
"Aku mencintaimu mas. Hiks..hikss.." malam itu perasaan cinta Celo tenggelam dalam tangisnya.
■■■■
Saat ini Zach sedang berada dikantornya, karena pembicaraan dengan bibi Rein tadi benar-benar memancing emosi Zach.
"Arghh…lagi-lagi seperti ini!! Jangan salahkan aku jika pada akhirnya kau yang akan tersakiti Celo!!" Ia benar-benar marah kali ini.
Lelah dengan pikirannya, Zach memilih memejamkan matanya sejenak semoga itu dapat meredam emosiny.
°°°°
Saat malam tiba pikiran Zach dipenuhi akan bayangan Celo, kali ini tak ada lagi emosi menyelimuti hati dan pikirannya.
"Bagaimana kabar gadis itu? Dengan bodohnya, aku selalu meninggalkannya dalam masalah yang sama sekali tak ia pahami." Zach tersadar tak seharusnya setiap kekesalan ia selalu melampiaskannya pada gadis tak berdosa itu.
"Apa sebaiknya aku hubungi dia saja? Ya, sebaiknya begitu dari pada bertanya pada bibi yang ada diceramahi lagi…"
Zach meraih ponselnya yang ada di nakas samping ranjang tidurnya, saat itu juga ia ingat bahwa sama sekali tak punya nomor ponsel gadis yang beberapa hari lagi akan sah jadi istrinya.
"Bodoh kau Zach, bahkan nomor ponselnya saja kau tak punya!" Dengan frustasi dijambak kasar rambutnya sendiri.
"Ah…Eric. Ya…Eric pasti bisa mencarikannya." Ia beralih untuk menghubungi Eric.
"Ada apa? "
"Bro bisa tolong carikan nomor ponsel Celo.."
"Tunggu sebentar "
"Okk. Thanks bro."
Zach mengakhiri panggilannya dengan Eric, seperti biasa Eric bukan type orang suka banyak bertanya. Tak sampai sepuluh menit ponsel Zach bergetar tanda ada pesan masuk. Lansung saja di checknya, tanpa membuang waktu segera dihubungi Celo.
Tut…tutt…
Pada dering ketiga terdengar suara gadis yang selalu memenuhi otaknya malam ini.
"Hallo, siapa ini?"
"Nona, ini aku Zach."
"Mas Zach, ada apa mas?"
"Tidak ada, aku hanya mau bilang besok pagi akan ku jemput ditoko bunga. Kita akan melihat undangan yang sudah diubah dan juga cincinnya."
"Ohh..baiklah mas."
"Kau kenapa? Apa kau sakit?"
"Tidak, Celo baik-baik saja mas, hanya mengantuk mas."
"Baiklah. Segeralah tidur jika mengantuk."
"Ya mas. Selamat malam mas."
"Ya. Selamat tidur nona Celo." Zach mengakhiri panggilannya dengan Celo.
"Dia kenapa ya? Suaranya seperti habis menangis. Apa dia sedih karena kutinggal lagi? Atau terjadi sesuatu dengan ayah atau neneknya?" Zach sedikit merasa khawatir mendengar suara Celo yang serak diseberang sana.
"Besok sajalah kutanyakan."
Merasa mengantuk Zach merebahkan tubuhnya dan mencoba tidur hingga akhirnya ia terlelap.
Sementara diseberang sana Celo semakin sedih, air mata tak dapat lagi ia hentikan mengalir. Selama ini, baru kali ini dia menangis sedemikian rupa entahlah rasanya sangat berat bagi Celo.
°°°°
Seperti perkataannya pada Celo semalam, Zach menjemput Celo ditoko bunga.
"Nak Zach, mau menjemput Celo ya nak?"
"Iya bi. Celo dimana?"
"Celo belum datang nak. Bibi juga heran kenapa anak itu belum datang. Tidak biasanya dia seperti ini." Mereka sama-sama heran karena Celo tidak seperti biasanya.
"Kalau begitu biar Zach susul kerumahnya bi."
"Baiklah nak. Jika ada sesuatu segera beritau bibi." Tanpa bersuara Zach menganggukkan kepalanya lalu pergi menuju rumah Celo.
Sebentar saja Zach sudah sampai dirumah Celo.
Tok tok tokk
Tok tokk tok
Ceklek
Nampak Celo yang membukakan pintu, kedaanya saat ini bisa dikatakan sangatlah kacau, matanya sembab dan tubuhnya bergetar.
"Mmas Zach…"
"Kenapa belum ke toko? Kau kenapa? Apa kau sakit?" Tanpa menjawab tiba-tiba saja Celo lansung menangis.
"Aa-aayyah mas…Ayyah Ce-Ceello sakkitt.. hiks..hikss.." Celo berhambur memeluk tubuh kekar milik Zach.
"Sstt…tenang. Jangan menangis, dimana ayah?" Zach berucap sambil mengusap punggung Celo untuk menenangkannya.
"Di kkamar mas."
