ADRIANA

ADRIANA
SEASON 2 part 21



Agus,Jimi, Jordi, Jidan, Tirta, Dea, Adriana dan Devano pergi bersama ke markas Redfox yang baru.


di sana Maxim Hendry,dan Will sudah mempersiapkan semuanya atas perintah Jordi.


kali ini benar-benar spesial karena untuk pertama kalinya Dea melakukan hal yang tidak pernah dia bayangkan.


namun marah nya pada wanita itu benar-benar mengalahkan rasa takut nya, bukan marah karena di siram tapi marah karena melihat wanita itu menghina Adriana.


Dea sangat menyayangi Adriana dan saudara-saudaranya yang lain mungkin jika dia tidak bertemu Adriana waktu itu dia sudah mati dan tidak bisa merasakan bahagia hari ini.


sesampainya di sana mereka tidak langsung pergi ke ruang eksekusi, mereka duduk di taman mansion.



(gambar hanya sebagai contoh)


"Dea apa kamu yakin bisa melakukan nya?"tanya Jidan khawatir.


"jangan meremehkan ku kk."


"aku sama sekali tidak meremehkan mu hanya saja ini hal baru untuk mu."


"bagaimana bisa aku tahu aku bisa atau tidak melakukannya jika aku tidak mencoba."


"melihat keyakinan mu itu aku benar-benar takjub, jika nanti kamu meminta untuk berhenti kami akan menghukum mu untuk tidak keluar mansion selama seminggu." kata Jordi.


"tentu, tapi jika aku bisa aku mau punya mobil sendiri dan menyetir sendiri." ujar Dea.


"tidak akan."kata Adriana.


"maaf Dea jika Anya sudah berkata seperti itu kami tidak bisa memberikan izin."ejek Jimi.


"huh tidak Adil sekali."keluh Dea.


"jika kamu berhasil melakukan nya sampai akhir aku akan membelikan mu pulau pribadi." kata Adriana


"untuk apa pulau pribadi jika aku tidak bisa ke sana dan menikmati jalan-jalan ku." Dea cemberut.


"jika kamu tidak mau pulau pribadi aku akan menjadi supir mu selama satu tahun." kata Jordi.


"itu sih mau kalian saja,aku kan juga butuh privasi sendiri."


"apa anak kecil seperti mu butuh privasi?" tanya Adriana konyol.


"huh kanya aku bukan anak kecil kita hanya berbeda satu tahun saja dan lagi aku sudah punya kekasih."


"hmm benarkah? tapi kurasa kamu masih suka menangis jika tidak menemukan siapapun di mansion jika kamu habis pulang dari suatu tempat." ejek Jimi.


"kalian memang benar-benar kompak jika soal mengejek ku."kesal Dea.


tiba-tiba Maxim datang memberitahu jika Celia memberontak dan berusaha untuk kabur bahkan dia mencoba mengelabui Will, untung saja Will adalah manusia berhati batu dan cukup pintar membaca gerak-gerik tubuh seseorang.


"maaf tuan,nona wanita itu berusaha untuk kabur dan mencoba mengelabui Will." ujar Maxim.


"dia mencoba mengelabui si batu? waah bodoh sekali." kata Jimi.


"sudah sebaiknya kita mulai sekarang aku benar-benar tidak sabar melihat Dea melakukan nya." Adriana berdiri Devano dengan sigap ikut berdiri di ikuti yang lain.


mereka pergi ke ruang eksekusi dan sesampainya disana terlihat Will yang menatap jijik pada Celia.


"Ada apa Will?"tanya Adriana.


"tidak ada nona."


"aku tidak tahu jika tipe wanita mu seperti ini." Adriana santai duduk di sofa yang sudah di persiapkan memang untuk nya atas suruhan Devano.


"itu dulu nona, dulu aku masih buta tidak bisa membedakan manusia dan hewan."sarkas Will.


"wow Will omongan mu masih tetap sama." kata Tirta tepuk tangan.


"terimakasih atas pujiannya tuan."


"sudah cukup buang-buang waktu nya,Dea mulai sekarang keponakan mu sudah tidak sabar." Adriana mengelus perutnya.


Dea berjalan menghampiri Celia dengan wajah mengejek milik nya, melihat hal tersebut membuat Celia merasa sedikit takut.


"ma...mau apa kamu? jangan mendekat cepat lepaskan aku."teriak Celia.


