ADRIANA

ADRIANA
SEASON 2 part 13



Hai:)


sebelumnya maaf beberapa hari ini author gak up karena keadaan tubuh author yang tidak bisa di ajak kerjasama 🥺


ya author drop karena ada pekerjaan yang di kejar deadline yang mengharuskan author menyelesaikannya segera hingga lupa makan dan istirahat...


doain author cepat sembuh biar bisa up setiap hari lagi ya🥺


kalian juga jangan lupa banyak istirahat biar gak sakit...




keesokan harinya berita tentang terbakarnya dua gedung markas besar milik anggota mafia tersebar luas di berbagai media.



markas Eagle dan Redfox sudah ramai dengan para wartawan dan polisi sejak kemarin malam.


sedangkan yang membakar dua markas tersebut masih tertidur pulas di atas ranjangnya yang nyaman.


hingga suara ketukan pintu membangun kan nya.



"kanyaaa...."panggil Dea dari luar kamar Adriana.



ya sekarang Adriana berada di mansion keluarga AZ.



"haisss...." Adriana mengacak rambutnya lalu berjalan untuk membuka pintu.



"ada apa?"tanya Adriana malas menatap Dea.



"kamu masih bisa bertanya ada apa setelah kehebohan yang kamu buat?"tanya Dea menggelengkan kepalanya.



"jadi aku harus apa?"



"kak bagaimana jika polisi mencari mu? kamu sudah membakar markas Eagle."tanya Dea prustasi.



"tidak akan polisi pastikan menemukan benda itu dan menutup mulut mereka dengan sendirinya."jawab Adriana berjalan masuk ke kamarnya lagi.



"tap...."



"sudahlah Dea sebaiknya kamu bersiap kita akan ke rumah sakit sekarang."kata Adriana.



"haaah mau bagaimana lagi percuma aku mengkhawatirkan seorang Adriana Zevanya."akhirnya Dea pergi dari kamar Adriana.



Adriana menggelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya itu.



"kamu sudah berada di sisi ku cukup lama tapi kamu masih tidak bisa mengerti jalan ku." Adriana akhirnya pergi mandi dan bersiap-siap karena hari ini dia akan ke rumah sakit untuk menemui Agus, Tirta, Jidan dan anggota Redfox yang terluka.



setelah selesai bersiap dan sarapan, Adriana dan Dea langsung berangkat ke rumah sakit.



dan ternyata beberapa anggota Redfox yang tidak terluka terlalu parah langsung pulang malam itu juga, sedangkan beberapa sisanya termasuk Jidan, Tirta dan Agus harus di rawat meski diantara semuanya yang terlalu parah Adalah Agus.



Jidan, Tirta dan Agus berada di kamar yang sama. mereka sengaja karena luka Tirta dan Jidan tidak terlalu parah.



"morning."sapa Dea membuka pintu yang membuat tiga laki-laki tampan di dalamnya langsung menatap mereka.



"morning cantik."sapa Jidan.



"apa sudah baikkan?"tanya Dea.



"sudah lebih baik."jawab Tirta.



Adriana langsung menghampiri Agus yang masih tertidur.



"ini sudah pagi mau sampai kapan kakak akan tertidur." kata Adriana membuka mata Agus secara paksa.



"aisssh tidak bisakah kamu membangunkan ku dengan cara lebih baik?"kata Agus yang nyawanya masih belum terkumpul seratus persen.



"tidak bisa." jawab Adriana enteng.



"apa kalian sudah sarapan?"tanya Dea.



"sudah."jawab Tirta dan Jidan secara bersamaan.



melihat Agus tidak menjawab Adriana menatap nya lama.



"kamu melihat ku baru bangun jadi bagaimana bisa aku sudah sarapan."ketus Agus.



"cepat makan sarapan mu."Adriana memberikan Agus makanan yang ada di atas meja.



"kamu benar-benar tidak bisa bersikap lembut, bagaimana bisa Devano mencintai wanita seperti mu hingga sebodoh itu?"tanya Agus menggelengkan kepalanya mulai memakan sarapannya.



"jangan membicarakan nya."seketika ekspresi wajah Adriana berubah.



Jidan menghelai nafas nya.



"Anya jangan terlalu keras pada nya,dia seperti itu karena terlalu sibuk membuat sekitar mu tetap aman dan nyaman."kata Jidan.



"dan mengabaikan sekitarnya yang sedang tidak aman?"tanya Adriana.




