ADRIANA

ADRIANA
part 90



Adriana sampai di mansion tengah malam.


terlihat Agus, Tirta,dan Jidan mondar-mandir tidak karuan.


"kenapa kalian belum istirahat?"tanya Adriana yang membuat ketiga kakak beradik itu melihat ke arah Adriana.


"apa kamu baik-baik saja?"tanya Tirta.


"kamu habis dari mana?"tanya Jidan.


"apa ada yang menggangu mu?"tanya Agus.


"aku bertanya kenapa kalian bertanya balik?"kata Adriana Masih dengan raut wajah yang dingin.


semua orang saling tatap, mereka yakin jika Adriana masih marah pada mereka.


"apa kamu marah pada kami?"tanya Jidan.


"kami benar-benar minta maaf Anya."kata Tirta.


"istirahat lah."kata Adriana ingin pergi.


"Anya tolong jangan seperti ini,kami tidak memberi tahu mu karena kami tidak ingin kamu juga menjadi incaran pembunuh bayaran itu."kata Agus.


"kami akan menemukan pembunuh bayaran itu secepatnya."kata Jidan.


"tidak perlu,dia sudah mati bersama antek-antek dan tuanya."kata Adriana.


"Anya kamu...."kata Tirta.


"kak kita keluarga,baik aku, paman triyas,Dea atau pun kalian kita sekarang adalah satu keluarga, di dalam keluarga tidak ada kata melindungi yang satu melainkan kita harus saling melindungi satu sama lain."kata Adriana


"maafkan kami Anya."kata Agus.


"aku tidak suka saat kalian menyembunyikan apapun dari ku."kata Adriana.


"kami benar-benar minta maaf."kata Jidan menghampiri Adriana di ikuti Agus dan Tirta.


Agus, tirta dan Jidan memeluk Adriana.


"sekarang kita istirahat kalian pasti lelah karena aku juga sangat lelah."kata Adriana.


mereka berempat masuk kekamar mereka masing-masing untuk beristirahat.




keesokan harinya semua orang kecuali Jimi dan Jordi berkumpul di ruang makan untuk sarapan bersama.





setelah beberapa menit acara sarapan bersama dengan keheningan tersebut selesai dan mereka sudah berada di pintu utama.



"Anya,Dea apa kalian yakin akan pergi berdua?"tanya Agus.



"ya dan sebaiknya kak Agus menemani paman triyas kerumah sakit bertemu kak Jimi."kata Adriana.



"baiklah."kata Agus.



"kami pergi "kata Adriana pergi masuk kedalam mobil di ikuti Dea dan yang lain mulai masuk ke dalam mobil masing-masing.



"apa itu?"tanya Adriana pada Dea yang sedang memegang map.



"kebusukan 2 jalang sialan itu."kata Dea.



"ternyata kamu tak sebodoh yang aku kira."kata Adriana tersenyum.



"aku sudah belajar dari kalian."kata Dea.



"setelah semua selesai apa kamu akan kembali ke rumah itu?"tanya Adriana pada Dea.



"aku tidak bisa kembali kesana Anya."kata Dea.



Adriana hanya menatap Dea meminta Jawaban.



"rumah itu mengingat kan ku dengan ke Matian mama ku."kata Dea tersenyum nanar.



"sudahlah setelah ini bahagia lah tapi ingat jangan melibatkan hati dalam balas dendam."kata Adriana.



"iya kak."kata Dea.



setelah sampai di sana Dea mengetuk pintu sedangkan Adriana bersandar di salah satu tiang rumah itu.



seseorang membuka kan pintu dan orang tersebut adalah pelayan yang membukakan pintu untuk Adriana semalam.



"no...nona Dea."kata pelayan itu terbata-bata.



"hai."sapa Dea kali ini Dea terlihat sangat berbeda.



Dea masuk dan di ikuti oleh Adriana.



Dea dan Adriana melihat Rendra sedang memarahi Gabriella dan memaki istri nya karena telah membela Gabriella.



"wah wah keluarga yang sangat harmonis."kata Dea.



"Dea."kata Rendra.



"hai tuan Surendra."sapa Dea.



"dasar anak tidak tahu diri kenapa kamu di sini?"bentak ibu Gabriella.



"aku hanya ingin melihat keharmonisan keluarga kalian."kata Dea enteng.



"ah ternyata artis dadakan ada disini, bagaimana dengan hadiah yang ku berikan?"tanya Dea pada Gabriella.



"dasar wanita sialan kamu telah menghancurkan hidup ku."kata Gabriella marah ingin menyerang Dea.



"ekhem."kata Adriana berdehem yang membuat Gabriella tidak jadi menyerang Dea.



"ah iya tuan Surendra aku punya hadiah spesial untuk mu."kata Dea.