"ah jangan meneriaki ku, suara mu sangat tidak bagus masuk ke telinga ku." Dea memegang wajah Celia lalu kuku nya yang panjang dia tekan di sana lalu menggoresnya hingga wajah Celia mengeluarkan darah.


"Aww bagaimana ini,jika seperti ini semua agensi tidak akan ada yang menerima mu hahaha." Dea tertawa menyeramkan sedangkan Celia menangis kesakitan.


"ini bahkan baru ku mulai kamu sudah menangis seperti ini tidak seru sekali." protes Dea.


"tutup mulut mu dan berhenti menangis atau...."


Dea mengambil pisau kecil lalu menancapkan nya di kaki Celia.


"aaaaaaaa."teriak Celia.


"sorry aku sengaja hahaha."


"sayang sekali kaki berharga mu tidak bisa berjalan di atas catwalk." Dea menutup mulutnya.


"ah iya tangan mu sangat jelek aku tidak suka." Dea beralih melihat tangan Celia, dia menggores tangan Celia lincah hingga darah menetes dari setiap goresan yang dia buat.


tiba-tiba...


hoekk...Hoek...


Adriana muntah di baju Devano, Devano tidak marah sama sekali dia hanya mengkhawatirkan Adriana.


"honey are you ok hmm?"


"sudah Devano bawa Anya ke kamarnya, biar kami yang menyelesaikan ini." kata Jidan khawatir.


tanpa menunggu lama Devano menggendong Adriana menuju kamar nya yang ada di markas tersebut.


sesampainya di dalam kamar dia membantu Adriana membersihkan diri nya tidak lupa dia juga karena bekas muntah Adriana.


setelah membersihkan diri dia membantu Adriana berpakaian sedangkan dia masih mengenakan handuk saja.


"honey apa rasa mual mu sudah hilang? apa kita harus ke rumah sakit? aku akan menelpon Riza sekarang." Devano mengambil handphone nya ingin menghubungi Riza namun Adriana menahan nya.


"aku sudah tidak apa-apa Dev,mual ku sudah hilang aku hanya ingin kamu memeluk ku." entah kenapa dada bidang dan perut sixpack milik Devano benar-benar menggoda di mata Adriana.


Devano tersenyum lalu naik ke atas ranjang dan mulai memeluk Adriana sedangkan yang di peluk sekarang tengah sibuk mengelus perut sixpack Devano.


"hanya aku yang boleh menyentuh nya."


"tentu."


"hmm Dev aku ingin memiliki kebun anggur." kata Adriana tiba-tiba.


"kebun anggur? apa kamu yakin honey? selama ini kamu sangat tidak suka anggur."


"tidak-tidak aku yakin aku mau kebun anggur sekarang Dev." Adriana mendongak menatap Devano dengan tatapan memohon.


"tentu."


Devano mengambil handphone nya lalu menghubungi Riza.


"Riza istriku ingin memiliki kebun anggur aku ingin kebun anggur nya sudah siap dalam waktu lima menit." kata Devano to the poin setelah panggilan nya tersambung dan Langsung mematikan nya secara sepihak tanpa mendengar jawaban dari Riza.


"haah tugas apa-apaan ini, tuaan aku bukan penyihir."keluh Riza namun mau tidak mau,bisa tidak bisa dia harus menyiapkan kebun anggur itu jika dia masih ingin melihat dunia dengan indah.


akhirnya dia membeli kebun anggur milik pengusaha minuman terbesar di negara tersebut meskipun dengan cara sedikit memaksa dan dengan bayaran yang sangat pantastis.




(gambar hanya sebagai contoh)


.


.


.


.


.


.


.


Hai readers 👋


Ada yang kangen Adriana gak?


ini season 2 dari Adriana ☺️


btw makasih banget yang udah nunggu dan selalu dukung author 🥺


sayang kalian banyak-banyak 😘


TOLONG MAMPIR KE CERITA RAI YA !!!!


anak² ku di sana butuh kalian🥺


untuk tetap support author jangan lupa like,komen,share,vote,dan jadikan novel ini menjadi novel favorit kalian 😚


jangan lupa bintang lima nya ya🤭


MAAF JIKA ADA TYPO BERTEBARAN KARENA AUTHOR MASIH DALAM PROSES BELAJAR😁


sampai jumpa di up selanjutnya 😉