
Levin pulang ke rumahnya namun keadaan rumah sepi bahkan bodyguard yang berjaga di gerbang depan tidak ada.
Levin berlari masuk kedalam rumah dia melihat mama nya tidak sadarkan diri bersama beberapa bodyguard yang sudah mati.
"ma..mama..."panggil Levin mencoba membangun kan dalbalbara namun dalbalbara tidak bangun.
Levin semakin panik dia melihat sekeliling dan menemukan aksesoris berbentuk rubah berwarna merah dan mengambil nya.
"Redfox."kata Levin menggenggam dengan erat aksesoris itu dan membuat tangan nya berdarah.
Levin mengambil ponselnya dan menelpon seseorang namun tidak di jawab.
"sial kemana si tua Bangka itu."kata Levin kesal.
"maa...mama bangun."teriak Levin.
dalbalbara pun bangun dan melihat sekeliling dengan gelisah.
"Levin..."kata dalbalbara.
dalbalbara pun menampar wajah Levin dengan keras.
"dasar anak tidak tahu di untung,aku sudah melahirkan dan membesarkan mu dengan benar tapi kenapa kamu menjadi transgender bodoh."teriak dalbalbara.
"ma...mama mengetahui nya?"tanya Levin kaget.
"dasar bodoh kamu bisa saja menghancurkan usaha kita selama ini apa kamu tidak berpikir?"kata dalbalbara kesal.
"maa selama ini aku sudah memenuhi semua keinginan mama,aku belajar bisnis dengan giat walau aku tidak mau,aku berusaha menjadi kebanggaan mama semua yang mama suruh aku selalu melakukannya termasuk membunuh orang.apa mama tidak tahu jika aku tertekan?"kata Levin meluapkan isi hatinya yang selama ini ia pendam.
dalbalbara sekali lagi menampar Levin
"kamu sudah berani dengan mama, ini semua mama lakukan untuk kebahagiaan kamu dasar bodoh mama sangat menyesal telah melahirkan kamu."bentak dalbalbara.
"aku juga tidak pernah mau dilahirkan oleh perempuan seperti mu,kamu bilang ini semua demi aku tapi kenyataannya ini semua demi kamu sendiri. aku tidak bahagia aku tertekan apa mama tahu saat aku membunuh papa Allen? orang yang telah menyayangi ku lebih dari anaknya sendiri? aku tertekan ma aku takut ."kata Levin keras.
dalbalbara mengambil aksesoris berbentuk rubah berwarna merah yang di lempar Adriana dan menancapkan nya di leher Levin.
"dasar anak tidak tahu diri aku akan membunuh mu sekarang."kata dalbalbara ingin menancapkan aksesoris tersebut sekali lagi namun Levin berhasil memegang tangan dalbalbara dan menghempaskan tubuh dalbalbara sekeras yang dia bisa hingga dalbalbara terjatuh dan Levin berhasil kabur.
dalbalbara mengejar Levin namun Levin berlari dengan kencang hingga di berhasil kabur dan dalbalbara tidak berhasil mengejarnya.
Levin terus berlari dan menangis mengingat dosa-dosa nya dimasa lalu hingga dia tidak punya tenaga lagi untuk berlari dan jatuh.
orang yang dari tadi berada di depan kediaman Keluarga Allen mengikuti Levin turun dari mobil membawa Levin pergi.
orang yang membawa Levin tersebut membawa Levin ke mansion mewah dan mengobati luka nya.
dan ternyata orang tersebut adalah Agus dan Adriana.
setelah Levin di obati dan dokter yang menangani Levin pergi Agus dan Adriana keluar dari kamar tersebut menuju ruang keluarga.
"gilaa ini gilaaa."kata Agus tidak habis pikir melihat apa yang terjadi di rumah nya dulu.
"wanita ular itu benar-benar gila,dia ingin membunuh darah dagingnya sendiri."kata Agus.
"jika aku tahu kalian akan kesana aku akan membunuh wanita ular itu langsung dengan kedua tangan ku."kata Jimi.
"sudah lah sekarang kita tahu jika Levin hanya di jadikan boneka oleh wanita itu."kata Triyas.
"setelah ini apa yang akan kalian lakukan kepada Levin?"tanya Adriana.
Agus, Jordi dan Jimi diam sejenak hingga Jordi membuka suara.
"bagaimana pun dia juga korban dari wanita ular itu."kata Jordi.
