
tok..tok...tok.. suara ketukan pintu terdengar dari luar kamar Adriana namun sang empunya kamar tidak ingin bangun dari tidurnya.
"Anya wake up... semua orang sudah menunggu mu." suara jimi dari luar kamar.
tok...tok...tok...
"Anya cepat bangun lah." kata Jimi yang masih sabar.
namun karena Adriana tidak memberikan respon sama sekali Jimi akhirnya mulai kesal dengan adik nya itu.
"yak Adriana cepat bangun lah sebelum aku masuk dan menggelitiki mu hingga pingsan." ucap Jimi kesal namun cara itu berhasil membuat Adriana bangun.
"iya aku sudah bangun tunggu aku di ruang makan." jawab Adriana dari dalam kamarnya.
"baik lah jangan lama-lama semua sudah menunggu mu." kata Jimi pergi meninggalkan kamar Adriana.
"huuh sudah pagi saja, rasanya baru beberapa Menit aku tertidur." keluh Adriana yang langsung masuk kamar mandi dan pergi bersiap untuk sarapan.
setelah selesai dengan ritual pagi nya Adriana turun ke ruang makan menemui saudara-saudaranya untuk makan bersama.
sesampainya di ruang makan Adriana duduk dan semua mulai memakan sarapan mereka tanpa bertanya dan mengeluarkan suara sedikitpun.
setelah selesai sarapan satu persatu pergi ketempat tujuan masing-masing yang pastinya hari ini mereka akan berlatih untuk permainan besok pagi.
di ruang makan yang tersisa hanya Adriana dan Dea.
"ruang latihan." kata Adriana pergi meninggalkan Dea.
Dea yang mengerti maksud Adriana langsung mengganti pakaiannya dan pergi keruang latihan.
seperti kemarin Adriana menyuruhnya pemanasan yang cukup berat sebelum berlatih menggunakan senjata Adriana mencoba menyerang Dea, Dea bisa menghindari serangan Adriana dan sesekali melawan serangan Adriana.
"istirahat lima menit" kata Adriana
Dea langsung duduk dan mengatur nafasnya sebelum berlatih kembali sedangkan Adriana duduk dan melihat ponselnya.
"sangat bagus tikus-tikus berdasi itu mulai panik karna penurunan harga saham mereka." gumam Adriana menyeringai.
"apa dia sudah gila mengeluarkan seringai nya padahal tidak terjadi apa-apa? apa dia pikir dia lucu? huuh Anya kau susah di tebak." gumam Dea.
"sudah cukup istirahat nya kita mulai dari pedang."kata Adriana mengambil 2 pedang dan melemparnya ke hadapan Dea.
Dea mengambil pedang yang di lempar Adriana.
"sekarang ikuti gerakan ku." kata Adriana.
Dea mengikuti semua gerakan Adriana dan hebatnya dia bisa mengikuti gerakan itu dengan mudah.
"bagus sekarang ada manekin di hadapan mu. bayangkan manekin itu adalah orang yang sangat kamu benci dan serang dia." kata adriana.
"ta...tapiii..." kata Dea ragu.
Dea sedikit berpikir dan mulai memejamkan matanya membayangkan ibu dan saudara tirinya yang telah membuat nya seperti sekarang.
Dea membuka matanya dan mulai mengayunkan pedangnya dan mulai menyerang manekin tersebut dengan membabi buta.
Adriana yang melihat Dea tersebut tersenyum.
dan beberapa saat manekin tersebut hancur dan terpisah menjadi beberapa bagian.
Dea tertawa melihat manekin tersebut.
"benar kata mu Anya jika bukan aku maka mereka yang akan membunuh ku." kata Dea tertawa getir.
"jangan menyesali apa yang kamu putuskan orang seperti mereka pantas menerima semuanya." kata Adriana menepuk pundak Dea.
"kamu sudah bisa memain kan pedagang sekarang aku akan mengajari mu menembak." sambung Adriana lagi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
hai readers ๐
aku up lagi niih โบ๏ธ
untuk mendukung author jangan lupa like,komen,dan jadikan novel ini menjadi novel favorit kalian ๐
maaf jika banyak typo bertebaran karena author masih dalam proses belajar dan novel ini merupakan novel pertama author ๐ค
sampai jumpa di up selanjutnya โบ๏ธ
makasih udah sabar menunggu author
Annyeong ๐