ADRIANA

ADRIANA
part 86



Tirta dan Jidan lebih dulu sampai rumah sakit yang di beritahukan oleh dea, mereka bergegas mencari tahu keberadaan Jimi.


"permisi apa ada pasien bernama Jimi?"tanya Jidan.


"ada tuan, beberapa menit yang lalu di masukkan ke ruang operasi."kata resepsionis rumah sakit tersebut.


Jidan dan Tirta bergegas ke ruang operasi dan sesampainya mereka di sana, mereka melihat Dea yang duduk di lantai sambil menangis.


"baby are you ok?"tanya Jidan duduk dan melihat keadaan Dea.


"kak Jimi... kak Jimi di tusuk....hiks...hiks.."kata Dea menangis dan memeluk Jidan.


"apa?"kata Tirta.


"sial."kata Jidan.


"tapi kamu ok kan?"tanya Tirta.


"ya aku ok,tapi kak Jimi... dia tidak baik-baik saja...hiks..hiks.."tangis Dea.


"Jimi pasti baik-baik saja,kamu tenanglah."kata Jidan menenangkan adiknya.


"apa kamu masih mengingat wajah orang yang menusuk Jimi?"tanya Tirta pada Dea.


"ya aku sangat mengingat dengan jelas wajah bajingan itu."kata Dea.


"apa kamu sudah merasa lebih tenang?"tanya tirta.


"yaa dan aku akan menggambar wajah nya sekarang."kata Dea mengambil iPad di tas dalam tasnya.


Dea pokus menggambar dan Tirta sibuk memperhatikan apa yang di gambar Dea, sedangkan Jidan sudah bangun dari duduknya dan mendekati pintu ruang operasi sambil mondar-mandir cemas.


tak lama Agus dan jordi datang setelah mengantar triyas.


"bagaimana keadaan Jimi?"tanya jordi.


"dia masih di operasi."kata Jidan.


"sebenarnya apa yang terjadi?"tanya Agus.


Jidan pun menjelaskan Agus dan jordi sesuai dengan yang di cerita kan Dea pada dan Tirta tadi.


"sekarang Dea sedang menggambar wajah bajingan itu."kata Jidan.


Agus mendekati Dea dan Tirta untuk melihat gambar Dea.


Dea sudah selesai menggambar,wajah Agus dan Tirta benar-benar menyeramkan setelah melihat orang yang di gambar Dea.


"ternyata bajingan itu dia,aku akan membunuhnya sekarang."kata Agus ingin pergi namun di tahan Tirta.


"jangan gegabah."peringat Tirta.


Jidan dan jordi melihat hasil gambaran Dea dan wajah mereka sama persis seperti wajah Agus dan Tirta.


"kak sebenarnya siapa dia? apa kalian mengenalnya?"tanya Dea.


"dia adalah Leo,anak dari ketua Genk mafia ke 7"kata Jordi menjawab pertanyaan Dea.


"haah sudah ku duga dia orang yang cukup berpengaruh,makanya dia bisa melakukan hal seenaknya sendiri dan tidak ada yang berani membantah apalagi membantu kami tadi."kata Dea.


"mmmm kak tapi apa kak Anya tahu soal kak Jimi?"tanya Dea.


"dia belum tahu keadaan Jimi tapi dia tahu jika Jimi dalam bahaya."kata Tirta.


"apa kita tidak memberi tahunya?"tanya Dea.


Jidan, Tirta, Agus, dan Jordi saling menatap satu sama lain, karena mereka takut Adriana akan membalas atas apa yang terjadi pada Jimi.


"saat ini sangat tidak memungkinkan untuk memberi tahu nya."kata Tirta.


"jika kita tidak memberi tahunya,dia akan mengamuk lebih parah dari yang kita bayangkan."kata Dea.


"tapi Anya baru sembuh dan kembali ke negara ini, apalagi kita tidak bisa menggangu pikiran nya saat ini."kata Jordi.


"sebaiknya kita memberi tahunya, kalian tahu sendiri adik kita yang satu itu benar-benar berbeda seratus delapan puluh derajat jika marah."kata Jidan.


"aku akan memberi tahu Anya."kata Agus.


"kasih tahu Anya pelan-pelan jangan membuat nya terkejut."kata Jordi,Jidan,dan Tirta secara bersamaan.


Agus menatap mereka lalu berkata "dasar overprotektif."kata Agus.


"apa kmu tidak punya kaca?"tanya Jidan, Tirta,dan jordi secara bersamaan lagi.