"Ayo kita kedalam. Kita bawa ayah kerumah sakit." Dengan patuhnya Celo mengikuti perkataan Zach.
Zach dan Celo menghampiri ayah yang sedang berbaring di ranjang.
"Tunggu sebentar." Zach menghubungi seseorang dengan ponselnya.
"Kemana? Siapa yang sakit Zach?"
"Cepat saja paman. Nanti Zach ceritakan."
"Baiklah. Kemana?"
"Zach shareloc sekarang."
"Baiklah." Zach mengakhiri panggilannya.
"Celo, nenek jangan khawatir sebentar lagi bantuan datang. Kita akan bawa ayah kerumah sakit."
"Terimakasih nak" nenek mengusap tangan Zach.
°°°°
Dirumah sakit ayah Zach diberikan penanganan terbaik dan tentu saja dengan dokter yang terbaik pula. Semua itu tak lepas dari campur tangan Zach yang terus saja mendesak pamannya.
"Mas, terimakasih banyak."
"Tidak masalah. Santai saja nona." Diusap pelan pucuk kepala Celo, bagi setiap orang yang melihat tentu saja mereka tampak sebagai pasangan yang serasi dan saling mencintai. Namun tentu saja itu semua tak sesuai dugaan mereka.
"Maaf ya mas, hari ini kita tidak jadi pergi melihat undangan dan juga cincinnya."
"Jangan khawatir kita bisa minta mereka mengirimi kita e-mail. Kesehatan ayah lebih penting."
"Mm.." Celo terlihat termenung setelah pembicaraan mereka.
"Jangan khawatir, ayahmu akan baik-baik saja percayalah. Maaf, tapi kita tidak bisa menunda pernikahan ini."
"Ya mas. Tidak apa-apa, semoga ayah bisa segera pulih."
"Ya…"
"Ayo kita pergi makan. Sekalian kita bawakan nenek makanan."
"Baiklah mas. Celo bilang ke nenek dulu." Celo masuk keruangan ayahnya untuk bicara pada nenek bahwa mereka akan keluar sebentar untuk mencari makanan.
°°°°
Hari berganti lagi, tak terasa besok mereka akan menikah. Sangat berat sebenarnya bagi Celo, namun bagaimana lagi. Ia harus menepati janjinya dan juga ia mencintai pria itu, Zach.
"Melamun lagi." Zach menghampiri Celo yang nampak sedang melamunkan sesuatu.
"Mas…" Zach tersenyum.
"Sudah sarapan?" Celo hanya menggeleng singkat.
"Turun kebawah yuk. Mas temenin sarapan."
"Gak usah mas, Celo belum lapar."
"Jangan bohong. Kalau kamu belum sarapan, nenek pasti juga belum."
"Ya udah, Celo mau mas." Mereka turun kebawah. saat ini perasaan Celo benar-benar telah terjatuh lebih dalam lagi pada Zach, bukan hanya pesona tapi juga kebaikannya.
°°°°
Sesampainya dikantin yang ada di rumah sakit Zach menanyai kabar ayah Celo karena ia belum sempat melihatnya secara lansung.
"Dokter bilang apa mengenai kondisi ayah?" Zach menanyakan kondisi terkini calon ayah mertuanya.
"Ayah semakin baik mas, ayah juga sudah mulai bisa bicara sedikit-sedikit. Dokter juga bilang nanti sore ayah sudah bisa dibawa pulang."
"Syukurlah kalau begitu. Sepulang kantor aku akan kesini menjemput."
"Terimakasih banyak mas." Zach hanya tersenyum, senyum yang berhasil membuat Celo semakin berdebar.
°°°°
Seperti perkataannya tadi, Zach benar-benar menjemput Celo dan keluarganya lalu mengantar mereka pulang.
"Bagaimana keadaan ayah?" Zach menanyakan kabar calon mertuanya itu.
"S-ss-su-ah..bba-iik." Beliau coba menjawab masih dengan terbata-bata.
"Syukurlah." Beliau tersenyum melihat kepedulian calon menantunya pada keluarganya.
"Kalau begitu Zach pamit pulang dulu, ayah, nenek."
"Ya nak. Hati-hati dijalan, sekali lagi terimakasih."
"Ya nek." Celo mengantar Zach kedepan.
Didepan Zach menyampaikan sesuatu pada Celo.
"Nanti malam teman-temanku akan mengadakan pesta lajang untuk kita. Mereka bilang kau harus ikut bersama kami."
"Tapi…" Zach tau apa yang dikhawatirkan calon istrinya memotong perkataannya.
"Tenang saja aku sudah menyewa jasa perawat untuk merawat ayah jadi jangan terlalu cemas."
"Baiklah mas" Zach selalu saja tau bagaimana caranya agar Celo mau menurut padanya.
"Nanti malam ku jemput." Ucapnya lagi sebelum benar-benar pergi dari rumah calon istrinya.
■■■■
LIKE VOTE COMMENT
THANKS