
"sayang apa kamu memang sedang marah padaku, tamparan mu benar-benar menyakitkan."Gilang menatap Dea dengan wajah sedihnya.
"tidak,aku hanya memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin."jawab dea enteng.
"berani sekali kamu menampar anak saya."bentak Sanjaya menatap dea tajam.
"lihatlah wanita yang sangat kamu cintai ini dengan berani menampar mu di depan papa mu sendiri bagaimana jika kalian sudah menikah nanti apa dia akan membunuhmu di depan papa?"kini Sanjaya beralih menatap Gilang.
"bukan kah papa harus bersyukur karena Dea hanya menamparku saat dia mendengar papa menyuruhku menjemput wanita lain?"
"jika itu adalah Devano nona Adriana yang terhormat di depan papa ini mungkin akan menembak Devano saat itu juga."
"sudahlah aku kesini bukan untuk mendengar perdebatan kalian, karena sepertinya anak-anakku sudah puas aku dan Dea akan pergi." Adriana mengajak Dea pergi.
"Adriana kamu tidak bisa seperti ini biarkan Dea tetap di sini."Gilang menghentikan langkah Adriana.
"Gilang."bentak Sanjaya.
"aku tidak ingin adikku mendengar kata-kata kasar yang keluar dari mulut papa mu yang kolot itu, sebaiknya kamu cepat selesaikan permasalahan ini sebelum aku benar-benar membuat kamu tidak bisa bersama Dea lagi." ucap Adriana terdengar seperti nada ancaman sebelum pergi.
setelah kepergian Adriana dan Dea Gilang mengusap rambutnya kasar.
"pa apa tidak bisa papa dan mama berhenti sampai sini saja, aku tidak bisa kehilangan Dea, Adriana tidak pernah main-main dengan ucapannya." kata Gilang prustasi.
"jika seperti itu biarkan saja, itu sangat menguntungkan bagi papa dan mama, biarkan dia menjauhkan mu dari wanita itu, seharusnya kamu dan Devano tidak terlibat dengan keluarga tidak jelas itu."
"pa."Gilang meninggikan suaranya.
"kamu membentak papa hanya karena papa bilang mereka keluarga tidak jelas? di mana otak mu Lang?" bentak Sanjaya tidak mau kalah.
"haaah sebaiknya papa pergi, aku tidak mau kurang ajar terlalu jauh." Gilang berjalan duduk di kursi kerjanya.
"kamu benar-benar, papa harap Brielle bisa menyadarkan mu secepatnya." Sanjaya keluar dari ruangan Gilang.
setelah kepergian Sanjaya Gilang melempar pas bunga yang ada di mejanya, kepalanya penuh dengan ancaman yang di katakan Adriana tadi.
"bagaimana jika Adriana benar-benar menjauhkan Dea dari ku?"
"aku harus segera membereskan Brielle, Devano aku butuh bantuan Devano sekarang." Gilang mengambil ponsel nya lalu menghubungi Devano.
setelah panggilan nya tersambung terdengar suara prustasi dari Devano.
"ada apa?"
"ada apa dengan suara mu itu?"tanya Gilang balik.
"tidak ada, kenapa kamu menghubungi ku?"
"Dev tolong bantu aku, Adriana mengancam ku akan menjauhkan Dea dari hidup ku."
"apa kamu yakin itu sebagai ancaman? Adriana tidak pernah mengancam seseorang jika dia mau melakukan sesuatu."
"itu yang aku takutkan."
"jadi habisi saja Berto dan keluarganya semua akan berakhir kamu bisa hidup dengan tenang bersama Dea."
"tidak semudah itu."jawab Gilang lesu.
"apanya yang susah? kamu hanya tinggal mengangkat pistol mu lalu tembak satu persatu."
"haaah berbicara dengan mu seperti ini hanya akan membuat ku bingung."
"apa yang harus di bingung kan, jika aku kamu, aku akan benar-benar melakukannya aku tidak bisa kehilangan Adriana bahkan jika membunuh orang-orang yang menghalangi ku bersama Adriana adalah jalan satu-satunya aku akan melakukannya."
"aku bukan kamu."singkat Gilang.
"maka biarkan saja Adriana menjauhkan mu dari Dea dan mungkin aku akan membantu nya."
"sebenarnya kamu teman ku bukan sih?"kesal Gilang.
"kamu memang teman ku tapi Adriana istri ku." santai Devano.
melihat tidak ada jawaban dari Gilang padahal panggilan nya masih tersambung Devano menghembuskan nafasnya kasar.
