Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Apa mungkin ini



▪︎▪︎▪︎▪︎


Ting


Lampu indikator padam, pertanda tindakan di ruang bedah sudah selesai. Eric berdiri dari duduknya, menyambut Dokter yang akan keluar dari kamar operasi Zach.


"Dokter, bagaimana keadaan adik saya?" Tanpa basa basi Eric memberondongi Dokter tersebut dengan pertanyaan.


"Keseluruhannya normal Tuan, tidak ada yang perlu di khawatirkan." Dokter tersebut berkata dengan tenangnya.


"Apa? Maksud Dokter? Tapi tadi dia berdarah banyak sekali." Eric bertanya tak karuan. Ia bingung, harus senang atau apa.


"Sepertinya anda tidak senang Tuan?" Cibir Dokter tersebut.


"Bukan begitu. Ah terserah lah, apa saya sudah boleh bertemu dengannya. Dia sudah siuman bukan!" Ia kembali bingung harus menjawab apa.


Sekembalinya Celo dari mengobati lukanya, ia melihat Eric sedang berbicara dengan seorang dokter. Sepertinya Dokter itu yang menangani suaminya.


"Kami minta maaf, semampu kami sudah berusaha tapi-" kata-kata Dokter terpotong kala Celo menyahutinya.


"Tapi apa Dokter? Suami Celo baik-baik saja kan?" Tiba-tiba saja Celo datang lalu menyela pembicaraan Eric dan Dokter.


"Celo, sebaiknya kau tenang dulu, kita dengarkan penjelasan Dokter tentang bagaimana kondisi Zach sekarang." Saut Eric.


"Hiks…hiks…" bukannya tenang, ia malah semakin menangis.


"Nona istri pasien?"


"Ya, dia adik ipar saya." Eric ambil bagian menjawab mengingat Celo masih saja menangis.


"Begini Nona, suami anda baik-baik saja, dalam artian tidak terluka parah. Untuk luka tembaknya, beruntung hanya menembus rusuknya saja. Juga untuk masalah tidak sadarkan diri, pasien hanya kelelahan, bisa jadi karena perkelahian, perjalanan jauh juga banyak pikiran." Usai dengan perkataanya, Dokter tersebut menelisik keadaan Eric yang jelas saja seperti orang habis berkelahi.


"Lalu kenapa suami Celo masih belum sadarkan diri sampai sekarang?" Lirihnya pelan.


Sebelum menjawab pertanyaan Celo, dokter itu menghela nafas sejenak.


"Pasien sudah bangun sebelumnya dan bertanya, "bagaimana keadaan istri saya? Dia baik-baik saja bukan?" Saya pikir Nona ini memang istrinya makanya saya katakan anda baik-baik saja." Jelas Dokter tersebut.


"Lalu??" Celo bertanya dengan tidak sabarannya.


"Pasien minta waktu untuk tidur karena sangat kelelahan juga mengantuk." Dilihatnya wajah lega dari keluarga pasien.


"Kenapa Dokter tersenyum begitu? Asal anda tau saya sudah menikah dan saat ini istri saya tengah hamil anak kami." Eric merasa risih dengan Dokter itu terus mencuri pandang ke arahnya.


"Saya permisi, pasien akan dipindahkan ke kamar rawatan. Silakan di urus segala sesuatunya." Salah tingkah, Dokter yang seorang wanita itu mengalihkan pembicaraannya.


^^^^


"Heh! Bangun kau! Ayo bangun." Lagi Eric mengguncang tubuh sahabatnya yang ia tau pria itu hanya tidur.


"Biarkan Mas Zach tidur dulu kak." Cegah Celo melihat wajah pucat suaminya, sama halnya dengan wajahnya yang juga pucat.


"Tidak Celo, dia harus bangun. Seenaknya dia tidur nyenyak sementara kita sangat mencemaskannya." Rutuk Eric kesal.


"…." Celo hanya tersenyum sebagain jawaban.


"Kau tungguilah suami mu ini, aku mau keluar dulu. Dasar orang aneh." Karena sangat kesal Eric menonjok lengan atas Zach karena ia tau itu tak akan berefek pada pria itu.


"Kakk…" rengek Celo yang iba akan kondisi pria yang sangat dicintainya.


"Ya, ya, ya.." Eric melenggang keluar dari kamar inap Zach.


Grep


Zach meraih lengan Celo saat wanitanya itu akan beranjak juga maksudnya hendak ke kamar mandi. Terang saja ia menoleh kearah suaminya, memastikan pria itu mengigau atau mimpi buruk.


"Mas,-" panggil Celo, ketika menoleh ia mendapati pria itu sedang tersenyum manis padanya.


Bruk


Sekali lagi, Zach menarik istri yang sangat di rindukannya kedalam dekapannya. Meski lukanya masih sedikit nyeri tak dihiraukan sama sekali, baginya pelukan hangat Celo sangat menenangkan.


"Mas awas, rusuk Mas masih terluka." Pekik Celo saat tububnya menimpa tubuh besar suaminya yang masih setengah berbaring.


