
saat tengah malam Adriana terbangun, alasannya lagi-lagi karena dia merasa mual bayangan memakan anggur yang langsung dia petik sendiri sangat menggoda.
Adriana melihat Devano tidur di sampingnya dengan tangan yang melingkar di pinggang nya.
dengan hati-hati Adriana melepaskan badannya dari tangan Devano setelah berhasil lepas dan Devano tidak bangun Adriana dengan hati-hati turun dari ranjang lalu pergi mengganti pakaian nya.
rasa ingin nya sangat tinggi dia benar-benar tidak bisa melawannya.
setelah mengganti pakaian lalu bersiap pergi ternyata Devano bangun dan sekarang dia tengah menatap Adriana dengan bersedekap.
"astaga." kaget Adriana.
"mau kemana?"tanya Devano.
"hmm tidak ada"
"apa sekarang kamu sedang belajar membohongi ku honey?"
"ak...aku hanya..... ah aku ingin pergi ke kebun anggur sendiri karena kamu tidak ingin menemani ku.
"honey come on aku bukan tidak ingin menemani mu tapi aku mengkhawatirkan mu jadi tolong mengertilah dan kembali tidur besok kita akan pergi ke sana." Devano sedikit berbicara keras dengan istri nya itu sekarang.
"apa kamu membentak ku?"
"aku tidak, tapi aku mohon jangan seperti anak kecil honey kembali tidur sekarang."
"kamu mengatai ku seperti anak kecil? apa kamu mengerti rasanya bagaimana? aku juga sudah berusaha menahan keinginan ku tapi aku tidak bisa dan sekarang kamu mengatai ku anak kecil." Adriana marah.
"kenapa kamu jadi marah aku hanya ingin kamu kembali tidur karena tidak ingin kamu dan anak kita kenapa-kenapa." Devano semakin kesal.
"kamu tanya kenapa aku marah? wah Dev kamu benar-benar..."
"sudah hentikan ini berdebat dengan mu tidak akan pernah selesai, jadi cepat tidur jangan seperti gadis manja di luar sana."
"tadi kamu mengatai ku seperti anak kecil dan sekarang kamu menyamaiku dengan gadis manja di luar sana? ya... aku seperti ini karena anak mu, anak mu yang menginginkan nya apa kamu tidak mengerti." bentak Adriana.
"hah karena anak itu kamu bersikap seperti ini pada ku, sudah ku bilang sejak awal jangan hamil tapi kamu masih saja keras kepala kalau begitu gu..."
"jika kamu teruskan ucapan mu aku akan membunuhmu Dev." Adriana kesal lalu pergi meninggalkan Devano.
Devano yang di tinggalkan merasa prustasi, niat nya tidak seperti itu dia hanya ingin Adriana istirahat dia takut terjadi apa-apa pada Adriana.
setelah mengacak-acak rambut nya Devano akhirnya pergi menyusul Adriana sedangkan Adriana sudah pergi menggunakan mobil menuju kebun anggur yang di beli Riza.
melihat hal tersebut dengan cepat Devano mengikuti Adriana menggunakan mobil lain karena takut terjadi apa-apa pada istrinya itu.
rasa marah Devano kalah dengan rasa sayang dan cintanya pada Adriana.
setelah sampai di kebun anggur dengan menempuh jarak sekitar empat puluh menit Adriana keluar dari mobilnya lalu masuk ke kebun anggur tersebut.
rasa mual yang dia tahan dari tadi anehnya sudah hilang.
"apa kamu menyukai nya sayang lihat di sini banyak sekali anggur." Adriana mengelus perutnya yang masih rata.
Adriana memetik satu anggur lalu memakannya.
enak, satu kata yang ada didalam pikiran nya.
"mommy tidak tahu jika anggur seenak ini sayang."
"apa kamu ingin lagi? mommy akan memetik yang banyak untuk mu lalu kita makan di kursi itu." Adriana melihat kursi yang ada di kebun itu.
Adriana memetik cukup banyak membuat Devano yang terus mengikuti Adriana merasa khawatir di tambah lagi ini sudah tengah malam.
