Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Kantor pencatatan sipil



●●●●


Usai membantu di dapur, Celo kembali ke atas memanggil suaminya sekaligus bermaksud merapikan ranjang mereka.


"Mas Zach dimana? Mungkin di kamar mandi." Tanya Celo pada dirinya sendiri.


Celo merapikan ranjangnya, sekelebat bayangan tadi malam melintas dipikirannya. Membuat pipinya bersemu merah mengingatnya, tadi malam adalah kali kedua ia tidur dengan Zach, sebagai suaminya.


Zach keluar dari kamar mandi hanya dengan selembar handuk di pinggangnya. Bukannya ia lupa akan kehadiran Celo, tapi memang inilah kebiasaannya dan istrinya itu harus mulai terbiasa.


Mendengar suara pintu kamar mandi terbuka segera saja Celo menoleh bermaksud akan mengajak suaminya sarapan. Setelah menoleh alangkah terkejutnya ia mendapati suaminya masih bertelanjang dada. Refleks Celo berbalik karena malu, berbeda dengan Zach yang biasa saja. Melihat reaksi istri kecilnya, menimbulkan niat untuk menggodanya.


Seperti saat di dapur, perlahan Zach mendekati Celo lalu memeluknya dari belakang. Reaksinya pun sama, tubuhnya menegang dan pipinya bersemu merah.


Beberapa saat dalam posisi itu, Zach membalik tubuh istrinya. Perlahan Zach mendekatkan wajahnya, lebih dekat lagi, hingga untuk kedua kalinya ia mencium lembut bibir tipis istrinya.


Kali ini tak ada penolakan dari Celo, tapi juga tak ada balasan. Zach berpikir, karena istrinya itu terlalu polos.


Semakin lama semakin dalam dan intens, sampai tanpa sadar Zach sudah merebahkan tubuh mereka di atas ranjang dengan posisi Zach sedikit menindihnya.


Celo yang polos itu terbuai akan belaian suaminya, hingga ia lupa bahwa hari sudah pagi dan mereka juga akan sarapan pagi bersama di bawah.


°°°°


"Zach dan Celo mana Mi? Apa masih tidur?" Tanya Papi yang sudah duduk diposisi kebesarannya.


"Tadi mereka udah bangun kok Pi. Apa jangan-jangan Zach tidur lagi ya?" Pikir Mami.


"Oh ya udah. Biarin aja. Mungkin masih capek"


"Iya juga ya Pi." Mami membenarkan ucapan suaminya.


"Ehh…tapi bukannya mereka mau ke pencatatan sipil ya hari ini? Nanti malah kesiangan." Lanjut Mami lagi.


"Iya ya. Bangunin gih Mi." Pinta Papi.


"Sebentar ya Pi." Menunggu anak dan menantunya, Papi menikmati secangkir Thai Tea sambil membaca koran pagi.


Mami berniat memghampiri anak dan menantunya di lantai atas. Sebelum ke kamar Zach, Mami masuk ke kamar putrinya Christa, karena kamarnya lah yang pertama di lewati.


Nampak putrinya tengah bergelung dalam selimut entah pukul berapa ia tertidur semalam. Hati Mami terenyuh melihat keadaan putrinya yang sudah jauh berubah dari dulu. Sekarang putrinya sudah susah diatur dan menjadi pembangkang. Suka keluyuran tak jelasa dan selalu pulang malam.


Mami beranjak keluar dari sana, tapi sebelumnya beliau merapikan selimut Christa biar putrinya tidur lelap.


Beralih dari kamar Christa, Mami beranjak ke kamar putranya Zach.


Tokk tok


Tiga kali sudah Mami mengetuk tapi tidak jua ada jawaban. Mami memutuskan untuk masuk karena beliau pikir anak dan menantunya sedang ketiduran.


Ceklek


"Aduhh…" ucap Mami seraya menepuk keningnya melihat aktifitas pengantin baru tersebut. Secepat kilat Mami menutup kembali pintu itu, seraya dalam hati merapalkan doa semoga Zach tidak melihatnya. Tapi sayang, Zach terlanjur melihat Mami nya tadi saat membuka pintu kamarnya.


"MAMIII….." teriak Zach dari arah kamar dengan geram.


"Maaf Zach, tadi Mami pikir kalian lanjut tidur lagi. Jika belum terjadi sebaiknya di tunda dulu, kalian kan harus kekantor sipil pagi ini." Terang Mami dari arah luar dengan sedikit rasa bersalah karena telah mengganggu romansa pengantin baru itu.


