
"Mi, Pi, maaf sebelumnya. Tapi Zach dan Celo sudah menikah, sudah sejak dua hari yang lalu."
"APA!!"
■■■■
"Zach!! Apa yang sudah kau perbuat pada Celo hah!! Apa Celo hamil?" Mami marah akan semua yang di dengar nya.
"Mi, jangan bicara sembarangan begitu." Tegur Zach.
"Bagaimana tidak, kau selalu menemani Celo. Mami juga heran akan kebaikanmu, ternyata kau merusak Celo." Lagi, Mami mencaci maki putranya sendiri karena kesal.
"Mi, Mami selalu saja begitu. Sebaiknya kita dengar dulu penjelasan mereka." Papi buka suara akan kekesalan istrinya itu.
"Apa yang akan mereka jelaskan lagi Pi?"
"Mami diam dulu." Sanggah Papi cepat.
"Ceritakanlah nak." Ucap Papi lunak.
Zach mulai menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat, dan Celo membenarkan semua yang diceritakan suaminya. Ia tak mau jika ada salah paham lagi seperti tadi.
"Ahh…baguslah. Mami kira…sudahlah. Mami jadi malu. Maafkan Mami ya nak ya…" bujuk Mami dengam muka memelasnya.
"Mami selalu saja begitu. lagi pula mana mungkin lansung ketahuan hamil, belum seminggu juga." Sungut Zach.
Tengah asyik berbincang, mata Mami tertuju pada jari manis menantunya. Disana melingkar sebuah cincin berlian mewah nan elegan, sangat pas sekali dengan karakter Celo, dan juga bentuknya berbeda dari cincin untuk Melodi. Jadi bisa di pastikan Zach memang memesan cincin ini untuk Celo dan ini memang sudah di rencanakan putranya.
"Dasar anak nakal." Gumam Mami.
"Apa Mi?" Zach merasa Mami nya berkata sesuatu.
"Tidak, Mami hanya senang saja. Akhirnya Celo benar- benar jadi menantu di rumah ini." Mami berpindah duduk diantara anak dan menantunya, memeluk pengantin baru itu.
"Apa?? Tidak! Chris tidak setuju!" Christa datang dari arah kamarnya lantai atas.
"….." Hening. Tak ada seorang pun yang menanggapi protes penolakan Christa. Bukan apa-apa, percuma saja. Karena anak itu sudah tak mengacuhkan orang tuanya.
"Zach, sebaiknya bawa menantu Mami ke atas. Kalian pasti lelah, istirahatlah. Akan Mami panggil saat makan malam nanti." Mami yang tak mau jika putrinya akan mengamuk, meminta Zach menjauhkan Celo dari Christa.
Zach yang mengerti segera saja membawa istrinya ke kamar. Benar kata Maminya, mereka perlu istirahat.
"Pi, Mi Zach ke atas dulu." Pamit Zach.
"Mmi, Pi…Celo ikut mas Zach dulu." Celo masih merasa sungkan.
"Ei…jangan sungkan begitu nak. Mulai sekarang, kami juga orang tuamu, dan ini juga rumah mu." Tutur Mami lembut.
"Makasi Mi…"
"Dah sana…" usir Mami yang gemas akan menantunya.
Zach dan Celo beranjak ke kamar Zach yang ada di lantai dua rumah itu. Sementara Chris, karena tak ada yang mengacuhkan nya pergi entah ke mana.
°°°°
Malam ini adalah malam pertama keluarga Celo makan malam dengan menantu mereka. Senyum tak pernah lepas dari wajah Mami. Zach yang memperhatikannya sedari tadi juga turut bahagia, karena langkah yang diambilnya kali ini sudah tepat.
"Andai saja dari kemarin aku mengambil langkah ini. Pasti Mami tidak akan masuk rumah sakit. Sudahlah, yang terpenting sekarang semua sudah terkendalikan." Batin Zach melihat interaksi orang terdekatnya.
"Celo, tambah sayurnya ya nak. Ini lauknya juga." Mami begitu sibuk seolah beliau mendapatkan mainan baru.
"Sudah Mi, nanti mubazir jika tidak termakan." Tolak Celo halus.
"Kenapa? Apa tidak enak? Atau Celo tidak suka makan ini?" Ada nada kekecewaan di sana.
"Bukan. Bukan begitu Mi, Celo tidak sanggup jika harus menghabiskan ini semua. Ini terlalu banyak." Celo memelankan suaranya di akhir kalimat karena takut mertuanya akan tersinggung.
Benar, setelah semua menoleh ke piring Celo ternyata makanan itu sudah menggunung disana.
