Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Test pack



▪︎▪︎▪︎▪︎


Di kediaman Zach dan Celo nampak seorang pemuda keluar dari rumah tersebut. Disaat bersamaan Christa juga baru kembali dari rumah dengan diantar Melodi.


"Bry…" sapa Chris saat mereka berpapasan.


"…" sayang, Bryan hanya berlalu begitu saja bahkan ia terkesan jijik usai mengetahui wanita itu baru saja kembali setelah pergi sehari semalam.


"Kau masih berusaha mendapatkannya? Hehh, itu berarti kau lupa bahwa Bryan itu duplikat kakak mu." Cibir Melodi selepas kepergian Bryan.


"Bi…Bibi…." Tak mempedulikan cibiran partnernya, Melodi berlalu masuk ke dalam rumah untuk mencari Bi Welma.


"Bi…Bi Welma!!" Teriaknya kasar.


"Ya Nona. Maaf saya habis dari belakang, tidak terlalu kedengaran Nona." Dengan tergopoh-gopoh, beliau menghampiri adik Tuannya.


"Terserah. Ada apa Bryan datang kemari?" Tanyanya penuh penasaran.


"Tuan Bryan mencari Tuan Zach Nona." Jawab Bi Welma lancar.


"Oh…lalu di mana kakak ku?" Ia kembali bertanya.


"Siang tadi Tuan dan Nona pergi berlibur Nona."


"Kemana?"


"Maaf Nona saya kurang tau, karena Tuan tidak memberitahukannya. Ada lagi Nona?" Terang Bi Welma yang diikuti pertanyaan lain.


"Sana-sana." Benar-benar tidak ada sopan santunnya.


"Kira-kira kemana kakak mu pergi dengan ja**ng itu?" Kali ini Melodi dari arah depan ikut bertanya.


"Mana ku tau! Kan kau yang pernah tinggal disini bersama kakak, harusnya kau tau kemana tempat-tempat tujuannya." Ketus Chris tak kalah kasarnya.


"Kenapa kau jadi melampiaskan kekesalan mu pada ku? Jika kau mau Bryan, ya sudah kau kejar sana!" Perdebatan mereka selesaikan berubah jadi sengit.


"Si***n kau j***ng!! Keluar dari rumah kakak ku sekarang!!" Usir Chris dengan tak bersahabat.


"Kau mengusir ku!" Bentaknya tak kalah terima begitu saja.


"Ya!! Keluar!!"


^^^


"Pagi sayang, Mas buat kamu kelelahan ya sayang?" Zach mengusap wajah Celo begitu melihat istrinya itu membuka mata.


"…." Wanita itu hanya tersenyum, masih dalam pelukan Zach di satu selimut.


"Mau sarapan di luar atau di kamar?" Zach meraih ponselnya memastikan pukul berapa sekarang.


"Di luar saja Mas, bukannya kita mau lanjut jalan-jalan lagi?" Imbuh Celo dengan suara masih serak khas orang bangun tidur plus kelelahan.


"Baiklah. Ayo sekarang kita mandi." Zach membopong Celo ke kamar mandi masih dengan balutan selimut.


"Mass…" wanita itu bersiap menolak, ia tidak mau jika waktu mandinya akan jadi lebih lama lagi.


"Mas janji cuma mandi, oke." Yakin Zach.


"Mm…baiklah." Sahut Celo pasrah.


Yang di pikirkan Celo tadi memanglah terjadi, jika sudah bersama istrinya Zach tidak bisa berbuat apa-apa untuk menahan ga***hnya. Waktu mandi yang biasanya hanya perlu tiga puluh menit sekarang menjadi satu jam lebih.


Saat ini Celo sedang mengeringkan rambutnya di depan meja rias, sedangkan Zach duduk berselonjor di ranjang seraya mengecek beberapa pesan masuk juga sambil menunggu istrinya selesai.


Drtt drrt


"Ya Ric. Ada apa?" Sapa Zach menerima panggilan dari sahabatnya.


"Bagaimana kabar kalian di sana?" Balas Eric berbasa basi.


"Baik, ini saja kami sedang ber-honeymoon." Tukas Zach di akhiri tawa.


"Baguslah."


"Katakan ada apa? Aku tau, kau tak mungkin menghubungi ku hanya untuk bertukar kabar bukan?" Tebakan Zach lansung tepat sasaran.


"Kau ini. Istri ku menginginkan istri mu." Ucap Eric dengan bahasa yang tidak di mengerti.


"Apa? Tidak! Tidak!! Enak saja Audrey mau merebut Celo dari ku!" Sahut Zach tak terbantahkan.


"Merebut apa? Kalau bicara jangan asal kau!" Terang saja Eric tak terima.


"Tadi kan kau sendiri yang bilang Audrey menginginkan Celo, itu apa maksudnya coba?" Ini harus di luruskan.


"Eh bodoh! Audrey ngidam, dia mau bertemu Celo. Dia juga bilang kalau sering bertemu Celo nanti anak kami akan mirip istri mu." Jelas Eric dengan frustasi tingkat akutnya.


