
"honey are you ok?" Devano dengan raut wajah khawatir nya mulai memastikan jika Adriana tidak apa-apa.
"Dev perut ku sakit." Adriana memegang perutnya.
tanpa berbicara apapun lagi Devano dengan cepat menggendong Adriana pergi menuju rumah sakit,Agus yang melihat hal tersebut mengikuti Devano.
sesampainya di rumah sakit Devano langsung pergi menuju dokter kandungan dan langsung masuk tanpa permisi.
"cepat periksa istri ku, jika terjadi apa-apa padanya kamu akan menanggung nya."ucap Devano membuat dokter tersebut menelan ludahnya.
tiba-tiba Agus datang dan langsung masuk tanpa permisi dia sama paniknya dengan Devano.
"ada apa dengan Anya?"tanya Agus.
"tiba-tiba perutnya keram."
"aishh sial."maki Agus.
setelah beberapa waktu memeriksa Adriana akhirnya dokter tersebut menemui Devano dan Agus.
"kondisi nyonya Adriana sudah lebih baik sekarang tapi saya sarankan nyonya Adriana tidak terlalu lelah mengingat dia sedang mengandung tiga bayi."jelas dokter.
"apa kamu sudah memeriksa nya dengan benar." Agus menatap dokter tersebut dengan tatapan mengintimidasi membuat dokter tersebut mati-matian menetralkan rasa takutnya.
"saya sudah memeriksa nyonya Adriana dengan sebaik yang saya bisa lakukan."
"baguslah."
"nyonya Adriana Juga tidak perlu di rawat inap tapi tolong pastikan vitaminnya jangan lupa di minum, sebaiknya nyonya Adriana menggunakan kursi roda untuk meminimalisir hal-hal yang tidak di inginkan."jelas dokter.
"baiklah."
Devano akhirnya menggendong Adriana lagi karena dia tidak ingin Adriana memakai kursi roda yang ada di rumah sakit itu.
"lain kali jangan membuat mommy kalian merasa sakit lagi ya baby."di dalam mobil Devano menyetir dengan satu tangan dan mengelus perut Adriana dengan tangan yang satunya lagi.
"karena Daddy tidak akan mentolerir nya lagi."sambung nya lagi dengan nada yang terlihat seperti nada ancaman.
tak butuh waktu lama untuk mereka tiba di mansion.
ternyata di dalam mansion semua orang tengah menunggu kepulangan mereka.
"bagaimana? apa menantu mama baik-baik saja? cucu mama tidak apa-apa kan? haaah seharusnya kalian tidak boleh membiarkan nya pergi bermain seharian ini."omel Sintia begitu melihat Adriana tertidur di gendongan Devano.
"istri ku tidak apa-apa ma, dia hanya kelelahan saja."
"benarkah tidak ada hal serius?" kini Jidan membuka suara.
"iya aku bisa pastikan itu, tapi dokter menyarankan agar Adriana menggunakan kursi roda untuk sementara waktu."jelas Devano.
"kursi roda? kamu bilang Anya tidak apa-apa tapi kenapa dokter menyarankan nya menggunakan kursi roda?"tanya Tirta serius.
"iya karena ibu hamil cepat lelah di tambah Adriana mengandung tiga anak sekaligus."
"dan ini semua karena kesalahan mu."ucap Agus yang tiba-tiba masuk.
"aku?"
"tentu saja, siapa lagi? jika kamu tidak membuat nya menjadi tiga sekaligus anyaku tidak akan seperti ini, ini semua karena salah mu."Agus kekeh menyalahkan Devano.
"kenapa jadi aku, aku membuat nya hanya sekali dan mereka langsung jadi seharusnya yang kamu salahkan mereka bukan aku, kenapa mereka jadi tiga sekaligus menyusahkan istriku saja."kini Devano menyalahkan anak-anaknya yang masih di dalam perut Adriana.
"enak saja menyalahkan cucu ku."protes Sintia.
Adriana yang sebenarnya sudah bangun sejak keluar dari mobil mendengar perdebatan tersebut menghembuskan nafasnya kasar.
"bisakah kalian jangan berdebat seperti ini, aku ingin istirahat."keluh Adriana.
Dengan spontan Sintia, Agus dan Devano meminta maaf kepada Adriana.
begitulah keadaan di mansion keluarga Adriana dan Devano setiap hari selama masa kehamilan Adriana tak terasa kini kandungan Adriana sudah menginjak lima bulan,perut Adriana sudah membesar dan bahkan lebih besar dari perut orang hamil pada umumnya.
