Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Double date



●●●●


Pagi-pagi sekali apartement Eric sudah heboh akan rengekan gadisnya Audrey. Ia sengaja datang pagi buta membawakan Eric sarapan dan membangunkannya.


"Eric…." Entah yang keberapa kalinya gadis cantik itu memanggil nama tunangannya agar ia bangun.


"Ya sudah kalau tidak mau bangun. Aku akan ke apartement Shane saja." Audrey berdiri bersiap melangkah meninggalkan ranjang Eric.


"Selangkah saja kau keluar dari kamar ini akan kurung kau." Ancam Eric.


"Kalau begitu ayo…kita ke rumah Zach." Ucapnya seraya kembali mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang.


"Audrey. Jangan terlalu sering masuk ke kamarku, apalaginke kamar pria lain. Mengerti." Ucap Eric datar.


"Kenapa? Bilang saja kau takut aku mengganggu tidur mu." Ketus gadis cantik itu.


"Heh…aku terlalu mencintai mu." seringai Eric.


"Aku tau itu. Lalu?" Pertanyaan Audrey seolah menantang seorang Eric.


"Aku takut tidak bisa menahannya. Aku hanya seorang pria biasa, aku takut akan lepas kendali terhadapmu." Eric berucap dengan mata yang berkabut.


"Kalau begitu nikahi aku Eric." Audrey sengaja menantang Eric.


"Baiklah. Tapi bagaimana kalau kita lakukan dulu, hanya sekali ini saja." Sebenarnya Eric sengaja menggoda gadis yang teramat dicintainya itu.


"Ayo." Tanpa ragu Audrey menyerahkan diri bahkan jiwa raganya.


Perlahan Eric mendekat dan merengkuh tubuh gadisnya, menyatukan bibir mereka. Hanya satu kecupan, Eric mengarahkan bibirnya ke telinga Audrey.


"Kenapa kau lakukan itu?" Ternyata Eric tak melanjutkannya, ia melepas rengkuhannya.


"Karena aku mencintaimu. Aku mau menjadi milikmu seutuhnya, selamanya." Audrey berucap dengan tulus dan bersungguh-sungguh.


"Aku tidak peduli kau mau bilang aku murahan atau apapun itu. Tapi aku hanya ingin kau tau bahwa aku serius dan aku sangat mencintaimu Ric. Hanya kau satu-satunya pria yang ku cintai." Sambungnya lagi. Tanpa ia sadari setetes air mata meluncur dari sudut matanya.


"Sayang, jangan pernah bicara begitu lagi. Aku percaya itu semua, aku hanya menggoda saja. Aku sudah berjanji tidak akan merusakmu, kalau begini kita menikah secepatnya saja." Eric yang tak tahan akan gadisnya segera memeluknya lembut.


"Aku mau. Ayo kita menikah sekarang." Desaknya.


"Hahaa…tidak bisa sekarang sayang. Aku mau kita berpesta, aku ingin kau menjadi ratu dihari pernikahan kita." Terang Eric disela tawanya.


"Baiklah. Tapi jangan lama-lama, aku takut kau akan meninggalkan ku." Audrey kembali merengek.


"Tidak akan pernah sayang. Aku berjanji." Eric semakin mengeratkan pelukannya.


"Tunggu, hampir saja aku lupa. Aku mau mengajak Zach san Celo pergi berkencan. Aku mau kita double date sebelum mereka pindah." Ucapnya penuh manja.


"Baiklah sayang." Audrey memilih keluar kamar dan menyiapkan sarapan mereka sedangkan Eric ia ke kamar mandi bebersih dan bersiap.


°°°°


"Mi, ini Mami yang masak? Tumbenan menunya beda?" Cukup lama saling diam dan fokus sarapan, Papi buka suara.


"Bukan. Ini menantu Mami yang masak Pi." Saut Mami dengan wajah sumringah.


"Celo?" Seakan tak percaya, Papi melihat kearah menantunya, tak terkecuali Zach. Ia seolah tak percaya bahwa istrinya yang masih gadis kecil itu bisa memasak seperti ini dan juga rasanya sangat enak.


"Wahh…ini lezat nak. Papi suka. Kapan hari nanti masak lagi ya nak." Pinta Papi semangat. Seketika itu Zach lansung saja menoleh ke arah Papinya.


"Pi…Celo itu istri Zach, jadi Celo masak nya harus buat Zach dong. Masa untuk Papi? Istri Papi kan ada, tu….Mami." Zach cemberut seraya menunjuk kearah Mami nya dengan dagu.


"Heh…Celo juga putri Papi Zach." Papi tak mau kalah pun menbantah ucapan putranya.


"Eishh…kalau begini secepatnya saja Zach bawa Celo pergi." Zach kembali menggerutu.


"Dasar anak kurang ajar." Celo tertawa mendengarnya, ia senang bisa berada ditengah keluarga hangat seperti mereka. Sadar diperhatikan, Celo menutup mulutnya.


Usai sarapan Zach lebih dulu naik ke kamar mereka, sementara Celo ia menyelesaikan tugasnya di dapur membantu Bibi.


