
▪︎▪︎▪︎▪︎
*Flashback
"Ada apa kau meminta ku kemari?" Saat ini Eric memenuhi undangan Melodi datang ke sebuah hotel.
"Duduklah dulu Ric." Eric mengikuti semua arahannya, Melodi menuangkan minuman tepat di belakang Eric hingga pria itu tak dapat melihat apa yang dilakukannya.
"Kau terlihat sangat tidak menyukai ku, kenapa Ric?" Tanya masih dengan kegiatan menuangkan minum tak lupa ia juga membubuhkan sesuatu ke gelas Eric.
"Kau jelas tau jawabannya." Tukas Eric datar.
Setelah itu, Melodi kembali dengan dua gelas minuman di tangannya. Ia sengaja lebih menunduk dan memperlihatkan d**anya, bermaksud membuat Eric tergoda.
Melihat tak ada penolakan di Eric, ia menganggap pria itu hanya jual mahal selama ini. Dengan gesit, wanita itu mengambil tempat disamping Eric dan bergelayut manja di lengannya.
"Di minum Ric." Ia sengaja menggapai gelas yang sudah dipersiapkannya. Bingo. Eric tak menolak sama sekali.
"Apa yang kau campurkan kedalamnya?" Usai meneguk habis isi gelas, barulah Eric menanyakannya.
Deg
"Aa-appa? Mencampurkan apa?" Ia berlagak tidak tau, karena Eric bukanlah orang yang jinak.
"Jujur saja, aku tidak mempermasalahkannya." Tak kalah gesit ia menarik wanita itu ke pangkuannya.
"Hanya sedikit obat. Aku tau dari awal kau tidak pernah membenci ku Ric, kau hanya marah karena aku lebih sering bersama Zach. Mulai sekarang, kita akan lebih sering bersama dan menghabiskan malam yang panjang." Tak bisa dipungkiri Eric mulai merasa panas dan kepalanya sedikit berputar, namun bukan Eric namanya jika ia tidak bisa mengendalikan situasi dan bersikap tetap tenang.
"Kenapa kau bisa berpikir bahwa aku akan menerima tawaran mu itu?" Ia mulai berani memeluk Eric erat.
"Karena kau pria, dan kau pasti membutuhkan ku untuk me*****an mu. Sudah rahasia umum, kekasih mu tidak mau dise***h sebelum kalian resmi menikah." Tangan nakalnya berupaya membuka kancing kemeja yang digunakan Eric.
Entah bagaimana jadinya mereka sudah berada di atas ranjang dengan wanita itu yang memimpin. Eric nampak kesulitan menahan dan mengendalikan dirinya.
"Bagaimana jika ketahuan oleh Zach dan kekasih ku?" Eric masih memanfaatkan sisa kesadarannya untuk memancing wanita itu.
"Tenang saja, Zach itu bodoh. Untuk kekasih mu tinggalkan saja Ric apa gunanya memiliki wanita tapi tidak bisa di pakai? Atau kau jual saja dia." Kata terakhir Melodi, membuat Eric habis kesabaran. Ia membalik posisi mereka hingga kini Eric yang me*****hnya, sekuat tenaga ia mencekik dan membekap mulut Melodi sampai wanita itu nyaris saja mati andai saja Shane dan Audrey terlambat datang barang sekejap saja.
"Sudah Ric sudah, ia bisa mati nanti." Cegah Shane, sayangnya itu tak mengubah apapun Eric masih mencekiknya.
"Ric, sudah. Hentikan Honey, jangan kotori tangan mu dengan menyentuh wanit ja***g ini." Audrey memeluk Eric erat dari samping. Mendengar suara kekasihnya, kesadaran Eric kembali terkumpul ia melepas tangannya.
"Uhukk..uhuk.." Melodi terbaik ia juga meraup oksigen sebanyak-banyaknya.
**Flashback off***
"Haha…bisa-bisanya kita di permainkan oleh seorang wanita." Zach tergelak dalam kekesalannya. Mereka sedang menikmati santap siang bersama.
"Sebenarnya bukan kita Zach, tapi kau. Kau yang di permainkannya, karena cintamu padanya kau jadi buta tak melihat siapa dia dibalik topeng sempurna itu. Kami tak bisa berbuat apa-apa karena cinta buta mu itu." Ujar Shane dengan bahasa yang hati-hati karena Zach ibarat bom waktu yang bisa meledak kapan saja.
"Maaf…lalu kenapa harus kau Shane?" Zach masih penasaran saja.
"Simple. Karena aku tak pernah menampakkan kebencian ku padanya karena itulah aku satu-satunya orang yang akan melakukannya." Dengan bangga Shane menunjuk dirinya sendiri.