"aku senang dia menyayangi ku,dia memberi ku segalanya, dunianya hanya ada aku,tapi faktanya di dunia ini bukan hanya tentang aku dan dia, dia memiliki banyak musuh yang siap kapan pun bisa membunuhnya begitupun dengan aku. jadi biarkan kejadian ini menjadi pelajaran buat dia."



"tapi sampai kapan?"tanya Tirta.



"sampai dia bisa belajar."



"apa kamu yakin dengan cara kamu seperti ini bisa berhasil pada nya? Devano sangat keras kepala Anya." kata Jidan.



"hmm kak Jidan benar mungkin sekarang atau beberapa menit lagi dia gila karena seperti yang kamu tahu kamu adalah dunia nya. jika dia kehilangan mu dia benar-benar bisa hancur dan saat itulah musuhnya dengan mudah menghancurkannya." ujar Tirta.



"dia sudah gila sejak tadi malam."kata Tirta yang membuat semua orang menatap nya.



sedangkan di tempat lain saat ini Devano benar-benar tidak seperti Devano biasanya. luka tembakan yang di lakukan Adriana tadi malam tidak ingin dia obati meski Gilang berusaha keras memaksanya.



bahkan dia mengancam dokter yang ingin mengobatinya.



Devano sekarang berada di kamarnya di temani minuman keras yang sejak dua tahun lalu berhenti dia minum.



entah botol ke berapa yang sekarang ada di tangan nya.



penampilan urak-urakkan dengan luka tembak yang masih terbuka dan mengeluarkan darah.



menyediakan, satu kata yang bisa menggambarkan Devano saat ini.



dia merenungi kejadian kemarin yang membuat Adriana memilih pergi.



"Gilang bodoh, seharusnya dia tidak membawaku pergi dari sana."Devano meminum minuman yang ada di dalam botol tersebut hingga habis sekali teguk.



saat ingin meminumnya minuman tersebut sudah habis,dia melempar botol itu sembarangan lalu bangkit keluar dari kamarnya.



bagaimanapun caranya dia harus menemui Adriana namun Riza datang membuat langkah nya terhenti.



"dasar bodoh."bentak Devano memegang kerah baju Riza.



"seharusnya kamu bisa menahannya pergi dari sini." teriak Devano pada Riza.



Gilang datang lalu berusaha menghentikan Devano yang ingin memukul Riza.



"Devano cukup."kata Gilang.



"ini semua salah kita berdua."



"jangan menyalahkan siapapun, sebaiknya sekarang kita obati dulu tangan mu sebelum pergi menemui Adriana dan saudara-saudaranya untuk meminta maaf." ujar Gilang.



"tangan ku tidak apa-apa, sekarang kita langsung pergi menemui Adriana."kata Devano ingin pergi.



"obati tangan mu dulu, lukanya lumayan dalam."



"tangan ku tidak penting Adriana lebih penting dari diriku sendiri." melihat hal tersebut membuat Gilang tersulut emosi lalu menghajar Devano.



"sadar bangsat, Adriana seperti ini karena memberi mu dan aku pelajaran, aku tau kamu tidak bisa kehilangan dia tapi jangan buta dan menutup diri dengan luka mu dan sekitar mu."



"kita berdua salah karena terlalu mementingkan kehidupan wanita kita tanpa kita sadari kehidupan kita sedang terancam yang bisa membuat mereka ikut terseret lalu terluka." ujar Gilang.



"obati tangan mu, kita ke rumah sakit sekarang cerna kata-kata ku tadi." Gilang dengan kasar membawa Devano pergi ke rumah sakit untuk mengobati tangan nya.



"bahkan ini belum sehari." gumam Gilang menggelengkan wajah nya menatap Devano yang menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.



.


.


.


.


.


Hai readers 👋


Ada yang kangen Adriana gak?


ini season 2 dari Adriana ☺️


btw makasih banget yang udah nunggu dan selalu dukung author 🥺


sayang kalian banyak-banyak 😘


***TOLONG MAMPIR KE CERITA RAI YA*** !!!!


***anak² ku di sana butuh kalian🥺***


untuk tetap support author jangan lupa like,komen,share,vote,dan jadikan novel ini menjadi novel favorit kalian 😚


jangan lupa bintang lima nya ya🤭



MAAF JIKA ADA TYPO BERTEBARAN KARENA AUTHOR MASIH DALAM PROSES BELAJAR😁



sampai jumpa di up selanjutnya 😉