
BRAKK
"Celo…." "Chris." Saut Zach dan Papi berbarengan.
"Zach, sepertinya itu dari lantai atas. Coba lihat sana." Papi sedikit panik mengingat kelakuan bar-bar Christa.
"Apa lagi yang diperbuat anak itu? Papi benar-benar dibuat gila oleh kelakuannya." Emosi Papi mulai naik karenanya.
"Tenang Pi, biar Zach aja yang lihat. Papi istirahat saja, ini sudah malam."
■■■■
Zach membuka pintu kamar dengan sedikit kasar dan terburu.
"Mmas…sudah selesai bicara sama Papinya." Celo bertanya, namun tak berani menatap ke arah suaminya itu. Semua pakaian berhamburan dari dalam lemari dan beberapa barang juga ada yang pecah.
"Apa Chris yang melakukan ini?" Zach melangkah mendekati istrinya.
"Bukan mas. Itu, tadi Celo mau merapikan tata letak pakaian. Terus, gak sengaja jadi berhamburan semua gini." Gadis itu tetap saja tak mau menatap suaminya.
"Lihat ke sini jika sedang bicara." Zach juga ikut mendudukkan tubuhnya di dekat istrinya yang sedang memunguti beberapa pakaian yang berserakan dilantai. Perlahan Zach menyentuh dagu Celo, melihat apa yang sedang disembunyikan istrinya itu.
"Apa ini karena Chris?" Zach melihat lebam di sudut bibir istrinya.
Celo menggeleng pelan, ia bingung jika jujur takut dianggap mengadu domba antara saudara itu.
"Dengar, sekarang akulah satu-satunya tempat kau mengadu. Dan lagi jangan anggap aduan mu akan memecah belah persaudaraan kami karena tidak mungkin juga aku akan menyakiti adikku sendiri. Mengerti." Suaminya itu selalu bisa membuat hatinya tenang. Zach seperti dapat membaca pikiran istrinya itu.
"Sstt…" Celo meringis kecil saat Zach mengusap lebam di bibirnya.
"Masih ada yang lain?" Zach bermaksud menanyakan luka lainnya yang disebabkan oleh Chris.
"Tidak ada mas. Hanya luka kecil saja." Celo menepiskan senyumnya.
"Sudah. Biar Bibi saja yang membereskan besok pagi. Ayo kita tidur." Ajak Zach.
"Tinggal sedikit lagi, mas tidur duluan saja."
"Keras kepala." Zach mencubit gemas pipi Celo.
Mereka merapikan semua baju yang berserakan, tak jarang juga Celo mengulangi pekerjaan suaminya. Karena memperlambat pekerjaan mereka, Zach akhirnya memilih memperhatikan istrinya saja.
"Diperhatikan sedekat ini, ternyata dia manis sekali." Gumam Zach dalam hati, seraya menyampirkan senyumnya.
Merasa diperhatikan, Celo merasa gugup pipinya memerah seperti kepiting rebus.
"Kenapa? Heumm.…" Zach menggoda Celo sengan senyumnya.
"Tti-ddak apa-ap-pa…" demi apapun, Celo benar-benar gugup saat ini.
Perlahan Zach mendekatkan wajahnya pada Celo.
"Mmass…" Celo menahan dada bidang Zach yang terus mendekatinya.
"Mmm…."
"Kita terlalu dekat mas." Celo menghindar dengan mencondongkan tubuhnya kebelakang.
"Kenapa? Kita sudah sah suami istri sekarang. Kau milik ku dan aku milik mu." Tak mau penolakan lagi, secepat kilat Zach mempertemukan bibirnya dengan bibir tipis istrinya.
Ciuman itu tak berlansung lama, karena Zach tau itu adalah first kissnya Celo. Tentu saja Zach tau dari pengalamannya selama ini.
"Terima kasih." Ciuman Zach beralih ke kening Celo, lalu ia membawa istrinya kedalam pelukan nya.
"Terima kasih juga mas." Celo membalas pelukan suaminya dan menyandarkan kepalanya di dada suaminya.
Cukup lama mereka berada diposisi saling memeluk, akhirnya Celo menyerah dengan kantuknya. Ia tertidur dipelukan suami yang dicintainya. Pelan-pelan Zach mengangkatnya dan merebahkan tubuh gadis yang sudah ia pilih untuk menjadi teman hidupnya itu di atas ranjang mereka.
Seperti candu, saat tidur pun Zach masih saja memeluk istrinya. Malam itu mereka tidur ditemani cahaya terang rembulan, seolah rembulan mendoakan secara perlahan cinta Zach akan tumbuh untuk Celo.
°°°°
Paginya, Celo terbangun dengan tangan suaminya membalut pinggang kecilnya. Rona merah itu muncul kembali dengan sendirinya. Takut Zach akan terbangun, Celo melepasnya dengan pelan untuk kemudian beranjak ke kamar mandi membasuh wajahnya.
