ADRIANA

ADRIANA
part 18



semua orang yang melihat kepergian Adriana menghembuskan nafas kasar.


"ayo paman akan mengantar mu ke kamar." kata Triyas kepada Dea sambil berjalan.


Dea yang mendengar dan melihat Triyas berjalan mengikutinya dari belakang.


"kita juga harus istirahat, Anya ingin bermain besok."kata Agus berjalan meninggalkan saudara nya yang lain.


"apa kalian pikir kak Agus terlalu memanjakan Anya?"tanya Jimi.


"ya menurut ku begitu, tapi kita semua sama saja bukan kah kita akan selalu memanjakan nya?" tanya Tirta


"ya sedingin apapun dia. sekarang dia adalah adik kita."kata jidan.


"sudah lah kita sebaiknya istirahat."kata jordi merangkul saudara-saudara nya.


ya memang di antara semua hanya Jordi yang selalu mencairkan suasana. kata mereka Jordi adalah matahari keluarga.


mereka semua masuk kekamar mereka masing-masing untuk beristirahat sebelum besok pagi Adriana mengajak mereka bermain.


***


pagi pun tiba, Adriana keluar dari dalam kamarnya menggunakan baju kasual.


entah kenapa hari ini dia yang pertama bangun dari yang lain.



"bik... bibi..." kata Adriana memanggil kepala pelayan di mansion nya.


"iya nona muda,ada yang bisa saya bantu?" kata kepala pelayan tersebut.


"tolong panggil kakak-kakak ku,paman dan teman ku ya." kata Adriana duduk dimeja makan.


"katakan pada mereka jika mereka lama aku akan membakar mansion ini." lanjut Adriana.


"baik nona muda." kata kepala pelayan.


tak berselang lama mereka semua keluar dari kamar mereka masing-masing tanpa mandi dan bersiap-siap terlebih dahulu.


"Anya bisa kah kamu tidak melakukan sesuatu sesuka mu?" kata Triyas.


"sayangnya aku tidak bisa."kata Adriana tersenyum puas melihat keadaan saudara-saudara nya, Triya dan Dea kecuali agus.


"Anya..."kata Jimi melotot.


"apa?" tanya Adriana tanpa merasa bersalah.


"kak Agus mana?" tanya Adriana.


"kenapa kamu mencari ku?" kata Agus datar.


"kenapa wajah mu seperti itu?" tanya Adriana lagi.


"Anya kakak harap ini yang terakhir kalinya kamu begini."kata Agus tegas.


"huuuh,yayaya baiklah ayo kita sarapan aku sudah lapar." kata Adriana.


semuanya duduk kecuali Dea.


"kenapa kamu berdiri terus?"tanya jidan.


"hmmm." kata Dea menunduk.


"duduklah."kata Triyas.


"tapi..."jawab Dea.


"duduklah apa kamu mau berdiri terus?." kata Adriana memakan makanannya.


"Anya..."tegur Tirta.


"jika kamu tidak sarapan kamu tidak bisa membalas mereka yang telah menyakiti mu, kamu akan mati duluan." kata Adriana


"duduklah jangan dengarkan Anya." kata Tirta.


Dea akhirnya duduk didekat Adriana,dia merasa canggung berada ditengah-tengah keluarga yang tidak ia kenal sebelumnya.


"kak aku akan menunggu kalian di taman belakang." kata Adriana pergi.


Dea yang melihat Adriana pergi menunduk, dia berpikir Adriana membencinya.


"jika dia membenciku kenapa dia membawa ku ke mansion nya? dasar gadis gila."gumam Dea dalam hati.


"kamu jangan memasukkan kedalam hati perkataan Anya ya, sebenarnya dia baik. kamu adalah teman pertama yang dibawa Anya kesini." kata Triyas mencoba menjelaskan sikap Adriana kepada Dea.


Triyas tidak mengatakan kepada dea bahwa Adriana juga membawa kelima bersaudara itu ke mansion nya karena Adriana melarang keras ada yang membahas masalah itu baginya sekarang mereka adalah keluarga.


"mmmm i...iya paman." kata dea.


"kamu mandilah dan lakukan apa yang ingin kau lakukan di mansion ini." kata jordi.


"i...iya."jawab dea.


Dea akhirnya pergi kekamar yang semalam ia tempati untuk membersihkan diri. sedangkan yang lain kecuali Triyas pergi ke halaman belakang menemui Adriana.


"kamu ingin bermain apa Anya?" tanya jidan.


"kalian tidak lupa kan dengan rencana ku?"kata Adriana datar.


"kami ingat jadi bagaimana?"tanya Tirta


"kita mulai hari ini."kata Adriana menatap ke depan dengan tatapan tajam.


"mulai dari mana?"tanya Jordi yang mulai serius.


"kita akan menyerang markas Genk mafia ke 5 malam ini."kata Adriana.


"apa kau bercanda? kita tidak memiliki pasukan Anya."kata jimi tak percaya dengan ucapan Adriana.


"apa aku terlihat bercanda? jika kamu takut sebaiknya kamu diam di rumah."kata Adriana datar.


"siapa bilang aku takut? aku hanya khawatir dengan mu.jika hanya kami saja tidak apa-apa jika terluka tapi kamu.."kata jimi.


"aku tak selemah itu." kata Adriana.


"sudah-sudah, sesuai rencana Anya kita akan menyerang markas Genk mafia ke 5 itu nanti malam sebaiknya kita mempersiapkan diri dulu sampai nanti malam." kata Agus melerai perdebatan antara Adriana dan Jimi.


"baiklah." kata mereka kompak.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


hai readers ๐Ÿ‘‹


author up lagi nih๐Ÿค—


jangan lupa dukung author dengan cara like, komen dan tambahkan novel ini menjadi novel favorit kalian.


maaf jika banyak typo bertebaran karena author masih dalam proses belajar dan novel ini merupakan novel pertama author โ˜บ๏ธ


sampai ketemu di up selanjutnya ๐Ÿ˜Š


annyeong ๐Ÿ‘‹