"Tidak apa-apa sayang yang penting rusuk Mas yang sesungguhnya baik-baik saja. Jangan khawatir sakitnya sudah hilang saat Mas melihat mu." Zach mengecup pucuk kepala wanitanya berkali-kali.


"Celo sangat merindukan Mas." Setetes air mata mengalir disela mata indahnya.


"Mas juga sayang, sejak kau pergi Mas tidak pernah lagi tidur nyenyak." Imbuh Zach masih dengan mendekap erat tubuh istrinya yang kini setengah men****hnya.


Perlahan Celo bangkit, ia mendudukkan tubuhnya diranjang Zach tepat disisi suaminya itu.


Zach mengusap air mata yang mengalir tiada habisnya itu, perlahan wajahnya semakin dekat dan dekat lagi. Sedikit lagi bibirnya dapat menyentuh bibir Celo jika saja tidak ada gangguan.


"Celo, sayang…" teriak Mami yang masih diambang pintu, sebenarnya beliau melihat hal tadi, hanya saja hobi untuk mengganggu putranya kembali muncul.


"Mami.." ucapnya dengan gigi yang dirapatkan pertanda ia sangatlah kesal.


"Apa sih Zach, tau lagi sakit masih saja mau mesumin menantu Mami." Mami mendekat kearah mereka, lu menarik Celo menjauh.


"Astaga! Tangan Celo kenapa sayang? Siapa yang berani melakukan ini sama kamu nak?" Mami menangis melihat keadaan menantunya.


"Mi, jangan menangis. Celo tidak apa-apa, ini hanya memar kecil." Celo menenangkan mertuanya.


"Begini saja Mami sudah sedih, bagaimana jika Mami tau apa yang sudah menimpa Chris putri kandungnya?" Batin Zach, ia masih merasa bersalah terhadap adik semata wayangnya.


Malamnya Zach menyuruh orang tuanya pulang saja, ia beralasan sudah baik-baik saja. Padahal alasan utamanya karena hanya ingin berdua dengan sang istri tercinta.


^^^^


"Mas…"


"Mmm…" sepasang insan yang sudah terikat sebagai suami istri itu kini sedang berbaring berdampingan di ranjang kamar inap Zach.


"Celo dengar dari Garret kak Chris-" Zach menghentikan pertanyaan istrinya.


"Sekarang sudah baik-baik saja. Tidak bisakah kita membicarakan tentang kita saja sayang?" Ia merengut kesal.


"Apa yang mau kita bicarakan Mas? Kita baik-baik saja." Ujarnya acuh juga polos.


"Hah! Baik-baik saja." Zach mengambil posisi duduk dulu sebelumnya yang diikuti oleh Celo.


"Kau bilang kita baik-baik saja kan, lalu kenapa kau kabur juga memberikan ponsel mu." Zach mengungkapkan kekesalannya.


"It-ttu…Celo tidak kabur, Celo hanya bersembunyi saja." Nadanya semakin pelan diakhir kata.


"Sembunyi dari apa? Apa yang sedang otak kecil istri Mas ini pikirkan hah?" Zach menunjuk kening istrinya.


"Mm…tidak ada apa-apa." Jawabnya gugup.


"Mas.."


"Mm…" saat ini mereka saling pandang satu sama lain.


"Apa sayang?" Karena Celo masih saja diam, Zach berinisiatif bertanya di ikuti dengan kecupan singkat di pipi Celo.


"Dari manna Mas t-tau Ce-lo di kampung ini?" Rasa penasarannya akan hal itu sangatlah besar.


"Dari ini?" Zach tidak mau menggantung istrinya dengan teka teki lagi.


"Ini?" Celo ikut memegang kalung nya yang tadi ditunjuk Zach.


"Ya. Dari kalung ini, diam-diam Mas memasang alat pelacak didalamnya. Takut-takut istri Mas yang cantik ini di gondol pria lain." Jawaban Zach disertai candaan, tidak mungkin jika ia jujur bahwa istrinya banyak yang mengancam.


"Mass…" sosok manja Celo kembali dengan merengek pada suaminya.


"Ransel Mas dimana?" Ia menatap sekeliling mencari keberadaan tas nya.


"Ada. Sebentar." Celo turun dari ranjang mengambil tas milik prianya


Zach meraih sesuatu dari dalam ranselnya, setelah tadi diberikan oleh Celo. Ia mengeluarkan sebuah amplop untuk diberikan ke istrinya.


"Ini."


"Apa ini Mas?" Dengan cemas Celo menerimanya, segala pemikiran buruk yang beberapa waktu belakangan tersimpan di otaknya kembali menyeruak.


"Apa mungkin ini?" Batin Celo bertanya pada diri sendiri.


"Tidak! Ini tidak mungkin." Jeritnya keras tapi tidak bisa keluar.


▪︎▪︎▪︎▪︎


Terima kasih teman2 semua atas dukungannya.


Tinggal beberpa eps lagi menuju ending, jangan lupa stay read ya dear..


Bagi penganut HAPPY END jangan lupa juga, LIKE & COMMENT nya atau bisa saja ENDING nya berubah.


VOTE nya juga jangan pelit ya sayang semua..


TERIMA KASIH