
"Mas, jika benar mas tidak bersedia menikahi Celo tak apa-apa mas. Celo sudah cukup bahagia bisa mencintai mas."
"Celo, maaf. Sepertinya kita tidak bisa melanjutkan pernikahan kita. Maaf."
■■■■
Diperjalanan menuju rumahnya, Celo berpikir keras apa yang harus ia katakan nanti jika nenek dan ayahnya bertanya. Tidak mungkin bukan ia mengatakan yang sebenarnya, bisa- bisa itu mengejutkan neneknya bahkan bisa membunuh ayahnya.
"Bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan nanti?" Celo bermonolog pada diri sendiri.
Berjalan sendiri dalam kebingungan, tak terasa ia sudah sampai didepan pintu rumahnya, ditarik nafasnya dalam-dalam lalu coba untuk tersenyum selebar mungkin seolah ia sangat bahagia.
"Celo? Kenapa kemari malam-malam nak? Mana suamimu?" Tepat seperti dugaanya, pertanyaan seperti inilah yang pasti akan ia dengar.
"Iya nek. Mas Zach ada keperluan mendadak, jadi ia harus keluar negeri sekarang. Aneh saja rasanya Celo tidur disana saat suami Celo tidak ada, makanya Celo pulang kemari." Bohong Celo.
"Benarkah? Lalu, apa mertuamu membiarkan begitu saja?" Tak mudah untuk meyakinkan neneknya.
"Tentu saja mereka melarangnya, tapi Celo meyakinkan mereka. Nanti mas Zach juga akan menjemput Celo disini."
"Dasar anak nakal. Baiklah. Lalu bagaimana pernikahannya? Apa berjalan dengan lancar?"
"Lancar nek. Disana juga sangat ramai tamunya juga orang-orang kaya semua dan juga ya nek, pakaian mereka bagus-bagus dan mahal nek." Lancar sekali dia menceritakan dengan rinci seperti itu semua benar-benar nyata.
"Syukurlah. Nenek senang jika kau bahagia." Membawa cucunya kedalam pelukannya.
"Ayah mana nek?"
"Sudah tidur, selesai makan malam nenek beri dia obat."
"Baguslah. Celo juga mau istirahat nek, lelah sekali rasanya." Ucapnya dengam wajah cemberut dibuat-buat.
"Pergilah. Istirahat yang cukup.." mereka memisahkan diri kekamar masing-masing.
Dikamar, bukannya tidur Celo malah merenungi kejadian hari ini. Sekuat apapun dia, tetap ia hanya seorang gadis kecil yang perlu tempat untuk bersandar. Terkadang terbesit juga akal pendeknya untuk mengakhir semuanya namun ia teringat akan ayah dan neneknya yang menggantungkan hidup padanya.
°°°°
Zach saat ini masih berada dalam mobil miliknya tepat diseberang jalan depan rumahnya. Ya, sebenarnya ia sudah kembali sedari tadi, namun ada suatu alasan yang membuat ia dengan egoisnya membatalkan pernikahannya dan kembali meninggalkan Celo untuk yang keempat kalinya. Kali ini ia meninggalkan gadis itu dalam masalah yang sangat besar dan fatal.
Perasaannya tak karuan tatkala ia melihat tubuh ringkih gadis itu keluar dari gerbang rumahnya sendirian. Ingin rasanya ia mengejar dan mendekap gadis itu dalam pelukannya, tapi apa mau dikata ego terlalu besar melingkupi hatinya saat ini.
Malam sudah sangat larut, Zach memutuskan untuk masuk kedalam terlalu malas untuk pergi lagi untuk menginap dihotel.
Satu hal yang pertama kali ditangkap matanya ialah dekorasi rumahnya yang sangat indah. Selain itu, semua terasa sunyi tak ada lagi kegiatan karena waktu hampir mendekati tengah malam. Zach kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya, berniat akan mengistirahatkan diri karena ia sungguh sangat lelah. Ia harus berpacu dengan waktu dan juga masalah pelik yang sedang dijalaninya.
Ceklek
Baru selangkah memasuki kamarnya, ia mendapati seseorang duduk diranjangnya.
"Mm-mmami…" sementara mami hanya diam saja, beliau tengah mengusap lembut gaun pengantin yang tadi sempat dikenakan Celo yang kini tergeletak rapi diranjang.
"Zach tau mami pasti marah, Zach siap menerima semua kemarahan dan konsekuensi dari mami juga papi." Ucapnya terdengar pasrah.
"…." Mami berdiri tanpa suara sedikit pun.
"Mi…"
"…."
"Bicaralah mi, mami juga boleh memukul Zach jika itu bisa mengurangi kemarahan mami. Zach mohon bicaralah mi." Ucapnya dengan tidak sabaran.
