
●●●●
Zach dan Celo saling berbagi pelukan ditengah hamparan bunga-bunga cantik di sekelilingnya.
"Apa masih ada yang mau kau kunjungi?" Masih dengan memeluk istrinya, Zach bertanya kemana lagi langkah kaki istrinya tersebut.
"Eumm…tidak ada lagi Mas, rasanya kita sudah menyisir semua sudut disini." Celo melepas pelukan mereka, lalu memerhatikan sekeliling.
"Apa kau yakin sudah semua sayang? Sedangkan tempat ini saja 32 hektare loh." Zach mencubit gemas hidung mungil wanitanya.
"Hehe…Mas benar. Tapi rasa-rasanya Celo sudah sangat puas sekali Mas." Ia kembali meraup tubuh kokoh suaminya itu dalam pelukan.
"Baiklah. Sekarang kita keluar dari taman ini, kapan hari nanti jika kita punya waktu kita akan kemari lagi." Di kecupnya sekilas kepala istrinya.
"Benarkah Mas?" Tanyanya penuh harap.
"Tentu sayang."
Kedua insan suami istri itu mengayunkan langkah mereka keluar dari taman bunga tercantik di dunia itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam waktu setempat, tapi Zach masih saja melajukan mobilnya dan itu bukan jalan ke rumah mereka.
"Kita makan malam dulu ya, jika menunggu sampai di rumah akan kemalaman." Selama di mobil tak sekali pun Zach melepas genggaman tangan istrinya.
"Ya Mas."
"Celo mau makan apa?"
"Mm…apa disini ada restoran Japan seperti yang kita makan waktu itu Mas?" Celo sepertinya menginginkannya.
"Ada, kau mau makan itu?"
"…." Tanpa suara wanita itu hanya tersenyum penuh harap.
"Okey….siap meluncur ma wifey…" mendengar ucapan manis suaminya, wajah Celo jadi seperti terbakar hingga memerah.
Hanya memakan waktu tiga puluh menit saja mobil yang dikemudikan Zach berhenti di sebuah restoran makanan khas Japan. Seperti biasa, mereka akan memilih untuk duduk di bagian sudut agar tak terlalu ramai.
"Mau pesan apa sayang?" Zach membolak balik daftar menu yang baru saja di serahkan oleh seorang waiters.
"Seperti yang hari itu saja Mas, Celo suka."
"Oke." Zach segera meminta waiters tersebut untuk mencatat pesanan mereka.
"Mm…kalau restoran Japan ada disini, apa mungkin restoran negara kita juga ada Mas?" Celo buka suara untuk mengalihkan perhatian suaminya dari layar ponselnya.
"Ada. Apa Celo mau kesana juga lain waktu?" Lansung saja Zach menyimpan ponselnya dan memfokuskan perhatiannya sepenuhnya untuk Celo.
"Mau, kalau Mas tidak sibuk."
"…." Zach hanya tersenyum.
Ditengah pembicaraan ringan mereka makanan yang tadi di pesan akhirnya datang. Meski sudah lewat dari jam makan malam seharusnya, tapi mereka masih menikmatinya karena sejujurnya mereka kelaparan.
••••
"Mas…bangun. Mas gak ke kantor?" Celo membangunkan suaminya dengan membelai wajahnya pelan. Itu adalah cara paling ampuh membangunkan Zach.
"Eunghh…" Zach mengalihkan posisi tidurnya dengan mata masih terpejam.
"Mass…bangun." Ia mengulangi lagi kegiatan membangunkan suaminya itu, ia tau bahwa suaminya itu sebenarnya sudah bangun.
"Celo tau Mas sudah bangun, ayo…" wanita itu bersiap untuk berdiri dari duduknya.
"Baiklah." Zach memeluk perut Celo saat istrinya itu sudah berdiri.
"Mas.."
"Sebentar saja." Agar suaminya mau bangun, Celo membiarkan suaminya memeluknya sebentar. Tak hanya itu ia juga mengusap lembut kepala Zach seperti seorang ibu yang tengah dipeluk anaknya.
"Sudah." Seru Zach seraya melepas pelukannya.
Zach masuk ke kamar mandi sementara Celo menyiapkan segala kebutuhan suaminya dan juga merapikan ranjang mereka.
"Sayang, nanti siang Mas jemput kamu." Zach berucap di sela sarapan paginya.
"Memangnya kita mau kemana Mas?" Celo mengalihkan perhatiannya untuk menatap suaminya itu.
"Mas sudah buat janji dengan dokter siang ini." Seperti katanya kemarin bahwa mereka akan memeriksakan kesuburan mereka ke dokter. Sedangkan Celo ia sangat bahagia mendengarnya.
