
Adriana,Tirta, Jidan, Jordi, Agus,Dea, Devano,dan Gilang saat ini sedang berada di pemakaman tuan Surendra papa dari Dea.
terlihat Dea yang duduk menangis di makam papa nya.
"papa..."panggil Dea menangis pilu.
"kamu mungkin bukan papa yang baik untuk ku tapi aku hanya memiliki mu di dunia ini kenapa kamu harus pergi meninggalkan ku seperti ini."kata Dea.
Jidan dan Tirta berusaha menenangkan Dea agar Dea tidak menangis lagi.
"baby biarkan papa mu pergi dan jangan khawatir kamu akan kesepian kamu masih memiliki kakak-kakak yang sangat menyayangimu."kata Jidan.
"kita pulang sekarang yah kamu sudah kehilangan banyak tenaga karena habis menangis."kata Tirta namun Dea enggan untuk berdiri.
"Dea bangun."kata Adriana.
Devano menatap Adriana dan memegang bahu Adriana mengisyaratkan untuk tidak berbicara karena takut Dea akan semakin sedih.
"Dea."panggil Adriana sekali lagi, Dea melihat ke arah Adriana.
Adriana membantu Dea bangun dan memegang bahu Dea yang tidak mau melihatnya.
"hey lihat aku."kata Dea memegang dagu Dea.
"kita sama bedanya papa mu meminta maaf dan menyesali perbuatannya pada mu sebelum pergi sedangkan aku dia masih tetap sama."kata Adriana.
"jangan biarkan air mata ini jatuh lagi."kata Adriana menghapus air mata Dea.
"aku mungkin terlihat sangat tega pada mu, menyuruh mu belajar dengan keras hal-hal yang belum pernah kamu pelajari tapi aku mau kamu kuat meski di keluarga AZ kamu adalah baby kami."kata Adriana memeluk Dea, semua orang melihat sikap Adriana yang sekarang terharu ternyata di balik sikap cuek, dingin dan menyeramkan nya dia mempunyai sikap dan sifat penyayang seperti sekarang.
"kak Anya."kata Dea membalas pelukan Adriana.
"sekarang kita pulang yah kita makan masakan kesukaan mu aku yang akan memasaknya untuk mu setelah itu istirahat tenangkan hati dan pikiran mu, ok baby?"kata Adriana melepas pelukannya pada Dea.
Dea hanya mengangguk pertanda ia mengiyakan Adriana.
"aku pergi ayah aku akan mengunjungi mu lain kali."kata Dea sebelum pergi di ikuti yang lain.
sesampainya di mansion keluarga AZ Adriana dan yang lainnya masuk dan duduk di ruang tengah.
"aku akan mengantarmu ke kamar dan setelah makanan nya matang aku akan mengantar nya kekamar mu."kata Adriana mengantar dea.
setelah Adriana mengantar dea, Adriana langsung kedapur untuk membuat makanan kesukaan Dea seperti yang ia janjikan.
sedangkan para pria yang ikut pulang masih duduk di ruang tengah.
"bagaimana dengan AZ crop? aku dengar kalian mendapatkan teror pembunuhan."kata Devano.
"ya itu benar tapi semua sudah beres."kata Jidan.
"siapa pelakunya?"tanya Devano.
"kami juga tidak tahu karena Adriana sudah turun tangan dan menghabisi mereka sampai ke akar-akarnya."kata Tirta.
"seperti biasa Adriana sangat keren."kata Gilang memuji Adriana.
"Gilang tutup mulut mu sebelum aku memotong lidah mu sekarang."kata Devano tidak suka.
"cih."kata Gilang sinis.
"ah iya Devano apa kamu dan Adriana ada kemajuan?"tanya Tirta.
"haaah kalian tahu sendiri Adriana seperti apa."kata Devano.
"aku kenapa?"tanya Adriana.
"ah honey sejak kapan kamu di situ?"kata Devano menghampiri Adriana yang membawa makanan.
"aku akan membantu mu membawanya."kata Devano mengambil makanan tersebut.
Adriana hanya cuek lalu berjalan ke kamar Dea di ikuti Devano.
"kurasa Devano berhasil."kata Jidan.
"ku rasa juga begitu."kata Gilang.
"Gilang aku tidak sengaja mendengar kamu dan Devano membicarakan masalah teror yang menimpa Devano baru-baru ini."kata Tirta.
