
●●●●
"Lihat saja kau wanita licik, akan ku buat kau menyesal telah bertemu kembali dengan ku disini. Akan ku tunjukkan siapa Nate Neopard yang sesungguhnya dan ku yakin kau akan menyesal. Kira-kira bagaimana jadinya ya, jika ia melihat Zach sangat bahagia bersama istrinya. Ohhh….sungguh kasihan."
••••
Keesokan harinya, seperti yang sudah di jadwalkan Nate bertemu dengan Melodi.
"Selamat siang Dokter." Sapa nya dengan Senyum selebar mungkin untuk menarik lawan jenisnya.
"Selamat siang juga Miss Achazia, apa keluhan anda?" Nate membuka file rekam medis milik Melodi.
"Tidak ada. Hanya saja, tidak bisa kah kita berbicara atau makan siang sebagai kenalan atau teman?" Melodi masih saja berusaha untuk merayunya.
Nate berdiri dari duduknya, lalu berjalan memutar hingga saat ini Dokter muda itu menyandarkan sebagian bokongnya di meja tepat dihadapan Melodi. Tangannya terulur menyentuh wajah wanita itu pelan terus turun hingga sampai kedagu nya, diangkatnya wajah itu sampai mendongak kearah nya.
"Miss, apa sebelum ini kita pernah bertemu di suatu tempat?" Nate memancingnya.
"Rasanya kita belum pernah bertemu, apa anda tau Dokter saat pertama bertemu aku sudah jatuh hati pada mu." Ucap wanita itu genit.
"Heumm??" Nate melepas tangannya dari dagu Melodi, beralih mengusap-usap dagunya.
"Tapi sayang sekali, kenyataannya kita sudah pernah bertemu Miss." Ujar pria itu dingin.
"Benarkah? Kapan aku pernah bertemu pria tampan seperti anda?" Dia benar-benar lupa rupanya.
"Dengar Miss, sampai kapan pun kau harus selalu mengingat ku bahkan sampai kau pergi ke neraka!" Dengan kasar, Nate mencengkeram kedua sisi wajah Melodi.
"Apa maksud anda? Lepaskan saya. Sakit dokter." Pinta Melodi memelas.
"Ingat baik-baik, aku adalah pria yang kau jebak di Night Club milik sahabat ku Eric! Dan kau juga yang sudah menghancurkan persahabatan ku dengan Zach!" Nate bicara pelan namun sarat dengan tekanan.
"Apa? Ma-mmaff kan aku. Aku khilaf waktu itu." Melodi benar-benar takut akan perlakuan Nate padanya saat ini.
"Hehh!! Maaf!! Tidak akan pernah, tapi ada satu hal yang bisa membuat ku berubah fikiran saat ini. Pergi sejauh mungkin dari kami, jika aku masih melihat mu. Kau akan rasakan sesuatu yang belum pernah kau rasakan selama kau hidup." Pria itu menekankan setiap kata-katanya.
"Oke.oke...aku tidak akan menampakkan diri lagi." Melodi menyerah, ia takut akan keselamatan dirinya dan juga bayi dalam kandungannya.
Nate tersenyum senang, ia sedikit lega bisa membuat wanita licik itu menjauh dari sahabatnya, tapi tak menutup kemungkinan ia akan kembali lagi dan ia harus mengambil tindakan saat itu terjadi nanti.
••••
"Ughh…pusing sekali, seperti berputar-putar." Celo coba mendudukkan tubuhnya di sandaran ranjang. Ia memperhatikan sekeliling, dan mengetahui ini tempat yang asing baginya.
"Dimana ini?" Karena kesadarannya belum sepenuhnya terkumpul, Celo lupa bahwa ia sudah berada di Holland dirumah barunya.
Baru saja menapakkan kakinya dilantai, bermaksud untuk pergi ke kamar mandi terdengar suara Zach memanggilnya.
"Celo, kau sudah bangun? Kenapa tidak memanggil Mas jika kau butuh sesuatu sayang." Ujar Zach seraya berjalan mendekat menghampiri istrinya.
"Mas…Celo tidak butuh sesuatu kok Mas, Celo cuma mau ke kamar mandi." Masih terdengar lemas dari suaranya.
"Biar Mas bantu." Tanpa menunggu penolakan, Zach membopong istrinya masuk kedalam kamar mandi.
"Terima kasih Mas." Ucap Celo malu usai kembali dari kamar mandi yang tetap di bopong oleh suaminya itu.
"Sama-sama sayang. Apa kau masih merasa pusing atau mual? Atau lapar?" Zach tak tahan untuk bertanya satu-satu.
"…." Celo hanya tersenyum saja seraya menggelengkan kepala.
"Kenapa hanya menggeleng saja?" Zach tak merasa puas akan jawaban dari istri tercintanya.