"Dea." panggil Rendra Nana menatap putrinya itu.



Dea memberikan map yang dia bawa kepada Rendra.


isi map itu adalah foto-foto ibu Gabriella dengan laki-laki lain dan ada kertas yang berisi bahwa Gabriella bukan anak kandungnya.



"ja...jadi"kata Rendra.




"kamu dan ibu mu sama-sama wanita tidak tahu diri Gabriella."bentak Rendra kini pada Gabriella.



"i...itu tidak benar sayang, anak tidak tahu diri itu telah memfitnah ku."kata ibu Gabriella meyakinkan Rendra.



sedangkan Gabriella sekarang hanya diam mendengar dia bukan anak Rendra.



"lepaskan aku, jangan pernah menghina anakku."kata Rendra menghempaskan tangan ibu Gabriella.



prok....prok...prok...



"hebat sekali anda tuan Surendra telah berani mengakui adik saya sebagai anak anda setelah anda buang hanya karena jalang rendah."kata Adriana.



"dasar gadis sialan seharusnya aku membunuh mu seperti ibu mu."kata ibu Gabriella ingin menyerang Dea.



namun dengan cepat Adriana mendorong wanita itu dengan keras hingga jatuh.namun dia kembali lagi ingin menyerang Dea dengan pisau buah yang ada di meja.



"aku akan membunuh mu sekarang gadis sialan."kata ibu Gabriella dengan cepat ingin menusuk Dea namun Rendra dengan cepat melindungi Dea dan dialah yang terkena tusukan tersebut.



"papa."kata Dea memegang papa nya yang jatuh.



"Dea sayang... maafkan papa belum bisa menjadi papa yang baik buat kamu."kata Rendra terbata-bata.



Dea hanya menggelengkan kepalanya sambil menangis.



"maafkan papa sudah membuang mu demi wanita gila itu,papa benar-benar menyesal sayang."kata Rendra.



"nona Adriana tolong jaga putri saya."kata Rendra menatap Adriana sebelum dia memejamkan mata.



"papa...papa..."kata Dea mengguncang tubuh Rendra.



"papa bangun papa..."kata Dea menangis pilu.



"hahahaha... dasar tua Bangka bodoh kamu mereka nyawa mu hanya untuk anak seperti dia dasar bodoh."kata ibu Gabriella tertawa.



ibu Gabriella ingin menyerang Dea namun pisau nya di tahan oleh Gabriella.



"Gabriella."kata ibu Gabriella menatap tidak percaya pada anaknya itu.



"hentikan ma."kata Gabriella.



"kenapa kamu menahannya bodoh."bentak mama Gabriella.



"aku bilang hentikan ma,mama sudah keterlaluan."kata Gabriella.



"dasar anak bodoh tidak tahu di untung lepaskan pisaunya aku akan membunuh gadis sialan itu."kata mama Gabriella.



"aku tidak akan membiarkan mama melakukannya."kata Gabriella.



"jika kamu menghalangi ku aku akan membunuhmu anak sialan."kata mama Gabriella menarik pisau itu dan menusuk Gabriella anaknya sendiri.



"mama."kata Gabriella.



"hahaha sudah ku katakan jangan ikut campur."kata mama Gabriella.



"Dea."kata Gabriella mengambil tangan Dea.



"tolong maafkan aku, maafkan aku atas semua kesalahan yang aku perbuat pada mu."kata Gabriella.



"iya Gabriella aku sudah memaafkan mu tapi aku tidak bisa memaafkan mama mu."kata Dea.



"terimakasih, terimakasih, te-ri-ma-ka-sih."kata Gabriella tidak sadarkan diri.



"dasar wanita gila." kata Adriana geram dan mengeluarkan pistol dari balik bajunya.



tapi sebelum dia menekan pelatuk pistol nya Dea terlebih dahulu menembak mama Gabriella tepat di jantung nya yang membuat mama Gabriella mati seketika.



"hahahhahaha dendam ku terbalaskan kak Anya."kata Dea menatap Adriana dengan tatapan kosong.



"kamu berhasil."kata Adriana menepuk bahu Dea.



"hallo Hendry masuk dan bereskan mayat jalang sialan ini."kata Adriana menelepon Hendry.



.


.


.


.


.


.


.


.


Hai readers 👋


Ada yang kangen author gak?


author up lagi niih ☺️


untuk tetap support author jangan lupa like,komen,share,vote,dan jadikan novel ini menjadi novel favorit kalian 😚



MAAF JIKA ADA TYPO BERTEBARAN KARENA AUTHOR MASIH DALAM PROSES BELAJAR DAN INI MERUPAKAN NOVEL PERTAMA AUTHOR🙏



sampai jumpa di up selanjutnya 😉



jangan lupa follow Ig author ya 👇


@ndiya252



annyeong👋