Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Tolong



■■■■


Seorang tetangga Celo berlari dan berteriak mencari Celo ke toko bunga. Beruntung gadis itu belum pergi ke restoran, belakangan ini Celo tidak pulang dulu kerumah, ia lansung saja dari toko bunga ke restoran untuk menghemat waktu juga tenaganya.


"Celo…" teriak tetangga Celo yang seorang ibu-ibu.


"Ya bu. Celo disini, ada apa ibu mencari Celo hingga berlarian seperti ini?" Tanya Celo menghampiri ibu itu yang terlihat nafasnya masih naik turun karena berlari.


"Sebaiknya kau cepat pulang nak. Ada beberapa orang pria dirumahmu dan sepertinya mereka sedang mengacau dan berbuat onar." Ibu itu menyampaikan apa yang tadi dilihatnya dan juga agar gadis itu segera pulang.


Sementara Celo ia sungguh sangat terkejut mendengarnya. Ia merasa tak pernah punya masalah dengan siapapun, lalu siapa yang sedang mengacaukan rumahnya. Seketika ia merasa sangat cemas bagaimana jika mereka mengganggu nenek dan ayahnya. Lansung saja ia berlari ke arah rumahnya tanpa berpamitan sedikitpun pada bibi kedai.


Disetiap langkahnya celo tak lupa berdoa semoga saja dua orang yang paling dicintainya baik-baik saja.


Celo terus berlari hingga sekarang pintu rumahnya sudah dalam jangkauannya. Dibukanya pintu itu dan alangkah kagetnya Celo begitu melihat neneknya sedang ditahan oleh satu orang sementara yang lainnya mengacak-acak rumahnya. Dan lebih menyakitkan lagi, ayahnya terlihat jatuh tersungkur dilantai dengan kursi rodanya yang sudah rusak juga.


"Berhenti. Kalian siapa? Kenapa masuk rumah orang sembarangan dan mengacak-acak rumah orang, siapa kalian." Teriak Celo marah.


"Wahh..wahh…ini cucu nenek bukan. Wah…cantik sekali. Bagaiman kalau nona ikut dengan kami?" Salah satu pria yang kiranya seumur dengan ayahnya menghampiri Celo dan mematut tubuhnya.


"Berhenti. Ku tanya siapa kalian?" Tanya Celo lagi dengan takut.


"Hah…nek, sebaiknya kau jelaskan siapa kami." Ucap pria itu lalu ia duduk disalah satu sofa dan melipat salah satu kaki layaknya bos besar.


Nenek yang hanya diam saja, didesak oleh Celo.


"Nek, siapa mereka? Apa yang sudah terjadi?" Celo mulai menangis.


"Mereka…mereka…" nenek ragu harus menjelaskan bagaimana.


"Ah lama! Dengar nona. Nenek ini sudah berhutang pada saya dan itu sudah sangat banyak. Kalian harus membayarnya." Kata pria tua itu.


"Benar begitu nek?" Nenek hanya mengangguk mengiyakan.


"Berapa? Kami pasti akan bayar." Tegas Celo.


"Haahha….apa kau sanggup membayar hutang nenekmu ini nona?" Suaranya dengan nada mengejek.


"Katakan saja berapa?" Ulang Celo.


"Dua ratus juta tambah bunganya jadi enam ratus juta. Bagaimana?" Celo yang mendengarnya merasa jantungnya akan lepas dari rongganya.


"Kenapa banyak sekali? Untuk apa uang sebanyak itu nek?" Celo tak percaya jika neneknya punya hutang sebanyak itu.


"Untuk pengobatan ayahmu saat pertama kali masuk rumah sakit." Jawab nenek jujur.


"Kenapa nenek tidak bilang?" Nenek hanya diam saja.


"Bagaimana nona? Apa kau punya uang sebanyak itu?" Pria tua itu menoleh kearah Celo dengan penuh ejekan.


"Begini tuan. Saya akan menyicilnya tiap bulan, saya berjanji." Mohon Celo.


"Hahaha….menyicil? Jangan mengada-ada nona. Saya mau kalian membayar malam ini juga! Tak ada lagi tenggang waktu. Jika tidak kau harus ikut kami nona!!" Pria tua itu mulai marah dan menyuruh anak buahnya yang tadi mengacak-acak rumahnya untuk memegangi Celo.


"Tidak. Lepas! Lepaskan Celo!!"


"Lepaskan cucuku tuan. Dia tidak bersalah! Celo sebaiknya kau hubungi suamimu dan minta bantuan padanya." Nenek meminta Celo untuk menghubungi Zach yang sangat tak mungkin ia lakukan.


"Celo…jangan diam saja nak!" Teriak nenek lagi.


"Diam kau wanita tua!!" Lalu dihempaskannya nenek Celo kelantai.


"Jangan!! Jangan sakiti nenek saya.!!" Teriak Celo menggema. Sementara ayah Celo yang tak bisa apa-apa, menyaksikan ibu dan anaknya disiksa merasa sangat tertekan. Seketika itu beliau kejang-kejang dan tak sadarkan diri setelahnya.


"Ayahh…!!" "Anakkku…" teriak nenek dan Celo berbarengan.


°°°°


"Zach, jaga diri disana. Ingat, jangan selalu menuruti egomu itu. Kau masih punya orang-orang yang membutuhkanmu." Eric barkata seraya berbagi pelukan dengan Zach.


"Akan kucoba." Hanya itu jawaban yang bisa dikatakan Zach.


