
hari pun semakin sore tak terasa Devano sudah seharian ini hanya sibuk diruangannya.
"akhirnya kau selesai juga."kata Devano melihat kertas menumpuk di hadapannya.
"haaah."Devano menghembuskan nafasnya kasar dan bersandar di kursi kerja nya.
"waah ternyata tuan Devano yang terhormat bisa lelah juga"kata Gilang yang entah kapan masuk kedalam ruangan Devano.
"jika kamu hanya niat mengganggu sebaiknya enyah dari sini."datar Devano.
"kau selalu seperti itu tuan,hari ini aku mau menginap di rumah mu."kata Gilang.
"tidak."singkat Devano.
"aku tidak meminta izin aku hanya memberi tahu mu."kata Gilang.
"terserah kamu saja."kata depan beranjak ingin pergi dan Gilang hanya mengikutinya.
Devano dan Gilang kini menjadi pusat perhatian semua orang yang akan pulang karena ini sudah jam pulang kerja.
"lihat lah mereka tampan sekali."kata salah satu karyawan.
"beruntung sekali orang yang menjadi pendamping mereka."jawab yang satu lagi.
begitulah setiap hari, semua orang yang melihat Devano dan Gilang pasti berkata begitu. namun Devano dan Gilang hanya bersikap acuh tak acuh.
akhirnya setelah menempuh perjalanan selama empat puluh lima menit Devano dan Gilang sampai ke mansion Kusuma.
"selamat sore tuan muda Devano dan tuan muda Gilang."sapa pengawal yang berdiri di depan pintu utama.
Devano dan Gilang hanya menganggukkan kepala mereka.
"hai Dev kamu sudah pulang?"sapa Sintya pada Devano.
"iya ma."jawab Devano.
"eh Gilang ini udah tiga hari loh kamu nggak kesini."kata Sintya menggandeng tangan Gilang.
"iya mah Gilang di kantor banyak kerjaan."jawab Gilang.
"kalian berdua ini memang tidak bisa sehari saja tanpa pekerjaan,mama kan juga mau menantu."kata Sintya.
mendengar kata Sintya Devano dan Gilang langsung membuat alasan untuk pergi karena mereka tahu ini tidak akan berhenti.
"maa aku capek aku kekamar Devan dulu ya."kata Gilang.
"Devan juga ma, aku kekamar dulu ya."kata Devan mempercepat langkahnya mengejar Gilang.
"kalian ini yaa benar-benar,mama mau besok kalian bawakan mama menantu."teriak Sintya kesal.
"ada apa sih ma kenapa teriak-teriak."kata alvano berjalan dari arah ruang kerjanya.
"itu loh pah Devan sama Gilang menghindar terus kalo mama bahas mantu kan mama kesel."keluh Sintya pada alvano.
"aduuh mah biarin aja mereka kan masih muda." kata alvano.
saat ini di kamar Devano, Gilang dan Devano meletakkan tas mereka di sembarang tempat.
"haisss syukurlah kita selamat, padahal aku kesini karena menghindar dari mami."gerutu Gilang.
"sekarang kau tahu kan rasanya."ejek Devano.
"sudahlah aku mandi dulu."kata Gilang kesal keluar dari kamar Devano menuju kamar tamu.
sedangkan saat ini di kediaman AZ Adriana dan Dea sedang duduk di ruang keluarga dengan kesibukan masing-masing.
Dea yang sibuk menonton televisi dan Adriana yang sibuk dengan laptopnya.
Adriana melihat dokumen kantor dan mengerjakan nya lalu mengirimkan nya pada Jidan dan Tirta.
namun tak lama ponsel Adriana berbunyi.
dia melihat nomor tidak dikenal menelfon nya, awalnya dia tidak mau menjawab tapi satu pesan masuk terlihat.
"kak Adriana ini aku andinia tolong angkat telefon ku."isi pesan tersebut.
"ckh."kata Adriana yang bisa di dengar Dea.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hai readers ๐
author up lagi niih โบ๏ธ
untuk tetap support author jangan lupa like,komen,share,vote,dan jadikan novel ini menjadi novel favorit kalian ๐
maaf jika masih ada typo bertebaran karena author masih dalam proses belajar dan novel ini merupakan novel pertama author โบ๏ธ
sampai jumpa di up selanjutnya
annyeong ๐