"honey apa perut mu akan kuat memakan sebanyak itu." ujar Devano berbicara sendiri.
"orang hamil benar-benar aneh." sambung Devano lagi menggelengkan kepalanya.
Adriana memakan buah anggur itu dengan wajah bahagia dan Devano dengan setia melihat nya dari jauh hingga Adriana puas dan ingin pergi dari kebun itu.
Devano terkejut saat Adriana menghampiri nya, detak jantung nya cepat dia takut jika Adriana semakin marah padanya namun apa yang dia pikirkan tidak seperti realita sekarang.
Adriana menatap Devano cukup lama lalu memeluk Devano erat dan meraba perut sixpack milik Devano.
"ho... honey?"
"ayo pulang aku kenyang, ternyata buah anggur sangat enak." ucap Adriana manja.
Devano tersenyum lalu mengelus kepala Adriana yang masih memeluk nya.
"sekarang kita pulang dan kamu harus istirahat ok." Devano tersenyum.
deg...deg...
Devano khawatir jika Adriana sudah berkata 'tapi Dev' pasti ada sesuatu yang dia inginkan lagi.
"hmmm?"
"aku ingin masuk ke dalam baju mu?" kata Adriana membuat Devano tersedak oleh ludahnya sendiri.
"honey tidak akan mu...."
tanpa menunggu perkataan Devano selesai Adriana sudah memaksakan tubuhnya masuk kedalam baju Devano hingga kancing baju tersebut lepas semua.
dada bidang dan perut sixpack milik Devano terpampang jelas di mata Adriana.
"sempurna." ucap Adriana meraba dari dada hingga perut Devano.
sedangkan empunya hanya menggelengkan kepalanya lalu pergi menggendong Adriana menuju mobil untuk pulang ke mansion.
di mobil Adriana tidur sepanjang jalan hingga saat sampai mansion Devano menggendongnya sampai ke kamar dan membantu Adriana mengganti pakaiannya agar tidurnya nyaman.
dia pun ikut tidur dengan memeluk Adriana.
tak terasa pagi pun datang jam sudah menunjukkan pukul sepuluh tepat namun kedua pasang ini masih tertidur lelap dengan saling berpelukan.
suara handphone pun membangun kan Devano, karena tidak ingin Adriana bangun dia dengan cepat mengangkat panggilan tersebut yang ternyata dari Riza.
"selamat pagi tuan maaf mengganggu Anda."
"Riza jika istri ku bangun aku akan membangunkan king untuk memakan mu."kesal Devano.
"maaf tuan tapi ada hal penting yang harus saya sampaikan."
"apa?"
"proyek yang di negara B sedang ada masalah para vendor ingin bertemu dengan Anda."
"kamu tau aku tidak bisa tapi kenapa kamu memberitahu hal itu kamu pergi ke sana dan selesaikan masalah nya." kesal Devano.
"tapi maaf tuan para vendor ingin bertemu dengan Anda langsung karena ini masalah cukup serius."
"haaaaah baiklah kita akan ke sana nanti siang siapkan jet pribadi." putus Devano menghelai nafas kasar.
"jika ini ulah Keluarga gila itu aku akan menghancurkan mereka karena membuat ku harus meninggalkan istri ku."kesal Devano.
Devano menatap Adriana yang masih tertidur pulas dengan bibirnya yang menempel di dada Devano seperti anak kecil yang sedang menyusu pada ibunya.
"kenapa kamu sangat lucu." Devano mencium pucuk kepala Adriana.
.
.
.
.
.
.
Hai readers 👋
Ada yang kangen Adriana gak?
ini season 2 dari Adriana ☺️
btw makasih banget yang udah nunggu dan selalu dukung author 🥺
sayang kalian banyak-banyak 😘
TOLONG MAMPIR KE CERITA RAI YA !!!!
anak² ku di sana butuh kalian🥺
untuk tetap support author jangan lupa like,komen,share,vote,dan jadikan novel ini menjadi novel favorit kalian 😚
jangan lupa bintang lima nya ya🤭
MAAF JIKA ADA TYPO BERTEBARAN KARENA AUTHOR MASIH DALAM PROSES BELAJAR😁