Selesai itu Celo keluar kamar dan melangkah menuju dapur untuk membantu Bibi menyiapkan sarapan pagi.
"Celo sayang. Sedang apa di sini nak?" Sapa Mami begitu melihat keberadaan menantunya di dapur.
"Celo cuma mau bantu-bantu Bibi aja Mi."
"Tidak usah. Sana kembali ke atas, biar Mami sama Bibi aja yang nyiapin nya." Tolak Mami.
"Biar Celo di sini Mi. Celo juga mau tau apa kebiasaan Mas Zach, juga apa yang disukai dan tidak disukai Mi." Ucapnya serius.
"Ouu…menantu Mami. Baiklah. Tapi jangan yang berat-berat."
"Mami ada-ada aja. Mana ada memasak itu berat Mi." Celo tersenyum kecil mendengar ocehan mertuanya.
"Ah ya…nasi goreng dan roti lapis saja." Saut Mami.
"Baiklah nyonya." Bibi mulai menyiapkan bahan-bahannya.
"Celo, Zach itu kalau sarapan pagi terserah aja sih. Yang wajib itu kopi hitam tapi jangan terlalu manis. Sedang-sedang aja." Terang Mami.
"Itu aja Mi?"
"Ya. Secara keseluruhan kita gak banyak pilah pilih dalam hal makan nak. Yang terpenting itu masih makanan manusia. Hihihii…" Mami terkekeh akan ucapannya sendiri.
Sekilas Mami melihat bayangan putranya.
"Ah…pasti anak nakal itu mencari istrinya." Batin Mami, lalu tersenyum.
"Bi, bisa bantu saya ke depan sebentar?" Bibi yang paham akan kode dari majikannya pun mengerti.
"Bisa nyonya."
"Celo sayang, lanjutkan ini dulu ya. Mami sama Bibi mau kedepan sebentar."
"Ya Mi."
Keduanya kemudian berlalu ke arah depan. Zach yang tak tau bahwa Mami nya sengaja memberi peluang, memanfaatkan kesempatan itu untuk menggoda istri kecilnya.
Dengan memgendap-endap Zach mendekat ke arah Celo.
Hug
Sepasang tangan melingkar di perut Celo, membuat sang empunya terkejut.
Tranngg
Celo yang tengah menumis bumbu untuk nasi goreng, spontan saja spatula yang dipegangnya terjatuh membentur lantai.
"Mm-mass…" Celo tentu tau siapa pelakunya.
"Mmm…" gumam Zach acuh
"Nanti ada yang lihat mas."
"Lalu??"
"Celo malu mas." Rengek Celo.
"Kalau begitu ayo kita ke kamar saja." Zach terus saja menggodanya.
"Mass…" kali ini suara Celo lebih seperti memohon
"Baiklah. Biar aku bantu."
"Tidak usah. Mas tunggu di situ saja. Sebentar, Celo buatkan kopi dulu." Celo mengarahkan suaminya untuk duduk di meja makan.
"Baiklah." Entah bagaimana perasaan Zach terhadap Celo, yang jelas saat ini ia takut jika gadis itu tak ada disisinya.
Dari arah depan, setelah cukup melihat pemandangan antara anak dan menantunya. Mami kembali lagi seolah beliau baru saja menyelesaikan sesuatu bersama Bibi.
"Zach, sudah bangun nak?" Tanya Mami berpura tak tau.
"Ya Mi. Zach haus tadi makanya ke sini. Kalau gitu Zach ke atas dulu, mau mandi." Zach segera pergi dari sana, ia merasa seperti baru saja tertangkap basah mengganggu istri orang.
"Dasar anak nakal." Gerutu Mami lalu tersenyum.
Diujung anak tangga Zach berpapasan dengan adiknya Chris. Ia berlalu dengan acuhnya saat bertemu dengan kakaknya.
"Begini cara mu saat bertemu orang yang lebih tua heh?" Zach mencengkeram kuat lengan Christa.
"Dengar Chris, kakak hanya akan menegur mu kali ini saja. Jangan pernah sakiti Celo, karena sekarang sampai seterusnya dia sudah sah jadi istri kakak dan tanggung jawab kakak. Jika berani membantah, kau akan tau akibatnya, meski kau adikku sendiri. Christa." Zach berbisik tepat di telinga adiknya itu. Sedangkan Christa, ia mematung ditempatnya takut akan peringatan dari sang kakak.
Christa hanya menganggukkan kepalanya dalam diam.
"Anak pintar." Zach mengusap kepala adiknya, mengakhiri peringatan itu.
■■■■
**FAVORITE ❤
LIKE 👍
COMMENT 🖊
VOTE 🗳 (Seikhlasnya saja 🤭🤭🤭)
THANKS 💞💞💕💕💕
LOVE YOU ALL 💋💋💋**