
▪︎▪︎▪︎
Chris berlarian menyusuri lorong rumah sakit, di ikuti Maminya juga Celo. Sementara Papinya dan Zach, mereka masih dalam perjalanan sebab tadi tengah meeting di kantor.
Penampilan Chris sangat acak-acakan, karena kebiasannya yang akan mandi jika ia sudah menyelesaikan kegiatannya untuk memasak sarapan pagi. Namun pagi ini, ia harus bertengkar dengan suaminya yang membuat keadaannya semakin kacau dan berantakan. Hidungnya memerah karena air mata tidak hentinya mengalir dari kedua matanya. Rambutnya yang memang disanggul sembarangan, kini entah seperti apa lagi rupanya dan tidak lupa pakaiannya yang masih mengenakan piyama bekas tidur semalam.
Setelah tadi menanyakan dimana Shane di tangani, ketiga wanita berbeda umur tersebut segera menuju ruang operasi. Dari yang mereka tau Shane mengalami cedera yang cukup parah, hingga harus dilakukan operasi.
Ya, Shane lah yang mengalami kecelakaan, padahal pria itu sudah berhenti di tempat yang seharusnya. Untung tak dapat di raih, sebuah mobil truk besar melaju dengan kecepatan tinggi tiba-tiba saja hilang kendali, lalu menghantam mobil Shane yang berada di tepi jalan. Shane serta mobilnya sempat terseret belasan meter sebelum akhirnya menabrak dinding batu di pinggir jalan. Benturan itulah yang berakibat fatal bagi nyawanya.
***
Semua orang sedang berkumpul didepan ruang operasi, dimana Shane di tangani. Mereka tertunduk lesu, tidak seorang pun buka suara kecuali Chris. Wanita itu tiada hentinya untuk menangis.
"Tenanglah sayang. Suami mu pasti baik-baik saja." Mami merengkuh putrinya dalam pelukan. Ibu mana yang tidak sedih hatinya melihat sang putri mengalami peristiwa pahit seperti ini.
"Chris, Chris salah Mi. Jika saja Chris bisa jujur sedari awal, pasti kami tidak akan bertengkar pagi tadi." Tukas wanita itu menyalahkan diri sendiri. Semua yang ada disana, tercengang tidak mengerti apa maksud dari pernyataannya barusan.
"Apa maksud mu nak? Kalian bertengkar karena apa?" Mami merenggangkan pelukan mereka, direngkuhnya kedua bahu Chris untuk berdiri berhadapan dengannya.
"Sebenarnya, sudah beberapa waktu belakangan ini kami sering bertengkar Mi." Chris menceritakan sedikit masalah yang menimpa rumah tangganya.
"Apa ini masalah anak lagi? Kau masih berambisi untuk segera memiliki anak dirumah tangga kalian?" Beliau salah menerka permasalahan anak dan menantunya.
"Itu hanya salah satunya Mi. Ada masalah yang lebih besar, dan Chris tidak bisa menceritakannya sekarang." Kejadian pagi tadi kembali membayang di ingatannya, dimana mereka saling berteriak menyampaikan kemarahan dalam diri masing-masing.
"Semua akan baik-baik saja, sayang. Shane pasti akan baik-baik saja." Mami meyakinkan putrinya bahwa semua akan baik-baik saja meski ia sendiri tidak yakin.
"Tap,-"
Ting
Kalimat Chris terputus manakala pintu ruang operasi berdenting pertanda operasi telah selesai. Seorang Dokter dengan wajah lelah dan berkeringat keluar dari sana masih dengan menggunakan pakaian Seragam scrub lengkap.
"Dokter, bagaimana suami saya? Dia tidak apa-apa bukan? Apa saya sudah bisa menemaninya?" Chris beranjak dari hadapan Maminya, kini ia berdiri dihadapan Dokter dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Tidak hanya Chris, semua orang yang ada disana juga ikut mendekat guna lebih jelas lagi mendengar penjelasan yang akan disampaikan oleh Dokter tersebut.
"Maaf sebelumnya, apa anda istri pasien?" Tanya Dokter memastikan.
"Ya. Saya istrinya. Bagaimana suami saya Dokter? Kenapa anda harus menanyakan hal yang tidak penting itu!" Chris meninggikan suaranya. Perasaannya tidak karuan sebelum tau bagaimana kondisi sebenarnya dari sang suami.
"Ini. Pasien menitipkan ini pada saya, sebelum pasien menghembuskan nafas terakhirnya." Dokter itu menyerahkan cincin pernikahan yang tadinya melingkari jari manis Shane. Chris menerimanya dengan tangan bergetar, sepertinya ia masih belum selesai mencerna setiap kata yang barusan di ucapkan oleh Dokter.