"tapi dia telah membunuh papa."kata Jimi.
"itu bukan kemauan nya dia pun tertekan Jim."kata Jordi.
"bagaimana menurut mu Anya?"tanya Agus.
"terserah kalian saja."kata Adriana.
"kita akan merawat nya hingga sembuh dan membiarkan dia memilih jalan yang ingin dia ambil nanti."kata Jordi.
"ya memang sebaiknya seperti itu."kata Triyas.
"baiklah aku pergi dulu."kata Adriana.
"mau kemana lagi?"tanya Jimi.
"ingin menjemput Dea."kata Adriana.
"bukan kah dia membawa mobil?"tanya Jordi.
"ya aku menyuruh Hendry membawa pulang mobil itu tadi."kata Adriana.
"ya sudah hati-hati."kata Agus.
"daaah."kata Adriana melambaikan tangan pergi.
dan ada dua orang sedang melawan orang-orang tersebut.
Adriana menepikan mobilnya dan berjalan ke arah mobil yang sedang di buka paksa.
"hai"sapa Adriana santai.
"siapa kamu?"tanya dua orang tersebut.
"bukan siapa-siapa."jawab Adriana.
"jangan ikut campur sebaiknya kamu pergi sebelum kami menghabisi mu."ancam dua orang tersebut.
"hahaha."tawa Adriana.
"dasar gadis gila."kata dua orang tersebut menyerang Adriana secara bersamaan namun Adriana dengan sekali serangan membuat dua orang tersebut mati dengan isi perut yang keluar.
"hahahaha aku sangat suka bau ini."kata Adriana mencium bau darah yang ada di pisaunya.
semua orang yang melihat kejadian itu takut dan ingin kabur namun mereka harus membawa orang yang ada di dalam mobil itu kepada bos mereka.
mereka mulai menyerang Adriana secara bersamaan namun mereka yang berjumlah sepuluh orang mati mengenaskan.
dua orang bodyguard yang melawan penjahat tadi takut namun Adriana memanggil mereka.
"sebaiknya kalian menambah teman."kata Adriana ingin pergi tapi orang yang ada di dalam mobil tersebut keluar dan memeluk Adriana.
Adriana yang di peluk mematung dan tidak membalas pelukan seorang wanita yang ternyata adalah Sintya.
"makasih lagi-lagi kamu menolong Tante."kata Sintya melepas pelukannya pada Adriana.
"tidak masalah sebaiknya anda pulang sekarang."kata Adriana ingin pergi namun di tahan Sintya.
"tunggu bisakah kamu mengantar Tante pulang? Tante takut jika nanti akan di cegat lagi."kata Sintya.
"anda bisa menelpon anak atau suami suami."kata Adriana.
"ponsel Tante mati."kata Sintya menunjukkan ponsel yang sengaja di matikan tadi saat masih di dalam mobil.
"baik lah tapi saya harus menjemput adik saya dulu."kata Adriana.
"ya tidak apa-apa."kata Sintya.
Sintya mengisyaratkan 2 bodyguard nya untuk pulang terlebih dahulu.
Adriana dan Sintya Mauk kedalam mobil, Adriana pun melakukan mobilnya pergi ke kampus Dea.
di kampus Dea sudah menunggu lama dan sudah menelepon Adriana berkali-kali tapi tidak diangkat, akhirnya dia ingin menelpon Jordi namun Adriana sudah sampai di depannya.
Dea mengetuk kaca mobil Adriana.
setelah Adriana membuka kaca mobil Dea mulai mengomeli Adriana.
"kamu sudah kemana Anya? apa kamu tahu aku sudah lama menunggu? seharusnya kamu tidak menyuruh Hendry mengambil mobil jika kamu ada urusan."omel Dea.
sssssst....
Adriana menaruh jari telunjuk nya di mulut Dea dan mengisyaratkan Dea melihat ke dalam mobil,Dea akhirnya melihat kedalam mobil dan menemukan Sintya di dalam.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hai readers ๐
Ada yang kangen author gak?
author up lagi niih โบ๏ธ
untuk tetap support author jangan lupa like,komen,share,vote,dan jadikan novel ini menjadi novel favorit kalian ๐
MAAF JIKA ADA TYPO BERTEBARAN KARENA AUTHOR MASIH DALAM PROSES BELAJAR DAN INI MERUPAKAN NOVEL PERTAMA AUTHOR๐
sampai jumpa di up selanjutnya ๐
annyeong ๐