"Kau tenang saja. Aku akan sering-sering mengunjungimu, dari yang kudengar wanita disana kuat-kuat." Shane juga memeluk Zach.


"Sialan kau!!" Zach sedikit memukul perut Shane disela pelukan mereka.


"Audrey….give me a hug baby." Zach merentangkan tangannya dan segera Audrey memeluknya. Mereka sudah seperti saudara selama ini.


"Zach, cobalah lupakan Melodi dan membuka hatimu untuk Celo. Dia gadis terbaik yang pernah aku temui." Bisik Audrey tepat ditelinga Zach karena pria itu sedikit menunduk mengingat tinggi gadis itu hanya sebahunya saja.


"Maaf baby, untuk yang itu aku tidak bisa. Sebagai gantinya aku saja yang meminta padamu, segeralah menikah dengan Eric karena Shane juga menginginkanmu." Beda dengan Audrey, jika gadis itu berbisik maka Zach bicara dengan keras.


"Sialan kau!!" Maki Shane.


"Baiklah aku pergi. Ric ingat untuk menjaga keluargaku terutama Christa, dia mulai liar sekarang." Pinta Zach.


"Liar? Aku suka yang liar." Shane ikut menimpali ucapa Zach.


"Awas saja kau. Yang akan berhadapan dengan mu bukan aku, tapi Eric." Tantang Zach.


"Just kidding bro.." mereka lalu tertawa.


"Aku juga akan menjaganya." Ucap Eric. Zach hanya diam saja, ia tau siapa yang dimaksud sahabatnya itu.


Usai berpamitan, Zach masuk kedalam ruang tunggu, sementara sahabat-sahabatnya pergi ketujuan mereka masing-masing.


°°°°


"Mau pulang kemana?" Tanya Eric pada Audrey seraya membelai rambut gadisnya.


"Kerumah saja." Jawannya dengan sedikit mengantuk.


"Kenapa tidak ke apart saja?" Tawar Eric.


"Malas. Nanti orang akan mengira kita pasangan mesum lagi." Celetut Audrey mempoutkan bibirnya.


"Hehee…diamkan saja. Toh kita tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan."


"Tidak mau!" Tolak Audrey keras.


"Baiklah. Kita kerumah saja." Eric melajukan mobilnya dengan santai. Mereka tak satu mobil dengan Shane saat mengantar Zach tadi. Sengaja karena mereka mau berdua saja tanpa harus diganggu Shane.


Drrt drtt


"Ric, ponselmu bergetar." Audrey melihat ponsel Eric bergetar di saku celananya.


"Biarkan saja." Malasnya.


"Lihat dulu, siapa tau saja itu Zach yang berubah pikiran dan kembali lagi, lalu menerima Celo." Celoteh Audrey seperti anak kecil yang sedang berceloteh hayalannya.


"Kau ini ada-ada saja." Eric mencubit gemas pipi gadisnya.


Drtt


Ponsel itu bergetar lagi setelah tadi terabaikan.


"Nico?" Gumam Eric. Nico seorang tangan kanan Eric.


"Kenapa dengan Nico?" Audrey juga heran, biasanya Nico hanya akan menghubungi Eric jika ada masalah serius di club. Eric mengabaikan pertanyaan Audrey, ia fokus mendengar suara Nico diseberang sana.


"Ada apa?"


"Bos, ada yang membuat kekacauan disini. Mereka membawa paksa seorang gadis sepertinya mereka akan menjual gadis itu." Jelas suara diseberang sana.


"Shitt..aku akan kesana sekarang." Eric memutuskan panggilan dengan sedikit kasar. Meski ia mengelola club malam, tapi Eric tak mengizinkan adanya tindakan jual beli manusia ditempatnya apalagi secara paksa.


"Kenapa?" Setelah tadi tak mendapat jawaban Audrey kembali bertanya.


"Ada tikus kecil yang membuat masalah. Sepertinya mereka mau bermain." Tatapan mata Eric seketika berubah menjadi gelap. Jika sudah begini, Audrey juga tidak bisa mencegahnya.


Eric melajukan mobilnya dengan sedikit kencang. Ia harus berburu, sepertinya buruan kali ini belum tau siapa Eric. Setibanya disana, Eric menggenggam tangan Audrey kuat, ia takkan melepaskan tangan gadisnya agar ia tetap aman disisinya.


"Dimana mereka?" Eric yang melihat Nico menghampirinya segera saja bertanya.


"Privat room lantai atas bos." Segera langkah kakinya terayun menuju tempat yang dikatakan Nico tersebut.


Sesampainya disana tanpa basa basi lansung saja pintu itu didobraknya, toh itu tempat punya dia. Terlihat jelas disana seorang pria tua tengah duduk menikmati minuman dan sebatang cerutu disela jarinya. Disudut lainnya, nampak seorang gadis yang tengah dipaksa dua orang pria yang sedikit lebih muda dari pria tadi. Kondisi gadis itu bisa dikatakan sangat buruk. Bajunya sobek dibagian bahu lebam dikedua pergelangan tangannya dan lebam ditulang pipi ditambah lagi luka sobek disudut bibirnya.


"Tolong…" gadis itu merintih minta tolong. Tak jelas wajahnya karena rambutnya yang berantakan.


Audrey menyadari sesuatu ketika mendengar suara itu.


"Celo…" lansung saja Eric menoleh dan benar saja gadis itu Celo.


"Sialan!!!"


■■■■


Halo….


Jangan lupa LIKE dan COMMENT ya…


VOTE juga boleh bagi yang mau


THANKS….