"baiklah aku akan membantu mu, aku akan mengirimkan mu informasi yang mungkin akan berguna untuk mu jadi gunakan sebaik mungkin." akhirnya Devano mau membantu Gilang.
"terimakasih."singkat Gilang.
"hmm." Devano mematikan sambungan telepon nya lalu mulai mengirimkan informasi yang dia maksud pada Gilang.
melihat informasi tersebut Gilang tersenyum misterius.
"ini sangat membantu ku."Gilang langsung menelpon Berto.
"wah ada apa ini? kenapa menantu tersayang ku ini menelpon setelah dia menyakiti anak ku."
"mendengar suara mu seperti nya memang kamu sangat senang melihat ku menyakiti anak mu."
"apa maksud mu?" suara Berto mulai terdengar waspada.
"lihat apa yang aku kirimkan untuk mu."
di sebrang sana Berto sudah menerima email dari Gilang lalu mulai membuka email tersebut, seketika wajah nya menjadi pucat karena ternyata yang dikirimkan Gilang untuk nya adalah bukti-bukti Brielle membunuh orang.
"apa yang kamu inginkan?"tanya Berto dengan suara bergetar.
"waah Berto ternyata psikopat gila yang sedang di cari polisi adalah anak mu, aku benar-benar tidak menyangka." ucap Gilang dengan nada mengejek.
"jangan banyak omong apa yang kamu inginkan."
"batalkan perjodohan gila yang kamu buat dengan orang tua ku."
"tidak bisa anakku sangat mencintai mu, tidak bisakah kamu belajar mencintai nya?"
"hmm bagaimana ya."
"cobalah terima perjodohan ini Gilang atau anakku bisa saja membunuh kekasih mu itu saat ini juga karena sakit hati kamu selalu menolak nya."
mendengar hal tersebut ekspresi Gilang berubah drastis tatapan dingin yang menyeramkan benar-benar tergambar jelas di wajahnya.
"apa kamu yakin anak kesayangan mu bisa menyentuh kekasih ku seujung rambut pun?" tantang Gilang.
"kenapa aku tidak yakin bahkan kamu lihat sendiri bukti-bukti Brielle membunuh orang."
"jika kamu pikir anakmu bisa melakukannya maka coba saja."
"apa kamu tidak akan menyesali ucapan mu nanti?"
"ya silahkan saja dan kamu akan melihat ratu iblis sesungguhnya akan muncul bahkan jika kamu meminta bantuan hukum sekali pun tidak akan mempan dan saat itu juga kamu mengerti apa yang aku katakan."
"apa maksud mu?"
"jika kamu ingin tahu maka suruh anak mu menyentuh kekasih ku saat itu juga aku akan membuat anak mu benar-benar gila lalu menargetkan mu untuk di jadikan percobaan lalu saat nyawa mu sudah di ujung tanduk ratu iblis yang ku maksud akan menghabisi anak mu, saat itu kamu tidak bisa melakukan apapun karena kamu sudah tidak berdaya akibat anak kesayangan mu sendiri."
Berto mencerna perkataan Gilang hingga dia teringat dengan acara pertunangan yang hancur saat itu.
ya Dea adalah adik dari Adriana Zevanya, Adriana Zevanya terkenal dengan ratu iblis cantik yang berdarah dingin bahkan hukum negara pun tidak bisa menyentuh nya, Devano yang notabene nya adalah mafia pertama yang disegani semua negara pun bisa tunduk pada Adriana.
"aaah apa rencana ini terlalu rumit untuk mu cerna? kalau begitu ayo jalankan rencana kedua yang ku buat, bagaimana jika aku menjadikan anakmu target karena setelah dua tahun ini aku sudah tidak melakukan kesenangan ku lagi."
.
.
.
.
.
.
.
Hai readers 👋
Ada yang kangen Adriana gak?
ini season 2 dari Adriana ☺️
btw makasih banget yang udah nunggu dan selalu dukung author 🥺
sayang kalian banyak-banyak 😘
TOLONG MAMPIR KE CERITA RAI YA !!!!
anak² ku di sana butuh kalian🥺
untuk tetap support author jangan lupa like,komen,share,vote,dan jadikan novel ini menjadi novel favorit kalian 😚
jangan lupa bintang lima nya ya🤭
MAAF JIKA ADA TYPO BERTEBARAN KARENA AUTHOR MASIH DALAM PROSES BELAJAR😁