
"Lain kali lebih hati-hati lagi. Kau bisa terluka jika tak fokus bekerja."
■■■■
"Ya mas." Celo hanya bergumam pelan.
"Tadi katanya kau mau bicara sesuatu, apa?" Zach penasaran apa yang ingin disampaikan gadis ini padanya.
"Mm…kapan mas pergi?" Celo masih bicara dengan nada pelan.
"Besok malam." Sontak saja jawaban Zach membuat Celo terkejut dan lansung menoleh kearah Zach.
"Cepat sekali…" gumam Celo nyaris tak terdengar.
"Kau bicara apa?" Zach merasa sepertinya Celo bicara sesuatu.
"Tidak apa-apa. Kenapa mas harus pergi?" Kali ini suara Celo terdengar lebih jelas ditelinga Zach, bukan suara bisikan lagi.
"Kita sudah membahasnya malam itu." Zach heran akan tingkah Celo sekarang.
"Tapi kenapa mas harus pergi? Apa mas tidak sedih dan kasihan dengan mami?" Ucapan Celo barusan membuat Zach jadi teringat akan maminya.
"Iti bukan urusanmu." Zach merasa kalau Celo sudah agak keterlaluan mencampuri urusannya.
"Maaf. Tapi jika alasan mas pergi karena tidak mau bertemu Celo lagi, mas tak usah khawatir. Celo akan menjauh dan tak akan menemui mas atau keluarga mas lagi. Dan jika kita bertemu bahkan tanpa sengaja kita bisa tak saling mengenal." Kali ini ucapan Celo sedikit diselingi air mata, namun dengan cepat gadis itu menghapusnya. Sayang, kecepatannya menghapus air mata kalah cepat dari tatapan Zach. Zach melihat Celo menangis, tapi dia bisa apa.
"Dengar nona, letak permasalah disini ada padaku, dan kau tak perlu pergi kemana-mana." Terang Zach.
"Kalau begitu biar Celo yang pergi jauh." Mendengarnya Zach tertawa mengejek.
"Celo, kepergianku ini bukan hanya semata karena masalah kita saja. Tapi aku akan mengejar wanita yang kucintai, karena itu aku harus pergi jauh dari sini agar tak ada lagi yang akan menentang hubungan kami. Kau mengerti." Zach berucap tegas seraya kedua tangannya memegang kedua pundak Celo dan menatap jauh kedalam mata gadis itu. Sementara Celo hanya bisa terdiam.
"Kenapa kau tak ingin aku pergi?" Celo hanya bungkam karena pertanyaan Zach barusan.
"Kenapa diam saja. Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan nona?" Tanya Zach lagi.
"Kenapa kau masih saja diam." Zach sangat heran akan sikap diam Celo satu ini.
"…."
"Baiklah, karena sudah tidak ada lagi yang mau kita bicarakan sebaiknya kau pulang. Biar ku antar Ini juga sudah sangat larut." Ucap Zach seraya menegakkan tubuhnya berdiri. Zach berjalan duluan ke mobilnya.
"Karena Celo mencintai mas Zach!!" Celo mengatakannnya dengan lantang sementara, Zach sendiri yang mendengarnya terpaku ditempat.
"Apa yang baru saja kau katakan?" Zach berbalik kearah Celo dan menatapnya dari jarak yang tak dekat.
"Celo mencintai mas…" gadis itu memberanikan diri mengangkat wajahnya yang sudah dipenuhi air mata.
Entah sadar atau tidak, Zach berjalan cepat menghampiri Celo dan memeluknya, mendekap tubuh mungil itu membawanya dalam kehangatan.
"Lupakan aku. Aku tak pantas untuk kau cintai." Ucap Zach masih dalam posisi saling berpelukan.
"Maaf mas, tapi Celo tidak bisa. Entah kenapa, pria yang seharusnya Celo benci, malah membuat Celo mencintainya. Semakin hari rasa itu semakin besar dan dalam." Ia masih saja tetap menangis, hingga kini hoodie yang dikenakan Zach terlihat basah dan terasa lembab.
"Lupakan aku. Carilah pria lain, yang jauh lebih baik dan pantas untukmu. Kita akan segera berpisah untuk selamanya gunakan itu untuk melupakanku." Zach menatap lekat manik mata Celo dan meyakinkan gadis itu, kedua tangannya diletakkan dikedua sisi wajah Celo.