"Itu masalahnya, kau seperti tidak mengenal dia saja. Kau tau Zach, bahkan di saat malam pertama saja dia minta pernikahan kami di batalkan." Eric mencurahkan isi hatinya, meski dia seorang pria terkuat namun jika sudah menyangkut masalah Audrey Eric akan berubah jadi anak kucing kecil.


"Hahahaa…." Tawa itu jelas suatu ejekan.


"Jangan tertawa. Dia bilang malam pertama itu sakit jadi dia takut dan bilang kami batal saja menikahnya. Satu lagi, kau pasti tau bukan saat dia hamil, dia menangis seharian karena malu sudah hamil. Arghh bisa gila aku lama-lama Zach." Setengah berteriak Eric menyampaikan semua isi hatinya.


"Hahaaa…tunggu, haha…"


"Jadi kau menghubungi hanya untuk bercerita?" Masih dengan tawanya, Zach lanjut bertanya.


"Tidak. Kami akan ke sana, mungkin seminggu lagi." Singkat Eric.


"Baiklah. Nanti akan ku sampaikan ke Celo kalau kalian akan kemari, dia pasti sangat senang." Ucapan Eric disambut baik oleh Zach.


"Mm…" mereka mengakhiri pembicaraan yang sebenarnya sangat di luar akal sehat itu.


^^^


Puas berjalan-jalan selama dua hari, pasangan yang dipenuhi kebahagiaan itu kembali menuju rumah mereka. Senyum tak pernah lepas setiap Zach memandang wajah istrinya, wajah teduh itu mampu membawa Zach kedalam kedamaian.


"Sayang, sebelum pulang mau mampir ke suatu tempat dulu?"


"Tidak usah Mas. Kita lansung kembali ke rumah saja, kak Chris pasti sudah menunggu kita." Sebenarnya Celo mengkhawatirkan adik iparnya itu.


"Sayang jangan selalu memikirkan orang lain yang tenaaatunya juga tidak memikirkan mu." Jelas Zach.


"Tapi kak Chris itu kan keluarga kita Mas, adik Mas sendiri."


"Baiklah. Kita lansung pulang." Ia mengalah, tak mau berdebat dengan wanita tercintanya.


Di perjalan mereka saling bertukar candaan, juga Zach menceritakan bahwa tadi Eric menghubunginya. Tawa mereka semakin pecah saat Zach membahas kegilaan Audrey.


"Ada-ada saja ya Mas." Celo menghapus air yang keluar dari matanya karena tertawa tadi.


"Ya. Mereka benar-benar unik, tapi Mas senang kalau Audrey bisa melengkapi Eric yang orangnya sangat kaku dan tegas." Seru Zach yang disetujui oleh istrinya.


"Mas nanti mampir ke apotek sebentar ya."


"Apotek? Untuk apa? Sayang, kau sakit?" Tanya Zach khawatir.


"Tidak Mas. Celo baik-baik saja, cuma beli stock obat di rumah yang tinggal sedikit."


"Oh. Baiklah."


^^^


Sampai di rumah Zach dan Celo disambut Chris didepan pintu. Ia memasang wajah cemberut seolah tidak melakukan suatu hal yang salah.


"Kakak..kalian sudah pulang. Kenapa tidak mengajak Chris? Chris kan kesepian sendirian di rumah." Cetusnya panjang lebar.


Bukan Zach namanya jika menanggapi ocehan tak guna adiknya. Ia sangat tau kemana adiknya itu pergi dan kapan dia pulang dan Zach sangat marah akan hal itu karena Chris tak pernah berubah ia tak menghargai dan menjaga apa yang dimilikinya sekarang.


"Kak Chris tidak apa-apa?" Celo yang berjalan di belakang suaminya, melihat semua itu. Melihat Zach yang tak mengacuhkan adiknya.


"Peduli apa kau?" Dengan kasar ia menepis Celo yang memegang tangannya, tak hanya itu ia juga membentaknya.


Malamnya di dalam kamar, sebelum tidur Celo mengecek obat yang tadi ia beli di apotek. Kebetulan Zach juga keluar dari kamar mandi dan melihat apa yang dibeli istrinya tadi.


"Kenapa membeli alat itu sayang?" Zach mendekat, kemudian memeluk istrinya dari belakang.


"Celo mau coba Mas, siapa tau sudah rezeki kita. Dokter juga bilangkan sebentar lagi dia pasti akan datang." Ujar Celo penuh harap.


"Sayang. Mas tidak mau kita kecewa sebaiknya jangan ya." Bujuk Zach, mengetahui bahwa Celo akan melakukan test pack.


"Tapi Celo mau coba Mas." Ia berbalik dan menatap lansung mata suaminya.


"Mm…baiklah. Tapi apapun hasilnya jangan bersedih, Mas tidak pernah mendesak mu dan kau sangat tau itu." Imbuh Zach serius, ia membelai wajah Celo yang diakhiri sebuah kecupan yang cukup lama.


▪︎▪︎▪︎▪︎


Buat mengisi waktu kosong dirumah, kita buka MangToon / NovelToon yuk


Mana tau Komik / Novel favorite nya ada yang Up


Jangan lupa beri dukungannya


Tekan LIKE & tinggalkan COMMENT


VOTE juga untuk memberi author semangat


TERIMA KASIH