
"Dasar keras kepala. Istirahat dimobilku saja, lebih aman dan sedikit lebih nyaman."
■■■■
"Ughh…" Celo melenguh, kepalanya masih terasa sangat berat sebenarnya.
"Kau sudah bangun, sudah merasa baikan? Jika belum, istirahat lagi sajalah dulu." Ucap Zach yang melihat Celo sudah bangun tapi nampak masih pusing.
"Celo sudah merasa baikan." Celo membuka pintu mobil hendak turun.
"Mau kemana?" Cegah Zach memegang pergelangan tangannya.
"Celo harus pulang, ini sudah sangat malam." Jawabnya seraya coba melapas pegangan Zach ditangannya.
"Karena ini sudah malam nona. Biar ku antar saja." Zach tak mungkin membiarkan gadis itu pulang sendirian ditengah malam, apalagi keadaannya yang sedang sakit.
"Tidak usah tuan Celo bisa pulang sendiri. Terimakasih banyak atas bantuan tuan hari ini." Bukan Celo namanya jika tidak keras kepala sama halnya dengan Zach.
"Tidak. Kau tidak boleh pulang sendirian! Dan juga ada hal yang ingin ku bicarakan denganmu." Paksa Zach.
"Baiklah. Tuan mau bicara apa?" Tanya Celo lansung, ia seperti tak mau berlama-lama dengan Zach.
"Kenapa kau bekerja sampai tengah malam begini? Apa kau berhenti bekerja ditoko bunga?" Akhirnya Zach bisa menanyakan pertanyaan yang sedari tadi berputar diotaknya.
"Apa hanya itu yang akan tuan tanyakan? Jika tak ada hal penting lainnya lagi, Celo pergi." Tolak Celo, ia kecewa akan pertanyaan Zach.
"Banyak pertanyaan yang ingin ku tanyakan. Tapi sebelumnya, maaf atas batalnya pernikahan kita. Aku menyesal karena telah mengacaukan hidupmu dan keluargamu. Maaf. Maafkan aku Celo." Akhirnya maaf itu terucap, Zach mengucapkan semuanya dengan tulus, Celo melihat kesungguhan itu dari sorot matanya. Celo tertegun, kata yang selama ini ingin dia dengar dari mulut Zach.
"Celo sudah memaafkan mas Zach, karena Celo tau dari awal pernikahan itu memang tak seharusnya terjadi." Kini berganti, Celo lah yang menggenggam tangan Zach.
"Maaf, harusnya dari awal aku minta maaf padamu. Tapi karena egoku semuanya jadi terlambat." Sesal Zach mengakui kesalahannya.
"Tak ada kata terlambat mas." Tangan Celo beralih mengusap pelan pipi Zach.
"Lalu kenapa kau bekerja seperti ini?" Zach kembali melanjutkan pertanyaannya tadi yang belum sempat Celo jawab.
"Celo hanya ingin saja." Jawabnya asal. Tak mungkin jika ia menjawab yang sebenarnya.
"Lalu bagaima dengan nenek dan ayahmu?"
"Mas tenang aja, Semuanya baik." Ucap Celo menenangkan.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Zach masih belum percaya akan semua jawaban Celo.
Tak punya pilihan lain, celo menceritakan semuanya. Tak ada yang ia tutup tutupi lagi.
Setelah menceritakan semuanya, Zach mengantarkan Celo pulang. Selain karena sudah malam gadis itu juga perlu istirahat.
°°°°
Begitu menerima gambar yang dikirimkan Zach, Eric segera memulai aksinya. Pemburuannya dimulai, ia akan menghancurkan orang yang berani mencari masalah dengan kerabatnya.
"Ohh…jadi tikus kecil seperti mereka yang sudah beraninya mengganggu adik kecilku." Seringai licik tergambar jelas diwajah Eric.
"I got you guys, and let's get to play." Eric melanjutkan kembali rencana yang sudah dirancangnya dengan sempurna. Ia menghubungi beberapa kawannya untuk memasang umpan agar dua manusia jahat itu masuk perangkapnya.
"Siapa kalian? Kemana kalian akan membawa kami hah!!" Ucap Black, pria yang menuduh dan mempermalukan Celo.
"Diam!! Mulut kurang ajarmu itu tak berhak bicara disini!!" Bentak salah satu kawan Zach pada pria itu.
"Kurang ajar!! Kalian tidak tau siapa aku?" Kata Cleary kekasih pria itu yang sudah menjahati Celo.
