Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Kami sudah berusaha



▪︎▪︎▪︎▪︎


Sedikit lagi mobil yang di tumpangi Celo memasuki batas kota yang artinya mereka akan sampai di kota. Sepanjang perjalanan pula Celo terus memohon minta diturunkan atau diantar kembali ketempat dimana suaminya berada.


"Maaf Nona, saya tidak bisa, Eric akan marah besar nanti" tolaknya halus.


"Tapi mereka dalam bahaya. Mas Zach, mereka akan membunuhnya." Ia kembali menangis.


"Apa?" Saking terkejutnya Nico memberhentikan mobil secara mendadak.


"Saat Celo disekap semalam, pria itu bilang dia akan menghabisi Mas Zach lalu, bisa saja setelahnya Kak Eric. Apa kita tidak bisa berbuat sesuatu untuk mereka?" Cemas dan takut melingkupi hati Celo dan ia berupaya sebisa mungkin untuk membujuk Nico.


"Baiklah Nona, saya juga tidak mau hal seperti itu terjadi." Meski berat, Nico memutar balik laju mobil ke arah pertarungan tadi. Ia berjanji ini akan jadi yang pertama dan terakhir untuk dia tak mendengarkan perintah Bosnya, Eric.


^^^^


Selama perjalanan Celo terus berdoa, hatinya harap-harap cemas semoga apa yang dipikirkan dan di takutkannya tidaklah terjadi.


"Lebih cepat kak." Dengan suara bergetar, Celo memerintahkan Nico untuk memacu laju mobil dengan waktu.


"…." Tanpa ucapan lansung saja di percepatnya laju mobil.


"Nona mau kemana? Biar saya saja yang turun." Sesampainya disana, Celo turun ia bermaksud untuk menghampiri suaminya juga Eric.


"Kau bisakan melindungi ku?" Kentara sekali tekad yang kuat disana.


"Hah…baiklah." Mau tidak mau terpaksa Nico mengeluarkan senjata api miliknya yang memang selalu ia bawa kemana-mana. Hal itu sudah lumrah mengingat pekerjaannya yang berkecimpung didunia malam.


Mereka menyelinap menghindari orang-orang yang sedang beradu oto, entah itu satu lawan satu atau bahkan lebih.


Masih beberapa meter lagi, saat Celo merasakan tubuhnya kaku dengan nafas tercekat.


Dor dorr


"Zach!!" "Masss!"


Brukk


Tubuh pria itu ambruk di tanah begitu saja, darah segar mulai merembes membasahi dan merubah warna baju yang dikenakannya.


"Mass…" sekencang mungkin wanita itu menggapai tubuh suaminya yang sudah tidak bergerak sama sekali.


Dilain sisi, Eric terbakar amarah, pria itu secara membabi buta melesatkan tembakannya kearah dua orang yang memang menjadi target incarannya. Tak hanya menembak ia juga memukuli mereka bak orang kesetanan.


Selama mengikuti Eric, barulah kali ini ia melihat sosok Eric yang sangat mengerikan. Desas desus yang selama ini beredar ternyata memang benar adanya, Eric orang sangat ditakuti.


Nico melerai Eric, ia tidak mau jika Bos nya itu mengotori tangannya dengan membunuh kedua sa***h tak berguna itu.


"Bos, sebaiknya kita gunakan metode biasa saja. Mati terlalu menyenangkan bagi mereka." Berhasil, kata-kata Nico barusan menghentikan Eric yang sedang kesetanan.


Teringat akan sahabatnya, Eric menghampiri tubuh Zach yang kini dalam dekapan Celo. Air mata sudah membanjiri wajah wanita itu, beralih ke Zach kaosnya yang putih kini sudah berubah warna jadi merah darah.


"Mas, bangun Mas…"


"Ayo bangun Mas, ini Celo. Celo sangat merindukan Mas hikss hiks…"


"Bangu!! Hiks..bangun hiks M-mas.." ia menepuk ringan wajah Zach berharap suaminya itu akan membuka matanya.


"Celo.."


"Kak Eric, bangunkan dia kak. Celo tidak mau kehilangan suami Celo kak." Ia meraih tangan Eric untuk diletakkan di wajah Zach. Ia meminta Eric untuk membangunkan suaminya itu.


"Celo sebaiknya kita bawa Zach ke rumah sakit sekarang. Dia akan baik-baik saja. Ya, itu pasti." Eric sendiri juga tidak yakin dengan kata-katanya, ia membantu Celo berdiri, agar ia bisa membopong Zach dengan bantuan Nico ke mobil.


Zach ditempatkan di bangku belakang dengan paha Celo menjadi bantalannya. Jika tadi permintaan Celo minta kembali, lain lagi sekarang ia terus coba membangunkan suaminya.