"sudah-sudah kalian sama saja."kata Dea.


karena itu memang kenyataannya Jidan, Tirta, Agus,Jimi,dan Jordi sangat overprotektif pada adik-adiknya, hingga Dea dan Adriana kadang merasa jengkel.


Agus akhirnya menelepon Adriana.


"hallo Anya."sapa Agus setelah telpon tersambung.


"hallo kak."jawab Adriana.


"Jimi."kata Agus.


"kenapa?"tanya Adriana bangun dari ranjangnya karena dia sudah sampai di rumah lima menit yang lalu.


"dia tertusuk."jawab Agus.


Adriana diam tidak memberikan suara sedikitpun hingga Agus panik.


"hallo Anya."panggil Agus.


"Anya apa kamu masih di situ?"tanya Agus dan Melihat ponsel yang ternyata telpon masih tersambung tidak terputus.


"hallo Anya."panggil Agus sekali lagi.


"dia masih dioperasi..."kata Agus terhenti saat dokter keluar dari ruang operasi.


Agus mendekati dokter tersebut yang sudah di tahan oleh Jidan.


"dokter bagaimana keadaan adik saya?"tanya Jidan.


"operasi nya berjalan dengan lancar,pisau nya tidak mengenai organ pital pasien."jelas dokter yang membuat semua orang lega termasuk Adriana yang mendengar dari panggilan telepon.


"pasien masih belum sadar akibat obat dan pasien akan di pindahkan ke ruang rawat."kata dokter.


"baiklah Terimakasih dokter."kata Jidan.


"hallo kak."kata Adriana pada Agus.


"ya Anya,Jimi baik-baik saja sekarang."kata Agus.


"apa Dea masih mengingat wajah bajingan itu?"tanya Dea.


"ya dia sudah menggambar dan bajingan itu Leo anak mafia ke 7."kata Agus.


"kirimkan aku foto nya bajingan itu harus membayarnya sekarang juga."kata Adriana.


"Anya jangan gegabah."kata Agus.


"kakak tahu aku kan? aku akan membayar orang-orang yang berani menyakiti keluarga ku dengan sangat spesial,mata di bayar mata,kaki di bayar kaki dan nyawa di bayar dengan nyawa."kata Adriana.


"Anya biar kami yang mengurus semuanya,kamu istirahat lah kami tidak ingin terjadi apa-apa lagi dengan mu."kata Agus.


"kak kirimkan aku fotonya sekarang atau aku mencari nya sendiri sekarang."kata Adriana.


"baik-baik... baik lah tapi tunggu aku di rumah, aku akan ikut bersama mu."kata Agus.


"ya."kata Adriana mematikan telponnya.


"aku harus pergi sekarang."kata Agus pada yang lain.


"ada apa? apa Anya baik-baik saja?"tanya Jordi.


"aku rasa tidak."jawab Agus.


semua orang menatap Agus.


"apa terjadi sesuatu pada nya?"tanya jidan


"apa dia terluka?"tanya Tirta.


"siapa yang membuat nya terluka?"tanya Jordi.


"hiks... hikss kak Jimi baru saja terluka dan sekarang kak Anya."tangis Dea,Jidan, Tirta dan jordi menenangkan nya.


"dia tidak terluka tapi ku rasa dia akan menelan Leo hidup-hidup."kata Agus yang membuat semua orang menatap nya tajam.


"Agus kami tidak sedang bercanda,kamu tahu berapa kesalahan mu?"tanya Jidan mengomel.


"terserah kalian saja,aku pergi."kata Agus pergi membawa hasil gambar Dea.


"yaaak Agus."teriak Jidan.


"sudahlah kita tidak akan menang jika melawan nya."kata Jordi.


"aku akan menyusul Agus kalian jaga Jimi."kata Tirta.


"hati-hati."kata Jidan,Dea dan jordi.


"aku tidak bisa membayangkan Anya seperti apa jika sudah bertemu dengan Leo."kata Jidan setelah kepergian Tirta.


"aku rasa kak Agus benar,kak Anya akan memakannya hidup-hidup."kata Dea.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hai readers 👋


Ada yang kangen author gak?


author up lagi niih ☺️


untuk tetap support author jangan lupa like,komen,share,vote,dan jadikan novel ini menjadi novel favorit kalian 😚


MAAF JIKA ADA TYPO BERTEBARAN KARENA AUTHOR MASIH DALAM PROSES BELAJAR DAN INI MERUPAKAN NOVEL PERTAMA AUTHOR🙏


sampai jumpa di up selanjutnya 😉


jangan lupa follow Ig author ya 👇


@ndiya252


annyeong👋