
▪︎▪︎▪︎▪︎
"Masa lalu akan tetap jadi masa lalu Nona, saya sarankan anda untuk tidak terikat kenangan masa lalu. Roda kehidupan selalu berputar, lanjutkan lah hidup anda. Di luar sana masih banyak pria baik dan pantas mendampingi anda dan anak itu." Celo mengusap bahu Melodi pelan.
"Huhh…." Celo menghela nafas untuk di hembuskan pelan.
"Apa jadinya jika Mas benar-benar menikah dengan wanita seperti itu? Memang tak ada yang sempurna, termasuk Celo sendiri yang sangat banyak kekurangan. Tapi setidaknya cinta ini tulus untuk suaminya Celo sendiri yang tidak akan pernah terbagi untuk pria lain." Celo berseru pada dirinya sendiri.
"Boleh kan kita egois untuk mempertahankan milik kita sendiri? Sampai kapan pun Celo akan jaga cinta dan kepercayaan kita Mas." Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk bertahan
^^^
"Ada apa kau menghubungi ku?" Sahut suara di seberang sana.
"Sebenarnya aku juga tidak tau ini penting atau bukan, hanya saja rasanya ini harus ku sampaikan."
"Apa?"
"Sewaktu menjemput adik Tuan di rumah sakit, disana juga ada wanita lain." Belum selesai Garret bercerita Bryan sudah memangkas nya.
"Lalu kau menyukai Chris atau temannya?" Ejek Bryan yang mengira bahwa Garret akan curhat perihal ia jatuh cinta.
"Suka apa? Kau dengar dulu bodoh!" Belas Garret kesal.
"Kau yang bodoh, jelas-jelas aku memang hanya bisa mendengar." Sambungan melalui ponsel itu malah menjadi ajang mereka berdebat da saling mengejek.
"Aku serius, dengarlah Bry." Pinta Garret serius.
"Oke."
"Mereka menganiaya Nona Celo." Garret cerita cepat saja, dari pada nantinya dipotong Bryan lagi.
"Shitt." Umpat Bryan di seberang sana.
Tutt
Tak menunggu jawaban dari Garret, Bryan memutuskan sambungan.
"Kenapa dia malah memutus panggilan?" Garret yang merasa infonya belum lengkap menghubungi Bryan kembali.
Tut tutt
"Apa lagi bodoh?" Saut Bryan begitu ia menerima panggilan itu.
"Kau yang bodoh si***n. Dengar kan dulu semuanya, Nona Celo bilang jangan sampai masalah ini sampai ke telinga Tuan. Bisa-bisa Tuan marah besar, Nona sampai memohon padaku untuk hal itu." Jelas Garret.
"Aku tau itu bodoh!"
"Kau yang bod-"
Tutt
"Arghh…sialan kau Bry.." teriak Garret kesal di ruangannya.
Di tempat Bryan, pria itu sedang berpikir keras saat ini. Ia harus membongkar kemunafikan dua wanita licik itu tanpa mengatakan lansung pada Bosnya.
"Aku tau harus apa." Tiba-tiba pria itu mendapat satu ide bagus. Ia kemudian menghubungi seseorang.
"Selamat siang Tuan Bryan, ada yang Tuan butuhkan?" Suara wanita paruh baya di seberang sana.
"Ya Bi, Bry butuh sedikit bantuan Bibi. Kabari Bryan jika Chris pergi keluar rumah."
"Baik Tuan, tap jika Bibi boleh tau ada apa Tuan? Apa nanti Tuan Zach tidak akan marah jika Tuan melakukan sesuatu?" Bibi sedikit khawatir karena hari itu Zach nampak marah dan memukul Bryan.
"Bila saatnya tiba, Bibi juga akan tau nanti. Maka dari itu hal ini hanya kita berdua saja yang tau, Oke Bi."
"Oke Tuan."
"Oh..ada satu lagi. Selama di rumah tolong Bibi perhatikan gerak-geriknya, juga jika ia berniat melakukan sesuatu ke Celo segera beritahu saya." Begitulah arahan yang diberikan Bryan ke Bi Welma. Ya, Bryan menghubungi rumah Zach, tepatnya Bi Welma
^^^
Siang ini, Melodi kembali berkunjung ke kediaman Zach dan Celo. Nampaknya ia pergi menemui Chris karena baru saja datang ia sudah menanyakan adik ipar Celo itu dan masuk ke dalam kamarnya.
"Bagaimana? Apa kau berhasil?" Baru saja masuk pertanyaanlah yang terlontar dari bibir wanita muda yang sedang hamil itu.
"Ternyata dia sulit untuk di provokasi." Jawabnya enteng.