"Ck..ckk..Mi..menantu kita manusia. Bukan ****, yang sanggup menghabiskan makanan sebanyak itu." Papi menggeleng heran akan tingkah istrinya.
"Heheee…." Mami hanya nyengir tak jelas akan kelakuannya.
"Sini, biar aku bantu." Zach mengambil separuh makanan Celo agar istrinya tak merasa segan dengan Maminya.
"Zach, setelah ini datang ke kantor Papi, ada yang harus kita bicarakan."
"Ya Pi." Makan malam selesai dengan suasana menyenangkan. Untuk Christa, jangan tanya anak itu. Jika lapar dia akan makan dengan sendirinya.
°°°°
Pengantin baru itu kembali ke kamar setelah menyelesaikan makan malam mereka.
"Tidurlah dulu. Aku akan menemui Papi sebentar." Ucap Zach pada istrinya.
"Tidak apa mas. Celo akan menunggu mas." Tolak Celo.
"Baiklah, tapi jika lama tidur saja. Tak usah menunggu." Celo hanya mengangguk kecil.
Begitu keluar Zach menutup rapat pintu kamarnya. Tanpa disadari seseorang mengintainya.
"Bagus." Ucap seseorang di balik dinding.
°°°°
Tok tokk
Usai mengetuk Zach masuk kedalam kantor pribadi Papinya. Tampak disana beliau sedang mempelajari sebuah berkas yang sepertinya penting.
"Pi.." sapa Zach.
"Zach, duduklah." Papi melepas kaca mata baca yang bertengger rapi di kedua matanya.
"Bagaimana dengan akta nikah kalian? Papi tak mau jika pernikahan kalian hanya sebatas dibawah tangan saja." Tutur Papi serius.
"Papi jangan cemas. Besok Zach akan mengurusnya lansung."
"Baguslah kalah begitu. Lalu apa rencana kalian kedepannya?"
"Zach akan tetap ke Holland Pi."
"Celo ikut juga?"
"Tidak Pi. Zach pergi sendiri. Celo akan tinggal di rumah atau apartement yang sekiranya pas dengan kami nanti."
"Zach, Papi tau kau sudah dewasa dan bisa mengambil keputusan sendiri. Tapi untuk meninggalkan Celo sendiri itu bukanlah langkah yang bijak. Bukannya Papi meragukanmu tapi, siapa tau nanti, suatu hari kau akan kembali goyah dan kembali menyakitinya. Pernikahan bukanlah sebuah permainan nak, terlebih lagi kau yang begitu kekeh ingin mengikatnya." Zach termenung dengan penerangan Papinya. Ada benarnya juga yang disampaikan oleh Papinya itu.
"Papi benar. Baiklah, tapi menunggu persiapan berkas Celo, mungkin Zach akan pergi lebih dulu Pi. Biar nanti Celo menyusul."
"Baiklah. Kapan kalian akan mengadakan pesta pernikahan? Bilang saja pada Mami, seperti apa yang kalian mau." Kini pembicaraan mereka beralih ke pesta.
"Sepertinya tidak akan ada pesta Pi. Celo tidak menyukainya. Kemarin kami sudah mengadakan syukuran kecil-kecilan di kampung halaman Celo. Disini, sebaiknya kita adakan makan malam saja dengan sahabat dan kerabat."
"Jika mau kalian begitu, Papi ikut saja. Yang penting kalian nyaman menjalaninya."
"Ya Pi. Chris bagaimana Pi?" Topik pun beralih pada adiknya.
"Papi pusing Zach. Biarlah dia seperti maunya saja." Papi menyerah akan putri semata wayangnya itu.
"Besok Zach akan coba mendekatinya."
"Terserah kau saja. Kembalilah kekamar, kalian masih pengantin baru." Cibir Papi.
"Papi ada-ada saja. Zach ke kamar dulu Pi." Baru selangkah berjalan, terdengar suara dentuman yang cukup keras.
BRAKK
"Celo…." "Chris." Saut Zach dan Papi berbarengan.
"Zach, sepertinya itu dari lantai atas. Coba lihat sana." Papi sedikit panik mengingat kelakuan bar-bar Christa.
"Apa lagi yang diperbuat anak itu? Papi benar-benar dibuat gila oleh kelakuannya." Emosi Papi mulai naik karenanya.
"Tenang Pi, biar Zach aja yang lihat. Papi istirahat saja, ini sudah malam."
■■■■
Tekan FAVORITE
Lalu dukung dengan LIKE
Tinggalkan COMMENT
Bagi yang bersedia silakan VOTE
TERIMA KASIH