"Bodoh!! Kau bisa saja terjebak olehnya seperti halnya Ntae." Teriak Zach kesal.
"Hah…kau malah meneriaki ku, kau tidak tau saja sudah berapa wanita itu menghabiskan uang ku." Raut mukanya berubah jadi cemberut.
"Dan lagi, aku melakukannya semata bukan karena demi kau saja. Aku melakukannya karena dia sudah mengacau persahabatan kita dan juga demi Bibi, beliau sangat sedih dan tertekan akan perubahan sikap mu saat bersamanya."
Grep
Zach memeluk kedua sahabatnya.
"Maaf, sudah melibatkan kalian dalam masalah besar karena kebodohan ku. Terima kasih sudah mau berkorban untuk menyadarkan ku, dan itu bukanlah waktu yang sebentar." Ujar Zach tulus.
^^^^
"Kak, kenapa kakak masih disini?" Chris terbangun dari tidurnya.
"Tentu saja, memang kau mau kakak akan pergi kemana?" Tanya Zach tak mengerti, ia merapikan anak rambut yang menutupi sebagian kening adiknya.
"Celo sedang butuh kakak." Gumamnya serius.
"Kakak tau, kau tenang saja ya. Celo pasti aman disana kakak sudah mengirim orang untuk melindunginya." Ujar Zach menenangkan adiknya.
"Celo tidak butuh perlindungan dari orang lain, dia butuh kakak. Suaminya." Ia memaksakan diri kesal pada Zach.
"Tapi-" ucapan Zach terpotong cepat oleh Chris.
"Jangan jadikan Chris alasan yang akan kakak sesali dikemudian hari kak. Jemput Celo, lindungi dia kak." Ia mulai menangis.
"…."
"Chris disini ada Bibi, ada kak Nate, ada Bryan juga kak." Sekali lagi ia meyakinkan kakaknya.
"Baiklah, jika itu mau mu." Menurut, hanya itu yang harus ia lakukan sekarang meski berat.
^^^^
Saat ini Zach sedang berkemas dirumahnya setelah tadi ia meminta Bryan memesankan tiket ke negara asalnya. Senyum tak pernah lepas dari wajah tampannya mengingat akan bertemu dengan istrinya lagi. Mengenai Chris ia juga tenang meninggalkannya karena sudah membaik juga banyak yang akan menjaganya.
"Punya siapa ini?" Ia menemukan test pack disalah satu laci dikamarnya.
"Apa mungkin ini milik Celo? Ah, aku tidak boleh terlalu banyak berharap. Kasian jika Celo tau dia pasti akan sedih." Tapi entah kenapa Zach tetap memasukkan benda pipih itu kedalam ransel yang akan ia bawa besok.
Tak tahan menunggu esok, Zach memilih untuk tidur cepat. Bayangan Celo terus saja menggoda Zach untuk terus tersenyum sendiri.
Saat fajar, Zach sudah terbangun, ia berangkat menuju airport dengan diantar supir. Ia sengaja mengambil penerbangan awal agar cepat sampai disana. Zach tak perlu lagi berpamitan karena itu sudah ia lakukan.
"Tunggu Mas sayang, kemana pun kau pergi Mas akan selalu menemukan mu." Zach menatap lekat cincin pernikahan mereka.
Baru saja turun dari mobil, Zach disambut oleh Nate dengan wajah yang tak biasa.
"Ada apa kau kemari? Chris baik-baik saja bukan?" Tanya Zach resah.
"Tenang saja, dia baik-baik saja. Aku hanya memberikan ini, semoga saja hasilnya akurat." Ia menyerahkan sebuah amplop berlabel kan rumah sakit tempat Nate seharusnya bertugas.
"Apa ini?" Ia mulai membukanya.
"Menurut perhitungan, dia seharusnya sudah hadir di rahim ibunya. Semoga saja perhitungan itu benar dan penantian kalian terjawab." Jelas Nate meski ada keraguan.
"Celo hamil?" Zach tak percaya setelah melihat dan membaca sendiri isi dari amplop tersebut.
"Tunggu, jadi ini benar?" Tergesa-gesa ia mengeluarkan test pack yang kemarin malam ditemukannya.
"Kapan Celo melakukannya?"
"Kurang lebih dua pekan yang lalu." Zach coba mengingatnya.
"Selamat Zach." Nate menepuk pundak Zach pelan diiringi senyumnya.
"Thanks Nate" ucapan tulus dari hati terdalam Zach.
"Tunggu Daddy nak, Daddy dalam perjalanan menjemput mu dan Mommy." Senyumnya bertambah berkali lipat dari semalam.
▪︎▪︎▪︎▪︎