"ya aku dan dia sedang menyelidiki siapa di balik teror ini."kata Gilang.
"apa kalian sudah menemukan pelaku nya?"tanya Jidan.
"kami belum menemukan nya, kalian tahu sendiri seberapa banyak musuh yang kami miliki."kata Gilang.
"semoga semua cepat kalian selesaikan aku takut jika nanti Adriana yang ikut terseret."kata Tirta.
"kalian tenang saja, dan tentu kalian tahu Devano seperti apa."kata Gilang.
sedangkan saat ini di kamar Dea, Adriana sedang menyuapi Dea dan Devano hanya menonton saja tanpa berniat untuk keluar dari kamar tersebut.
namun tiba-tiba ponsel Devano berbunyi dan itu dari nomor yang tidak di kenal.
"siapa kamu?"tanya Devano dingin.
"hahahaha santai tuan Devano,aku menelepon mu hanya memastikan jika perempuan yang bersama mu di pemakaman tadi adalah wanita yang sangat kami sayangi."kata penelpon tersebut.
"jangan banyak bicara, cepat katakan apa mau mu?"tanya Devano.
"ah tidak seperti nya kali ini aku menginginkan wanita mu,aku melihat tubuhnya sangat indah untuk ku cicipi."kata penelpon tersebut.
"bajingan."kata Devano mengumpat.
"hahahaha."tawa penelpon tersebut mematikan sambungan telepon.
"bangsat."umpat Devano sekali lagi dengan wajah yang merah seakan-akan siap memangsa seseorang.
"hey ada apa?"tanya Adriana menghampiri Devano karena sejak awal Adriana memang sudah mengamati nya.
"aku pergi dulu,kamu tetap di sini dan jangan pernah Keluar sebelum aku kembali."kata Devano memegang wajah Adriana.
"ada apa dengan mu? aku akan ke kantor sekarang dan setelah itu aku harus ke rumah sakit."kata Adriana.
"sekali ini saja Tolong dengarkan aku honey."kata Devano dengan wajah memohon.
"ada apa sebenarnya dengan mu?"tanya Adriana.
"akan ku jelaskan nanti setelah aku kembali."kata Devano keluar dari kamar Dea dan mengajak Gilang pergi dari mansion keluarga AZ.
"Jidan, Tirta aku nitip Adriana sebentar jangan pernah memberikan nya keluar dari mansion ini sebelum aku kembali."kata Devano sebelum pergi.
Jidan dan Tirta bingung dengan tingkah Devano namun dia bergegas menemui Dea dan Adriana.
"Anya."panggil Tirta dan Jidan.
"kak ada apa sebenarnya dengan Devano?"tanya Adriana sedangkan Jidan dan Tirta hanya diam.
"kak jika kalian tahu sesuatu cepat beri tahu aku, aku tidak suka di bohongi."kata Adriana.
"Anya... Devano beberapa hari ini mendapatkan teror dari seseorang."kata Jidan menjelaskan Adriana.
"tapi sepertinya sekarang orang tersebut juga ikut mengincar mu karena dia tahu kamu adalah wanita yang sangat di cintai Devano."kata Tirta.
"ah jadi seperti itu, ternyata orang yang mengamati kita saat di pemakaman tadi adalah suruhan dari orang itu."kata Adriana.
"apa? ada orang yang mengamati kita?"tanya Jidan.
"jika benar seperti itu maka kamu tidak boleh keluar dari mansion ini sebelum Devano dan Gilang kembali."kata Tirta.
"tapi aku penasaran dengan si peneror tersebut."kata Adriana mengambil laptop milik Dea dan mulai memainkan jari nya di atas keyboard.
Jidan dan Tirta bahkan dea sekarang melihat ke arah laptop untuk mengetahui apa yang akan di lakukan oleh Adriana.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hai readers 👋
Ada yang kangen author gak?
author up lagi niih ☺️
untuk tetap support author jangan lupa like,komen,share,vote,dan jadikan novel ini menjadi novel favorit kalian 😚
MAAF JIKA ADA TYPO BERTEBARAN KARENA AUTHOR MASIH DALAM PROSES BELAJAR DAN INI MERUPAKAN NOVEL PERTAMA AUTHOR🙏
sampai jumpa di up selanjutnya 😉
jangan lupa follow Ig author ya 👇
@ndiya252
annyeong👋