"Ya Mas. Celo akan siap-siap siang nanti sebelum Mas datang."
"Istri pintar." Zach meraih kepala istrinya untuk kemudian di usapnya lembut.
Usai sarapan berdua, karena Bryan tidak pulang semalam entah kemana Zach berangkat ke kantor. Seperti biasa, Celo akan merapikan penampilan suaminya dan mengantar sampai depan rumah. Begitupun Zach ia akan selalu memberi kecupan sebelum meninggalkan istrinya untuk bekerja.
••••
Siang ini Celo sudah siap dan rapi dengan dress selutut nya. Ia duduk di bangku yang memang disediakan didepan rumah mereka. Tak perlu menunggu lama, Zach datang karena saat ia menghubungi istrinya tadi ia sudah hampir dekat.
"Sudah siap?" Zach keluar dari mobil kemudian menghampiri Celo.
"Sudah Mas. Kita berangkat sekarang? Mas tidak makan siang dulu?" Ujar Celo begitu suaminya berjalan mendekat.
"Kita berangkat sekarang saja sayang, makan siangnya nanti saja di luar." Zach merangkul pinggang istri kecilnya.
"Baiklah Mas." Celo juga balas memeluk pinggang suaminya. Sekarang-sekarang ini Celo sudah berani untuk membalas perlakuan manis suaminya karena ia sudah mulai terbiasa.
Setibanya dirumah sakit, tak perlu menunggu lama Zach dan Celo sudah terpanggil untuk masuk ke ruangan dokter.
"Kau… kenapa jadi kau dokternya?" Zach melihat Nate yang tengah duduk di kursi kebesarannya.
"Maaf Zach, dokter Anya sedang ada seminar ke Swiss. Jadi beliau meminta aku yang menggantikannya." Terang Nate, ia sangat tau bahwa sahabatnya itu masih belum bisa memaafkannya.
"Kalau kau keberatan, aku akan memberi saran dokter bagus lainnya." Nate meraih gagang telepon untuk menghubungi entah siapa.
"Tidak perlu, jika kau bisa kenapa harus dokter lain lagi. Kau pikir aku punya banyak waktu untuk membuat janji temu lain?" Meski tak keberatan, tetap saja Zach menyembunyikannya.
Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, Zach dan Celo hanya perlu menunggu hasilnya. Dan tak perlu menunggu lagi, Nate sudah duduk kembali di hadapan mereka dengan sebuah kertas di tangannya.
"Dari hasil tes kesuburan kalian berdua sangat bagus. Mungkin hanya Tuhan saja yang belum memberi kalian keturunan. Atau Tuhan ingin kalian menghabiskan waktu berdua lebih lama lagi." Jelas Nate tentang kondisi mereka sekarang.
"Heh…" sinis Zach. Sementara Celo hanya diam saja sedari tadi.
"Sebagai seorang dokter kau pasti tau bagaimana cara agar istri ku segera hamil!" Zach masih bicara dengan sinis dengan mantan sahabatnya itu.
"Mas…" Celo yang paham akan situasi sekarang memeluk lengan suaminya itu.
"Tidak apa-apa Miss. Kalian bisa melakukan program hamil tepat, akan ku buatkan rinciannya." Nate sangat paham bagaimana tindak tanduk Zach dapat menghadapinya dengan tenang.
"Bagus kalau begitu." Lagi Zach tersenyum miring.
"Sayang ayo kita pulang." Lansung saja Zach mengajak istrinya meninggalkan ruangan Nate.
"Terima kasih banyak Dokter Nate, kami permisi dulu." Pamit Celo dengan rasa sungkan nya. Nate hanya membalas dengan melambaikan tangan dan tak lupa senyumnya.
"Sayang, maaf kalau tadi Mas menakuti mu." Di mobil Zach buka suara soal perlakuannya tadi terhadap Nate.
"Tidak apa-apa Mas, Celo juga tidak akan bertanya sampai Mas sendiri yang akan bercerita nanti."
"Terima kasih sayang. Sekarang kita makan siang dulu ya, baru Mas antar pulang."
"Ya Mas."
Memang tak baik menyimpan dendam, namun siapa yang tau sesakit apa yang kita rasakan saat seseorang menyinggung atau mengganggu kita. Kebencian atau balas dendam tidak akan membuat kita puas malahan akan menimbulkan permasalahan yang baru. __ Areum Kang__
●●●●
Maaf teman-teman belakangan Up nya sering bolong. Maag sekali ya…🙏🙏🙏