
di rumah sakit saat ini cuacanya begitu cerah terlihat Agus yang sedang menatap Anya yang masih memejamkan matanya dan belum sadarkan diri dari semalam.
"Anya kenapa kamu belum bangun juga."keluh Agus dalam hati.
"sebaiknya kamu Sarapan dulu Gus."kata jidan dan jordi datang membawa sarapan.
"hmm."kata Agus yang mengambil makanan tersebut dan memakannya.
tak berselang lama dokter datang untuk memeriksa keadaan Adriana.
"kenapa dia belum bangun juga dok?"tanya Jordi.
"keadaan nya sudah membaik mungkin sebentar lagi dia akan bangun."kata dokter menjelaskan.
"kau bilang mungkin? ah dokter macam apa kau ini aisssh."gerutu Agus yang dapat di dengar oleh semua yang ada di ruangan itu.
mendengar gumaman Agus membuat jidan dan Jordi seketika menatap nya.
"maaf tuan tapi saat ini kondisi nona Adriana sudah baik-baik saja dan dia hanya tertidur."kata dokter tersebut mencoba menjelaskan.
"jika sampai satu jam dia tidak bangun akan ku buat kau tidak bangun selamanya."kata Agus masih memakan makanannya tanpa merasa berdosa.
mendengar perkataan Agus dokter tersebut menelan ludahnya.
"i...iya tuan kalau begitu saya permisi."kata dokter keluar dari ruangan Adriana.
melihat situasi yang terjadi jidan dan Jordi menggelengkan kepala mereka.
Adriana perlahan-lahan membuka matanya dan yang pertama dia lihat adalah tiga orang laki-laki tampan yang sedang berdiskusi.
"kak."kata Adriana yang membuat ketiga lelaki tersebut menoleh kearahnya.
"kau sudah sadar."kata Agus berjalan ke arah Adriana.
"hmm."singkat Anya.
"apa kau butuh sesuatu?"tanya jidan.
"makanan."kata Adriana.
Jordi mengambilkan makanan yang di antar suster tadi. Adriana berniat mengambil makanan tersebut namun di cegah oleh Jordi.
"biar aku yang menyuapi mu."kata Jordi.
Adriana tidak menjawab dan Jordi mulai menyuapi Adriana.
"syukurlah kau sudah bangun jika tidak dokter yang menangani mu tidak bisa melihat hari esok."kata jidan.
"hah?"kata Adriana bingung.
"ya kau punya kakak yang gila."kata Jordi.
"siapa?"tanya Adriana lagi.
"siapa lagi kalau bukan ...."kata jidan menunjuk Agus dengan dagunya.
Adriana hanya tersenyum dan merasa bahagia ternyata masih ada setitik takdir yang menginginkan dia bahagia.
"kenapa kau tersenyum?"tanya Agus heran.
"tidak,aku hanya bahagia bisa bertemu kalian."kata Adriana.
"tidak Anya,kami lah yang bahagia bertemu dengan mu andai saja waktu itu kau tidak..." kata Agus tertahan di sela oleh Adriana.
"kita sama-sama bahagia."kata Adriana.
"apa aku boleh pulang?" tanya Adriana kepada kakak-kakak nya.
"sebaiknya kau diam di sini sampai keadaan mu benar-benar baik."kata Agus.
"aku bosan dan aku akan mengurus sesuatu yang penting."kata Adriana.
"tidak ada yang lebih penting dari kesehatan mu."kata jidan.
"tapi bosan." keluh Adriana.
"kau harus diam Disni sampai keadaan mu sudah baik dan dokter mengijinkan mu pulang."kata Jordi tegas
"huuh."keluh Adriana.
dia mengambil ponselnya dan mulai memainkannya.
Adriana sedang melihat kondisi keluarga dan hubungan adiknya.
"kalian terlihat sangat bahagia rupanya."kata Adriana dalam hati.
"tunggu aku."katanya lagi.
melihat Adriana tersenyum mengerikan setelah melihat ponselnya membuat jidan,Jordi dan Agus saling tatap.
"bagaimana persiapan perusahaan?"tanya Anya pada kakak-kakaknya.
"sudah sembilan puluh lima persen kita tinggal membuka nya saat kau sudah sembuh."kata jidan.
"bagus, sepertinya aku membutuhkan otak kalian kak."kata Adriana.
"apapun untuk adik kami."kata mereka serempak.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hai readers ๐
author up lagi niih โบ๏ธ
untuk tetap support author jangan lupa like,komen,share,vote,dan jadikan novel ini menjadi novel favorit kalian ๐
maaf jika masih ada typo bertebaran karena author masih dalam proses belajar dan novel ini merupakan novel pertama author โบ๏ธ
sampai jumpa di up selanjutnya
annyeong ๐