
"Riza kosongkan semua jadwal ku besok pagi." Devano menelpon Riza.
"baik tuan."
"pastikan juga besok Adriana tidak keluar rumah."
"tap..." Devano memutuskan telpon secara sepihak.
dia kembali menemui Gilang untuk membahas masalah anggota nya yang mati.
"bagaimana?"tanya Devano.
"tidak ada petunjuk lain." jawab Gilang.
"jika memang benar pelaku nya Agus kita harus mempersiapkan diri mulai sekarang." ujar Devano.
"jangan gegabah."Gilang memperingati Devano karena jika sedang emosi Devano tidak bisa berpikir jernih.
"kita tidak bisa diam saja." Devano mulai mengepalkan tangannya.
"jika kamu membunuh Agus Adriana bagaimana?" tanya Gilang.
"dia tidak akan kenapa-kenapa jika mengetahui alasannya, Agus juga bukan saudara
kandungnya."jawab Devano.
Gilang mencerna jawaban Devano, kali ini pikiran nya menuju pada Dea orang yang saat ini mengisi hati nya.
"Agus dan Dea berbeda jangan pikirkan masalah itu." Devano menepuk pundak Gilang.
"Tapi Adriana sangat dekat dengan Agus."kini Gilang membuat Devano sedikit goyah.
karena memang benar apa yang di katakan Gilang, Adriana sangat dekat dengan Agus. bagaimana jika dia benar-benar membunuh Agus? apa reaksi Adriana? tapi mau bagaimana pun reaksi Adriana Devano harus tetap melakukan nya karena prinsip nya nyawa harus di bayar dengan nyawa pikir Devano.
di tempat lain saat ini Agus tengah berada di markas nya dengan keadaan luka sayatan di perutnya.
lukanya cukup banyak mengeluarkan darah akhirnya di memutuskan untuk menyiram lukanya dengan alkohol lalu menjahit nya sendiri.
Agus memang seperti itu,dia tidak ingin melihat siapapun mengetahui jika dia terluka, prinsip nya jika kamu luka sendiri kamu harus bisa menyembuhkan nya sendiri meski rasanya sangat sakit kamu harus menanggung semua konsekuensinya karena terkadang luka mu bisa di manfaatkan oleh pembenci mu.
setelah selesai mengobati lukanya Agus merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"ternyata sudah lama aku tidak merasakan nya." Agus tertawa.
"dasar bodoh aku memiliki adik ipar dan calon adik ipar yang sangat bodoh, bagaimana mungkin mereka berdua menjadi mafia yang sangat di takuti di negara ini saat anak buahnya berlomba-lomba menjatuhkan mereka berdua." maki Agus.
"sssssh sial." Agus meringis kesakitan saat ingin mengambil handphone nya yang terus saja berbunyi saat dia sedang menjahit lukanya.
Agus mengangkat telepon dari Adriana.
"dimana?"tanya Adriana.
"mansion." jawab Agus.
"benarkah? GPS mu berada di markas sekarang." ujar Adriana.
Agus memejamkan mata sambil memaki dirinya sendiri karena lupa siapa yang berbicara pada nya sekarang.
"apa terjadi sesuatu?"tanya Adriana.
"tidak ada, kenapa menelpon ku?"tanya Agus balik.
"apa ada larangan aku menelepon mu?"tanya Adriana tidak mau kalah.
"haaah tidak ada, kenapa kamu belum tidur?" tanya Agus sekali lagi."
"entah perasaan ku kurang baik sekarang." jawab Adriana.
"apa Devano pelaku nya?"tanya Agus.
"mungkin, dia pergi meninggalkan ku sendiri di mansion."jawab Adriana.
Agus terdiam cukup lama, dia berpikir Devano sudah mengetahui kematian kelima anggota nya dan pasti dia sudah tahu siapa pelakunya.
"Anya."panggil Agus.
"hmm."
"jika sesuatu terjadi pada ku besok pagi jangan berubah seperti dulu lagi tetap jadi dirimu yang sekarang." ujar Agus membuat Adriana mengernyitkan alisnya bingung di sebrang sana.
"apa terjadi masalah?"tanya Adriana.
"tidak ada." jawab Agus.