"Tinggal bilang tidak saja, kenapa kau harus berbelit-belit." Cibir Chris.
"Tenang saja, pasti ada cara lain untuk membuang jauh wanita pengerat itu. Dan aku sudah tak sabar menantinya." Ia sembari membayangkan Celo diusir oleh Zach dari rumah.
"Sekarang apa yang akan kita lakukan?" Tanya Melodi.
"Menunggu. Menunggu adanya celah, jika sudah menemukan celah maka kita manfaatkan peluang itu." Tutur Chris penuh ambisi.
"Ya kau benar Chris. Tak mungkin bukan jika rumah tangga mereka selalu saja tenang tanpa ada secuil masalah pun." Melodi ikut menyuarakan pendapatnya.
"Ayo kita keluar, pengap terus-menerus di rumah ini. Dan lagi kau tau? Berpura-pura baik itu tidak ada menyenangkannya sama sekali." Chris meraih tas selempangnya bersiap untuk keluar bersama partner liciknya.
"Ayo kita ke bar." Ajak Melodi.
"Kau gila! Kita sedang hamil ja**ng!"
"Oh…jadi kau menyayangi anak haram mu itu?" Perkataan Melodi barusan seolah menunjukkan bahwa ia tak menyukai anaknya.
"Tentu saja, tak ada seorang ibu pun yang tak menyayangi anaknya." Imbuh Chris dengan tatapan kosong.
"Sebaiknya kita pergi sekarang. Tak seru membahas anak dengan mu." Ketusnya.
^^^
"Ric, aku menginginkan sesuatu." Rengek Audrey pada suaminya.
"Kali ini apa lagi honey?" Eric sedikit trauma akan mengidam ala istrinya itu. Yang paling parahnya, sewaktu dia meminta Eric membawa bayi tetangga mereka untuk menginap di rumahnya.
"Aku mau Celo."
"H-apa?? Celo? Video Call saja honey, kenapa harus minta ke aku sih?" Eric mulai frustasi akan permintaan Audrey yang selalu di luar akal sehat.
"Ih..bukan itu Ric. Aku maunya Celo sungguhan." Ia mengerucutkan bibirnya, memasang tampang se imut mungkin.
"Vcall aja yah." Tidak mungkin jika mereka harus ke Holland, begitu pun sebaliknya tidak mungkin juga Celo ke tempat mereka secepatnya
"Tidak. Aku mau C.E.L.O, agar nantinya anak kita mirip dengan Celo."
"Astaga Audrey itu anak kita, pastinya akan mirip salah satu dari kita." Keluh Eric yang hampir frustasi.
"Pokoknya aku mau bertemu Celo Eric. Ini kan maunya anak mu!" Kali ini dengan nada marah layaknya anak kecil yang tak dibelikan mainan.
"Astaga. Jika tau akan begini tidak akan ku hamili dia." Gumam Eric pelan.
"Apa kata mu hah!!" Kali ini lebih parah lagi, Audrey melototkan matanya.
"Jangan melotot begitu honey, nanti mata mu keluar." Eric tak habis pikir akan perubahan hormon istrinya.
"Suka-suka ku! Dasar laki-laki, mau enaknya saja. Kalau meminta sering-sering, giliran istri hamil dan mengidam malah mengeluh." Ia terus saja menggerutu.
"Aish…dia sudah seperti Bibi-bibi sekarang." Tentunya melalui sebuah gumaman, jika bicara lansung bisa-bisa tidur di luar dia.
"Lalu kau mau nya apa honey?" Eric menyerah, jika ia terus melawan istri hamilnya berdebat yang ada akan terjadi perang dunia.
"Kita Holland ya honey." Dasar hormon Ibu hamil, ia lansung berubah jadi manis usai marah-marah.
"Tapi tidak bisa sekarang Honey, perlu persiapan untuk itu. Lagi pula kau ingat kata dokter bukan. Jangan dulu bepergian jauh, berbahaya bagi anak kita Honey." Eric juga melunak, ia mengusap-usap perut Audrey yang belum membuncit itu.
"Baiklah. Tapi kapan kita bisa pergi?" Rengeknya lagi.
"Kita konsultasikan dulu dengan Dokter mu ya."
"Baiklah."
▪︎▪︎▪︎▪︎
*Bagi teman-teman yang berpuasa, sambil nunggu bedug adzan maghrib di kota masing-masing.
Kita buka MangToon/ NovelToon yuk
Mana tau Komik/ Novel favorite nya ada yang Up
Jangan lupa beri dukungannya*
Tekan LIKE & tinggalkan COMMENT
VOTE juga untuk memberi author semangat
TERIMA KASIH