"Tentu saja aku mengenal kau nona. Putri tunggal tuan Sanchesz, pria botak koruptor yang tega menjual istri dan anaknya demi uang." Seru Eric santai membuka belang wanita itu.
"Sialan!! Siapa kau HAH!" Apa maumu?" Teriaknya lagi, meski dalam keadaan terdesak sekalipun gengsinya masih saja tetap tinggi.
"Eric Adinatama." Eric menyebutkan namanya dengan penuh penekanan.
"Ya. Nona Cleary, nona muda, kaya raya, yang bisa menaklukkan para pria termasuk ayahnya sendiri." Jelas Eric lagi.
"Apa?? Kau bahkan tidur dengan ayahmu sendiri?" Marah si prianya.
"Sudah. Sudah. Kalian disini bukan untuk bicara, tapi menikmati permaianan dari kami. Dan kau nona, kau pasti mau menamani dua kawanku ini kan nona Sanchesz…" Eric dan dua kawannya menyeringai senang.
"Tidak!! Apa salahku HAH!! Dasar brengsek!! Kau mau uang? Akan kuberikan berapapun yang kau minta!" Ucapnya lebih kasar lagi.
"Salah ya?? Eumm…memang kau tak punya salah denganku nona, tapi kau bersalah tadi siang! Kau ingat gadis yang kau kerjai tadi HAH!!" Wanita itu hanya menggeleng, kali ini air matanya mulai jatuh bercucuran melihat kemarahan Eric.
"Gadis kecil itu adikku! Dan kau dengan lancangnya mempermalukan dia dan membuat dia tak hanya berdarah, tapi juga menangis!" Ucap Eric pelan tapi sangat mengerikan.
"Ah…jalang kecil itu. Jadi kau juga pernah memakainya?"
Plak
Plakk
Dua tamparan sekaligus diterima wanita itu.
"Itu untuk tamparan yang kau lakukan pada adikku, dan satu lagi untuk temannya." Tanpa memandang dia wanita Eric lansung saja menamparnya.
"Bro. Kalian boleh bermain sekarang! Jika ada kawan lainnya yang ingin bergabung silakan saja. Suka-suka kalian, dan untuk pria ini. Kebiri dia!!" Setelah mengucapkannya Eric pergi begitu saja tanpa mendengarkan tangis dan permohonan mereka.
"Tidak! Jangan…jangan…!!" Teriaknya.
"Lepaskan dia!" Teriak si pria.
"Diam dan lihat saja!!" Bentak salah satu kawan Eric, lalu mereka memulai aksinya.
Malam itu, Eric membalaskan perlakuan buruk yang diterima Celo tanpa diketahui dan diminta Celo. Ia membuat kedua orang itu merasakan kesakitan berpuluh bahkan beribu kali lipat.
°°°°
Sesampainya didepan gang kerumah Celo, lagi-lagi Zach menahannya saat akan turun.
"Kenapa lagi mas?" Heran gadis itu. Entah kenapa ia sejak tadi kembali memanggil Zach dengan sebutan mas, ia tak suka sebutan tuan untuk Zach.
"Aku akan ke Holland seminggu lagi." Ucap Zach datar.
"Berapa lama?" Tanya Celo dengan nada terdengar sedih.
"Ntahlah. Mungkin selamanya." Ia berucap datar dengan terus menatap kedalam mata Celo.
"Kenapa? Apa karena Celo?"
"Ya. Salah satunya demi kau, dan juga demi mami dan semua orang sekitar kita. Kita akan saling melupakan, karena itu aku akan pergi. Agar semua orang dapat saling melupakan." Terangnya.
"Baiklah. Jika itu yang terbaik, pergilah. Selamat tinggal mas Zach, Celo senang bisa bertemu dengan mas." Ucap Celo pasrah. Benar-benar sudah tak ada lagi harapan untuk cintanya pada Zach, ia benar-benar harus mengubur cintanya mulai sekarang.
Zach memeluk Celo sekilas mungkin bentuk salam perpisahan.
"Selamat tinggal juga Celo, sekali lagi maaf karena sudah masuk dihidupmu." Ia mengatakannya dengan masih memeluk tubuh kecil Celo.
Celo segera turun dari mobil Zach dan berlari memasuki rumahnya.
"Maaf Celo, aku tau kau jatuh cinta padaku. Maka dari itu aku harus pergi menjauh karena aku mencintai wanita lain dan tak mau kau jatuh lebih dalam lagi." Zach mengucapkan itu setelah bayangan Celo hilang ditelan malam gelap.
■■■■
jangan lupa Like Commentnya biar bisa sering Up nya.
Vote juga ya bagi yang mau
thanks my dear...