"Baiklah, tidurlah lagi." Saru Zach. Ia membantu istrinya untuk berbaring lalu ia mengusap lembut pucuk kepala Celo agar istrinya itu merasa nyaman.
"Mas mau kemana?" Tanya Celo.
"Tidak kemana-mana, hanya menyelesaikan pekerjaan sedikit." Ujar Zach dangan tangan tetap mengusap kepala istri kecilnya.
"Mas selesaikan saja dulu, Celo tunggu disini."
"Baiklah, Mas ambil berkas keluar sebentar." Zach beranjak dan keluar dari kamar sebentar untuk mengambil semua hasil laporan dan juga laptop nya.
"Apa masih banyak Mas pekerjaannya?" Celo beralih duduk dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu.
"Sedikit lagi, tidurlah kalau kau mengantuk." Tutur Zach pada Istrinya yang terlihat mengantuk.
"Mmm…." Benar saja, baru beberapa saat ia sudah tertidur lelap di bahu Zach.
"Dasar kucing kecil, begitu saja sudah tertidur." Zach merapikan berkasnya, menaruh di atas nakas disamping ranjang mereka begitu juga laptop nya. Ia menyudahi semua pekerjaan malam itu dan menyusul istrinya ke alam mimpi dengan memeluk tubuh mungil istrinya.
••••
Satu minggu sudah Celo menetap di Holland, terkadang ia merasa bosan karena hanya dirumah saja. Zach sudah sering menjanjikan akan membawanya jalan-jalan berkeliling sekitar untuk mengenali lingkungan tempat tinggal mereka, tapi karena perusahaan yang masih belum stabil Zach terpaksa menunda dan me nomor dua kan istrinya itu.
"Ahh….bosan sekali rasanya. Apa Celo jalan-jalan keluar sebentar saja? Sebelum Mas kembali Celo juga pasti sudah pulang. Ya, begitu saja." Ucapnya pada diri sendiri.
Bergegas ia berganti pakaian dan tak lupa memakai tas selempangnya, lalu menutup pintu rumah dan berjalan kaki menyusuri sekitar.
Celo berjalan terus menyusuri pohon-pohon yang berjejer rapi di pinggir jalan, hari ini cuaca sangat mendukung sekali untuk berjalan-jalan.
Hampir setengah jam berjalan tanpa arah dan tujuan, pemberhentiannya terhenti ketikan ia melihat sebuah toko bunga. Sebagai seorang pecinta bunga, tentu saja hatinya mendorongnya untuk masuk ketoko tersebut.
Didalam sana banyak sekali macam ragam bunga yang ia temui dan sangat berbeda dengan yang di jual di toko milik Bibi.
"Wahh…cantik sekali, yang ini juga, apa lagi yang ini." Celo menghampiri dan menghirup wangi yang menguar dari bunga-bunga tersebut.
Seorang yang sepertinya karyawan di toko tersebut menghampiri Celo. Karena ia melihat Celo orang asing, ia menggunakan bahasa inggris untuk berkomunikasi. Beruntung Celo siswa yang cerdas sewaktu bersekolah sehingga ia sangat lancar untuk berbahasa inggris.
Ia berbincang disana dengan santai karna ternyata pemilik toko juga sangat baik dan rendah hati. Tak terasa hari sudah petang karena terlalu asyik, Celo jadi lupa waktu. Sewaktu merogoh tas selempangnya untuk mengecek ponsel, ternyata ia juga lupa membawa ponselnya saat berkemas tadi.
"Aduh…bagaimana ini, Celo lupa membawa ponsel. Jika Mas sudah pulang pasti dia akan marah." Gumam Celo sendiri.
Segera ia berpamitan dan bergegas keluar, saat diluar Celo yang tak tau alamat rumah mereka pun mengambil jalur yang salah. Yang seharusnya ia ke kiri malah sebaliknya ia mengambil langkah ke kanan.
Ia terus melangkah menyusuri jalan seorang diri tak terasa hari semakinwq menggelap.
"Bagaimana ini, sepertinya Celo salah jalan. Kemana Celo harus pergi?" Sudah sangat jauh ia berjalan meninggalkan toko bunga yang artinya ia sangat jauh sekali dari rumah.
Karena lelah terus berjalan, Celo mendudukkan tubuhnya disebuah bangku di pinggir jalan. Lalu lalang orang-orang masih sangatlah ramai, tapi justru itu yang semakin membuatnya takut. Bagaiman jika diantara mereka ada yang berniat jahat nanti.
Belum habis ketakutannya, Celo merasa ada tangan besar menyentuh pundaknya dan juga menyebut namanya.
"Miss Celo…"
●●●●
**Maaf ya teman-teman, jika dua chap sebelumnya mengganggu.
Mau gimana lagi memang alur yang sudah tercipta seperti itu tapi, itu semua nanti akan ada kaitannya kok
Mohon maaf atas ketidak nyamanan nya ya. 🙏🙏🙏**