"Itu tidak mudah mas. Apa tidak ada sama sekali kesempatan untuk Celo?" Ia balas memegang tangan Zach yang ada diwajahnya.
"Memang tak mudah, tapi itu bisa. Maaf Celo, cinta ini hanya untuk satu hati dan tak bisa dibohongi atau dipaksakan." Zach mengusap air mata yang tiada henti mengalir diwajah gadis itu.
"Kenapa Celo harus melupakan perasaan cinta ini? Apa hanya untuk mencintai mas saja Celo tidak boleh?" Tuntut Celo.
"Sekarang kita pulang, dan mungkin ini pertemuan kita yang terakhir kalinya." Setelah cukup lama, Zach mengantarkan Celo pulang.
Sementara Zach, ia menginap dirumah Eric. Ia tak menyangka Celo akan berani mengungkapkan perasaannya yang telah ia pendam lama, meski Zach sebenarnya tau akan hal itu.
°°°°
Celo menangis sejadi-jadinya, ia juga tak menyangka akan mengatakan perasaannyan pada Zach. Namun, karena dorongan akan takut kehilangan Zach membuatnya berani. Ia masih saja berharap bahwa Zach akan membatalkan kepergiannya dan membalas perasaannya. Tapi ia sadar seperti kata orang, hidup bahagia seperti yang kita inginkan hanya akan ada dinegeri dongeng atau kehidupan novel romansa.
"Kenapa harus sesakit ini?" Celo kembali menangis dalam diamnya.
Tok tokk
Krieett
Terdengar suara ketukan pintu disertai suara pintu terbuka setelahnya.
"Celo…kenapa menangis nak?" Yang masuk ternyata neneknya. Begitu melihat Celo menangis, segera saja beliau menghampiri cucu semata wayangnya.
"Nenek…" Celo terkejut bukan main, ia takut neneknya akan tau semua, Dengan cepat disekanya air matanya.
"Apa kau baru saja pulang heum…" beliau membelai sayang rambut indah Celo.
"Tidak nek, Celo sudah pulang sedari tadi. Tadi Celo melihat ayah dan nenek sudah lelap tidurnya." Bohong gadis itu.
"Mm..lalu kenapa menangis? Apa ada yang menyakitimu? Bicaralah nak." Nenek begitu penasaran, hal apa yang membuat cucunya menangis hingga sedemikian rupa.
"Tidak apa-apa. Celo hanya merindukan ibu."
"Bohong. Nenek tau kau menangis bukan karena itu. Apa mertuamu menyakitimu?" Lansung saja Celo menggeleng.
"Tidak. Sebenarnya, Celo merindukan mas Zach. Tadi ia menghubungi Celo dan bilang bahwa pekerjaannya masih banyak dan belum bisa pulang. Makanya Celo sedih nek." Celo kembali berbohong untuk kesekian kalinya dalam hidup.
"Benar begitu?"
"Ya nek. Apa menurut nenek Celo berbohong?"
"Entahlah nak." Nenek juga ragu akan sikap cucunya belakangan, ia seperti menyimpan banyak rahasia.
"Celo, sebaiknya kau susul saja suamimu dan tinggal bersamanya."
"Tidak nek. Kalau Celo pergi bagaimana dengan nenek dan ayah?" Tolaknya, lagi pula kemana ia akan menyusul suaminya itu.
"Dengar nak. Nenek sudah tua dan tak tau kapan tuhan akan menjemput nenek. Nenek berharap kau bisa tinggal dengan orang yang bisa menjagamu setelah nenek pergi nanti."
"Nenek bicara apa? Jangan menakuti Celo nek."
"Nenek kan hanya berkata, semua ada ditangan tuhan. Ingat, jika nenek sudah tak ada lagi, berjanjila kau akan selalu tersenyum dan bahagia. Berjanjilah."
"Ya nek. Celo berjanji." Mereka.saling berbagi pelukan satu sama lain. Malam ini serasa malam paling emosional bagi Celo dan juga hari yang berat.
Setiap orang juga pasti merasakan dan akan merasakan hari yang berat bagi mereka. Hidup bak roda yang bergulir, jika kita sedang terhimpit dibawah jangan pernah menyerah dan terus mencoba untuk keluar dari himpitan apapun itu.
■■■■
LIKE & COMMENT dan ( VOTE Bagi yang mau )
Jangan lupa ya…biar cepat juga UPnya…
Thanks…