Adriana masih mengidam dengan cara yang sama, terkadang Adriana ingin sekali menyiksa orang dan ada saja yang masih ingin menjadi korban Adriana,terkadang juga Adriana selalu menginginkan hal-hal dengan harga yang luar biasa mahalnya dan terkadang dia mengambil pekerjaan Devano,Jidan dan Tirta untuk dia kerjakan.
seakan memiliki tiga kepribadian namun Adriana selalu mendapatkan apa yang dia inginkan saudara-saudara nya, suaminya dan mertua nya pun kompak untuk memenuhi keinginannya.
seperti hari ini target Adriana adalah Dea, Adriana mengajak Dea pergi ke kantor Gilang dengan alasan yang tidak masuk akal.
"Kanya kenapa mengajakku kesini?"tanya Dea.
"tidak ada aku hanya ingin melihat Gilang, akhir-akhir ini aku jarang melihat nya karena mengurus orang tuanya yang kolot itu."
sesampainya di ruang kerja Gilang ternyata dia tengah berdebat dengan papa nya untuk pergi menjemput Brielle di bandara karena dia baru pulang setelah pergi liburan bersama keluarganya.
"dasar anak kurang ajar, aku hanya menyuruh mu menjemput Brielle lagi pula dia calon istri mu."bentak
Sanjaya.
"bermimpilah." Devano masih tidak mengalihkan pandangannya dari laptop hingga suara Adriana berhasil mengalihkan pandangannya begitupun Sanjaya.
"aah ternyata kamu sibuk Lang."ucap Adriana.
"Adriana,Dea."ucap Gilang.
"kenapa tidak memberitahu ku jika kalian datang."
"apa kami tidak boleh datang?"sinis Dea.
"sayang bukan seperti itu."ucap Gilang menghampiri Dea dan menghiraukan Sanjaya.
"Gilang."bentak Sanjaya.
"apa lagi pa sudah ku katakan aku tidak mau menjemput wanita itu."kesal Sanjaya.
"jangan sentuh adikku."ucap Adriana tiba-tiba saat Gilang ingin memegang tangan Dea.
Gilang dan Dea mengernyitkan dahi mereka.
"aku mengajakmu kesini bukan untuk melihat mu bermesraan dengan gilang Dea."ucap Adriana.
terlihat jelas tanda tanya di wajah Dea.
"tampar Gilang sekarang!"
"apa?"semua orang termasuk Sanjaya terkejut.
"iya tampar aku ingin melihat mu menampar Gilang sekarang."kata Adriana penuh keyakinan.
"tapi Adriana apa salahku?"tanya Gilang bingung.
"tidak ada, aku hanya bermimpi Dea menampar mu semalam dan sepertinya anak-anakku ingin mewujudkan mimpi itu."ucap Adriana konyol tanpa rasa bersalah.
"apa?" sekali lagi Gilang tak percaya apa yang di katakan Adriana.
"jangan kurang ajar kamu."ucap Sanjaya pada Adriana."
"ayolah Lang demi calon keponakan mu apa kamu tidak mau."rengek Adriana seperti anak kecil menghiraukan perkataan Sanjaya.
Gilang menghirup nafasnya dalam-dalam, jika tidak dia iya kan selain Devano menyalahkan nya dia juga tidak akan mendapat restu dari seluruh keluarga AZ tapi jika dia ia kan dia juga akan di rugikan pikirnya.
namun Gilang mengiyakan permintaan Adriana dan....
plaaak....
seperti nya Dea punya dendam pribadi yang dia salurkan dari ngidamnya Adriana karena setelah menampar Gilang dia hanya menyengir kuda melihat Gilang kesakitan.
.
.
.
.
.
Hai readers 👋
Ada yang kangen Adriana gak?
ini season 2 dari Adriana ☺️
btw makasih banget yang udah nunggu dan selalu dukung author 🥺
sayang kalian banyak-banyak 😘
TOLONG MAMPIR KE CERITA RAI YA !!!!
anak² ku di sana butuh kalian🥺
untuk tetap support author jangan lupa like,komen,share,vote,dan jadikan novel ini menjadi novel favorit kalian 😚
jangan lupa bintang lima nya ya🤭
MAAF JIKA ADA TYPO BERTEBARAN KARENA AUTHOR MASIH DALAM PROSES BELAJAR😁