Adriana pada Agus.
"mau bermain dengan Queen Jimi?"tanya Agus.
"tidak-tidak, baiklah Anya maafkan kakak tampan mu ini."ujar Jimi cepat.
tiba-tiba di luar restoran ada suara ribut-ribut ternyata di sana Dea sedang bertengkar dengan Celia.
"apa sih mau mu bukan kah aku sudah meminta maaf."kata Dea.
"maaf? kamu pikir maaf bisa mengganti pakaian ku yang kotor karena mu? ini bukan pertama kali nya kamu mengotori baju ku dasar wanita tidak tahu diri." kata Celia.
"apa kata mu wanita tidak tahu diri? waktu itu kamu yang menabrak meja ku jadi bukan salah ku."
"kamu sama saja dengan wanita gila itu."
"siapa yang kamu panggil wanita gila?"tanya Dea.
"siapa lagi kalau bukan wanita yang bersama mu waktu itu."
"apa kamu bilang? kamu mengatai kakak ku wanita gila? enak saja kamu yang gila."kesal Dea tidak terima.
melihat ramai-ramai di luar dan mendengar suara Dea Adriana pergi melihat apa yang terjadi di ikuti keenam laki-laki tersebut.
"honey hati-hati." kata Devano melihat Adriana berjalan cepat.
saat keluar Adriana melihat Dea basah karena di siram oleh Celia.
Adriana mengambil minuman dari tangan orang yang ada di sampingnya lalu menyiram Celia tanpa aba-aba.
"berani sekali kamu menyiram artis terkenal seperti ku."teriak Celia melihat Adriana.
"lalu kenapa jika kamu artis apa aku peduli." Adriana menatap Celia dingin.
"aku pasti akan menuntut mu."teriak Celia.
"tuntut saja kalau bisa."
dasar ****** sialan kamu." Celia ingin menampar Adriana namun di tahun oleh Devano.
Celia menatap tangan yang menahan tangan nya kuat.
"kaki mu masih sakit kamu seharusnya duduk diam."kata Devano tidak menghiraukan Celia.
"tuan de... Devano." kata Celia.
Devano menatap Celia tajam.
"berani sekali kamu ingin menampar nya dengan tangan kotor mu ini." kata Devano dingin.
"Dea apa kamu baik-baik saja?"tanya Jimi memeluk Dea.
"aku tidak apa-apa."jawab Dea.
"ji...Jimi." kini Celia menatap Jimi dan keluarga AZ satu persatu.
kejadian itu tidak terlepas dari pengelihatan pengunjung mall tersebut.
"aaa... maa...." tiba-tiba Celia tida bisa berbicara.
"aku tidak pernah membiarkan siapapun lolos dari tangan ku jika dia menyinggung ku tapi kamu malah menyakiti kedua adik kesayangan ku."wajah dingin berwarna merah milik Agus benar-benar menyeramkan.
"Jimi tolong aku."Celia meminta bantuan dari Jimi.
"mau meminta bantuan ku?"tanya Jimi menyeringai seram melepaskan pelukannya dari Dea lalu berjalan menghampiri Celia.
"baiklah akan ku bantu bertemu tuhan terlebih dahulu." bisik Jimi membuat Celia semakin takut hingga wajahnya sangat pucat.
"ka....kalian benar-benar bukan manusia."teriak Celia menepis rasa takutnya.
Agus memberi perintah pada tiga anak buah yang dia utus mengikuti Dea untuk membereskan semua termasuk membawa Celia ke markas Redfox.
setelah semuanya selesai mereka keluar dari Mall tersebut pergi ke mansion keluarga AZ.
setelah sampai di mansion semua nya duduk di sofa kecuali Dea, dia pergi membersihkan diri ke kamarnya.
"tidak ada yang boleh mengeksekusi wanita itu selain aku." kata Adriana tiba-tiba.
"tidak-tidak untuk masalah ini kamu tidak bisa melakukannya ingat kamu sedang hamil." bantah Devano yang di setujui semua orang.
"aku tidak mau."Adriana bersikeras.
"Anya tidak untuk ini apapun untuk hal lain." tegas Agus.
"tapi aku sangat ingin, aku benar-benar tidak bisa menolak ke inginan ku sendiri." tiba-tiba Adriana menangis.
"hei-hei kenapa kamu menangis honey?" Devano membawa Adriana dalam pelukannya.
"aku tidak tau aku sangat ingin melakukan nya Dev aku mohon."kata Adriana.
semua orang tidak tega pada Adriana namun tidak bisa memberikan izin pada Adriana untuk membunuh saat dia akan melahirkan kehidupan baru.
"honey aku tidak pernah marah jika kamu melakukannya saat tidak sedang hamil tapi sekarang kamu sedang hamil honey, kami benar-benar tidak bisa membiarkan mu melakukan nya."
" biar aku saja Kanya." tiba-tiba Dea datang.
"tidak untuk mu juga Dea."kata Agus.
"jika bukan aku maka biarkan Dea,aku sangat ingin melihatnya menyiksa seseorang." kata Adriana yang mau tidak mau mengiyakan karena ini juga permintaan adiknya yang sedang mengidam.
"tapi apa kamu sanggup Dea? kamu tidak pernah melakukannya sebelumnya." kata Tirta khawatir.
"tentu saja sanggup, aku sering melihat kak Agus dan kak Jordi menyiksa musuh nya."jawab Dea enteng.
"apa?" kata Jidan marah.
"apa itu benar Agus, Jordi?"tanya Jidan.
"maaf kak." kata Jordi sedangkan Agus hanya diam.
"kalian ini sudah ku bilang jangan bawa Dea ke markas, kalian bisa mengotori otak nya, apa kalian tida pernah mau mendengarkan ku untuk masalah ini, ini masalah serius kalian tau." omel Jidan dengan sekali tarikan nafas.
"aku tidak apa-apa kak."kata Dea.
"kau yang memaksa kak Jordi dan kak Agus membawaku ke sana jadi jangan marah pada mereka." sambung Dea.
"haah terserah mu saja, lagi pula sudah terlanjur." kata Jidan menghelai nafas kasar
.
.
.
.
.
.
Hai readers 👋
Ada yang kangen Adriana gak?
ini season 2 dari Adriana ☺️
btw makasih banget yang udah nunggu dan selalu dukung author 🥺
sayang kalian banyak-banyak 😘
TOLONG MAMPIR KE CERITA RAI YA !!!!
anak² ku di sana butuh kalian🥺
untuk tetap support author jangan lupa like,komen,share,vote,dan jadikan novel ini menjadi novel favorit kalian 😚
jangan lupa bintang lima nya ya🤭
MAAF JIKA ADA TYPO BERTEBARAN KARENA AUTHOR MASIH DALAM PROSES BELAJAR😁
sampai jumpa di up selanjutnya 😉