
urung kondor 👆🏻 kalian bisa langsung search di Google jika penasaran seberapa besar dan bagaimana caranya memakan daging)
sesampainya di villa ternyata Sintia dan Alvano menunggu kepulangan Adriana.
melihat Adriana di gendong Devano membuat Sintia dan Alvano merasa khawatir.
"ah ada apa ini? sayang apa kamu baik-baik saja? apa ada yang terluka?bagaian mana yang terluka? ah darah kita harus segera ke rumah sakit pa." Sintia memeriksa keadaan Adriana sebelum menyuruh Alvano membawa Adriana ke rumah sakit.
Alvano akan menghubungi seseorang namun Adriana menghentikan nya.
"pa tunggu... aku baik-baik saja, aku tidak terluka tapi kalian tahu sendiri Devano seperti apa."
"tapi ini darah sayang."Sintia memegang baju Adriana yang terdapat bekas darah.
"bukan darah ku tapi darah pencuri."
"haaaah syukurlah kamu baik-baik saja, apa pencuri nya sudah di tangkap? apa barang yang di curi sudah berhasil di temukan?"tanya Sintia.
"iya pencuri nya langsung di tangkap tuhan tapi aku tidak tahu dia di masukkan ke sel mana,dan untuk barang yang di curi sekarang dia sedang menggendong ku."
"maksud nya Dev..." ucap Alvano menunjuk Devano.
"iya pa, jika aku tidak datang mungkin kalian akan mendapat menantu baru." kata Adriana mencibir Devano.
"apa maksudnya Dev."Alvano dan Sintia menatap Devano tajam.
"ak..."
"dia ingin menikah lagi."potong Adriana.
"apa?"teriak Sintia dan Alvano.
"Dev aku tidak pernah mengajari mu tidak setia pada satu wanita, sekarang aku bingung apa kamu benar-benar anak ku?"marah Alvano.
"jika kamu benar-benar mengkhianati Adriana kamu bukan anak mama lagi."wajah Sintia merah karena marah.
"urus anak mu itu jangan pernah tidur bersama ku jika dia tidak menyadari kesalahannya."ucap Sintia menatap Alvano sinis lalu membantu Adriana turun dari gendongan Alvano dan membawanya pergi meninggalkan dua laki-laki itu.
"Dev ini semua karena salah mu." Alvano mulai memukul Devano dan terjadilah perkelahian antar mereka berdua hingga mereka berdua sama-sama lelah dan merebahkan diri mereka di sofa.
"hah...hah.. papa tidak mau tahu Dev kamu harus meyakini mama mu kalau kamu sudah menyadari apa yang kamu lakukan, papa tidak ingin tidur sendirian."kesal Alvano dengan Nafas terengah-engah.
"aku tidak punya niat untuk menikah lagi pa, aku hanya memprovokasi Adriana agar dia marah dan melakukan apa yang dia lakukan dulu Entah kenapa aku sangat ingin melihatnya seperti dulu."jelas Devano.
"apapun alasannya papa tidak mau tahu, papa tidak bisa tidur sendirian sekarang cepat ke kamar mama mu dan yakini dia."Alvano melempar bantal tepat di wajah Devano.
Devano bangun dari duduknya.
"aku lelah pah mungkin besok saja jika aku mengingat nya."Devano berlari masuk ke kamarnya setelah berbicara seperti itu.
"Devano kembali kamu dasar anak kurang ajar."teriak Alvano.
"dia yang melakukan hal bodoh kenapa aku kena getah nya aishhh aku harus tidur di luar sekarang,aku sangat menyesal membeli villa kecil ini." Devano mengacak rambut nya prustasi.
di dalam kamar sekarang Devano tengah menatap Adriana yang sedang sibuk manicure dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"honey apa kamu tidak merasa bersalah?"tanya Devano mendekati Adriana.
"kenapa aku harus merasa bersalah?"tanya Adriana.
"kamu sudah membuat papa tidur di luar malam ini."
"kenapa yang harus di salahkan aku? kamu memang mengatakan ingin menikah lagi bukan? menikah ya menikah saja sana, apa perlu aku bantu mencari gedung dan mencetak undangan untuk mu?" Adriana berbicara acuh tak acuh.