Celo menyusul suaminya ke kamar setelah pekerjaan dapurnya selesai. Ia melihat Zach tengah duduk berselonjor diatas ranjang dengan tangan sedang memainkan ponsel.


Celo berjalan kearah kamar mandi, ia belum mandi sejak bangun tidur. Ia merasa sedari tadi suaminya terus saja memperhatikannya. Tak ambil pusing, ia berlalu begitu saja ke kamar mandi dan tak lupa mengunci pintunya. Meski Zach suami sahnya, tetap saja ia belum terbiasa jika sewaktu-waktu Zach menyelonong begitu saja kedalam.


"Ah…kenapa dia lucu sekali. Ingin rasanya ku makan dia sekarang." Gumam Zach melihat istrinya salah tingkah.


Drtt drrt


Ponsel Zach bergetar karena panggilan masuk, ia lihat Audrey yang menghubunginya.


"Ada apa heumm.." balas Zach.


"Mana Celo?"


"Sedang mandi? Ada apa?" Tanya Zach tak mau berbelit.


"Zach ayo kita double date." Ajak Audrey to the point.


"Apa? Kenapa mendadak sekali?"


"Ayolah Zach, kita bersenang-senang sebelum kalian pindah. Kita akan jarang bertemu nanti." Dengan nada yang dibuat sedih.


"Ei..kalian tinggal menyusul saja kan. Apa Eric mu itu kehabisan uang?" Ejek Zach.


"Eh…siapa bilang suamiku kehabisan uang?" Elaknya.


"Suami? Heh.. kapan kalian menikahnya?" Tak ada habisnya Zach mengejek.


"Tentu saja rahasia. Kalian saja bisa menikah diam-diam kenapa kami tidak. Huh..kau menyebalkan Zach." Audrey kesal dibuatnya.


"Baiklah." Zach mengalah, dari pada Eric harus mengeluarkan urat leher nya nanti.


"Baiklah apanya?"


"Ajakan mu tadi, akan ku tanyakan dulu pada istri ku." Zach membalas kata-kata Audrey yang mengatakan Eric suaminya.


"Zach menyebalkan." Audrey lansung saja mengakhiri sambungan nya Zach, Sedang Zach ia tertawa lepas.


°°°°


Saat ini dua pasangan bersahabat itu sedang menonton sebuah film romantis disebuah bioskop. Itu semua adalah paksaan dari Audrey, ia bilang mau menikmati kencan ala-ala anak remaja.


Usai menonton mereka makan siang bersama dan berkeliling tak jelas. Seperti kata Audrey, mereka kecan seperti remaja.


"Selepas ini mau kemana lagi? Aku bosan." Zach mengeluh. Bukan apa-apa, ia benar-benar bosan sekarang ini bukanlah style nya. Eric nampaknya tak jauh berbeda dengan Zach, sementara Celo ia seperti menyetujui para pria karena ia juga merasa tidak nyaman.


"Huft…lalu kita sekarang kemana?" Audrey menyerah akan kekonyolan nya.


"Kita candle light dinner saja." Zach juga tak mau mengecewakan Celo dan tentu juga dengan Audrey.


"Baiklah." Audrey pasrah, karena ialah yang membuat kencan mereka kacau karena ide gila nya. Eric yang memperhatikan gadisnya, tau bahwa Audrey merasa bersalah. Perlahan ia membawa Audrey kedalam pelukannya.


"Hei heii…jangan begini lah." Kesal Zach.


Mereka akhirnya sama-sama tertawa.


°°°°


Saat ini dua pasangan itu sedang dinner romantis disebuah hotel mewah dan berkelas. Berbeda dengan Audrey yang sudah sering mengalaminya, Celo dibuat tercengang ia merasa ada ratusan bahkan ribuan kupu-kupu beterbangan di perutnya.


Mereka makan malam dengan diselingi perbincangan dan candaan kecil. Tak ayal Eric dan Audrey menggoda Celo karena selalu merasa tersipu akan kelakuan Zach, suaminya.


Ditengah-tengah acara makan malam mereka, tiba-tiba saja suasana menjadi gelap gulita semua lampu dan penerangan yang ada semua gelap.


Disaat lampu sudah menyala, Audrey melihat Eric sedang berlutut dihadapan nya. Tiba-tiba saja suasana mendadak menjadi romantis, dimana tempat itu dipenuhi bunga-bunga dan lampu kerlap-kerlip.


Di tangan Eric, ia memegang sebotol berisikan kunang-kunang. Jika diteliti lagi, di tengah kerumunan serangga cantik bersinar itu terdapat sebuah cincin berlian nan mewah.


"Be my wife, please Audrey…" ucapan bersejarah seumur hidup itu keluar dari bibir Eric. Anehnya, bukannya menjawab Audrey malah menangis dan memukul tubuh kekar Eric yang tengah


Berlutut dihadapan nya.


●●●●


Teman-teman semua, Maaf ya baru Up lagi. Ada kesibukan yang tidak bisa dikesampingkan belakangan ini.


Maaf ya..


Meski demikian, jangan lupa LIKE, COMMENT dan VOTE nya ya


Jangan lupa juga tambahkan ke daftar FAVORITE teman-teman.


**TERIMA KASIH


LUV U ALL**