^^^^


"Pi, beberapa hari ini Mami terus saja memimpikan hal yang sama dan itu terus berulang." Adu Mami pada Papi yang sedang sibuk dengan koran pagi ditemani secangkir kopi.


"Mami mimpi?" Beliau belum mengalihkan pandangannya.


"Kenapa sampai nangis gitu Mi? Kan cuma mimpi, mimpi itu bunga tidur. Mungkin karena Mami terlalu merindukan anak-anak." Melihat wanita pendamping hidupnya menangis, barulah Papi memberi respon dengan menutup koran paginya.


"Perasaan Mami juga gak enak Pi."


"Tenang saja, anak-anak pasti baik-baik saja." Papi merengkuh Mami dalam pelukannya.


Papi sebenarnya tau apa yang sedang menimpa anak-anaknya, hanya saja beliau tidak mau ikut campur. Semua di serahkan pada mereka agar jalan menuju kedewasaan jelas didepan mereka. Mereka juga harus belajar mengambil keputusan berdasarkan mana yang baik mana yang buruk.


"Nanti kita liburan ke Holland ya, kalau Papi sudah tidak sibuk." Beliau mengusap lembut punggung Mami untuk menenangkannya.


"Kapan memangnya Papi tidak sibuk? Mami sampai kesepian di rumah sendiri, Papi kerja, anak-anak pada jauh semua." Sungut Mami melepas dekapan suaminya.


"Papi minta maaf Mi, besok kita dinner ya." Bujuknya.


"Pi, Celo bagaimana? Sudah ada kabar dari Zach?"


"Soal itu, Mami tenang saja. Sebentar lagi menantu Mami akan pulang kok." Papi yakin itu.


"Semoga ya Pi. Mami takut mereka akan berpisah."


"Hush..jangan berkata yang tidak baik, ingat ucapan adalah doa Mi." Papi menepuk ringan bibir istrinya


"Maaf Pi." Sesal Mami bersalah.


^^^^


Di rumah sakit di perbatasan kota, Celo dan Eric duduk depan ruang operasi. Mereka menunggu dokter yang menangani Zach. Eric yang semula duduk berjauhan dengan Celo perlahan mendekat.


"Dia pasti baik-baik saja." Eric memegang pundak wanita itu.


"….hik…." Bukannya menjawab hanya ada suara segukan.


Beberapa saat terdiam, mata Eric tidak sengaja mencuri lihat ke lengan Celo. Tepat di pergelangan tangan wanita itu penuh luka memar yang hampir kebiruan.


"Bagaiman kau mendapatkan memar itu? Apa yang mereka lakukan terhadap mu Celo?" Eric bertanya dengan geram. Awalnya Celo menatap Eric ragu, ia takut menceritakannya karena masih trauma.


"Tidak apa-apa, kau sudah aman sekarang." Perlahan wanita yang sudah dianggap adik olehnya itu mulai bercerita.


"Shitt! Wanita itu benar-benar." Umpat Eric pelan.


"Siapa mereka kak? Kenapa mereka mau mencelakai Celo dan Mas Zach?" Ia sangat ingin tau siapa orang-orang itu.


"Bukan siapa-siapa, hanya tikus kecil yang ingin bermain." Seringai iblis tercetak jelas diwajah dewasa Eric.


"Sebaiknya obati luka mu, kalau pria itu bangun dia akan sangat marah nanti." Eric membujuk Celo seperti itu agar ia merasa sedikit lebih tenang.


"Baiklah Kak." Celo pergi bersama seorang perawat untuk mengobati lukanya.


^^^^


Sekembalinya Celo dari mengobati lukanya, ia melihat Eric sedang berbicara dengan seorang dokter. Sepertinya Dokter itu yang menangani suaminya.


"Kami minta maaf, semampu kami sudah berusaha tapi-" kata-kata Dokter terpotong kala Celo menyahutinya.


"Tapi apa Dokter? Suami Celo baik-baik saja kan?" Tiba-tiba saja Celo datang lalu menyela pembicaraan Eric dan Dokter.


"Celo, sebaiknya kau tenang dulu, kita dengarkan penjelasan Dokter tentang bagaimana kondisi Zach sekarang." Saut Eric.


"Hiks…hiks…" bukannya tenang, ia malah semakin menangis.


▪︎▪︎▪︎▪︎


Jika bosan boleh gak baca kok, buat yang penasaran jangan lupa dukungannya dengan tekan LIKE & tinggalkan COMMENT kalian teman-teman.


VOTE juga sangat disarankan agar Author lebih semangat lagi.


TERIMA KASIH