"Mami lelah, kau juga. Tidurlah. Lupakan semuanya." Beliau berucap dengan dinginnya.
"Mi….mih…"
Tepat sebelum keluar dari kamar anaknya, mami berbalik dan berucap.
Bagai ribuan jarum, kata-kata mami sungguh menusuk relung hati Zach. Selama ini ia belum pernah melihat maminya sekecewa ini, beliau masih bisa menerima semua keadaan apapun itu.
Zach menatap kearah ranjangnya, ia juga ikut menyentuh gaun yang tadinya dipakai oleh Celo.
"Maaf…" entah untuk siapa ucapan maafnya.
°°°°
Pagi ini Celo bangun seperti biasa, ia harus tetap melanjutkan hidupnya. Karena ia tak hidup sendiri ia masih punya ayah dan neneknya. Mulai sekarang ia harus bekerja lebih keras lagi, karena ayahnya butuh biaya lebih besar semenjak Zach membawanya kerumah sakit yang lebih bagus dari sebelumnya. Sebenarnya bisa saja ia memindahkan ayahnya kerumah sakit semula, tapi itu akan aneh dan membuat semuanya bertanya-tanya.
°°°°
Sementara itu, diwaktu yang sama semua keluarga Alterio tengah menikmati sarapan pagi. Namun tak sepenuhnya menikmati, mereka sarapan dalam kehampaan.
"Kakak…kapan kakak pulang?" Christa coba mencairkan suasana saat melihat Zach berjalan kearah mereka.
"Semalam." Jawabnya seraya mengusap puncak kepala adiknya.
"Kak, Chris senang sekali kakak tidak jadi menikah dengan gadis itu." Dia berniat menjahati Celo didepan semua orang.
"Kenapa?" Zach menanggapi ucapan adiknya karena dia pikir semua sudah baik-baik saja.
"Dia itu penggoda kak!" Reflek Zach menoleh kearah adiknya, entah mengapa ia tak terima Celo dikatai demikian.
"Jangan membicarakan keburukan orang lain." Tak beda jauh dengan mami, papi juga tampak sangat dingin.
"Memang begitulah kenyataannya pi. Bahkan dia juga menggoda kekasih Chris." Ucapnya tak mau kalah.
"D.i.a.m…" Zach mengingatkan adiknya.
"Pi…mami kedalam dulu." Mami pergi meninggalkan mereka semua.
"Istirahatlah mi, nanti siang Anne akan kesini memeriksa keadaan mami."
"Tak usah pi, mami baik-baik saja." Wanita yang tak lagi muda itu tersenyum pada suaminya, mereka nampak sedang berada di dunia lain dengan anak mereka.
Perginya mami membuat papi nampak leluasa bicara dengan anaknya.
"Zach, meeting hari ini dan seterusnya biar papi yang urus. Kau tak perlu lagi datang ke perusahaan."
Deg..
"Kenapa pi? Apa karena masalah batalnya pernikahan Zach dengan gadis itu? Zach punya alasan untuk itu!" Zach sedikit meninggikan suaranya.
"Papi tak butuh alasan! Kau sudah dewasa, jangan kekanak-kanakan. Dan, kalau bicara dengan orang tua yang sopan!!"
"Sebenarnya disini anak kalian siapa? Hanya karena dia menyelamatkan papi, kalian jadi terlalu menyanjungnya sampai kalian lupa siapa dia sebenarnya, dia hanya menginginkan uang kita saja!" Emosi kembali menghanyutkan Zach.
"CUKUP!! Sekarang papi baru mengerti bagaimana sikap anak yang papi besarkan selama ini, dan benar kata mami kami sudah GAGAL." Setelah itu beliau berlalu pergi dari hadapan anak-anaknya.
"Satu lagi Zach, orang tua tak akan pernah membuang anak mereka apalagi karena memihak orang lain. Papi membebaskanmu dari perusahaan karena papi ingin kau menyelesaikan masalahmu dan menemukan jati dirimu kembali."
Perkataan terakhir papi benar-benar menghunus tepat di hati Zach.
"Kakak lihat sendiri bukan bagaimana gadis nakal itu mengambil hati mami dan papi…" Christa masih saja memanas-manasi kakaknya.
"Kakak bilang diam ya diam Chris!! Jangan ikut campur urusan kakak! Tau apa kau? Kau masih kecil!!" Zach juga ikut pergi meninggalkan adiknya yang sedang kesal.
Karena keegoisan membuat semua hal terpecah bahkan suatu hubungan juga bisa terpecah karena sikap egois.
Itulah yang kini Zach rasakan, karena cinta butanya pada sang kekasih membuat dia harus mempermainkan hidup seorang gadis tak berdosa bahkan hubungannya dengan orangtuanya pun renggang.
■■■■