"jika sesuatu benar-benar terjadi pada mu besok pagi yang membuat mu meninggalkan ku akan ku pastikan siapapun itu akan hilang juga, keluarga nya akan merasakan apa yang aku rasakan."Adriana berbicara penuh penekanan yang mengharuskan Agus harus baik-baik saja.
"te..."
"kamu tahu aku kak aku akan mengembalikan seratus kali lipat apa yang aku dapat." Adriana mematikan telpon nya karena suasana hati nya semakin kacau di tambah Devano pergi terlalu lama menurut nya.
Adriana menelpon Devano namun tidak di angkat hingga kedua kalinya handphone Devano sudah tidak bisa di hubungi.
akhirnya Adriana memutuskan untuk menelpon Riza.
"hallo nyonya."
"dimana Devano?"tanya Adriana to the poin.
"bukankah tuan Devano sudah memberi tahu anda nyonya?"tanya Riza bingung.
"ceritakan apa yang tidak aku ketahui." kata Adriana.
"maaf nyonya saya juga hanya mengetahui apa yang nyonya ketahui tapi tuan Devano memerintahkan Anda untuk tetap berada di dalam mansion untuk keselamatan anda."jelas Riza membuat Adriana semakin bingung.
karena tidak mendapat jawaban apapun dari Riza akhirnya Adriana memutuskan telpon nya secara sepihak lalu menelpon Maxim.
setelah beberapa kali mencoba akhirnya Maxim mengangkat nya juga.
"hal...."
"tuan Agus kemana saja hari ini?"tanya Adriana.
"maaf nona?"tanya Maxim bingung karena nyawanya belum terkumpul sepenuhnya.
"Maxim aku tidak suka mengulang pertanyaan ku." kata Adriana.
"maaf nona, tuan Agus pergi setelah Hendry memberi tahu tuan Agus jika beberapa anak buah tuan Devano dan tuan Gilang berkhianat, seharusnya mereka akan menyerang mansion anda sekarang namun tuan Agus menggagalkan nya dan melawan penghianat itu sendiri." jelas Maxim.
"lima di antara mereka mati di tempat dan beberapa orang di bawa ke sini dalam keadaan hidup untuk di eksekusi." sambung Maxim lagi.
"tapi nyonya keadaan tuan Agus tidak baik." kata Maxim membuat jantung Adriana berdetak kencang.
"kenapa?"tanya Adriana.
"tuan Agus mendapat luka sayatan di bagian perut lumayan dalam karena mengeluarkan banyak darah." jelas Maxim.
deg.....
"sial....kenapa kalian tidak membawanya ke rumah sakit?"tanya Adriana marah.
"kami akan membawanya namun tuan Agus mengancam kami, dia membersihkan dan mengobati lukanya sendiri bahkan dia juga menjahit nya sendiri." jawab Maxim.
Adriana memutuskan telpon nya secara sepihak lalu ingin pergi ke markas Redfox untuk memastikan keadaan Agus namun penjaga di mansion itu di perketat oleh Devano.
bisa saja dia membunuh mereka namun dalam hal ini mereka tidak salah sedikit pun, akhirnya Adriana kembali ke kamarnya lalu menghubungi dokter pribadi milik keluarga AZ agar cepat menangani Agus.
Adriana juga mengirim semua alat medis yang di butuhkan untuk menangani perawatan Agus di markas.
"Devano sangat ceroboh dalam hal ini." gerutu Adriana marah.
handphone Adriana berbunyi dia mendapatkan pesan dari Agus.
"jangan menyalahkan Devano dia memang mulai bodoh sekarang tapi itu karena kamu,dia terlalu fokus terhadap kebahagiaan mu." isi pesan dari Agus
.
.
.
.
.
.
.
Hai readers 👋
Ada yang kangen Adriana gak?
ini season 2 dari Adriana ☺️
btw makasih banget yang udah nunggu dan selalu dukung author 🥺
sayang kalian banyak-banyak 😘
TOLONG MAMPIR KE CERITA RAI YA !!!!
anak² ku di sana butuh kalian🥺
untuk tetap support author jangan lupa like,komen,share,vote,dan jadikan novel ini menjadi novel favorit kalian 😚
jangan lupa bintang lima nya ya🤭
MAAF JIKA ADA TYPO BERTEBARAN KARENA AUTHOR MASIH DALAM PROSES BELAJAR😁
sampai jumpa di up selanjutnya 😉