"honey aku tidak serius mengatakan nya. kamu tahu sendiri aku tidak bisa tanpa kamu, aku hanya ingin melihat kamu marah dan berubah menjadi seperti dulu."
"kenapa menginginkan ku menjadi seperti dulu sekarang? setelah kamu berusaha untuk merubah ku?"tanya Adriana bingung menghentikan aktivitasnya.
"aku juga tidak tahu, tapi aku sangat ingin kamu seperti dulu sekarang." Devano duduk di samping Adriana lalu memeluk nya.
"dasar aneh." Adriana melanjutkan aktivitas nya kembali.
Devano memegang perut Adriana lalu mengusap nya lembut namun lima menit setelah nya dia menyadari kejanggalan.
"honey apa kamu tidak merasa ini aneh?"tanya Devano.
"aneh kenapa?"
"perut mu sudah sedikit membesar."
"Dev apa kamu bercanda? aku sedang hamil jika kamu lupa."
"aku tahu kamu sedang hamil,tapi perut mu seharusnya belum sebesar ini."
"hmmm aku dan mama juga berpikir begitu."Adriana mengelus perutnya.
"astaga."Devano baru ingat sesuatu.
"Dev kamu mengagetkan ku." kesal Adriana.
"hmm ini salah mu."
"honey...."
"Dev aku jadi takut apa mungkin aku tidak hamil? orang hamil normal tidak seperti ku." Adriana menunduk lesu.
"kita akan pergi ke dokter besok pagi."
"ini bukan negara A."
"lalu apa masalah nya? aku akan mencari dokter terbaik di negara ini untuk memeriksa mu besok pagi."
"tapi jika aku tidak hamil dan ini semacam penyakit bagaimana?"tanya Adriana menggigit kukunya.
"berhenti menggigit kuku mu seperti itu dan jangan berpikir aneh-aneh kita akan tahu besok pagi."
"tapii...."
"aku akan mencari dokter terbaik di seluruh dunia ini untuk menangani mu."
"sudahlah cepat tidur besok kita akan pergi ke rumah sakit."
"Dev kamu belum mandi."
"aku akan mandi terlebih dahulu." Devano ingin beranjak pergi dari ranjang.
"aku ikut Dev."
"tidak tidak kamu sudah mandi lagi pula ini sudah malam udara nya juga dingin."
"tapi Dev."Adriana mengeluarkan puppy eyes nya.
"tidak honey ini sangat dingin."
"ada air hangat."
"haah baiklah kemari."Devano merentangkan tangannya.
Adriana berlari kecil menghampiri Devano.
"aneh Adriana seperti tiga orang yang berbeda." gumam Devano dalam hati.
sedangkan Alvano sekarang sudah berada di Devano kamar nya dan Sintia dia terus membujuk Sintia dengan berbagai cara.
"sayang tolong buka pintunya, aku sudah berbicara pada Devano dan dia menyadari kebodohannya tolong buka pintunya." Sintia masih tidak mau membuka pintu.
"sayang di luar sangat dingin aku bisa saja mati kedinginan di sini jadi tolong buka pintunya."
akhirnya Sintia membuka pintunya juga.
"cepat masuk." ketus Sintia.
"dasar anak kurang ajar, ini semua gara-gara dia sudah ku bilang sejak awal aku tidak menginginkan anak karena tidak mau kejadian ini ada." kesal Alvano.
"apa kamu bilang."
"tidak-tidak aku tidak mengatakan apapun."
.
.
.
.
.
.
Hai readers 👋
Ada yang kangen Adriana gak?
ini season 2 dari Adriana ☺️
btw makasih banget yang udah nunggu dan selalu dukung author 🥺
sayang kalian banyak-banyak 😘
TOLONG MAMPIR KE CERITA RAI YA !!!!
anak² ku di sana butuh kalian🥺
untuk tetap support author jangan lupa like,komen,share,vote,dan jadikan novel ini menjadi novel favorit kalian 😚
jangan lupa bintang lima nya ya🤭
MAAF JIKA ADA TYPO BERTEBARAN KARENA AUTHOR MASIH DALAM PROSES BELAJAR😁