Begitu ucapannya selesai segera saja Mami turun dengan senyum sumringah diwajahnya.


"Dasar Zach. Anak itu tidak tau waktu apa?" Gumam Mami seraya melangkah menghampiri Papi.


"Ada apa Mami senyum-senyum begitu? Pasti Mami menggangu mereka lagi." Papi sudah menerka kelakuan istrinya yang satu itu.


"Gak kok Pi. Gak sengaja maksudnya."


"Hahh…udah Papi duga."


°°°°


Ceklek


Zach yang tengah asyik dengan celo merasa terusik dengan suara pintu terbuka.


"MAMIII….." Zach berteriak kesal akan kelakuan Maminya yang selalu saja sembrono.


Zach segera beranjak dari ranjang dan mengunci pintu kamar mereka. Setelahnya, Zach kembali melangkah kearah ranjang dan memperhatikan istrinya yang tengah merapikan bajunya yang tadi di preteli oleh Zach sendiri.


"Siall…nyaris saja aku memakan Celo. Arghh…Mami mengganggu saja." Kesal Zach dalam hati.


Tanpa bersuara dan tanpa menoleh Zach kembali masuk kedalam kamar mandi. Ia harus mendinginkan kepalanya dengan air dingin.


"Mas Zach kenapa? Apa dia marah pada Celo?" Gumam Celo melihat tingkah suaminya yang hanya diam saja.


Celo bangkit setelah merapikan bajunya, pagi ini untuk kali kedua ia kembali merapikan tempat tidur mereka.


Celo masih menunggu suaminya dari kamar mandi, ia malu jika harus turun dan bertemu mertuanya sendiri.


Ceklek


Zach keluar dengan sudah berpakaian lengkap, entah kapan pria itu membawa bajunya ke dalam kamar mandi atau Celo yang tak menyadarinya.


"Ayo turun sarapan." Ucapnya datar. Celo pun mengikuti suaminya dengan diam pula.


"Aduh..Mas kenapa lagi ya?" Tanya gadis itu dalan hati.


°°°°


Zach duduk dan bergabung dengan kedua orang tuanya dengan wajah masam. Sementara istrinya hanya diam menunduk malu, mereka sudah seperti pasangan mesum yang tertangkap razia.


"Celo, layani suamimu nak." Mami menyuruh menantunya melayani suaminya, sekaligus untuk memecah suasana.


"Y-yya Mi. Mas, mm-mau sarapan apa?" Tanya Celo ragu, melihat sifat lama suaminya kembali lagi.


"Roti lapis saja." Zach mengakhiri ucapannya dengan senyum.


Melihat itu, Celo kembali tenang apa yang tadi sempat ia takutkan tidak terjadi. Dengan cekatan tangan halusnya menghidangkan apa yang diminta suaminya itu.


"Tadi Papi sudah menghubungi salah satu kolega Papi di kantor pencatatan sipil, kalian temui dia nanti." Papi mengabari kabar baik pada mereka.


"Ok Pi. Makasi banyak ya Pi."


"Mm…lalu apa semua berkasnya sudah disiapkan?" Tanya Papi lagi.


"Papi tenang aja, semua sudah lengkap. Tinggal diserahkan saja." Jawab Zach yakin.


"Baguslah. Pembicaraan semalam, apa sudah kau diskusikan dengan istri mu?" Merasa dirinya disebut, Celo menoleh ke arah suami dan Papi mertuanya.


"Nanti akan Zach bicarakan dengan Celo."


"Mmm…"


"Zach, jangan lupa hubungi Sahabatmu. Nanti malam kita akan makan malam bersama." Kali ini Mami yang buka suara.


"Iya Mi. Nanti Zach hubungi, tapi Mami jangan mengundang terlalu ramai. Celo tidak suka Mi." Saran Zach.


"Benar begitu sayang?" Tanya Mami tak percaya.


"Iya Mi. Maaf." Sesalnya.


"Tidak apa-apa." Hibur beliau.


Setelah ritual sarapan pagi, Zach dan Celo bersiap untuk pergi ke kantor pencatatan sipil. Setelahnya Zach juga berencana akan membawa istrinya singgah ke kantor imigrasi untuk mengurus surat menyurat istrinya yang akan menyusulnya ke Holland nanti.


●●●●


**FAVORITE ❤


LIKE 👍


COMMENT 🖊


VOTE 🗳 (Seikhlasnya saja 🤭🤭🤭)


THANKS 💞💞💕💕💕


LOVE YOU ALL 💋💋💋**