"A-apa maksud ucapan anda Dokter? Apa yang terjadi terhadap menantu kami?" Bagai disambar petir, Mami ikut menanyakan keadaan Shane untuk memastikan bahwa kabar buruk yang barusan mereka dengar tidaklah benar.
"Maaf Tuan, Nyonya, pasien tidak dapat tertolong. Pasien mengalami trauma benturan yang cukup kuat, sehingga terjadi apa yang kita sebut henti napas dan henti jantung. Singkatnya, itulah yang membuat pasien kehilangan nyawanya." Jelas Dokter, ia menatap satu per satu orang-orang yang ada disana.
"Tidak! Itu tidak benar. Kau pembohong! Asal kau tau saja Dokter, suami ku sudah berjanji akan segera pulang dan menemui ku. Kami akan memulai lembaran baru dalam pernikahan kami. Kau harus tau itu!" Pekik Chris tidak terima, ia bergerak cepat menarik pakaian Dokter itu di bagian dadanya.
"Chris, hentikan nak. Kau harus tenang." Mami menggenggam tangan putrinya yang wanita itu gunakan untuk mencengkeram pakaian Dokter. Pun Celo, wanita yang berstatus kakak iparnya itu mengusap punggung Chris untuk menenangkannya.
"Mi, katakan itu semua tidak benar. Kak Shane baik-baik saja bukan, katakan pada Dokter ini kalau suami Chris hanya tertidur saja. Ayo Mi, katakan." Chris melepas cengkeraman tangannya, ia mengguncang tubuh Maminya agar merespon ucapannya.
"Celo. Katakan jika Kak Shane hanya tidur, cepat katakan." Tidak mendapati jawaban dari Maminya, Chris berganti mengguncang tubuh Celo. masih dengan ucapan yang sama.
"Chris, kau harus kuat. Kami disini bersama mu." Celo memeluk Chris membenamkan wajah wanita itu di lehernya, begitupun sebaliknya.
"Tidak. Kalian jahat. Kalian pasti berniat untuk memisahkan kami bukan. Itu tidak akan pernah terjadi, Kak Shane sudah memaafkan ku." ia menolak pelukan Celo dengan sedikit mendorongnya.
"Chris! Sadarlah, Shane sudah meninggal. Jangan berpikir seolah hanya kau seorang yang kehilangan!" Sentak Zach tidak tahan melihat penolakan adiknya.
"Kak. Kak Zach, kakak punya banyak uang bukan, bayar Dokter ini agar tidak bicara sembarangan lagi." Setelah tadi mendorong Celo, Chris menghampiri Zach ia mengguncang jas yang dikenakan pria itu, merengek layaknya anak kecil minta dibelikan mainan. Zach menepis tangan adiknya, namun bukan untuk di jauhkan. Ia membawa adik satu-satunya itu dalam dekapannya.
"Maaf Tuan, Nyonya, kalian bisa mengurusi segala sesuatunya untuk membawa jenazah pasien. Saya permisi dan sekali lagi Kami minta maaf dan turut berbela sungkawa." Tidak sampai hati juga melihat kesedihan keluarga pasien yang gagal ia selamatkan, Dokter itu berpamitan untuk meninggalkan mereka.
Baru beberapa saat Dokter tersebut berlaku dari hadapan mereka semua. Chris tiba-tiba saja terpekik kesakitan, wanita itu memegangi perutnya.
"Argh…"
"Kau kenapa Chris?" Pelukan mereka terlepas, Zach melihat adiknya menahan rasa sakit.
"K-kak, pe-rut ku sangat ss-sakit Kak." Tepat di kata terakhirnya, Chris terkulai lemas di pelukan Zach. Wanita itu jatuh tak sadarkan diri.
"Chris,-"
"Chris!" Panggil Mami dan Celo berbarengan. Begitu pun dengan Papi yang sedang tadi hanya diam. Mereka mengerumuni Chris setelah kemudian Zach membopongnya ke ruang rawat darurat.
▪︎▪︎▪︎
jangan lupa dukungannya ya teman-teman, berikan VOTE, LIKE juga tinggalkan COMMENT kalian.
bagi yang belum mampir, silakan baca Season 2 nya, disana menceritakan kehidupan anak-anak mereka. bagiamana jika putra Celo bertemu dan menjalin hubungan dengan putri Melodi, orang yang pernah mengacau rumah tangga mereka?
ada juga "ISTRI SIMPANAN DOKTER TAMPAN" cast nya, masih berhubungan dengan Season 2. silakan mampir, lumayan buat nunggu Novel Favorites kalian Update.
ikuti juga saya di IG @areumkang16
TERIMA KASIH